ID160804

kamis 4 AGUSTUS 2016

24

Investor daily/ist

Kinerja Bank BRI Wakil Direktur Utama Bank BRI, Sunarso (kiri) dan Direktur Keuangan Bank BRI Haru Koesmahargyo memaparkan kinerja keuangan Bank BRI dan pencapaian nilai kapital- isasi pasar Bank BRI di ha- dapan para investor dalam acara Public Expose yang digelar di Gedung Bursa Efek Indonesia, kemarin (3/8). Dalam paparanya, market capital ( kapitalisasi pasar) Bank BRI berhasil mencapai angka Rp 284,3 Triliun atau tumbuh sebesar 15.2 % pada penu- tupan perdagangan saham akhir Juli 2016.

JAKARTA – PT Bank Tabungan Pensiu- nan Nasional Tbk (BTPN) mencatat, jumlah nasabah baru yang berhasil direkrut dari program Laku Pandai BTPN atau BTPN Wow! hingga semester I-2016 mencapai sebanyak 700 ribu orang. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periodeMaret 2016 yang mencapai 300 ribu orang. Direktur BTPN Karim Siregar men- jelaskan, melalui program Laku Pandai, masyarakat yang sebelumnya belum pernah bertransaksi di bank menjadi mengenal lay- anan bank. Bahkan, proses bertransaksinya lebih mudah dibandingkan transaksi bank secara konvensional. “Pada dahulu orang umumnya mengenal bank secara fisik, tapi sekarang bisa men- genalnya melalui teknologi,” kata Karim di Jakarta, Rabu (3/8). Untuk diketahui, program Laku Pandai di BTPN bernama BTPN Wow!. Program ini dilakukan denganmemanfaatkan ponsel dan didukung jasa agen sebagai perpanjangan tangan bank. Sejak diluncurkan pada Maret 2015, saat ini agen yang dimiliki BTPNmen- capai 35 ribu orang. “Agen sudah tersebar di seluruh jawa, akhir tahun kami juga akan menyebarkan di Nusa Tenggara dan Bali,” ujar dia. Proses transaksi dengan agen dilakukan denganmenggunakan nomor ponsel sebagai nomor akun. Melalui nomor ponsel tersebut pula, nasabah bisa melakukan setor tunai, kirim uang, cek saldo, pembelian pulsa dan lainnya. Pada 18 April lalu, BTPN Wow! bekerja sama dengan Telkomsel mengembangkan layanan keuangan terhubung antara TCash dan BTPN Wow! yang dipasarkan secara bersama. Interkonektivitas kedua produk menjadikan layanan TCASH-BTPN Wow! lebih lengkap, menghubungkan layanan mobile money TCASH dengan rekening tabungan BTPN Wow!. (gtr) JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) berencana mener- bitkan surat berharga pasar uang (SBPU) dalam bentuk promissor y note khusus untuk membiayai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penerbitan promissory note tersebut akan menjadi alternatif pen- empatan dana yang ditawarkan perseroan, khususnya untuk menyerap dana repatriasi terkait kebijakan tax amnesty . Direktur Keuangan BRI Haru Koesma- hargyo menuturkan, saat ini pertumbuhan kredit perseroan di segmen UMKM men- capai 20%, sedangkan pertumbuhan dana industri saat ini hanya berkisar 5% dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) BRI 14% secara year on year (yoy). Untuk itu, menurut dia, dibutuhkan alternatif pendanaan lain untuk membiayai segmen UMKM yang sekaligus dapat menjadi alter- natif penempatan dana bagi investor umum, khususnya dalam rangka memanfaatkan masuknya dana repatriasi seiring kebijakan tax amnesty. “Ini SBPU yang khusus untuk mengembangkan UMKM. Jadi ini promis- sory note , tenornya sekitar 1-3 tahun,” ujar Haru di Jakarta, Rabu (3/8). Haru menjelaskan promissory note adalah surat sanggup bayar sehingga klaim sepe- nuhnya berada di BRI. Namun, menurut dia, pihaknya akan menyampaikan kepada investor bahwa investasi pada instrumen tersebut akan disalurkan untukmemberikan pembiayaan kepada usaha mikro dan kecil. Adapun jumlah penerbitan promissory note bergantung pada permintaan atau kebutu- han nasabah. “Produk promissory note ini sebenarnya instrumen bilateral sehingga tidak perlu ada perizinan. Dengan demikian, ketika wajib pajak peserta tax amnesty tertarik kami ta- warkan, jumlahnya tergantung kebutuhan,” terang dia. Sementara itu, bunga yang akan ditawar- kan pada instrumen tersebut akan dibuat kompetitif dengan bunga pada instrumen pasar uang lainnya dengan tenor penerbitan yang sama. Saat ini, Haru mengaku pihaknya sebagai bank persepsi telah ada 68 wajib pajak yang mengajukan pengampunan pajak dan mem- bayar uang tebusan sebesar Rp 2 miliar. Dari wajib pajak yang meminta pengampunan dana tersebut, terdapat dana repatriasi yang masuk sebesar Rp 9miliar yang saat ini masih ditempatkan pada instrumen deposito. BRI memperkirakan dapat menyerap dana repatriasi sebesar Rp 50-60 triliun se- lama periode kebijakan tax amnesty ke dalam likuiditas perseroan. Untuk itu, menurut Haru, pada tahun ini hingga semester per- tama tahun depan, BRI berencana menerbit- kan penawaran umum berkelanjutan (PUB) sebesar Rp 20 triliun dan medium term notes (MTN) sebesar Rp 5 triliun. “Rencananya PUB akan kami terbitkan se- cara bertahap tahun ini Rp 10 triliun, semes- ter pertama tahun depan juga Rp 10 triliun. Tenornya 1, 3, dan 5 tahun. MTN juga akan diterbitkan bertahap dua kali, kemungkinan tenornya 3 tahun,” tambah dia. (nti)

