SP190424

Suara Pembaruan

Utama

Rabu, 24 April 2019

3

Saatnya E-Voting Diterapkan

[JAKARTA] Pemerintah dan DPR diminta mempertim- bangkan untuk menerapkan pemungutan suara secara elektronik ( e-voting) dan penghitungan suara secara elektronik ( e-counting ). Hal ini untuk lebih mengefisien- kan proses pemungutan suara dalam pemilu, agar berbagai kendala teknis seperti yang terjadi saat pemilu serentak 17 April lalu bisa diatasi. Hal tersebut disampaikan Komisioner Komisi Pemi- lihan Umum (KPU) Viryan Aziz, pengamat politik Silvanus Alvin, dan pakar otonomi daerah Sumarsono, di Jakarta, Selasa (23/4) dan Rabu (24/4). “Kita harus optimistis mampu mempraktikkan e-voting . Salah satu negara yang sukses dalampenerapan e-voting adalah India. India saja yang jumlah pemilihnya mencapai 900 juta jiwa mampumenerapkan e-voting , kita pun harusnya bisa,” kata Silvanus. Dia mengungkapkan, selain India, berdasarkan data Lembaga Internasio- nal Pemilu dan Demokrasi (IDEA) yang berkantor pusat di Stockholm, Swedia, ada sekitar 32 negara yang menerapkan e-voting dalam kegiatan pemilunya. Dijelaskan, terdapat dua tipe dalam e-voting . Pertama , kiosk voting . Pemilih dapat menggunakan hak pilihnya memakai komputer khusus yang ditempatkan di tem- pat-tempat publik. Misalnya, di perpustakaan, sekolah, atau mal. Nantinya, pemilih memerlukan pengesahan secara elektronik, seperti tanda tangan secara digital [JAKARTA] Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Viryan mengatakan, jumlah petugas KPU mulai dari petugasKelompokPenye- lenggara Pemungutan Suara (KPPS), Panitia Pemungutan Suara (PPS), dan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) yang meninggal saat bertugas kembali bertambah. Hingga Selasa (23/4) sore, 119 petu- gas KPU gugur saat bertugas melaksanakan Pemilu 2019. “Berdasarkan data yang kami himpun hingga Selasa, pukul 16.30 WIB, petugas kami, yakni KPPS, PPS, dan PPKyangmengalamimusibah ada 667 orang. Sebanyak 119 meninggal dunia, kemudian 548 jatuh sakit di 25 provinsi,” ujar Viryan di Jakarta, Selasa (23/4). Dikatakan,KPUbersyukur karena sudah ada dukungan dari Kementerian Kesehatan (Kemkes) sehingga sejak ke- marinpetugasKPUdilapangan

benar terkait cyber protection di sistem e-voting,” jelasnya . Sumarsono juga men- dukung d i t e r apkannya e-voting. “Indonesia sudah layak menggunakan e-voting dengan pengecualian untuk pedalaman yang belum ada akses internet, ya jangan di- paksakan. Dengan demikian gunakan sistem kombinasi,” ungkap Sumarsono. Sumarsono menyatakan, e-voting tentu akan memu- dahkan dan jauh lebih efisien. “Hanya saja, perlu uji coba dulu dan bisa dilaksanakan dalam Pemilu 2024. Peng- amanannya sistem IT-nya harus lebih diperkuat, karena pasti banyak para hackers bayaran yang usil meng- ganggu,” ujarnya. E-Counting Sementara itu,ViryanAzis mengusulkanagarmenerapkan penghitungan secara elektronik atau e-counting dalam pemilu serentak berikutnya. Menurut Viryan, petugas KPU meng- alami masalah ketika proses penghitungan manual yang memakan waktu yang cukup lama. “Permasalahan yang dialami teman-teman kami sebagian besar kelelahan karena menghitung bukan melayani masyarakat atau pemilih menggunakan hak pilihnya,” ujar Viryan di Jakarta, Rabu (24/4). Karena persoalan terletak pada cara menghitung, kata Viryan, diperlukan tekno- logi untuk mempermudah penghitungan, salah satunya dengan e-counting yang bisa mulai diterapkan pada pilkada berikutnya. “Melihat kondisi saat ini

ke depan, paling tidakmenjadi wacana bisa diterapkan mulai pilkada setelah Pemilu 2019, patut untuk dipertimbangkan menggunakan mekanisme e-counting ,” ungkap dia. D a l a m m e k a n i s m e e-counting , kata Viryan, pemungutan suara tetap dilakukan secara manual dengan menggunakan surat suara. Namun, lanjut dia, penghitungan suaranya dilakukan secara elektro- nik. “Jadi nanti surat suara dimasukkan ke dalam alat sehingga nanti hasilnya langsung terkonfirmasi, nah ini lebih efisien,” tutur dia. Hal yang harus diper- hatikan adalah alat yang digunakan untuk membaca dan menghitung suara secara elektronik. Alat tersebut ha- rus terjamin keandalan dan keamanannya, tidak boleh ada kesalahan saat membaca surat suara. “Kemudian tetap ada me- kanisme konfirmasi apabila dilakukan penghitungan atau konfirmasi terhadap suara yang masuk,” kata dia. Lebih lanjut, Viryan mengatakan sebenarnya ada pendekatan lain untuk menggunakan sistem elek- tronik dalam pemilu, yakni e-voting atau pemungutan, penghitungan suara sampai hasil pemilu dilakukan secara elektronik. Namun, menurut Viryan kebutuhan yang mendesak saat ini adalah e-counting . “Kalau lihat kebutuhan sekarang, yang perlu diper- timbangkan untuk diterapkan adalah e-counting . Namun, ini masih tergantung pembuat undang-undang,” ujarnya. [YUS/C-6]

