SP180808

Suara Pembaruan

Utama

2

Rabu, 8 Agustus 2018

Anies Pilihan Realistis Prabowo?

M eski namanya sem- pat meredup, Guber- nur DKI Jakarta Ani- es Baswedan rupanya tetap masuk dalam bursa bakal ca- lon wakil presiden (cawapres) mendampingi Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto. Anies, yang hingga kini belum menjadi kader partai mana pun, disebut-sebut menjadi pilihan realistis saat ini dan dapat diterima partai koalisi. Sumber SP di Jakarta,

akhir pekan lalu mengatakan, persaingan untuk menjadi ca- wapres Prabowo sebenarnya sudah selesai. Masing-masing pemimpin parpol koali- si, yakni PAN, PKS, Partai Demokrat, dan Partai Gerindra sudah menemukan kata sepakat soal pendamping Prabowo. “(Cawapres Prabowo) saya kira tidak terlalu ma- salah lagi. Masing-masing anggota koalisi menginginkan

kadernya. Itu hal yang biasa. Tetapi, tetap harus ada jalan tengah. Jadi, saya kira sudah mengerucut,” ujar sumber itu. Dikatakan, untuk meningkatkan daya tawar parpol koalisi, tentu pergerakan di internal partai menjadi suatu dinami- ka politik. Tawar menawar politik bila Prabowo terpilih jadi Presiden harus dima- tangkan sejak awal. “Ter- masuk juga ‘amunisi’ yang

diterima parpol pendukung. Itu perlu juga. Saya kira, tidak ada makan siang yang gratis,” ucapnya. Sumber itu meyakini bahwa Anies Baswedan akan menjadi prioritas Prabowo un- tuk menjadi pendampingnya. “Bila Anies jadi cawapres dan Sandiaga Uno menjadi guber- nur, tentu tawarannya kader PKS yang akan menjadi wakil gubernur DKI Jakarta. Saya kira itu juga pilihan realistis bagi PKS,” tuturnya. [H-14]

Koalisi Pilpres 2019 Parpol Pertimbangkan Dampak Elektoral ke Pileg

[JAKARTA] Pertimbangan ideologis tidak menjadi pertimbangan utama bagi partai politik (parpol) untuk membentuk koalisi pada Pil- pres 2019. Dampak elektoral capres yang diusung terhadap perolehan suara dalampemilu legislatif (pileg) menjadi per- timbangan utama, mengingat tahun depan pilpres dan pileg digelar secara serentak. Demikian pandangan pakar politik Djayadi Hanan danDirektur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya, di Jakarta, Rabu (8/8). “Biasanya partai-partai itu berkoalisi karena alasan kesa- maan ideologis dan platform kebijakan. Itu yang lazim di berbagai belahan dunia. Tapi di Indonesia, partai-partai tidak banyak dibedakan oleh aspek ideologis. Alasannya lebih banyak bersifat kepen- tingan-kepentingan elektoral pemilu jangka pendek,” kata Djayadi. Menurutnya, tak ada perbedaan orientasi kebijakan yang tajamantarpartai. Misal- nya mengenai investasi asing dan ekonomi kerakyatan. “Apakah ada partai yang tolak investasi asing? Tidak ada. Apakah ada partai yang tidak setuju dengan ekonomi kerakyatan? Semua setuju,” ujarnya. Direktur Eksekutif Sai- ful Mujani Research and Consulting (SMRC) tersebut mencatat beberapa hal yang justru menjadi pertimbangan utama parpol berkoalisi. Salah satunya, pasangan capres dan cawapres mana yang paling berpeluang memenangi pilpres. Faktor lainnya, koalisi mana yang memungkinkan kader partainya dinominasikan sebagai capres atau cawapres. Selain itu, apakah koalisi itu memberi konsesi jabatan apabila tidak bisa mengusung kader menjadi capres atau cawapres. “Bisa bentuknya konsesi politik ataupembagian tugas memenangkan pilpres,” ungkapnya.

