SP160831

Utama

Suara Pembaruan

3

Rabu, 31 Agustus 2016

Penangkapan Gatot Tamparan bagi Insan Perfilman

[JAKARTA] Penangkapan terhadap Ketua Umum Parfi, Gatot Brajamusti beserta te- muan barang bukti narkoba merupakan tamparan mema- lukan bagi insan perfilman. Kasus ini sebaiknya diusut tuntas sehingga bukan hanya para pengguna narkoba yang ditangkap melainkan juga jaringan pemasok barang ha- ram tersebut. “Buat saya sangat mem- prihatinkan sebagai seorang ketua organisasi profesi ke- artisan sampai tertangkap karena menggunakan narko- ba,” ujar aktor senior Anwar Fuady, Selasa (30/8). Menurut Anwar, apa yang terjadi pada Gatot memberikan contoh yang ti- dak baik bagi para anggota Parfi. Hal yang dilakukan Gatot pun membuat hati ang- gota Parfi sangat kecewa. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Mestinya dia kan menjadi tokoh panutan, memberikan pembimbingan dan tuntunan bagi anggotanya, tapi kok dia malah melakukan hal de- mikian,” lanjut Anwar. Anggota Komisi III P erang melawan nar- koba ternyata bukan sekadar janji kosong kampanye Rodrigo Duterte. Sejak memenangi pilpres dan dilantik menja- di presiden Filipina pada 30 Juni lalu, pria yang di- juluki The Punisher itu bersumpah untuk membas- mi kejahatan dalam waktu enam bulan pertama perio- de pemerintahannya. Mantan wali kota Davao itu ternyata tak cu- ma beretorika atau meng- gertak. Hingga Selasa (30/8), atau genap dua bu- lan memerintah, sedikitnya 2.000 orang tewas dalam perang melawan narkoba. Kepolisian Nasional Filipina (PNP) menyata- kan, hampir 900 pengedar narkoba dan pengguna te- lah tewas dalam operasi polisi yang digelar sejak 1 Juli sampai 20 Agustus 2016. Angka itu sekaligus mencatat 141 orang tewas lebih dari seminggu, atau rata-rata 20 orang per hari. Polisi Filipina menya- takan 402 orang tewas da- lam bulan pertama setelah tindakan keras Duterte di- mulai pada 1 Juli, sehari setelah dilantik. Namun jumlah itu tidak termasuk orang-orang yang tewas oleh aksi main hakim sen- diri oleh warga. Lebih dari 4.300 orang ditangkap. Semula dunia tak per- nah mengira dampak nar-

DPR yang membidangi hu- k um d a n k e ama n a n , Masinton Pasaribu meng- ungkapkan, penangkapan yang dilakukan terhadap pesohor seperti terhadap Gatot harus diapresiasi meski sudah menjadi bi- dang tugas penegak hukum. “Penindakan terhadap pengguna narkotika kita ap- resiasi. Tapi, jangan puas hanya dengan itu, karena sesungguhnya mata rantai jaringan bandar narkotika ini sangat luas,” katanya. Menu r u t Ma s i n t on , pemberantasan narkoba itu harus lebih dioptimalkan la- gi. Jangan hanya pengguna yang ditangkap. Jauh lebih mendesak adalah menelu- suri rantai pemasoknya ter- hadap artis, sindikat, jaring- an, dan bandar besarnya. Penangkapan artis pasti mendapatkan perhatian pub- lik. Namun, kata Masinton, jangan sampai muncul kesan penangkapan hanya untuk pengalihan isu. Aparat kepo- lisian dapat membuktikannya dengan serius menangani ka- sus ini hingga pengadilan, bahkan mengembangkan