Proyek Pengembangan Tangguh akan menambahkan satu fasilitas proses LNG baru ( train III) dan tambahan kapasitas produksi sebe- sar 3,8 juta ton per tahun (mtpa), se- hingga akan menjadikan kapasitas total kilang LNG Tangguh menjadi 11,4 mtpa. Proyek ini juga akan menambahkan dua anjungan lepas pantai, 13 sumur produksi baru, dermaga pemuatan LNG baru, dan infrastruktur pendukung lainnya. Pembiayaan sindikasi ini mer- upakan pembiayaan Cluster 4 Proyek LNG Tangguh Train III. Proyek ini juga akan menjadi ba- gian penting dalam pemenuhan kebutuhan energi Indonesia yang kian meningkat, melalui penjualan 75% dari produksi LNG tahunan Train III kepada PLN. Proyek Pengembangan Tangguh juga akan membawa efek pengganda yang besar bagi Indonesia dan Provinsi Papua Barat, antara lain dengan mendukung pertumbuhan perekonomian dan penyediaan 10 ribu kesempatan kerja selamamasa proyek.

harapkan bisa memenuhi sebagian dari kebutuhan pendanaan terse- but. “Kami berharap adanya dana dari bank BUMN bisa mendukung percepatan kami dalammelakukan investasi,” terang dia. Sindikasi LNG Tangguh Selain mengucurkan dana untuk Pelindo III, tiga bank BUMN ber- sama PT Indonesia Infrastructure Finance mengucurkan dana sebe- sar US$ 100 juta untuk merealisasi- kan pembangunan Proyek LNG Tangguh Train 3 yang dikelola BP Indonesia. Dari proyek sindikasi ini, masing-masing pihakmendapat porsi sebesar US$ 25 juta. Direktur Utama BNI Achmad Baiquni menjelaskan, dengan pembiayaan ini, bank dan lembaga keuangan nasional ikut menjamin ketersediaan pasokan gas yang sangat penting bagi keberlangsun- gan energi dalam negeri. Pasalnya, sebagian dari hasil produksi ladang Gas Tangguh Train 3 ini akan dikonsumsi oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

