SP170123

Utama

Suara Pembaruan

2

Senin, 23 Januari 2017

Bingung Cari Moderator Debat?

D ebat calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta jilid dua tinggal empat hari lagi. Namun, sampai saat ini Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta dikabarkan masih bingung untuk memu- tuskan siapa moderator yang akan memandu jalannya debat yang akan diselengga- rakan Jumat (27/1) tersebut. “KPU DKI sampai saat ini masih mencari siapa layak untuk menjadi moderator,” kata sumber SP , di Jakarta, Senin (23/1). Sumber itu menuturkan, KPU menentukan tiga krite-

ria dalam mencari moderator, yaitu integritas, kapasitas, dan independensi. “Salah satu komisioner KPUD meminta masukan, siapa yang cocok. Calon-calon nama ada, cuma butuh waktu untuk Sumber itu mengungkap- kan, sebenarnya KPU DKI telah memiliki beberapa daf- tar nama kandidat moderator. Nama-nama tersebut kemudi- an dicek latar belakangnya. “Setelah dilakukan pengecekan awal, ternyata nge- trace afiliasi calon moderator,” katanya.

ada beberapa nama yang ber- afiliasi atau mendukung pas- lon tertentu padahal modera- tor harus netral, tidak boleh berat sebelah dalam meman- du acara,” katanya. Sumber itu meng- ungkapkan, pihaknya memang mengusulkan beberapa nama dari berbagai profesi. “Kami usulkan dari pakar politik, pakar perkotaan, yang tak terafiliasi dengan paslon ter- tentu,” katanya tanpa mau menyebut siapa saja sosok yang diusulkan. Hari ini, KPU akan mem- bahas nama-nama moderator

dengan tim pasangan calon Agus Harimurti Yudhoyono- Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. “Moderator juga harus dise- tujui oleh semua tim pasang- an calon,” katanya. Sementara itu, terkait jumlah pendukung dalam debat, sama seperti debat per- tama, seratus orang dari seti- ap tim. Adapun tema yang ditentukan bakal lebih spesi- fik dibanding tema debat per- tama yakni reformasi birokra- si dan penataan kawasan kota. [W-12]

Kebijakan Trump Perbesar Peluang Tiongkok Hubungan AS-Rusia Diperkirakan Tak Berubah

[JAKARTA] Donald Trump resmi menjabat presiden Amerika Serikat (AS).Tidakseperti parapendahulunya, Trump tampaknya telahmenyampai- kan pidato pelantikan yang membuat para pemimpin dunia, termasuk sekutu-sekutunya, berada dalamketi- dakpastian. Trump menekankan kebijakan mengutamakan rakyatAmerika dalam slogan “America First”. Dalam pida- to pelantikannya, Trump hanya ber- bicara sedikit tentang kerja sama internasional atau membangun jem- batan dengan negara lain. Sebaliknya, pengusaha real estat berusia 70 tahun itu justru mengkritik dana-dana AS yang dikeluarkan untuk kepentingan pihak lain, seperti industri luar nege- ri, perbatasan, atau subsidi bagi ten- tara sekutu. Hal itumenguatkan indikasi bakal ada perubahan besar kebijakan AS selama empat tahun rezim Trump berkuasa. Perubahan signifikan anta- ra lain diperkirakan akan dilakukan dengan me- review kebijakan perda- gangan. Jika itu dilakukan, pengaruh besar bakal dirasakan Tiongkok. Pengamat internasional yang juga GuruBesarFakultasHukumUniversitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana, mengatakanpara pemimpindunia saat ini masih “ wait and see ” atas imple- mentasi 100 hari kerja kabinet Trump. Banyak pihak, termasuk sekutu-seku- tunya, mempertanyakan maksud kebijakan“AmericaFirst”versiTrump. “Apakah artinya Amerika akan menarik diri dari perannya sebagai polisidunia?Kalauituterjadi,Tiongkok yang akan ambil posisi,” kata Hikmahanto kepada SP, pekan lalu. Hikmahanto mengatakan, bagai- manapun Jepang tidak akan membi- arkan pengaruh Tiongkok semakin besar pasca-Obama. “Itu sebabnya perdana menteri Jepang melakukan kunjungan ke Indonesia, Manila, Australia, Vietnam. Untukmenganti- sipasi jika menarik diri, dia (Jepang) minta ASEAN bisa menjadi penye- imbangkehadiranTiongkok,”ujarnya. Hikmahanto mengatakan, dalam pidatonya,Trumpmenekankan sejum- lah poin. Pertama , Trump mengang- gap penting lapangan pekerjaan bagi rakyat AS, sehingga hal itu akan

