ID170928

KAMIS 28 SEPTEMBER 2017

24

Investor Daily/ant

kredit berakhir pada Agustus 2017. Namun, penghapusan relaksasi restrukturisasi kredit ini masih menjadi kekhawati- ran di industri perbankan akan meningkatnya potensi NPL seperti pada Agustus 2015, se- belumadanya relaksasi tersebut. "Hal ini disebabkan oleh adanya potensi kualitas kredit menjadi memburuk setelah relaksasi dicabut," ujar dia. Menurut Anton, untuk men- gurangi dampak dari penghapu- san relaksasi tersebut, perban- kan sebaiknya ditujukan kepada kredit special mention dan yang sudah ditingkatkan kualitasnya supaya tidak menjadi mem- buruk. "Dengan berdasarkan pada data Desember 2016, kami memprediksi NPL perbankan bisa meningkat ke angka 3,6%," kata dia. Suku Bunga Sementara itu, suku bunga simpanan tercatat stabil dan menunjukkan likuiditas perban- kan memadai. Sebagian besar bank, menurut Anton, masih mempertahankan suku bunga simpanannya. Bahkan, beberapa bank besar menurunkan suku bunga spesialnya untuk tenor satu bulan, tiga bulan, dan enam bulan. Misalnya, BCA yang menu- runkan suku bunga simpanan- nya untuk tenor satu dan tiga bulan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 6,25%. Begitu juga dengan CIMBNiaga yangmenu- runkan suku bunga simpanan untuk tenor satu dan enambulan sebesar 25 bps ke level 6,75%.

angka 5,3%. Pada periode yang sama, pertumbuhan simpanan juga melambat setelah dampak dari program amnesti pajak bera- khir, yakni mencapai 10,3% atau menurun dari bulan sebelumnya yang berada di 11,2%. Sedangkan terkait rasio kredit bermasalah ( non per forming loan /NPL) perbankanmencapai 2,96% pada Juni 2017. Dari segi persentase sudah menur un dibandingkan Mei 2017 yang berada di angka 3,07%. Begitu juga dari segi nominal kredit bermasalah yang sudah menu- run ke angka Rp 133,1 triliun. Namun dilihat dari special men- tion loan meningkat ke level Rp 231,8 triliun dan rasio NPL-nya juga naik ke level 8,1%. Berdasarkan jenis kredit, NPL dari kredit modal kerja dan kon- sumsi menurun ke level 3,5% dan 1,7%, pada bulan sebelumnya di level 3,7% dan 1,8%. Sementara itu, NPL kredit investasi stabil di angka 3,4%. Untuk sektor kredit, NPL di sektor pertambangan mening- kat ke angka 7,84% dari posisi Mei di angka 7,72%. Sedangkan NPL di sektor perdagangan besar dan ritel serta manufaktur turun masing-masing ke angka 4,39% dan 3,23%. "Bank terus mengurangi biaya pencadangan- nya pada semester I-2017, yang menunjukkan optimisme bank kualitas asetnya akan membaik tahun ini," kata dia. Ke depan, Anton mempre- diksi NPL akan berada dalam ekspektasi OJK, meski kebija- kan relaksasi restrukturisasi

Oleh Gita Rossiana

JAKARTA – Penyaluran kredit perbankan diprediksi tumbuh di level normal sekitar 10-15% dalam 2-5 tahun mendatang. Di sisi lain, sebelum tahun 2013, pertumbuhan kredit selalu mencapai 20% lebih.

HUT ke-15, Bank Permata Inisiasi Gerakan #BicaraUang Presdir PT Bank Permata Tbk Ridha Wirakusuma (tengah) bersama (dari kiri ke kanan), Direktur Retail Bank- ing Bianto Surodjo, Head of Corporate Affairs Richele Maramis, Direktur Keuangan Lea Kusuma Wijaya, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi OJK Sondang Martha Samosir, Deputi Direktur Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Elsya Chani, Direktur SDM Indri K Hidayat, Wakil Presdir Julian Fong, Direktur Whole- sale Banking Darwin Wibowo saat pemotongan kue HUT Bank Permata yang ke-15 di Jakarta, Rabu (27/9/2017). Pada usianya yang ke-15, Bank Permata terus menginisiasi gerakan #BicaraUang dengan mengajak masyarakat semakin terbuka dan peduli terhadap masalah keuangan terutama di dalam keluarga. Bank Permata merupakan satu-satunya dan menjadi bank pertama yang menginisiasi gerakan tersebut.

