ID170706

KAMIS 6 JULI 2017

24

JAKARTA – Sejumlah bank mencatat pertumbuhan volume transaksi kartu kredit meningkat selama Ra- madan dan libur Lebaran 2017. Sementara itu, hingga akhir Juni, bisnis kartu kredit diperkirakan tumbuh sekitar 10-20%. Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Santoso Liem mengatakan, sepanjang Mei sampai Juni 2017 transaksi kartu kredit tumbuh 10-15%. Kenaikan terse- but seiring dengan peningkatan belanja masyarakat sejak Ramadan dan menjelang Lebaran. "Kartu kredit ada peningkatan, cukup menarik di bulan Mei sampai Juni yang meningkat 10-15%, tapi cukup mengagetkan juga," kata Santoso di Jakarta, Selasa (4/7). Dia menjelaskan, transaksi kartu kredit per bu- lan cukup tinggi mencapai Rp 5,4 triliun. Kenaikan biasanya terjadi pada saat Lebaran dan akhir tahun, sisanya ada kenaikan tapi karena pengaruh inflasi dan penambahan nasabah. "Kami harap tahun ini transaksi kartu kredit bisa tumbuh 10-15% dibandingkan tahun lalu yang sebesar 9%," ujar dia. Menurut dia, BCA menargetkan volume transaksi hingga akhir semester I-2017 sekitar Rp 28-29 triliun. Sedangkan target hingga akhir tahun mencapai Rp 55 triliun. Realisasi volume transaksi akhir tahun lalu men- capai Rp 53 triliun. "Tahun lalupertumbuhanbisnis kartu kredit kami 9%, tapi masih di atas pertumbuhan industri. Tahun ini kami harapkan bisa tumbuh 10-15%," kata dia. Santoso menjelaskan, transaksi kartu kredit mulai terasa meningkat semenjak aturan suku bunga kartu kredit yang dipangkas dari 2,95% menjadi 2,25% per bulan per 2 Juni lalu oleh Bank Indonesia (BI). Dia menyebut, saat ini jumlah kartu kredit yang beredar sudah mencapai 3,2 juta kartu. Hingga akhir tahun ditargetkanmencapai 3,3 juta kartu. "Sebab, ada beberapa nasabah yang tutup buku dan buka kembali, sehingga tidak tumbuh signifikan," kata dia. Sementara itu, Direktur Konsumer Banking PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Anggoro Eko Cahyo mengatakan, hingga Juni 2017 pertum- buhan transaksi kartu kredit mencapai 15-20% dari nilai transaksi normal yang sebesar Rp 2,8 triliun sampai Rp 3 triliun. Artinya, nominal transaksi pada Juni mencapai Rp 3,22 triliun hingga Rp 3,6 triliun. Pertumbuhan tersebut hampir sama dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. "Kartu kredit per bulan itu bisa mencapai Rp 2,8-3 triliun. Sampai akhir tahun kami harap bisa sesuai target tumbuh sebesar 14% volume transaksinya," kata Anggoro. Anggoro menyebut, penurunan suku bunga kartu kredit yang turun Juni lalu berdampak baik untuk mendorong peningkatan transaksi, namun dapat men- urunkan pendapatan bunga bagi bank. Oleh karena itu, pihaknya akan menggenjot pertumbuhan transaksi sehingga dapat meningkatkan pendapatan juga. "Juni ini agak bias, karena Juni transaksi tinggi memang waktu Lebaran, jadi kalau bicara penurunan suku bunga itu mungkin juga berdampak kepada pertum- buhan transaksi bulan Juni yang meningkat," jelas dia. Saat