Sejumlahpengamatmenilai,meskipun keduanya saling melempar pujian, TrumpdanPutin sama-samamemiliki misi dan visi yang berbeda untuk kejayaan negara masing-masing. Sekalipun dipaksakan pada awal- nya, kemitraan strategis yangmungkin akan dibangun Trump dan Putin tak akanbertahan lama.HubunganTrump- Putin digambarkan sebagai sepasang kekasih yang baru jatuh cinta dan saling mengagumi. Atas dasar itu, keduanya bisa saja membuat AS dan Rusia bergandengan tangan dalam kemitraan strategis baru. Namun, jika mereka benar-benar mencoba, kedua pemimpin akan segera menemukan bahwa apa yangmereka tawarkan satu sama lain tidak dapat diterima oleh masing-masing pihak. “Mereka akan segeramenemukan bahwa tawaran yang diberikan sangat tidakmenarik, dan hargamasing-ma- sing pasangan untuk kesepakatan strategis tidak dapat diterima kedua pihak. Ini akan menjadi kisah perce- raian yang terjadi dimasa berkencan,” kata Jonathan Eyal, dalam opininya di The Straits Times , Minggu. Meskipun salingmengagumi satu sama lain, bahkan membuat pernya- taan yang menunjukkan keterbukaan kerja sama,TrumpdanPutindianggap akan tetapmengutamakan kepenting- an masing-masing negara, yang akan membuatnya mengalami kebuntuan dalam bernegosiasi. Terkait dengan isu-isu geopolitik tersebut, Trump dan Putin, diyakini akan mengalami kesulitan untuk menegosiasikan kebijakan kedua negara. Namun, dalam urusan pere- konomian dan bisnis, keduanya memiliki visi dan misi yang hampir sama dan kemungkinan bisa tercapai kesepakatan. “Kemungkinan Trump dan Putin akan sepakat soal membasmi teroris- me di Suriah, namun saling tarik-me- narik soal konflikUkraina,” ujar Eyal. Diamenambahkan, Trump punya kepentingan mendekati Putin untuk menelikung Tiongkok. Hal itu, didu- ga dilakukan Trump untuk melancar- kan kebijakan politiknya yang ingin menghambatdominasiTiongkokdalam perekonomian dunia. [ Newsweek/China Daily /C-5/J-9]

foto-foto:ap

XI Jinping

Donald Trump

Vladimir Putin

mewarnai setiap kebijakannya. Kedua , patriotismeAS akan diba- ngun lewat slogan “America First”, kemudian “Buy American, Hire American”. “Bahkan kebijakan yang terkait dengan perdagangan, pajak, keimigrasian, danmasalah luar nege- ri dinyatakan akan memperhatikan keuntungan bagi pekerjaAmerika dan keluarganya,” katanya. Ketiga , Trump tampaknya tidak inginAS berperan lagi sebagai polisi dunia dengan biaya dariAS, sehingga negara lain menjadi lebih sejahtera daripada Amerika sendiri. Keempat , Trump sangat berani dalam pidato kenegaraannya dengan menyebut teroris sebagai Islamic radical terrorist. Seolah yang akan diberangus adalah kelompok teroris berbau Islam. “Ini tentunya akan mengundang ketidaksukaan dunia Islam, baik pejabat dan rakyatnya terhadap AS,” ujarnya. Menurut Hikmahanto, Trump juga mengindikasikan tindakan ber- beda dari para pendahulunya. Sebab, Trumpmenganggap para politisi lebih mementingkan kesejahteraannya daripada kesejahteraan rakyat. “Selain itu, Trump juga menyatakan akan membangun aliansi baru. Ini menjadi pertanyaan, apakahAS akan bermitra secara erat dengan Rusia?” kata Hikmahanto. Peluang Tiongkok Sementara itu, pengamat dari Pennsylvania State University, Flynt

L Leverett, menilai, pidato Trump yang mengindikasikan kebijakannya akan lebih mengutamakan kesejah- teraan dalam negeri, berpotensi membuka peluang yang lebih besar bagi Tiongkok untuk memimpin perekonomian dunia. Di saat Trump mengindikasikan keengganan pemerintahannya untuk memainkan peran di seluruh dunia dan lebih mengutamakan perekonomian dalam negeri, PresidenTiongkokXI Jinping justru semakin mendapat peluang untuk memimpin kebijakan per- ekonomian global. Hal itu, telahdiperlihatkan Jinping, saatmenghadiriForumEkonomiDunia (World Economic Forum/WEF), di Davos, Swiss, pekan lalu. Pidatonya menggambarkanbahwa kepemimpin- an global bergeser perlahan menuju Beijing. Pertahanan yang kuat dan kerja sama multilateral dunia kini bukan berada pada kebijakan pemim- pin Amerika, tetapi oleh Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT). “Di saat Trump mengabaikan tantangan internasional dan mengin- dikasikaninginmeninggalkantanggung jawab global dan para sekutu untuk fokus pada kebijakan domestik AS, PresidenTiongkokmemiliki peluang besar menaikan keterlibatan mereka secara global karena sudah selesai dengan pembangunan domestik,” ujar Leverett. Salah satu cara Jinping meraih dukungan dunia adalah lewat pernya- taannya yang menunjukkan bahwa

Tiongkok berkomitmen untuk berpar- tisipasi dalammenanggulangimasalah perubahan iklim dunia, antara lain denganmengucurkan anggaran untuk membayar emisi karbon kepada negara-negara yangmenjadi produsen CO2 terbesar dunia. Hal itu, berbeda dengan sikapTrump yang jutru alergi bahkan berniat menarik kucuran anggaran untuk membayar emisi karbon. Secara perekonomian, lanjutnya, Tiongkok tidak akan terpengaruh dengan kebijakan Trump. Namun, kedua negara kemungkinan akan terus memiliki hubunganpolitikyangburuk, terkait kebijakan “SatuTiongkok”, di mana pemerintahanTrump kini men- jalin hubungan baik dengan Taiwan, sertamasalahLaut ChinaSelatanyang menjadi kekuatan untuk berkuasa di Asia-Pasifik. AS-Rusia Sedangkan, opini TheStraitsTimes dan The Telegraph , yang dilansir Minggu (22/1) mengalkulasi hubung- an AS dan Rusia tak akan berubah, meskipun Donald Trump memiliki hubungan yang istimewa dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Hal itu, dipengaruhi oleh kepentingan strategis dan visi kedua negara yang berbeda. PernyataanTrump saat kampanye, bahkan setelah terpilih, yang meng- indikasikan keinginannya untuk membangunkemitraanstrategisdengan Rusia, sangat sulit direalisasikan.

Made with FlippingBook Online newsletter