SP180803

Suara Pembaruan

Utama

2

Jumat, 3 Agustus 2018

Jaga Soliditas Koalisi, Pengumuman Cawapres Diulur?

P emilihan Presiden pakan pertandingan ulang atau rematch antara Presi- den Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto. Pertarungan itu bakal ditentukan oleh calon wakil presiden (cawapres) yang dipilih Jokowi atau Prabowo. Pilihan atas cawapres itu juga bakal menentukan peta koalisi (Pilpres) 2019 kemu- ngkinan besar meru-

Jokowi dan Prabowo. Sumber SP menyebut- kan, akan partai yang bakal hengkang jika calon mereka tidak terpilih se- bagai cawapres, baik dari gerbong Jokowi maupun Prabowo. “Baik di koalisi Prabowo atau Jokowi, akan ada partai yang mengancam untuk balik badan jika kader mereka tidak dipilih sebagai cawapres,” kata sumber itu

di Jakarta, Jumat (3/8). Untuk itu, baik Prabowo maupun Jokowi menahan diri untuk tidak tergesa-gesa mengumumkan nama cawapres mereka. Selain mengintip pilihan kompetitor, strategi ini di- gunakan agar tidak ada partai yang membelot dari koalisi. “Kalau diumumkan pada detik-detik akhir, tidak ada waktu bagi partai itu untuk menyeberang. Semen-

tara, kalau abstain, bakal dapat sanksi. Jadi, mau atau tidak mau partai itu bakal ikut dengan keputusan capres mereka,” katanya. Meski pada akhirnya tetap berada dalam koalisi, kata sumber itu, tidak ter- tutup kemungkinan partai yang sakit hati hanya di atas kertas mengusung capres. Sementara, mesin partainya digerakkan untuk memen- angkan kompetitor dari capres yang diusung. [F-5]

Ganjil Genap Jadi KeluhanWarga Pemprov DKI Jakarta Belum Siap

[JAKARTA] Pelaksanaan pem- batasan kendaraan bermotor di Jakarta dengan sistem ganjil genap dikeluhkanmasyarakat baikpengguna kendaraan pribadi maupun angkutan umum, bahkan dunia usaha. Warga memaklumi kebijakan Pemprov DKI Jakarta membatasi kendaraan pribadi selama berlang- sungnya Asian Games. Namun demikian, Pemprov DKI Jakarta dianggap belum cukup menyiapkan fasilitas angkutan yangmemadai agar warga bisa beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Selain itu, aparat kurang sigap memasang rambu petunjuk jalan alternatif. Tak mengherankan jumlah pelanggaran pada hari kedua pe- laksanaan sistem ganjil genap di luar prediksi justru meningkat 21% menjadi 1.330 tilang. Padahal sistem ini sudah disosialisasikan sejak dua minggu sebelumnya. Pemprov DKI Jakarta diharapkan secepatnya merealisasikan sistem elektronik jalan berbayar atau electronic road pricing (ERP). Penurunan Pengunjung Asosiasi Pusat Belanja Indonesia (APBI) DKI Jakarta mengeluhkan perluasan kebijakan sistem Gan- jil-Genap telah berdampak pada penurunan jumlah pengunjung ke pusat perbelanjaan atau mal di DKI Jakarta. Ketua APBI DKI Jakarta, Ellen Hidayat mengatakan dalam dua hari pelaksanaan telah terjadi penurunan lalu lintas kendaraan ke pusat belanja di wilayah DKI Jakarta. Penurunan lalu lintas ke mal atau pusat belanja mencapai sekitar 20%-30%. “Saya memang belum dapat datanya lengkap tapi dari mal yang sudah berhubungan dengan kami kurang lebih terjadi penurunan 20%. Tapi sepertinya bisa sampai 30% lho . Semua orang kaget. Karyawan yang rumahnya jauh bingung. Punyamobil hanya satu,” kata Ellen, Jumat (3/8). Penurunan ini kemungkinan akan lebih parah pada hari Sabtu dan Minggu. Karena di dua hari weekend ini, peraturan perluasan ganjil genap juga diterapkan. Ellen keberatan bila kebijakan perluasan Ganjil-Genap diperpanjang. Sistem Ganjil-Genap membuat sejumlah warga kini memilih meng- gunakan transportasi lain selain

mobil, seperti ojek online (ojol) , bus Transjakarta dan kereta Commuter Line. Tu l u s Ma -

h a r dono ( 35 ) , warga Ciganjur, Jagakarsa, Jaksel, yang memiliki mobil berpelat ganjil, menyiasati me n g g u n a k a n transportasi kereta rel listrik (KRL) atau ojol dari rumah menuju kantornya di ka- wasanKuningan, Jaksel.