“Sektor infrastrukturmenjadi sektor prioritas kami. Pada semester kedua ini kami akan menyalurkan kredit sindikasi lagi untuk pembangunan light rail transit (LRT) di Palembang senilai Rp 4,3 triliun, pembangunan tol Pejagan Rp 4,8 triliun, belanja modal PLNsebesar Rp 12 triliun, dan proyek lainnya,” jelas dia. Dengan adanya amnesti pajak, Herry berharap banyak likuditas yang bisa masuk ke perbankan dan bisa menopang penyaluran kredit korporasi. Tidak hanya itu, Herry juga berharap dana repatriasi tersebut bisa mengalir ke pem- bangunan infrastruktur yang saat ini digalakkan pemerintah. “Ke- menterian BUMN juga berencana membentuk RDPT (reksa dana penyertaan terbatas) infrastruktur yang diharapkan bisa menjaring dana repatriasi,” kata dia. Sementara itu, Direktur Utama Pelindo III Orias Petrus men- gungkapkan, tahun ini Pelindo III membutuhkan pendanaan sekitar Rp 9-11 triliun. Dengan adanya pendanaan dari bank BUMN ini di-

Oleh Gita Rossiana

JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mem- berikan fasilitas kredit sindikasi kepada PT Pelabu- han Indonesia (Persero) atau Pelindo III sebesar Rp 4,5 triliun.

dalampenyaluran kredit BNI. Sebe- lumnya, perseroan juga mengucur- kan kredit kepada Pelindo I yang ditujukan untuk pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung. Tahun ini, dia menyebutkan, penyaluran kredit korporasi BNI mencapai Rp 194 triliun, tumbuh 25% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Dari nilai tersebut, Rp 24,9 triliun akan disalurkan dalam bentuk kredit sindikasi yang ditu- jukan untuk pembangunan power plant ,manufaktur dansektor lainnya. hun depan itu sekitar 1-3 cabang. Setelah itu kami akan lihat apakah bisa ditingkatkan menjadi 10-20 cabang,” terang dia. Selain bisnis remitansi, Bank Mandiri dapat melayani kebutuhan perusahaan-perusahaan Malaysia yang beroperasi di Indonesia dan sebaliknya pula perusahaan-peru- sahaaan Indonesia yang beroperasi di Malaysia. “Jadi fokusnya tetap yang related dengan Indonesia, baik itu pekerja Indonesia yang selama ini kami garap lewat remitansi. Ke depan, kami bisa berikan produk lainnya yang dibutuhkan seperti pendan- aan, dan juga ada beberapa perusa- haan indonesia yang beroperasi di malaysia, terutama yang berbasis komoditas atau perusahaan malay- sia yang beroperasi di indonesia,” terang dia. Selain di Malaysia, BankMandiri berminat mengembangkan bisnis di tiga negara Asean, yaitu Filipina, Vietnam, danMyanmar. Perseroan tengahmematangkan kajian terkait rencana pengembangan bisnis perseroan ke tiga negara tersebut. “Kajiannya sedang kami matang- kan, sehingga hal itu kemungkinan sudah jelas tahu depan. Tapi me- mang kami nantinya tidak harus masuk ke perbankan, bisa saja melalui perusahaan pembiayaan atau financial technology (fintech),” terang dia. Sementara itu, Direktur Keuan- gan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Haru Koes- mahargyo menuturkan, BRI tidak akan melewatkan kesempatan untuk memperoleh kemudahan yang ditawarkan oleh otoritas un- tuk ekspansi bisnis ke Malayisa. Untuk itu, BRI mulai me- review secara internal terkait rencana membuka bisnis di Malaysia. “BRI

