ID170302

kamis 2 maret 2017

24

Investor Daily/ANTARA FOTO/HO/pd/17

menggerus kinerja perseroan signi- fikan dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, Direktur Keuan- gan Bank Danamon Vera Eve Lim menjelaskan, tahun lalu, NPL pada segmen mikro tercatat masih mend- ominasi NPL perseroan. Meski NPL segmen tersebut secara rasio masih meningkat dari 8%menjadi di atas 10%, secara nominal atau absolut NPL pada segmen tersebut tercatat menurun. “Tahun ini kami targetkan rasio NPL secara keseluruhan bisa turun di bawah 3%,” ungkap dia. Tahun ini, pihaknya menargetkan penyaluran kredit perseroan se- cara keseluruhan di luar segmen mikro tumbuh pada kisaran 10-15%. Pertumbuhan akan didorong pada segmen-segmen kredit yang tumbuh cukup bagus pada tahun lalu seperti segmen usaha kecil dan menengah (UKM), wholesale , dan KPR. Pada 2016, por tofolio wholesale banking perseroan yang terdiri atas perbankan korporasi, komersial, dan institusi keuangan tercatat tumbuh 11% (yoy) menjadi Rp 37,4 triliun. Se- mentara itu, kredit pada segmen UKM tumbuh 10% (yoy) menjadi Rp 24,7 triliun, sedangkan segmenKPR tercatat tumbuh 21% (yoy) menjadi Rp 4,4 tri- liun. “Untuk Danamon Simpan Pinjam, kami perkirakanmasih turun di kisaran 25% pada tahun ini, sehingga pembiay- aan secara keseluruhan kemungkinan masih akan minus. Tapi laba masih tumbuh tahun ini,” jelas dia. Di sisi lain, tahun lalu, Bank Dana- mon juga mencatatkan penurunan per tumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 10% (yoy) menjadi Rp 105 triliun. Meski demikian, rasio giro dan tabungan (CASA) meningkat dari 43% pada 2015 menjadi 46% pada 2016.

Oleh Agustiyanti

JAKARTA – PT Bank Danamon Indonesia Tbk men­ catatkan pertumbuhan laba bersih perseroan tahun lalu sebesar 12% secara year on year (yoy) menjadi Rp 2,7 triliun. Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh turunnya biaya kredit seiring menurunnya no­ minal kredit bermasalah perseroan pada tahun lalu.

Kinerja Bank Syariah Mandiri Direktur Utama Bank Syariah Mandiri (BSM) Agus Sudiarto (kedua dari kanan) berbincang dengan (dari kiri) Senior Executive Vice Presid- ent (SEVP) BSM Niken Andonowarih, Jajaran Direksi Choirul Anwar, Kusman Yandi, Edwin Dwidjajanto, Putu Rahwidhiyasa, Fahmi Ridho dan SEVP Ade Cahyo Nugroho usai paparan kinerja BSM Tahun 2016 di Jakarta, Rabu (1/3). BSM berhasil mencatatkan laba bersih tahun 2016 sebesar Rp325,4 miliar atau naik 12,38 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp289,6 Miliar.

kinerja perseroan secara keseluruhan. Kredit segmen mikro perseroan tercatat turun 30% menjadi Rp 10,2 triliun. Segmen mikro, menurut dia, juga masih memberikan kontribusi terbesar pada NPL Bank Danamon secara keseluruhan. Bank Danamon juga mencatatkan penurunan sebesar 4% pada nominal non performing loan (NPL) menjadi Rp 3,7 trilun, meski secara rasio NPL Bank Danamon masih mencatatkan peningkatan dari 3% pada 2015menjadi 3,1%. Peningkatan NPL Bank Dana- mon secara rasio tersebut seiring total kredit dan pembiayaan perdagangan ( trade financing ) yang tercatat turun 2% (yoy) menjadi Rp 127,3 triliun. “Untuk NPL, yang paling buruk sudah terjadi pada 2015 dan kami perkirakan tren penurunan NPL akan berlanjut pada 2017,” terang dia. Tahun ini, Bank Danamon juga menerapkan sejumlah strategi untuk memulihkan bisnis mikro antara lain dengan melakukan rasionalisasi jaringan, fokus pada collection , dan peningkatan efisiensi. Pihaknya akan menurunkan ketergantungan Bank Danamon pada bisnis mikro yang

