ID190508

rabu 8 mei 2019 2 INTERNATIONAL

Oleh Happy Amanda Amalia  YANGON – Dua wartawan Reuters , Wa Lone dan Kyaw Soe Oo yang ditahan karena melaporkan krisis Rohingya di Myanmar, telah dibebaskan dari penjara pada Selasa (7/5). Keduanya diizinkan keluar penjara setelah mendapat ampunan dari Presiden Win Myint, menyusul kuatnya desakan kampanye global – serta diplomasi tertutup – yang menuntut pembebasan mereka.

Investor Daily/ERIC PIERMONT / AFP

melaporkan pembantaian 10 etnis umat Muslim Rohingya pada Septem- ber 2017, di negara bagian Rakhine yang dilanda konflik, di mana tentara Myanmar memaksa sekitar 740.000 minoritas tanpa kewarganegaraan untuk melarikan diri melewati per- batasan ke Bangladesh. Kasus ini memicu protes di seluruh dunia dan menghancurkan apa yang tersisa dari warisan Suu Kyi sebagai pembela hak asasi manusia. Menurut Reuters, kedua wartawan dipenjara sebagai tindak balasan atas laporan pemberitaan yang dibuatnya. Namun, pihak militer juga telah memenjarakan tujuh tentara dengan dakwaan melakukan pembantaian itu, di mana langkah militer ini sangat jarang dilakukan terhadap pelaku tindak kekejaman. Di sisi lain, tidak hanyaWa Lone dan Kyaw Soe Oo yang dibebaskan dengan pengampunan, melainkan ada lebih dari 6.000 tahanan lain. Juru bicara Pemerintah Myanmar Zaw Htay mengatakan kepada warta- wan, bahwa anggota keluarga telah mengirim surat kepada Suu Kyi dan Presiden Win Myint. “Para pemimpin telah mempertim- bangkan kepentingan jangka panjang negara itu,” pungkas Zaw Htay. Sementara Lord Ara Darzi, penasi- hat berkewarganegaraan Inggris dan orang kepercayaan Suu Kyi, menang- gapi kabar itu dengan mengatakan kedua wartawan “pantas”dibebaskan selang beberapa hari setelah Hari Kebebasan Pers Sedunia. “Pelajarannya sederhana, dialog berhasil bahkan dalam keadaan yang