Direktur Digital Banking and Technology Bank Mandiri Rico Usthavia Frans menjelaskan, porsi kredit Bank Mandiri dalam kredit sindikasi tersebut mencapai Rp 2 triliun. Sementara itu porsi kredit sindikasi BNI Rp 2 triliun dan BRI Rp 500 miliar. “Tenor untuk kredit sindikasi ini selama delapan tahun,” ujar Rico di Jakarta, Rabu (3/8). Pada kesempatan itu, Direk- tur Bisnis Korporasi BNI Herry Sidharta menjelaskan, pelabuhan menjadi salah satu sektor prioritas JAKARTA – Bank-bank BUMN menyatakan ter tarik untuk ek- spansi ke Malaysia sebagai Quali- fied Asean Bank (QAB), seiring telah ditandatanganinya kerja sama bilateral antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Negara Malaysia (BNM). Melalui kerja sama bilateral tersebut, bank asal Indonesia yang ingin ekspansi bisnis akan memperoleh perlakuan yang sama dengan bank domestik di Malaysia. Selain itu, ada kemudahan dalam memenuhi ketentuan modal dan akses pada sistem pembayaran elektronik yang lebih kompetitif. Direktur Keuangan dan Treas- ury PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Pahala Mansury menuturkan, dengan penandatanganan kerja sama bilateral tersebut, perseroan segera memproses rencana ek- spansi bisnis di Malaysia dengan mengubah status kantor remitensi menjadi bank. Pada tahun pertama, Bank Mandiri akan mengalokasi- kan dana sebesarMYR 100 juta dari total kebutuhan yang disyaratkan dan dapat dipenuhi secara bertahap hingga lima tahun sebesar MYR 300 juta. “Kami akan konversi. Saat ini, kantor kami di Malaysia berstatus remitance office , kami akan ubah itu menjadi bank. Bentuknya adalah anak usaha sesuai dengan yang ditandatangani (kerja sama OJK dan BNM),” ujar Pahala di Jakarta, Rabu (3/8). Pahala menjelaskan, pihaknya mulai memproses rencana ek- spansi tersebut tahun ini. Adapun bisnis perbankan perseroan di negeri jiran tersebut pun diharap- kan mulai beroperasi tahun depan. “Kemungkinan awalnya kami akan buka di Kuala Lumpur. Mungkin tahun pertama sampai akhir ta-

Investor Daily/ANTARA FOTO/Seno/ama/16.

Pemusnahan Uang Palsu Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember Ferry Tumpal D. Saribu (kedua kiri), Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember Budi Hartono (kanan), dan polisi memperlihatkan briket uang palsu yang telah dihancurkan di BI Jember, Jawa Timur, Rabu (3/8). BI Jember dan Kejari Jember memusnahkan 121.941 lem- bar uang rupiah palsu pecahan Rp.100.000 setara Rp12,2 miliar.

kantor representatif di Myanmar menjadi kantor cabang penuh ( full branch ). Pada 1 Agustus 2016, OJK dan BNM menandatangani kerja sama bilateral sebagai tindak lanjut pen- andatanganan head of agreement akhir tahun 2014, sebagai bagian dari penerapan Asean Banking Integration Framework (ABIF). Dengan demikian, bank asal In- donesia yang ditetapkan sebagai QAB akanmemperoleh perlakukan sebagaimana bank domestik di Malaysia. (nti)

tungkan, BNI berminat membuka bisnis di negeri jiran tersebut. “Kami pelajari dulu, kalau kemu- dahannya memang sesuai dengan apa yang kami mintakan, kami akan dalami lagi. Tapi kemung- kinan ekspansi baru akan kami lakukan di tahun depan, tidak tahun ini,” terang dia. Baiquni pun mengaku selain berminat menggarap bisnis remi- tansi, BNI sebenarnya tertarik menggarap bisnis trade finance di Malaysia. Perseroan juga ter- tarik untuk meningkatkan status

akan me- review secara internal untuk masuk ke Malayisa, tapi tahun ini kami sedang fokus di Timur Leste,” terang dia. Untuk itu, perseroan kemungkinan baru akan memproses rencana ekspansi bisnis ke Malaysia paling cepat tahun depan. Direktur Utama PT Bank Ne- gara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Achmad Baiquni menjelas- kan, pihaknya masihmempelajari kemudahan-kemudahan yang ditawarkan untuk ekspansi ke Malaysia. Jika dianggap mengun-

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online