nya yang banyak beroperasi. Apalagi, pengakuan Freddy Budiman sebelum diekseku- si mati mengungkap bahwa jaringan narkoba bisa ber- lanjut karena dilindungi oleh oknum-oknum aparat mau- pun taipan bisnis. Ke t ua S t ud i Pa s ca Sarjana Kepolisian UI, Benny Mamoto menyatakan sejumlah penangkapan seru- pa pernah dilakukan BNN. BNN pernah menangani ar- tis Kangen Band dan Raffi Ahmad. Dari kedua kasus tersebut diperoleh gambaran latar belakang mengapa sang artis mengonsumsi narkoba. Ada yg mengonsumsi nar- koba untuk meningkatkan kepercayaan diri. Ada juga untuk meningkatkan stami- na karena terlalu banyak pe- kerjaan yang harus diselesai- kan bahkan pagi sampai la- rut malam. M a n t a n D i r e k t u r Penindakan BNN ini me- nambahkan, peredaran nar- koba di kalangan artis juga dianggap sebagai bagian dari gaya hidup dengan mencontoh artis-artis man- ca negara meski mereka peso (US$ 430 atau, Rp 5,7 juta) per pesanan pem- bunuhan, para pembunuh mendapat bayaran hampir dua kali lipat rata-rata upah bulanan nasional. Tindakan Duterte tak percuma. Pada Senin (8/8), 27 wali kota dan 31 petugas polisi, termasuk seorang kolonel, menyerahkan diri ke kantor polisi nasional di ibu kota, Manila. Mereka ingin membersihkan nama- nya, dan khawatir pada pe- rintah Duterte yang akan mengerahkan tim pemburu jika tidak menyerah dalam waktu 24 jam. Perang narkoba ala Duterte bukan tanpa perla- wanan. Jauh sebelum Duterte dilantik, sindikat narkoba sudah mulai was- was. Kepolisian Filipina bahkan menemukan tawaran sayembara yang menjanjikan hadiah untuk siapa pun yang bisa mem- bunuh Duterte. Hadiah sa- yembara yang ditawarkan para gembong narkoba itu tergolong menggiurkan de- ngan nilai 50 juta atau US$ 1 juta (Rp 13,27 miliar). Dari dalam negeri, sikap kontra digagas para senator yang menggelar penyelidik- an terkait pembunuhan yang dikobarkan Duterte. Tetapi sejumlah saksi menuduh be- berapa polisi sengaja me- nembak mati tersangka atau Perlawanan

mengakhiri karier di jalan terjal karena narkoba. Sedangkan menurut Anwar, selama berkecim- pung di dunia perfilman maupun menjadi pengurus di Parfi, Gatot tidak memi- liki prestasi. “Tidak ada prestasinya. Dia bukan bintang film, baru main film ketika sudah jadi Ketua Parfi. Dia itu baru ma- in paling tidak dua atau tiga film. Di Parfi sendiri (ketika Gatot menjabat Ketua Umum) tidak ada sama seka- li kebijakan signifikan, me- lempem saja itu, tidak ada apa-apanya,” lanjut Anwar. Terkait dengan pan- dangan kehidupan artis de- kat dengan dunia narkoba, Anwar berpendapat bahwa hanya sedikit artis yang de- mikian. “Dalam kurun waktu 15-20 tahun belakangan, ada berapa banyak yang ter- tangkap, paling banyak ha- nya 30 orang. Mereka yang memakai narkoba itu yang tidak punya iman dan dasar agama. Kalau punya dasar agama dan moral,” ujar Anwar. [CAR/MJS/G-5] terlibat dalam obat-obatan terlarang. Senator Leila de Lima, yang mengepalai komite peradilan di Senat, mengaku khawatir tentang pembu- nuhan yang semakin marak, karena para penegak hukum dan warga dapat mengguna- kan tindakan keras untuk melakukan pembunuhan de- ngan jaminan impunitas. Sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Ban Ki-moon pun pernah me- ngutuk pernyataan Duterte. Dia menilai komentar sang presiden mengabaikan aturan hukum dan memicu kasus-kasus kekerasan se- rius, termasuk terhadap pa- ra jurnalis di Filipina. “Saya sangat terganggu oleh pernyataan baru-baru ini dari Presiden Filipina terpilih, Rodrigo Duterte. Secara tegas, saya mengu- tuk dukungan terhadap pembunuhan di luar hukum yang ilegal dan melanggar hak-hak dasar serta kebe- basan,” kata Ban. Seruan PBB untuk menghentikan pembunuhan ekstrayudisial tak meng- hentikan Duterte. Kampanye perang terhadap narkoba terus berjalan. Kepala Polisi Filipina Ronald dela Rosa malah meminta pengguna narkoba untuk membunuh pedagang dan membakar rumah-rumah mereka. [ berbagai sumber /U-5]