 Sambungan dari hal 1 Menurut laporan, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo langsung dikerumuni wartawan sesaat keluar dari penjara Insein yang terkenal kejam di Yangon, Myanmar, setelah ditahan lebih dari 16 bulan. Keduanya melambaikan tangan dan tersenyum lebar ketika berjalan keluar dari penjara. Kabar penahanan kedua wartawan pada Desember 2017 itu langsung beredar luas di masyarakat inter- nasional, dan menjadi pertanda bu- ruknya kebebasan pers di Myanmar di bawah kekuasaan peraih hadiah Nobel sekaligus pemimpin sipil Aung San Suu Kyi. Wa Lone (33 tahun) menyampaikan ucapan terima kasih kepada orang- orang dari seluruh dunia yang telah membantu pembebasan mereka dan berjanji akan kembali bekerja. “Saya sudah tidak sabar untuk kem- bali ke ruang redaksi. Saya seorang wartawan dan saya akanmelanjutkan,” ujarnya. Sementara, Pemimpin Redaksi Reu- ters Stephen Adler mengaku senang dengan pembebasan wartawannya. “Kami sangat senang bahwa Myan- mar telah membebaskan wartawan pemberani kami. Sejak penangkapan mereka 511 hari yang lalu, mereka telah menjadi simbol pentingnya ke- bebasan pers di seluruh dunia. Kami menyambut kembalinya mereka,” katanya. Sebelumnya, dua wartawan Reuters didakwa dengan tuduhan telah mel- anggar Undang-undang (UU) Rahasia Negara Myanmar dan masing-masing dihukum tujuh tahun. Pada saat ditangkap, mereka telah Berdasarkan data Badan Pu- sat Statistik (BPS), per tumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2019 tumbuh 5,07% (yoy) atau dibandingkan kuartal I-2018. Namun dibanding kuar- tal IV tahun silam, ekonomi nasional pada kuartal I tahun ini turun 0,52%. Angka itu di bawah ekspektasi para ekonomi dan Bank Indonesia (BI) yang memprediksi per tumbuhan ekonomi kuar tal I-2019 mencapai 5,2%. Meski di bawah ekspektasi pasar, pertumbuhan PDB kuartal I-2019mer- upakan yang terbaik secara periodik dalam empat tahun terakhir. PDB kuartal I-2015, 2016, 2017, dan 2017 masing-masing tumbuh 4,83%, 4,94%, 5,01%, dan 5,06%. Data BPS menunjukkan, dalam em- pat tahun terakhir, pertumbuhan PDB tak pernah mencapai target. Dalam APBN 2015, asumsi pertumbuhan ekonomi dipatok 5,8%, kemudian dire- visi menjadi 5,7%, namun realisasinya cuma 4,88%. Dalam APBN 2016, 2017, dan 2018, asumsi pertumbuhan PDB dipatok 5,3%, 5,1%, dan 5,4%. Tapi yang terealisasi hanya 5,02%, 5,07%, dan 5,17%. Dalam APBN 2019, asumsi per- tumbuhan ekonomi ditetapkan 5,3%. Per tumbuhan PDB selama ini ditopang konsumsi rumah tangga (55-57% terhadap struktur PDB dari sisi pengeluaran), diikuti investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 32-33% dan ekspor 18-19% (dikurangi impor minus 17- 18%). Kontribusi konsumsi pemerintah hanya 6-7%, disusul konsumsi lembaga non-profit yang melayani r umah tangga (LNPRT) sebesar 1-1,4%. Pada kuar tal I-2019, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,01%, PMTB tumbuh 5,03%, ekspor minus 2,08%, konsumsi pemerintah tumbuh 5,21%, konsumsi LNPRT tumbuh 16,93%, dan impor minus 7,75%. Dari sisi lapangan usaha, struktur perekonomian Indone- sia didominasi industri, perdagangan, dan pertanian. Pada kuartal I-2019, PMTB tum- buh melambat (hanya tumbuh 5,03% dibandingkan periode sama tahun lalu 7,94%). Ekspor juga mengalami kontraksi masing-masing 2,08% (yoy) dan 7,04% (kuartalan). Tercepat di Asean Peneliti Indef Izzudin Al Farras Adha mengungkapkan, kualitas per- tumbuhan ekonomi sulit tercipta jika pertumbuhan PDBmasih bergantung pada konsumsi, baik konsumsi rumah tangga, konsumsi LNPRT, maupun konsumsi pemerintah. Untuk meningkatkan kualitas per-

Forum Paris Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (depan, empat kanan), Menteri Keuangan dan Perekonomian Prancis Bruno Le Maire (tiga kanan) dan partisipan lain foto bersama pada acara Paris Forum di kantor Kementerian Perekonomian Prancis di Paris, Selasa (7/5).

Kebahagiaan Keluarga Sedangkan Juru bicara militer Zaw Min Tun tidak banyak berkomentar tentang pembebasan itu, kecuali bahwa kasus telah diselesaikan sesuai dengan hukum. Selama berada dalampenjara, kedua wartawan sudah melewatkan banyak peristiwa penting keluarga, termasuk kelahiran putri Wa Lone. Oleh karena itu, keluarga mereka sangat menyam-

dan penghargaan sebagai bentuk tang- gapan atas pekerjaan mereka. Bulan lalu, mereka memenangkan Hadiah Pulitzer yang bergengsi. Wa Lone dan Kyaw Soe Oo juga muncul di sampul majalah TIME sebagai bagian salah satu person of the year tahun ini yang menampilkan sejumlah war tawan yang diincar karena pemberitaan yang mereka buat. (afp)

but gembira kabar pembebasan. “Kami sangat senang,” ungkap Chit Su Win, istri dari Kyaw Soe Oo, kepada AFP . Foto pertemuan kembali kedua pa- sangan itu pun beredar luas di Twitter, di mana mereka melontarkan senyum seraya menggendong putri mereka masing-masing. Kendati berada di penjara, kedua wartawan diganjar oleh banyak hadiah

paling sulit,” katanya kepada media di Yangon. Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence, yang sebelumnya mengecam penahanan wartawan Reu- ters, juga mengomentari pembebasan itu sebagai sebuah kabar bagus. “Kebebasan beragama dan ke- bebasan pers sangat penting untuk demokrasi yang kuat,” tulis Pence di di Twitter.