Menur ut hasil Penelitian Mandiri Group, harga komodi- tas tidak bisa lagi membantu perbankan dalam mengaksel- erasi pertumbuhan kredit, sep- erti yang terjadi sebelumnya. Pasalnya, dampak dari penu- runan harga komoditas yang terjadi dari tahun 2014 mempen- garuhi banyak sektor, termasuk perdagangan dan properti. "Harga komoditas bergerak terbatas, sehingga membatasi bank dalam mencapai per- tumbuhan kredit di atas 20% pada tahun-tahun berikutnya," kata Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Anton Gunawan dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily , Senin (25/9). Meski demikian, Anton ber- pendapat, pihaknya masih men- unggu data Otoritas Jasa Keuan- gan (OJK) terbaru untuk bisa melihat lebih detil mengenai figur industri perbankan. Oleh karena itu, sementara waktu, pihaknya menggunakan data pertumbuhan kredit pada peri- ode Juni 2017. Dia menyebutkan, pada Juni 2017, pertumbuhan kredit se-

cara year to date (ytd) hanya mencapai 2,6%, lebih rendah dari performa tahun 2016 yang di angka 2,7%. Dengan melihat perkembangan rata-rata pertum- buhan kredit dari bulan ke bulan ( month on month /mom) dalam lima tahun terakhir, pertumbu- han kredit diprediksi mencapai 8,2% sampai akhir 2017. Angka tersebut lebih rendah dari target awal 2017 di angka 13,5%. Revisi pertumbuhan kredit juga dilakukan oleh Bank In- donesia (BI) dari level 10-12%, menjadi 8-10% pada akhir 2017. Angka pertumbuhan sebesar 8% menunjukkan pertumbuhan kredit kembali berada di level di bawah dua digit, seperti tahun 2015 dan 2016 yang berada di angka 7,3% dan 9,6%. Berdasarkan jenis kredit, kredit modal kerja dan kredit investasi juga menunjukkan perlambatan, yakni mencapai masing-masing 7,2% and 6,4%. Sedangkan dilihat dari sektor kredit, kredit ke sektor per- dagangan besar dan ritel juga menunjukkan perlambatan ke angka 3,1%, sementara kredit ke sektor manufaktur meningkat ke

dibandingkan posisi September 2014. Penurunan juga terjadi pada suku bunga kredit investasi sebesar 131 bps sehingga me- nyebabkan rata-rata penurunan suku bunga deposito sebesar 101 bps. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJKHeru Kristiyana mengungkapkan, suku bunga deposito saat ini memang terus bergerak turun. Oleh karena itu, pihaknya harus mengevaluasi kembai pemberlakuan capping yang ada di bank saat ini. "Kami harus evaluasi dulu seperti apa ke depan suku bunga deposito, beri kami waktu untuk bekerja supaya melihat tren yang terjadi di perbankan," kata Heru di Ja- karta, Rabu (27/9). (gtr)

bunga deposito tenor tersebut turun 223 bps ke angka 6,45% pada Agustus 2017. Selanjutnya, suku bunga de- posito tiga bulan pada September 2014 mencapai 9,57%, turun 300 bps ke angka 6,57% pada Agustus 2017. Begitu juga dengan suku bunga deposito tenor enam bulan, turun 238 bps dari 9,29% pada September 2014 ke 6,91% pada Agustus 2017. Terakhir ada- lah suku bunga deposito 12 bulan yang turun 185 bps, dari 8,83% pada September 2014 menjadi 6,98% pada Agustus 2017. Penur unan ini juga tere- fleksi pada suku bunga kredit. Suku bunga kredit modal kerja (KMK) pada Agustus 2017 turun 164 bps ke posisi 11,15% apabila

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, suku bunga deposito terus menurun pascadiberlakukannya capping (batasan) sejak Agustus 2014 hingga saat ini. Penur unan suku bunga deposito akibat capping tersebut mencapai 300 basis poin (bps) dalam kurun waktu tiga tahun sejak aturan diberlakukan. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso melalui data Pembahasan Rencana Kerja OJK yang disampaikan di hada- pan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mengungkapkan, suku bunga deposito tenor satu bulan pada September 2014 tercatat sebesar 8,48%. Namun, sete- lah capping diberlakukan suku

Made with FlippingBook - Online Brochure Maker