ini, lanjut Anggoro, jumlah kartu BNI sekitar 1,75 juta, terjadi penambahan 20 ribu sampai 25 ribu kartu setiap bulannya. Hingga akhir tahun, pihaknya mengaku tidak menargetkan pertumbuhan jumlah penerbitan kartu, melainkan volume transaksinya yang diharapkan meningkat sebesar 14%. "Akhir tahun kami lebih targetkan volumenya, bukan jumlah kartunya yang dikejar, karena percuma ada bayak kartu tapi tidak digunakan untuk transaksi. Tapi per bulan kartu bertambah 20 ribu sampai 25 ribu kartu," ungkap Anggoro. Sedangkan Direktur Utama PT Bank Mega Tbk Kostaman Thayib mengatakan, per Juni tahun ini kredit perseroan mengalami pertumbuhan sebesar 5,86% dibandingkan periode Desember 2016 yang sebesar Rp 29 triliun. Pertumbuhan tersebut terjadi karena efek Ramadan yang mendorong peningkatan transaksi kartu kredit. "Transaksi kartukredit pada Juni sajasudahRp200 miliar, kredit lain juga tumbuh.Hingga Juni kredit tumbuh Rp 1,9 triliun dari Desember tahun lalu," papar dia. (c02) JAKARTA – PT Bank BNI Syariah menyalurkan pembiayaan dengan akad musyarakah sebesar Rp 200 miliar kepada PT Brantas Abipraya. Pengucuran pembiayaan tersebut dilakukan dalam rangka mem- perkuat modal kerja untuk pengerjaan proyek-proyek PT Brantas Abipraya. Direktur Bisnis BNI Syariah Dhias Widhiyati mengatakan, sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan infrastruktur, BNI Syariah berkontribusi dalammemberikan pembiayaan sebesar Rp 200 miliar untuk keperluan modal kerja pengerjaan proyek yang dikerjakan Brantas Abipraya seperti pen- gairan, bendungan atau waduk, pembangunan gedung, pembangunan jalan tol, dan pembangunan jembatan. "Kerja sama ini merupakan bentuk dukungan BNI Syariah sebagai anak perusahaan BNI terhadap per- tumbuhan infrastruktur di Indonesia, dan kemajuan BUMN dalam hal ini Brantas Abipraya. Kerja sama ini merupakan komitmen BNI Syariah dalammemajukan proyek infrastruktur," kata Dhias dalam siaran pers yang diterima Investor Daily , Rabu (5/7). Dhias mengharapkan, penandatanganan akad pem- biayaan musyarakah modal kerja ini merupakan awal sinergi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Pasalnya, selain pembiayaan tersebut, banyak hal yang dijajaki lebih lanjut untuk sinergi ke depan di antaranya pembiayaan karyawan, Hasanah Card, dan pengelolaan keuangan. Pada kesempatan itu, BNI Syariah juga mengajak jajaran Direksi Brantas Abipraya untuk menikmati pengalaman berhasanah melalui produk BNI iB Has- anah Card, yang merupakan kartu pembiayaan yang berfungsi sebagai kartu kredit berdasarkan prinsip syariah dengan akad kafalah , qard , dan ijarah . "BNI Syariah berterimakasih terhadap dukungan masyarakat selama ini, sehingga BNI Syariah dapat terus memberikan kontribusi positif salah satunya bagi pertumbuhan usaha milik negara. Hal ini sejalan dengan Hasanah Lifestyle yang senantiasa terus ber- gerak menyebarkan kemanfaatan bagi masyarakat, bangsa, dan negara," jelas dia. (ris)

ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/kye/17.

Oleh Gita Rossiana

JAKARTA – Pertum- buhan kredit modal kerja (KMK) industri perbankan tercatat melambat pada Mei 2017 yang berdam- pak pada perlambatan pertumbuhan kredit secara keseluruhan. Di sisi lain, penerbitan surat berharga sebagai alternatif pendanaan korporasi meningkat signifikan. Berdasarkan data uang beredar Bank Indonesia (BI) periode Mei 2017 yang dipublikasikan pada Se­ lasa (4/7), KMK yang disalurkan perbankan mencapai Rp 2.050,6 triliun atau tumbuh 8,5% secara ( year on year /yoy). Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibanding­ kan bulan sebelumnya yang men- capai 10% (yoy). Perlambatan penyaluran KMK terjadi di sektor industri pengola­ han dan sektor perdagangan, hotel serta restoran, dari 29,2% (yoy) dan 9,8% (yoy) pada April 2017 menjadi 28,9%% (yoy) dan 6,6% (yoy) pada Mei 2017. Perlambatan pada kredit modal kerja ini mengakibatkan pertum­ buhan kredit pada Mei 2017 ikut melambat, yakni mencapai Rp 4.453,3 triliun atau tumbuh 8,6% (yoy). Nilai tersebut lebih rendah dari sebelumnya yang mencapai 9,4% (yoy). Selain kredit modal kerja, pertumbuhan kredit investasi juga melambat dari 8% pada April 2017 menjadi 7,9% pada Mei 2017. Begitu juga dengan kredit pro­ per ti, pada Mei 2017 tercatat melambat menjadi Rp 13,7% ke Rp 730,2 triliun dari 14,3% pada April 2017. Perlambatan bersumber JAKARTA – PT Bank Man­ diri (Persero) Tbk mencatat pe­ nyaluran kredit korporasi hingga semester I-2017 sebesar Rp 20 tri- liun. Sampai akhir 2017, perseroan menargetkan penyaluran kredit korporasi mencapai Rp 70 triliun. Direktur Bank Mandiri Royke Tumilaar menjelaskan, hingga semester I-2017, penyaluran kredit korporasi memang belum besar. ”Namun pada semester II, kami harapkan bisa agresif lagi,” ujar dia di Jakarta, belum lama ini. Pada tahun ini, Royke men- gungkapkan, perseroan memang ekspansif menyalurkan kredit. Ad- apun target pertumbuhan kredit tahun ini sebesar 13-14%. "Target pertumbuhan kredit perbankan tahun ini sekitar 10-12%, kami menargetkan lebih tinggi yakni di kisaran 13-14%," kata dia. Dari target pertumbuhan kredit

Klaim BPJS Ketenagakerjaan Petugas BPJS Ketenagakerjaan melayani warga di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Daerah Istimewa Yogyakarta, DI Yogyakarta, belum lama ini. BPJS Ketenagakerjaan sepanjang tahun 2016 membayar total klaim senilai Rp19,56 triliun yang terbagi atas pembayaran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebesar Rp832,78 milyar, Jaminan Hari Tua (JHT) Rp17,97 triliun, Jaminan Pensiun (JP) Rp161,75 milyar serta Jaminan Kematian (JKm) sebesar Rp594,13 miliar.

anak perusahaan Bank Syariah Mandiri (BSM) sebesar Rp 500 miliar. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di kisaran 14-15%. Selain itu, anak usaha yang bergerak di bidang pembiayaan kendaraan bermotor, Mandiri Utama Finance (MUF) akan diberi tambahan modal, mengingat per- tumbuhan bisnisnya meningkat. "Kami juga akan injeksi Mandiri Capital, kebutuhan modal anak usaha ini dalam rangka mengem- bangkan proyek-proyek untuk melaksanakan sistem pembayaran lokal atau national payment gate- way (NPG)," kata Tiko. Menurut Tiko, pihaknya tidak tertarik mengakuisisi bank lokal, pasalnya Bank Mandiri telah memiliki tiga bank, yaitu Bank Mandiri sebagai induk, BSM, dan Bank Mantap. Dia mengatakan tengah mengincar bank yang ada di Filipina dan Myanmar untuk diakuisisi dan telah menyiapkan dana Rp 10 triliun. "Untuk akuisisi dalam negeri kami belum minat, tapi kalau luar negeri lagi lihat-lihat. Yang lebih konkret di Filipina karena OJK sudahmenandatangani kerja sama dengan bank sentral Filipina," ungkap Tiko. Selain itu, Tiko memastikan akanmembuka cabang diMalaysia pada akhir tahun ini. Hal tersebut seiring dengan lisensi pembukaan cabang yang didapat pada Agus- tus lalu. Dia mengatakan akan membuka tiga cabang dan telah menyiapkan RM 300 juta yang akan dilakukan dalam tiga tahap. Sebelumnya, Bank Negara Malaysia memberikan 'lampu hijau' pada beberapa bank yang berlisensi Qualified Asean Bank (QAB) untukmelakukan ekspansi. "Tahap awal kami sekitar RM 100 juta, itu awalnya, nanti lihat lagi tahap berikutnya," tambah dia. (gtr/c02) bagus. "Namun ujiannya adalah pada Juli-September 2017, apakah bisa tetap bagus atau kembali lesu," ungkap dia. Di sisi lain, Chief Economist SKHA Institute of Global Justice Eric Sugandi mengungkapkan, rendahnya permintaan kredit pada Mei 2017 disebabkan oleh korpor- asi sudahmengajukan kredit modal kerja pada bulan sebelumnya. Sementaramengenai penerbitan surat berharga oleh korporasi menurut dia, tidak semua korpor- asi memiliki kemampuan untuk menerbitkan obligasi. Pasalnya, korporasi harus di- rating terlebih dahulu dan harus bersaing dengan surat berharga negara (SBN). Selain itu, kebanyakan investor institusional seperti dapen dan asuransi dan investor ritel lebih suka mengkoleksi SBN. Hal ini dikarenakan mereka memandang lebih aman dan yield yang lebih menarik dari obligasi korporasi.