Erani sepakat bahwa untuk men- ingkatkan industri manufaktur maka reindustrialisasi harus dilakukan ber- samaan dengan program penyerapan tenaga kerja dan ekspor. Dia mengungkapkan, pemerintah sudah menempuh sejumlah hal. Per- tama, penguatan SDMdengan inisiasi programbaru, misalnya kartu prakerja dan vokasi. Kedua, hilirisasi produk untuk meningkatkan nilai tambah. Ketiga, membangun industri berbasis sumber daya lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku. Keempat, memberikan insentif fiskal dan nonfiskal untuk menarik realisasi investasi ke industri manufaktur. Project Consultant ADBI Eric Al- exander Sugandi mengemukakan, dengan star t yang agak lemah di level 5,07% pada kuartal I-2019, target PDB tahun ini sebesar 5,3% agak sulit tercapai. “Realisasinya kemungkinan di range 5-5,2%,” tutur dia. Untuk mengoptimalkan industri pengolahan, menurut Eric, pemerin- tah harus melakukan hilirisasi dan dif- erensiasi produk sesuai target pasar. Otomatisasi juga bisa meningkatkan daya saing industri, namun terjadi pemisahan ke penyerapan tenaga kerja yang tergantikan mesin. “Oleh karena itu, SDM di manufak- tur harus ditingkatkan kemampuan- nya. Ini untuk menunjang industri yang makin bergerak ke produk dengan nilai tambah tinggi dan padat modal,” tandas dia. Menurut Eric Sugandi, untuk men- capai pertumbuhan PDB di level 6%, industri manufaktur dari sisi supply harus digenjot karena Indonesia men- galami deindustrilisasi. Deindustril- isasi terjadi akibat banyaknya produk domestik yang tidak bisa bersaing dengan produk impor, khususnnya dari Tiongkok. “Terlepas dari soal harga, indus- tri besar dan UMKM mesti men- ingkatkan value added produk dan melakukan difrensiasi agar memiliki market niche tersendiri. Dengan be- gitu, produk lokal bisa bertahan dari gempuran produk impor,” tegas dia. Kondisi Politik-Keamanan Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, per- tumbuhan investasi pada kuar tal I-2019 melambat karena banyak in- vestor wait and see menjelang pemilu. “Kuncinya sekarang adalah pene- tapan hasil pemilu. Selain itu, proses perbaikan berbsinis yang sedang berjalan harus dipercepat,” tandas dia. Menurut Shinta, yang harus segera dikebut pemerintah adalah sinkro- nisasi peraturan pusat dan daerah, insentif untuk investasi yang memiliki nilai tambah tinggi, perbaikan sistem

