ID160722

JUMAT 22 JULI 2016

24

spread untukmengantisipasi tingginya hedging tahun 2017. “Tahun depan, saat BI mewajibkan seluruh perusahaan Indonesia yang memiliki utang luar negeri melakukan hedging , maka kami harus memper- siapkan instrumennya,” kata dia. Nanang menambahkan, besaran pre- mi hedging untuk call spread mencapai 1,5-3%. Premi tersebut lebih rendah dari premi hedging skema vanilla yang di angka 6%. Sementara itu, Senior Vice President Head of International Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Ferry Robbani menjelaskan, pihaknya be- rencana menerbitkan NCD untuk menampung dana repatriasi. Tahun 2015, Bank Mandiri sudah menerbit- kan NCD sebesar Rp 2,6 triliun. “NCD yang akan kami terbitkan ini tenornya dapat di- match dengan lock up period dana repatriasi,” kata dia. Di sisi lain, Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Iman Nugroho Soeko mengungka- pkan, adanya aturan tambahan BI untuk NCD bisa meningkatkan nilai perdagangan NCD. Pasalnya, saat ini imbal hasil NCD masih berada di angka hold to maturity . “Prinsipnya, kalau regulator membuat aturan untuk memperdalam sistemkeuangan, tentu akan kami sambut dengan gembira,” ungkap dia. Untuk instrumen valas, Iman ber- pendapat, ada baiknya dana amnesti pajak bisa dikonversi dalam bentuk rupiah. Hal ini untuk mengantisipasi risiko spekulatif dari transaksi valas. Dukung Akselerasi Kredit Sementara itu, BI juga mempre- diksi likuiditas yang masuk dari dana

Oleh Gita Rossiana

Investor daily/ANTARA FOTO/Seno/ama/16.

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) melakukan pen- dalaman pasar keuangan untuk menampung dana amnesti pajak yang masuk ke Indonesia. Dalam hal ini, BI menyiapkan aturan tambahan mengenai inst- rumen negotiable certificate of deposit (NCD) dan in- strumen pasar uang lain bertenor di atas satu tahun.

dana repatriasi dalam bentuk valuta asing (valas). Pasalnya, Juda menilai akan ada sekitar 50-60% dana amnesti pajak berbentuk valas. “Kami perlu menerbitkan instrumen dalam bentuk valas seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI) valas,” ujar dia. Intinya, menurut Juda, instrumen yang dipersiapkan adalah instrumen yang bertenor di atas satu tahun. Pasalnya, dana repatriasi diharuskan berada di Indonesia selama tiga ta- hun. Saat ini, tenor instrumen valas di bawah sembilan bulan. “Jadi kami mengkaji untuk SBI valas satu tahun dan di atas satu tahun,” kata dia. Penerbitan aturan ini, jelas Juda, akan dilakukan setelah dana repatriasi masuk ke Indonesia. Saat ini hal terse- but belum bisa dilakukan karena be- lum ada dana signifikan yang masuk. Di sisi lain, Kepala Departemen Pengembangan Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsah mengatakan, instrumen hedging (nilai tukar) saat ini cukup lengkap, yaitu untuk transaksi forward , swap, dan option . Namun ke depan, BI juga akan mengembangkan instrumen call

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara menje- laskan, peran amnesti pajak sangat penting untuk meningkatkan kemam- puan fiskal dan menambah likuiditas perekonomian. Oleh karena itu, BI perlumendukungmelalui pendalaman pasar keuangan yang terkait investasi dan lindung nilai. “Kami pun akan berkoordinasi dengan pemerintah agar dana repatriasi bisa bermanfaat bagi sektor riil,” kata Tirta di Gedung BI, Jakarta, Kamis (21/7). Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung menjelaskan, aturan instrumen pasar uang yang akan diterbitkan BI adalah NCD facili- ties untuk segmen wholesales . BI sudah mengeluarkan aturan mengenai NCD facilities untuk segmen ritel. “Jadi yang berbeda mengenai NCD ini adalah pe- runtukkannya yang untuk wholesales bukan cuma ritel, sehingga jumlahnya bisa lebih besar,” tegas dia. Selain menerbitkan aturan NCD wholesales , BI berencana menerbit- kan aturan untuk instrumen lain yang bertujuan untuk menampung

Pemanfaatan Layanan Bank Mandiri Group Head Small Business Bank Mandiri Hermawan (kanan), Direktur PT Mitra Maju Mapan Agung Murhadi (kiri), disaksikan Kepala Biro Utang-Piutang Semen Indonesia Endro Judi Tjahyono (kedua kiri) menandatangani surat perjanjian kerja sama peman- faatan layanan Mandiri eBiz financing di Jember, Jawa Timur, Kamis (21/7). Bank Mandiri menyiapkan skema mandiri eBiz financing untuk 40 jaringan retailer PT Mitra Maju Mapan yang menjadi distributor Semen Gresik guna meningkatkan penjualan, kepastian pembayaran dan mengurangi resiko penagihan, dimana Bank Mandiri telah mengucurkan pembiayaan Rp 2,3 triliun untuk jaringan distributor Semen Indonesia Group.

“Kebijakan moneter diharapkan bisa ditransmisikan ke suku bunga kredit, sehingga mengakselerasi pertumbu- han kredit,” kata dia. Sampai Juni 2016, penurunan BI rate yangmencapai 100 basis poin (bps) atau 1% sudahditransmisikan ke suku bunga deposito sebesar 80 bps atau 0,8%. Di sisi lain, transmisi ke suku bunga kredit baru 45 bps atau 0,45%. “Sampai akhir tahun ini kami harapkan transmisi ke suku bunga kredit bisa lebih dari 50 bps atau 0,5%, pengalaman dulu bahkan bisa mendekati 1%,” jelas dia.

supply dan permintaan,” terang dia. Menurunnya permintaan kredit dirasakan sejak awal tahun 2016. Namun pada Mei 2016, perlambatan ini sedikit membaik. Pasalnya, pada posisi tersebut pertumbuhan kredit bank mencapai 8,3% secara year on year (yoy), naik dibandingkan posisi April 2016 yang sebesar 8% (yoy). Perbaikan pertumbuhan kredit, menurut Juda, diharapkan berlang- sung hingga Juni 2016 ke angka 8,9%. Sementara sampai akhir 2016, pertum- buhan kredit bisa mencapai 10-12%.

amnesti pajak sekitar Rp 560 triliun. Dengan dana tersebut, dampak ter- hadap pertumbuhan kredit baru bisa dirasakan pada tahun depan, yaitu bisa terakselerasi hingga 2-3%. Juda mengungkapkan, per tum- buhan kredit perbankan tidak bisa hanya ditentukan dari sisi supply, yaitu likuiditas yang mengalir ke bank. Sisi permintaan kredit juga menentukan tingginya pertumbuhan kredit. “Kami lihat perkembangan, tidak hanya sisi supply yang besar, namun juga sisi per- mintaan sehingga harus sesuai antara

Made with FlippingBook HTML5