SP/Joanito De Saojoao Petugas KPU DKI Jakarta memasukkan data hasil penghitungan suara Pemilu 2019 dari TPS ke Sistem Informasi Penghitungan (Situng), Senin (22/4).

atau smart card , pemeriksaan sidik jari, maupun melaluui nomor induk kependudukan (NIK) pada Kartu Tanda Pen- duduk elektronik (e-KTP). Kedua , internet voting . Selama terkoneksi dengan internet, pemilih bisa meng- gunakan hak pilihnya di mana saja dia berada Silvanus menyatakan, pe- nerapan e-voting sudah bisa dilakukan, ditunjang oleh p embangunan infrastruktur komunikasi di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini. Apalagi, menurut Ke- menterian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), koneksi dari Sabang sampai Merauke mencapai 90%. Artinya dalam satu atau dua tahun lagi, seluruh wilayah Indonesia harusnya telah mengakses internet. mendapatkan pelayanan kese- hatan. Kemkes, kata dia, sudah menginstruksikan puskesmas danrumahsakit di daerahuntuk memberikanbantuankesehatan kepada petugas KPU. “Sudah ada dukungan dari Kemkes agar puskesmas atau rumah sakit di daerah memberikan bantuan layanan kesehatankepada teman-teman kami yang sedang melaksa- nakan rekapitulasi suara di tingkat kecamatan,” kata dia. Selain itu, kata Viryan, Menteri Keuangan (Menkeu) SriMulyani sudahmenyatakan akan memberikan dukungan santunan para petugas KPU yang mengalami musibah. Bahkan, ada pemerintah da- erah yang ikut memberikan santunan. Viryan juga berharap tidak ada lagi petugas KPU yang gugur saat menyelesaikan tu- gasnya. “Kami berharap tidak ada lagi korban meninggal dunia atau sakit. Kemarin,

Menurut dia, ada banyak manfaat dari e-voting. Antara lain menghilangkan kemung- kinan suara yang tidak sah dan diragukan. Sebab, dalam banyak kasus, hal tersebut merupakan akar penyebab sengketa pemilu. Berikutnya, proses penghitungan suara jauh lebih cepat daripada sistem konvensional. “Arti- nya, ke depan bisa saja quick count (hitung cepat) tergerus dengan hadirnya e-voting . Logistik surat suara fisik juga akan jauh berkurang dan tentunya akan lebih hemat dari segi anggaran,” imbuh Silvanus. Kekurangan Meski demikianSilvanus menuturkan, e-voting bukan- lah tanpa cela. “Kita harus memahami pula ada ancaman kami juga menyampaikan dan mendapat respons positif dari Kemkeu soal bantuan kesehatan di kecamatan,” kata dia. Sementara itu,Mabes Polri mengatakan, ada 15 anggota Polri yang meninggal dunia saat melaksanakan tugas pengamanan pemilu dalam berbagai tahap. Mereka gugur dengan sebab bermacam-ma- cam, mulai dari kecelakaan, serangan jantung, hingga kelelahan. “Data terbaru sampai hari ini, ada 15 anggota Polri yang meninggal dunia dalam pengamanan pemilu. Kami berharap tidak ada jatuh kor- ban lagi,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Jakarta, Rabu (24/4). Seluruh anggotaPolri yang meninggal dunia saatmelaksa- nakantugaspengamananpemilu telah diberikan penghargaan berupa kenaikan pangkat satu tingkat. “Apayangmenjadi hak

dari penerapan e-voting, yakni literasi politik digital yang jadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan partai politik,” ungkapnya. Bagi generasi milenial, menurut Silvanus, mungkin dapat dengan cepat bera- daptasi dengan sistem baru. Namun, akan lebih sulit bagi generasi tua yang nantinya bakal kesulitanmenggunakan hak suara melalui e-voting . “Jadi harus ada pendi- dikan politik digital yang masif dan merata di Indo- nesia untuk mengantisipasi persoalan e-voting ,” ucap Silvanus. Selain itu, muncul dilema terkait dengan isu bebas dan adil. Sebab, setiap teknologi yang terkoneksi internet, berpotensi untuk dibajak. “Harus dipersiapkan dengan almarhumoleh negara semua- nya telahdipenuhi.Kalau2014 (anggotaPolri yangmeninggal dunia) ada, tetapi kecil sekali. Pemilu 2019 ada peningkatan, karenawaktupelaksanaanpemi- lucukuppanjangdemikianjuga pengamanan yang dilakukan,” urainya. Dijelaskan, pengamanan oleh Polri mulai dilakuikan sejak pendistribusian logistik pemilu hingga saat pemungut- an suara di TPS. Penghitungan suara hingga 10 jam lebih, kemudian anggota Polri ber- samaTNImengamankan surat suara dari TPS menuju PPK, yang juga dibutuhkan waktu. “Sebagian besar anggota Polri yang meninggal itu berada di luar Jawa (karena kelelahan akibat jarak yang jauh). Yang di Jawa, karena kecelakaan. Kami melakukan analisis dan evaluasi secara komprehensif agar ada per-

119 Petugas KPU Meninggal Dunia Saat Bertugas

baikan,” ujarnya. [YUS/FAR/O-1]

Made with FlippingBook - Online Brochure Maker