Mengingat industri ke depan men- garah ke industri teknologi tinggi, kata Ryan, pemerintah harus komit dan konsisten menyediakan bujet yang memadai untuk pengembangan industri teknologi tinggi (industri 4.0) lewat digitalisasi. Bisa Tumbuh 5,3% Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Ke- menkeu Adrianto optimistis target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% tahun ini tercapai. Meski PDB kuartal I-2019 hanya tumbuh 5,07%, PDB pada kuartal-kuartal berikutnya bakal tum- buh lebih pesat, terutama disokong investasi dan konsumsi rumah tangga. “Pemerintah masih optimistis growth tahun ini ada di 5,3%. Mulai kuartal II, investasi dan konsumsi ru- mah tangga mulai menguat,” ucap dia. Menurut Adrianto, untuk mengop- timalkan industri manufaktur, pemer- intah memberikan insentif fiskal dan nonfiskal untuk industri yang meng- hasilkan komoditas bernilai tambah, salah satunya kawasan industri di Morowali, Sulawesi Tengah. “Kebijakan untuk mendorong pengembangan sektor industri saat ini adalahmemperkuat industri domestik untuk mengurangi ketergantungan impor,” ucap dia. Adriantomengakui, untukmencapai pertumbuhan ekonomi di level 6% harus dilakukan reformasi struktural. “Dari sisi supply side yang harus diperbaiki, di antaranya mendorong pertumbuhan investasi manufaktur melalui perbaikan kemudahan ber- investasi , membangun infrastruktur, dan upaya-upaya lainnya agar investasi meningkat,” papar Adrianto. Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika men- gatakan, ada sejumlah tantangan untuk mencapai target pertumbuhan PDB 5,3% tahun ini. Pertama, penurunan prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Pada April lalu, Dana Moneter Interna- sional (IMF)mengoreksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3% pada 2019, turun 0,2% dari proyeksi Januari 2019. “Proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju turun menjadi 1,8% dari perkiraan sebelumnya 2%. Per tumbuhan negara dan pasar berkembang turun menjadi 4,4% dari perkiraan sebelumnya 0,1%,” tutur dia. Kedua, kata Erani, lalu lintas perd- agangan dunia diprediksi melambat, menjadi 3,4% pada 2019. Pada saat yang sama, harga minyak kembali naik, yang akan berdampak pada ki- nerja neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan. “Tantangan itu mesti bisa dimitigasi dengan kebija- kan fiskal yang solid dan kebijakan moneter yang kredibel,” tandas dia.

( Online Single Submission / OSS ), dan penetapan daftar negatif investasi (DNI). Dia menjelaskan, untukmenggenjot kinerja ekspor, Indonesia tidak boleh bergantung pada ekspor komoditas, melainkan ke barang bernilai tambah tinggi. Kepala ekonom Bank BCA David Sumual mengungkapkan, jika PDB ingin tumbuh lebih cepat, pemerintah mau tidak mau harus menggenjot ekspor dan investasi. “Yang harus didorong lebih awal adalah investasi. Sebab jika ingin mengandalkan ekspor, kita masih tergantung komoditas yang sifatnya siklikal. Ke depan, Indonesia harus mendorong ekspor yang sifatnya Sementara itu, Menteri Perindus- trian (Menperin) Airlangga Hartarto mengungkapkan, kontribusi industri manufaktur nasional hampir sejajar dengan Jerman. Ini terlihat dari data BPS yang menunjukkan industri pengolahan masih memberikan kon- tribusi 20,07% terhadap PDB nasional pada kuartal I-2019, sama dengan kontribusi manufaktur Jerman yang sebesar 20,6%. “Dari capaian 20% tersebut, laporan Bank Dunia juga menunjukkan Indo- nesia menempati peringkat ke-5 di antara negara G20,” kata Menperin di Jakarta, Selasa (7/5). Menperin menyebutkan, posisi tera- tas ditempati Tiongkok (28,8%), disusul Korea Selatan (27%), dan Jepang (21%). “Maka tidak tepat kalau Indonesia dikatakanmengalami deindustrialisasi. Apalagi saat ini Indonesia masuk 16 besar negara yang memiliki perekono- mian terkuat di dunia,” tegas dia. Menperin menjelaskan, merujuk data BPS, pertumbuhan industri pen- golahan nonmigas mencapai 4,80% pada kuartal I-2019, naik dibanding pencapaian sepanjang tahun lalu di level 4,77% Sektor manufaktur yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 18,98%, disusul industri pengo- lahan tembakau yang tumbuh 16,10%, kemudian industri furnitur tumbuh 12,89%, serta industri kimia, farmasi dan obat tradisional yang naik 11,53%. Kinerja positif juga diikuti oleh in- dustri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman yang mengalami pertumbu- han 9,22%, industri logam dasar naik 8,59%, serta industri makanan dan minuman tumbuh 6,77%. Sektor-sektor manufaktur ini yang mampu melam- paui pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal I-2019 sebesar 5,07%. (leo/ nas/az) manufaktur,” papar dia. Sejajar dengan Jerman