“Lebih murah bawa mobil sendiri ketimbang angkutan umum. Selain itu, dari sisi waktu juga lebihefisienmenggunakan mobil pribadi,” katanya, Jumat. Menggunakan ojol, setiap hari ia bisamengeluarkanRp80.000-90.000. “Naik kereta sih lebih murah tapi agak muter-muter . Waktunya lebih lama,” ungkapnya. Tulus setuju perluasan sistem ganjil genap. Saat tanggal ganjil ia membawa mobil. “Mau ke Kunin- gan, Jalan Thamrin, agak longgar sekarang. Dari Ciganjur keKuningan biasanya 1,5 jam, sekarang sekitar 1 jam. Tapi efeknya di pinggir lebih padat. Jalan Dharmawangsa yang sebelumnya longgar jadi macet,” katanya. Ia mendukung sistem ini asal moda transportasi massa harus lebih baik. Selain itu sosialisasi masih harus terus digencarkan, termasuk memperbanyakrambu-rambudi jalan. Anis Riyanda (34), warga Cile- dug, Tangerang, juga menggunakan transportasi umum untuk mengh- indari sistem ganjil genap menuju kantornya di kawasanMHThamrin, Jakarta Pusat. Karyawan salah satu perusahaan finance itu mendukung kebijakan sistem ini asal ada perbaikan moda angkutan massal. Dari sisi layanan angkutan umum, selama dua hari pelaksanaan perluasan ganjil genap, Pemprov DKI mengklaim terjadi penambahan jumlah penumpang angkutan umum sekitar 9,18%. Kepala Dinas Perhubungan DKI, Andri Yansyah mengatakan

genap. Karena implementas- inya baru dua hari. Sedangkan Juli lalu statusnya masih uji coba. Kita harus masih melakukan kajian lebih mendalam lagi,” kata Wibowo. BerdasarkandataPTTransjakarta, jumlah penumpang transportasi publik BRT, non BRT dan OKOtrip pada Kamis (2/8) mencapai 590.716 orang. Dengan rincian jumlah pen- umpangBRTTransjakartamencapai 413.787 orang, non BRT sebanyak 144.508 orang dan OKOtrip seban- yak 32.421 orang. Biladibandingkandengan jumlah penumpang pada Rabu (1/8) menca- pai 589.544. Dengan rincian, jumlah penumpang BRTmencapai 395.771 orang serta jumlang penumpang non BRT, termasuk OKOtrip mencapai 193.773 orang. Tilang Meningkat KepalaSubDirektorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas PoldaMetro JayaAKBP Budiyanto mengatakan, terjadi peningkatan jumlah tilang terhadap pelanggarGanjil-Genap sebesar 21% dari hari pertamadan hari kedua, Kamis (2/8). “Prediksi kami berkurang, tapi ternyata tidak. Hari pertama 1.102 tilang, hari kedua 1.330 tilang, naik 228atau21%,”ujarBudiyanto, Jumat (3/8). Bila setiap pelanggar terkena denda Rp 500.000, maka jumlah

dendapadaduahari pelaksanaanganjil genap sudah terkumpul Rp1,2miliar. Kepala SatuanLaluLintas (Kasat Lantas) Polres Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Polisi Juang mengatakan kemacetan yang terjadi di jalan alternatif akibat perluasan aturan ganjil genap. “ Ya , sudah pasti ada dampak dari aturan ganjil genap, macet. Padat merayap,” katanya, Kamis (1/8). Juang menuturkan seharusnya Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyediakan rambu petunjuk jalan alternatif sehingga pengguna jalan tidak selalu menanyakan hal yang sama kepada petugas. Lalu, Satpol PPdiharapkan dapat menertibkan pedagang kaki lima agar tidak menambah kemacetan yang terjadi pada sepanjang ruas jalan alternatif. Budiyanto menyampaikan, se- jak massa uji coba hingga dua hari pemberlakuan perluasanwilayah dan perpanjangan waktu ganjil genap terjadi penurunan volume kendaraan di wilayah Ganjil Genap. “Ya, ada pengurangan volume kendaraan di wilayah ganjil genap. Saat uji coba ada peningkatan kece- patan kendaraan 12,14% dan terjadi juga penurunan hambatan 16%,” katanya. Namun sebaliknya, terjadi peningkatan volume kendaraan di jalur-jalur alternatif. [Ant/BAM/LEN/A-15]

pihaknya belum mendapatkan data yang detail mengenai penurunan jumlah kendaraan bermotor akibat penerapan sistem ganjil genap. Hasil ini didapat dari survei yang didasarkanpadaempat indikator, yaitu kecepatan, waktu tempuh, volume kendaraan dan angka keterangkutan. Data angka keterangkutan meng- gunakan angkutan umum massal sebagai dampak aturan perluasan ganjil genap, harus didapat dari tiga indikator tersebut. “Sampai saat ini, data angka keterangkutan dilihat dari tiga indikator yaitu kecepatan, waktu tempuh dan volume kendaraan, masih ada kenaikan 9,18%. Itu pun hasil survei dari bulan Juni ke Juli. BelumAgustus,” ujarnya. Ditempat terpisah, Kepala Humas PT Transjakarta, Wibowo membenarkan terjadinya pening- katan jumlah penumpang bus rapit transit (BRT) Transjakarta dan non BRT serta angkot OKOtrip. Namun masih terlalu dini bila dikatakan peningkatan jumlah penumpang dikarenakan adanya penerapan perluasan ganjil genap. “Memang terjadi peningkatan jumlah penumpang BRT, non-BRT dan OK Otrip. Tapi masih terlalu dini kalau dibilang peningkatan ini terjadi karena perluasan ganjil

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online