penawaran umum berkelanjutan (PUB) I Tahap II 2017 dengan nilai total Rp 14 triliun. Tahun lalu, perseroan telah menerbitkan obligasi sebesar Rp 5 triliun melalui PUB I Tahap I. Dari total penerbitan obligasi senilai Rp 14 triliun, perseroan masih memiliki plafon sebesar Rp 4 triliun hingga 2018. Penerbitan obligasi tersebut dapat menurunkan biaya dana per- usahaan ( cost of fund ) perusahaan. Begitu juga dengan rasio kredit terhadap simpanan ( loan to deposit ratio /LDR) berpotensi menjadi lebih rendah. "Kami menargetkan LDR setelah penerbitan obligasi sebesar 87-88%," ujar dia. Dorong Kredit Korporasi Sebelumnya, Direktur Utama BankMandiri KartikaWirjoatmodjo mengatakan, meski tidak ada peru- bahan secara material dalam RBB, terdapat perubahan komposisi kredit. Tahun ini, pihaknya men- dorong segmen korporasi yang mencapai 40%, segmen ritel 35%, dan segmen menengah 25%. "Kalau soal kredit kami optim- istis, tapi komposisinya sekarang kami dorong ke korporasi, karena memang yang bisa jadi lokomotif ekonomi dan pertumbuhannya tinggi di korporasi. Kemudian ritel juga, kami lihat dari kredit perumahan, kredit kendaraan ber- motor, multiguna tumbuh bagus, dan juga mikro. Jadi dua segmen itu difokuskan," jelas Kartika atau yang akrab disapa Tiko di Jakarta, baru-baru ini. Menurut Tiko, pergeseran seg- men tersebut untuk menekan kredit bermasalah pada segmen menengah. Oleh karena itu, pi- haknya tidak menambah porsi pada segmen menengah, namun pada segmen korporasi dan ritel. Dari sisi organik, RBB Bank Mandiri juga tidak memiliki per- ubahan material. Perseroan tetap akan menambah modal kepada obligasi," kata dia. Menanggapi hal ini, Direktur Utama PT Bank Mayapada Inter­ nasional Tbk Haryono Tjahjari jadi mengungkapkan, permintaankredit di industri perbankan memang be- lum signifikan. Pihaknya berupaya agar pertumbuhan kredit Bank Mayapada bisa sejalan dengan target yang dirumuskan dalam ren- cana bisnis bank (RBB). "Pertum- buhan kredit modal kerja di Bank Mayapada bertumbuh sesuai RBB kurang lebih 8-9% dibandingkan Desember 2016," kata dia. Meskipun demikian, Haryono tidak menampik aktivitas korpor- asi di pasar modal memang cukup intensif. "Beberapa korporasi besar memang menerbitkan obli- gasi," ujar dia. Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Jahja Se- tiaatmadja menjelaskan, sebelum periode lebaran lalu, pertumbuhan kredit modal kerja di BCA cukup