besar,” ucap dia. Ekonomi Produktif

tumbuhan ekonomi nasional, menurut dia, pemerintah harus melakukan reindustrialisasi. Itu karena Indonesia mengalami deindustrialisasi dini. “Deindustrialisasi dan transfor- masi struktural ekonomi sejatinya merupakan fenomena alamiah dan terjadi secara global. Namun, dein- dustrialisasi yang terjadi di Indonesia lebih cepat dari negara-negara lain di Asean,” ujar dia. Dalam 10 tahun terakhir, kata Izzudin, Indonesia mengalami dein- dustrialisasi atau penurunan porsi manufaktur terhadap PDB sebesar 7%. Angka itu hampir dua kali lipat dari negara-negara sebaya ( peers ) di Asean. “Thailand danMalaysiamengalaminya tidak lebih dari 4%,” tutur dia. Dia menjelaskan, deindustrialisasi dini berdampak pada tiga hal. Per- tama, turunnya penerimaan perpa- jakan. “Padahal industri manufaktur merupakan sektor tertinggi dalam menyumbang pajak, dengan kontri- busi sebesar 30%,” tegas dia. Dampak kedua, daya serap tenaga kerja oleh sektor manufaktur kian berkurang. “Ketiga, secara agregat, pertumbuhan PDB tidak dapat ter- dongkrak naik secara cepat karena kontribusi dan pertumbuhan manu- faktur turun atau tumbuh semakin lamban,” papar dia. Deindustrialisasi yang menerpa Indonesia, menurut Izzudin Al Farras, diperparah oleh perubahan pola aliran investasi asing langsung ( foreign direct investment /FDI) yang cenderung berada di sektor tersier dibandingkan sekunder. “Ini harus segera dibenahi, terma- suk bagaimana seharusnya Indonesia membaca arah revolusi industri 4.0. Sebab, arah industri ke depan men- garah ke industri teknologi tinggi,” tegas dia. Izzudinmenambahkan, reindustrial- isasi bukan hanya akan menciptakan banyak lapangan kerja, tapi juga meningkatkan penerimaan pajak. Apalagi jika FDI untuk reindustrial- isasi diarahkan ke sektor sekunder. “Ekspor akan terdorong, sehingga neraca perdagangan akan surplus

Kepala EkonomBNI Ryan Kiryanto menjelaskan, supaya pertumbuhan PDB nasional tahun ini mencapai 5,1- 5,2% (yoy), pada kuartal II-2019 dan seterusnya pertumbuhan ekonomi kuartalan harus bisa tumbuh rata-rata 5,1-5,3% (yoy). Untuk itu, kata dia, pemerintah harus jeli mendorong sektor-sektor ekonomi produktif agar tumbuh lebih kuat, yaitu sektor pengolahan (manufaktur), perdagangan, perta- nian, konstruksi, dan pertambangan. “Kelima sektor ini punya andil besar terhadap pembentukan PDB yang kuat dengan multiplier effects yang besar,” tandas dia. Menurut Ryan, ada lima PR pemer- intah. Pertama, mendorong kontribusi konsumsi rumah tangga dengan per- tumbuhan 5,5%. Kedua, mendorong per- tumbuhanbelanjapemerintahkekisaran 8%.Ketiga,medorongkontribusi pertum- buhan investasi langsung (PMTB) ke kisaran 10%, baik FDI atau penanaman modal asing(PMA)maupunpenanaman modal dalam negeri (PMDN). “Keempat, mendorong pertumbu- han ekspor setidaknya di kisaran 3%. Lalu kelima, menekan pertumbuhan impor di kisaranminus 10%,” tegas dia. Ryan menambahkan, di tengah permintaan global yang melemah, pemerintah tetap harus bekerja keras mendorong ekspor ke negara-negara ter tentu. Sedangkan untuk men- dorong investasi, pemerintah harus proaktif roadshow ke negara-negara potensial investor dengan memberi- kan update bahwa Indonesia adalah negara yang seksi dan atraktif sebagai tujuan investasi. Ryan mengemukakan, untuk meng- hentikan penurunan kontribusi man- ufaktur terhadap PDB, pemerintah harus memprioritaskan kebijakan fiskal guna membangkitkan kembali sektor industri seraya meningkatkan kualitas SDMdi sektor tersebut. “Pen- didikan vokasi dan 4.0 harus terus dikembangkan dan dijalankan secara konsisten,” ujar dia.

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online