Djayadi menambahkan, keserentakanpenyelenggaraan pileg dan pilpres tahun depan juga mengubah faktor yang menjadi pertimbangan parpol dalam membentuk koalisi. Parpol sangat mencermati efek “ekor jas” ( coattail effect ) pilpres terhadap keterpilih- an calon anggota legislatif (caleg) yang mereka usung dalam pileg. Jika partai tertentu berga- bung dengan capres populer, diharapkan timbul dampak positif terhadap caleg dan parpol yang mengusungnya. “Secara teoretis, kalau di Indo- nesia, orang akan dipengaruhi pilihan dalampilpres presiden. Namun, secara empiris itu belumdibuktikan, karena kita belum pernah melaksanakan pemilu serentak,” tuturnya. Berhitung Disinggung mengenai manuver Partai Amanat Nasional (PAN) yang be- lum memutuskan ke mana

kata Djayadi.

diakui bahwa efek elektoral Jokowi bisa dinikmati oleh partai pendukungnya di Pilpres dan Pileg 2019 yang dilakukan bersamaan. Sebab, kekuatan figur masihmenjadi faktor dominan yangmempe- ngaruhi pemilih dibandingkan partai politik. “Pemilih cenderung lebih mantapmemilih figur tertentu dibandingkan partai tertentu di Pilpres dan Pileg 2019. Loyalitas pemilih lebih tinggi ke figur dibandingkan partai Selain faktor Jokowi, me- nurut Yunarto, faktor koalisi di kubu Prabowo Subianto juga berpengaruh terhadap PAN.Menurut dia, segmentasi pemilih PAN dan PKS sedikit banyak beririsan.  “Nah, beda kalau PAN di kubu Jokowi, segmentasi pemilihnya jelas. PAN me- wakili Muhammadiyah dan berbeda dengan segmentasi pemilih PKB dan PPP yang umumnya NU,” terang dia. Tak hanya itu, kata dia, faktor PartaiDemokrat di kubu Prabowo juga bisa berdampak terhadap PAN. Apalagi, jika Prabowo menggandengAgus HarimurtiYudhoyono (AHY) menjadicawapresnya.“Kondisi itu, bisamembuatPANmenjadi tenggelamdalammenghadapi pileg,” tandasnya. Meskipun demikian, lan- jut Yunarto, faktor penentu yang bisa memastikan PAN mendukung Jokowi atau tidak adalah sikap politik Ketua Dewan Kehormatan PAN Amies Rais. Menurut dia, Amien Rais bisa jadi menjadi penghambat PAN berkoalisi dengan kubu Jokowi. “Kalau mau berkoalisi dengan Jokowi, maka tugas Zulkifli Hasan adalah me- yakinkan Amien Rais untuk mendukung Jokowi. Jika tidak, PAN akan tetap di kubu Prabowo, bahkan bisa pecah,” jelasnya. [YUS/C-6] politik,” tandas dia. Segmentasi Pemilih

Survei Elektabilitas (%)

Di sisi lain, ia menam- bahkan, kubu Jokowi meng- upayakan agar PAN menjadi rekan koalisi. Sebab, kubu Jokowi tak menginginkan terbentuknya poros koalisi baru di luar koalisi pengusung Prabowo. “Kubu Jokowi ingin menghindari potensi lahirnya poros baru,” imbuhnya. Pandangan senada disam- paikan Yunarto Wijaya. Dia menilai, salah satu faktor yang bisamendorongPANakhirnya memilih mendukung Jokowi adalah peluang kemenangan di Pilpres 2019. Menurut Yu- narto, peluang Jokowi untuk menang masih besar. Hal itu merujuk dari semua survei yang menempatkan Jokowi memiliki tingkat elektabilitas teratas. “Peluang Jokowi menang itu besar dan daya tarik elek- toralnya juga besar. Hal ini bisa membuat PAN tertarik ke kubu Jokowi,” ujarnya. Menurut Yunarto, harus

arah koalisinya, dan justru membuka peluang bergabung dengan poros koalisi peng- usung capres petahana Joko Widodo (Jokowi) ketimbang Prabowo Subianto, menurut Djayadi, PAN kemungkinan berpandangan bahwa di kubu Prabowo, tak ada jaminan kursi cawapres. Paling-paling PAN hanya dijanjikan kursi menteri kalau seandainya

Prabowo menang.

“ Nah , tampaknya PAN berhitung yang lebihmungkin menang itu Jokowi bukan Prabowo. Sekalian saja ikut yang lebih memungkinkan menang, toh di (koalisi) Prabowo tidak dapat cawap- res.Wajar saja kalau nantinya PAN bergabung dengan kubu Jokowi, karena nantinya juga bisamendapat kursi menteri,”

ANTARA/Wahyu Putro A Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan dengan Ketua MPR yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan sebelum melakukan pertemuan tertutup di Jakarta, Senin (25/6) lalu.

Terkait hal

> 4

Made with FlippingBook - Online magazine maker