SP160831

Politik & Hukum

Suara Pembaruan

5

Rabu, 31 Agustus 2016

Eksekutif Ingkar Janji PDI-PMinta Kewenangan Parpol Beri Sanksi

[DEPOK] Ketua Umum DPP PDI -P Megawa t i Soekarnoputri berharap se- mua pihak mulai memikir- kan cara agar partai politik (parpol) bisa memantau ser- ta memberikan sanksi ter- hadap kepala daerah atau- pun pemegang jabatan ek- sekutif yang dianggap me- langgar aturan partai atau aturan hukum. Megawati menegaskan, partainya tak main-main da- lam mengajukan pasangan calon kepala daerah di pilka- da. Selain berbagai proses seleksi hingga penyiapan da- lam Sekolah Partai, partai- nya akan all out memenang- kan calon kepala daerah yang diusung. "Capek loh . Bupati diu- sung sama kita, entah apa dirayu, apa ditekan, trus loncat pagar. Kalau begitu, gimana ya ? Coba diulas dong UU-nya. Kalau keja- dian gitu bagaimana? Repot saya. Saya sudah kerahkan seluruh pasukan saya men- jadikan dia. Sudah jadi, enak saja lompat,” kata Megawati saat pembukaan Sekolah Partai untuk Calon

Kepala Daerah , di Depok, Jawa Barat, Selasa (29/8). "Saya tak bisa menja- tuhkan sanksi loh ,” imbuh- nya lagi. Selain itu, PDI-P mengu- sung calon kepala daerah yang merupakan perpan- jangan tangan partai dalam melaksanakan ideologi Pancasila dan Trisakti yang dianut partai itu. Yang men- jadi masalah sekarang, keti- ka ada eksekutif yang ter- nyata setelah terpilih tak me- laksanakan janji ideologis. Kata Megawati, kewenang- an dari partai lemah sekali. "Kalau legislatif bisa di- PAW. Kalau eksekutif, enak saja itu orang. Kalau korup- si, partai yang kena. Jadi aneh bin ajaib. Semua bi- lang partai jelek. Ya saya tak terima dong . Tapi saya, kan , tak punya alat untuk bercerita bagaimana demo- krasinya ini sebenarnya,” jelas Megawati. Bagi Megawati, seperti ditegaskannya kepada para calon kepala daerah yang mengikuti pengarahannya, melakukan korupsi dan memperkaya diri sendiri

laman hidupnya sendiri. Megawati menuturkan, dirinya sudah mengalami banyak peristiwa naik dan turun selama hidupnya. Bahkan dia hidup di seki- taran tataran kekuasaan po- litik tertinggi, yakni Istana Kepresidenan, sejak negeri ini didirikan. "Bayangkan, saya hidup dari sejak seorang Presiden Soekarno. Saya 23 tahun jadi anak beliau. Saya bera- da di lingkup kekuasaan tertinggi di republik ini. Hidup di sana bukan hanya bergelimang kemewahan, sinar, dan sebagainya, tapi juga penuh intrik, gosip, ke- tidaknyamanan," katanya. "Jangan dipikir kalau ja- di pemimpin, harus cari uang, jadi raja kecil di dae- rahnya, akhirnya lupa. Dari keinginan yang yang awal- nya untuk rakyat, karena kemilaunya kedudukan dan kekuasaan, itu yang saya perhatikan, bagaimana di tempat seperti itu mudah goyah," kata dia. Megawati melanjutkan, perenungannya itu bukan karena sekadar hidup di era

Soekarno. Saat ayahnya di- lengserkan, keluarga besar Bung Karno (BK) berusaha dilengserkan. Dia mengisti- lahkannya lewat pernyata- an, ‘jangankan mau meno- long, orang mau melihat saja istilahnya alergi. ’ Di era itu, untuk berse- kolah pun, dirinya tak dibo- l ehkan . Ku l i ahnya d i Universitas Padjajaran Bandung saat itu harus ber- henti karena pihak kampus dilarang mendidiknya. Semakin dewasa, Megawati lalu berniat masuk ke par- pol. Ada beberapa teman- nya di partai berkuasa saat itu, Partai Golkar, yang me- mintanya menjadi anggota partai itu. Megawati meno- laknya, karena berpikir bah- wa tak mungkin dirinya di- beri jabatan di Golkar kalau sekolah saja tak dibolehkan. Akhirnya, Megawati masuk ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI), satu dari tiga partai yang dibolehkan Pemerintah saat itu. Partai itu berantakan, namun Megawati tetap bertahan dan memilih memperbaiki- nya. [MJS/W-12]

ANTARA/Indrianto Eko Suwarso Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (tengah) menyampaikan pengarahan pada pembukaan Sekolah Partai Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah PDI Perjuangan di Wisma Kinasih, Cilangkap, Tapos, Depok, Jawa Barat, Selasa (30/8).

adalah salah satu bentuk sempurna dari kepala daerah yang tak memenuhi janjinya.

Ketua Umum DPP PDI-P itu pun mengingatkan para calon kepala daerah agar bi- la nantinya diusung PDI-P dan berhasil, tak boleh lupa janji menjalankan ideologi Pancasila serta menyejahte- rakan rakyat. Megawati punya cara unik untuk mengingatkan para calon kepala daerah itu, yakni dengan penga-

Pilkada

Ada puluhan kepala da- erah yang menjadi bakal ca- lon kepala daerah yang se- dang mengikuti Sekolah Partai yang diselenggara- kan DPP PDI-P menjelang Pilkada Serentak 2017.

Made with FlippingBook - Online catalogs