Meski komitmen kredit in- frastruktur cukup tinggi, men- urut Royke, komitmen tersebut tidak bisa semuanya disalurkan. Pasalnya, pembangunan proyek infrastruktur dilakukan secara bertahap atau tidak sekaligus. "Jadi, kalau komitmen Rp 50 tri- liun, realisasinya mungkin sekitar Rp 20 triliun. Sebab, pada tahun pertama, kredit yang digunakan hanya sedikit, baru pada tahun ketiga, keempat dan kelima, dana yang dibutuhkan lebih besar," terang dia. Dengan tingginya eksposur kredit untuk sektor infrastruktur, Royke mengungkapkan, pihak­ nya tidak bisa mengandalkan pendanaan dari dana pihak ketiga (DPK). Oleh karena itu, BankMan­ diri berencana menerbitkan obli- gasi senilai Rp 5 triliun. Penerbitan obligasi ini merupakan bagian dari alternatif selain mengajukan kre­ dit. Apalagi, proses memperoleh dana dari alternatif lain seperti surat berharga ataupun pengajuan sahamperdana ( initial public offer- ing /IPO) lebih mudah dan murah. Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuan- gan (OJK) Muliaman D Hadad menjelaskan, korporasi memang bisa memanfaatkan pendanaan dari pasar modal. Namun hal terse- but tidak akan menarik ke bawah pertumbuhan kredit modal kerja. "Antara kredit modal kerja dan pendanaan dari pasar modal akan tendem," ungkap dia. Lagipula, jelas dia, tidak hanya korporasi yang bisamemanfaatkan pendanaan dari pasar modal. Bank juga bisa memanfaatkan pendanaan dari pasar modal untuk membiayai pendanaan jangka pan- jang. "Kemarin kami lihat, bank seperti BNI dan Bank Mandiri masuk pasar untuk menerbitkan

tersebut, segmen corporate bank- ing terutama sektor infrastruk- tur menjadi salah satu segmen prioritas perusahaan. Pihaknya sudah memiliki sejumlah proyek infrastruktur yang akan dibiayai pada tahun ini. Royke menyebutkan, khusus untuk penyaluran kredit ke sektor infrastruktur, komitmen Bank Mandiri mencapai dari Rp 50 triliun, sebagian besar akan dis- alurkan untuk pembangunan jalan tol. Perseroan juga terlibat dalam proyek pembangkit listrik, pembangunan bandara, pelabuhan dan lainnya. "Untuk bandara kami terlibat dalam proyek Bandara Kulon Progo, pelabuhan baik pelabuhan besar dan kecil kami ikut terlibat dan untuk proyek IPP ( independent power producer ) yang bekerjasama dengan PLN," jelas dia. Deputi Gubernur BI Er win Rijanto mengungkapkan, pertum- buhan kredit memang agak men- urun pada semester I-2017. Namun memang biasanya pertumbuhan kredit akan kembali meningkat pada semester II-2017. "Kami mengharapkan per tumbuhan kredit bisa terus meningkat dan mencapai lebih dari 10%," kata Erwin di Jakarta, belum lama ini. Er win mengakui, korporasi saat ini memang memiliki banyak pada semua jenis kredit properti, yakni KPR dan KPA, kredit kon- struksi, dan real estate . Data BI juga menunjukkan, tercatat penerbitan surat berharga selain saham pada Mei 2017 men- capai Rp 17 triliun, meningkat 43,2% (yoy). Nilai tersebut lebih tinggi dari periode April 2017 yang tercatat Rp 16,8 triliun atau tum- buh 30%. Dari nilai tersebut, surat berharga yang diterbitkan swasta meningkat hingga 103% (yoy).

Investor Daily/David Gita Roza

Rupiah Melemah Nasabah melakukan transaksi penukaran mata uang di sebuah money changer, Jakarta, kemarin. Pada penutupan perdagangan Rabu (5/7), Rupiah ditutup melemah hanya 1 poin atau 0,01% ke level Rp13.365 per dolar AS setelah diperdagangkan pada kisaran Rp13343 – Rp13.373.

Made with FlippingBook flipbook maker