foto-foto: istimewa

Benny Mamoto

Anwar Fuady

hingga menangkap jaringan pemasok. “Artinya, penang- kapan artis penting, tapi ada tugas lebih besar lagi untuk membongkar sindikat lebih besar. Sebab setiap tahun per- edaran dan korban narkotika makin bertambah. Artinya bandar besar dan jaringan pe- masok narkotika belum bisa diungkap,” ulasnya. Ia mendukung kerja Badan Narkotika Nasional di bawah kepemimpinan Komjen Pol Budi Waseso. “Narkoba ini jauh lebih ganas dibanding kejahatan l a i n s e p e r t i ko r up s i . Uangnya besar, korbannya

besar. Jadi pak Buwas ja- ngan sampai kendur. Harus tetap berani dalam peninda- kan dan penegakan hu- kum,” tandas Masinton. Hal senada disampaikan Anggota Komisi III lainnya, Martin Hutabarat. Ia berha- rap penangkapan itu mem- berikan efek jera kepada pa- ra artis pemakai narkoba. Ke depan, kata Martin, pihaknya sangat berharap BNN dan Aparat Kepolisian dapat juga menangkap ban- dar-bandar, serta penge- dar-pengedar narkoba lain- Tangkap Bandar

Angkara dan Air Mata dalam Perang Narkoba di Filipina

AFP PHOTO / NOEL CELIS Perang terhadap sindikat narkoba di Filipina gencar dilakukan semasa kepemimpinan Duterte.

koba sudah sedemikian ga- wat di Filipina. Tetapi seba- gai putra daerah, Duterte tahu benar masalah besar di negerinya. Dia mengidenti- fikasi ada sekitar 160 nama pejabat negara yang diduga terlibat perdagangan narko- ba. Duterte pun memilih cara yang tak biasa, bahkan mungkin cenderung gila. Tak hanya meneriakkan slogan, tapi dia juga mena- buh genderang perang. Perintah Duterte di- sambut para pejabat lain di sejumlah kota yang telah mulai siap membayar im- balan uang. Wali kota ter- pilih dari pusat kota Cebu, Tomas Osmena, juga mengaku sudah membayar

lebih dari US$ 3.000 untuk petugas polisi yang mem- bunuh pengedar narkoba. Tindakan ini dianggap upaya nyata yang mendo- rong naik keberhasilan program Duterte. “Jika mereka (pengedar, Red) ada di lingkungan Anda, jangan ragu untuk menghubungi kami, polisi, atau melakukannya sendiri jika Anda memiliki pistol. Anda mendapat dukungan dari saya. Jika ia melawan dan berjuang sampai mati, Anda dapat membunuhnya. Saya akan memberikan me- dali,” seru Duterte yang di- sambut para pendukungnya dalam sebuah kesempatan. Meskipun tergolong ek-

strem, dalam pidato perta- ma ke Senat, petinju kon- dang Manny Pacquiao mendukung perang narkoba ala Duterte. Dia juga meng- usulkan untuk mengembali- kan hukuman mati bagi ke- jahatan narkoba, dan meng- anjurkan eksekusi gantung atau oleh regu tembak. Namun, kampanye pe- rang narkoba garis keras yang dikobarkan Presiden Rodrigo Duterte semakin di luar kendali. Kini otori- tas tak hanya mengguna- kan para aparatnya. Para pembunuh bayaran wanita pun dipekerjakan aparat polisi. Mereka direkrut da- ri keluarga miskin. Dengan penghasilan hingga 20.000

Made with FlippingBook - Online catalogs