Direktur Utama Bank Danamon Sng Seow Wah mengatakan, per- tumbuhan laba Bank Danamon pada 2016 didorong oleh pertumbuhan pendapatan nonbunga, serta pengelo- laan pengeluaran operasional yang lebih disiplin dan menurunnya biaya kredit. Biaya operasional perseroan tahun lalu tercatat turun 4% (yoy) menjadi Rp 8,6 triliun, antara lain didorong biaya kredit yang turun 12% (yoy) menjadi Rp 4,4 trilun. “Pada tahun lalu, Bank Danamon membukukan laba bersih sebelum pa- jak sebesar Rp 4,5 triliun atau tumbuh 39% dibanding tahun lalu. Jika tanpa memperhitungkan perbankan mikro, laba bersih sebelum pajak Bank Dana- mon akan naik ke Rp 5,2 triliun,” ujar Sng Seow Wah dalam paparan kinerja kuartal IV-2016 Bank Danamon di Jakarta, Rabu (1/3). Pertumbuhan laba tersebut, men- urut Sng Seow Wah, juga didorong oleh pendapatan berbasis fee ( fee based income ) sebesar 7% (yoy) menjadi Rp 2 triliun. Dia pun menjelaskan, bisnis perbankan mikro atau Danamon Simpan Pinjam pada tahun lalu masih memberikan kontribusi negatif pada

jelaskan, dari pembiayaan tersebut, pembiayaan komersial tumbuh paling tinggi, yakni 18,7% ke angka Rp 6,69 triliun. Disusul kemudian pembiayaan mikro 18,6% ke angka Rp 4,18 triliun. Selanjutnya, pembiayaan konsumer 9,1% atau Rp 16,85 triliun, pembiayaan korporasi 7,1% ke angka Rp 18,09 triliun, dan pembiayaan ke usaha kecil 1,9%. “ By design kami memang memperkecil pertumbuhan di segmen usaha kecil, karena tahun 2016 kami memasuki fase konsolidasi,” kata dia. Agus melanjutkan, ekspansi pem- biayaan tersebut diikuti membaiknya rasio pembiayaan bermasalah ( non performing financing /NPF). Terhi- tung pada akhir 2016, NPF gross BSM mencapai 4,92%, turun dibandingkan akhir 2015 yang sebesar 6,02%. Pada tahun ini, perseroan menargetkan NPF gross bisa di bawah 4,5%. (gtr)

Wisma Mandiri, Jakarta, Rabu (1/3). Sementara itu, Senior Executive Vice President Finance and Strategy BSM Ade Cahyo Nugroho menambahkan, dengan peningkatan biaya CKPN tahun 2016, rasio cash coverage men- ingkat dari 58,11% pada 2015 menjadi 67,25% pada 2016. “Kami memang memupuk pencadangan sebagai buffer risiko pada tahun mendatang,” kata dia. Prinsip kehati-hatian ini juga yang mendasari pertumbuhan pembiayaan perseroan lebih rendah daripada per- tumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Pada akhir 2016, BSM mencatat, penyaluran pembiayaan sebesar Rp 55,58 triliun, atau naik 8,8% year on year (yoy), sedangkan DPK tumbuh 12,62%. Direktur Financing Risk and Re- covery BSM Choirul Anwar juga men-

JAKARTA – PT Bank Syariah Mandiri (BSM) mencatat perole- han laba bersih hingga akhir 2016 sebesar Rp 325,4 miliar, meningkat 12,38% dibanding perolehan laba pada Desember 2015 sebesar Rp 289,6 miliar. Direktur Utama BSM Agus Sudi- arto mengatakan, laba operasional sebelum beban cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) mencapai Rp 1,6 triliun. Dari nilai tersebut, perseroan membentuk biaya CKPN Rp 1,17 triliun. Pencadangan tersebut dilak- ukan karena perseroan tegah fokus memperbaiki kualitas pembiayaan. “Walaupun kami mengalokasikan biaya CKPN yang cukup besar, namun kami masih bisamencatat peningkatan laba,” kata Agus dalam acara paparan kinerja keuangan BSM tahun 2016 di

Made with FlippingBook Learn more on our blog