SP180728

Suara Pembaruan

Utama

2

Sabtu-Minggu, 28-29 Juli 2018

Satu Dapil dengan Artis, Caleg Resah

B erbagai upaya dila- kukan partai politik (parpol) untuk bisa mendulang suara sebanyak (Pemilu) 2019. Apalagi, dengan sistem pemilu se- rentak yang digelar tahun depan, tidak mudah bagi parpol untuk bisa menarik sebanyak-banyaknya du- kungan masyarakat. Untuk itu, parpol masih bergan- tung pada figur caleg yang akan diusung. Salah satu cara partai untuk mendulang suara -banyaknya pada Pemilihan Umum

adalah dengan menjadikan artis dan pesohor lain un- tuk menjadi caleg. Diharapkan, popularitas artis itu bisa menarik sim- pati publik, sehingga suara partai terdongkrak. Namun, cara partai itu rupanya me- munculkan per- soalan baru. “Ada caleg yang resah, karena pim- pinan pusat partai menem- patkan artis terkenal di da- erah pemilihan (dapil) dia. Kehadiran artis itu bisa mengurangi dukungan ke-

pada caleg itu,” ujar sum- ber SP di Jakarta, Sabtu (28/7). Dikatakan, artis terse- but sangat yakin dirinya bisa terpilih pada Pemilu 2019 nanti. Berbagai cara teah dilakukannya un- tuk bisa menarik simpati masyarakat di dapilnya. Itu tidak mudah, termasuk dengan menyapa masyarakat di sana. Meski demikian, ujar sumber itu, cara demikian merupakan strategi partai untuk bisa menambah suara.

“Misalnya, di satu da- pil selama ini hanya dapat satu kursi, sementara kuo- ta kursi DPR di sana ada- lah 4. Caleg yang sudah pernah terpilih sudah pasti akan dapat lagi, karena dia juga terkenal. Nah, su- paya bisa dapat tambahan kursi, kami pasang artis di dapil itu. Jadi, tujuan me- masang artis bukan untuk menggerus suara caleg partai kami, tetapi untuk merebut suara lawan se- hingga kami dapat tam- bahan kursi,” ujar sumber itu. [O-1]

28 Juta Orang Indonesia Terjangkit Hepatitis

[JAKARTA] Sekitar 28 ju- ta orang Indonesia saat ini terjangkit virus hepatitis B dan C yang mematikan. Jika tidak ditangani dengan serius, jumlah itu bisa me- ningkat tajam. Sebab, ba- nyak orang yang tidak sadar bila mereka terjangkit virus tersebut. Selain biaya pengobatan yang mahal, bisa mencapai puluhan juta rupiah per bu- lan, penderita enggan bero- bat juga karena malu ma- syarakat sekitarnya tahu dia menderita hepatitis. Hari Hepatitis Sedunia yang jatuh pada 28 Juli ini merupakan momentum yang baik mengurangi jum- lah penderita sehingga tar- get Indonesia bebas hepati- tis pada 2030 bisa tercapai. Penyakit Hepatitis me- rupakan masalah kesehatan dunia yang serius, terutama di negara berkembang, ter- masuk di Indonesia. Dari lima tipe virus, Hepatitis B dan C dikategorikan paling berbahaya dan kasusnya ba- nyak. Kedua virus memati- kan ini ditularkan melalui darah, hubungan seksual, dan kulit yang terluka. Hepatitis B telah meng- infeksi 2 miliar orang di du- nia dan sekitar 240 juta me- rupakan Hepatitis B kronis. Sementara, Hepatitis C di- perkirakan 170 juta orang, dan sekitar 1,5 juta pendu- duk meninggal setiap ta- hunnya disebebkan oleh in- feksi Hepatisis B dan Hepatitis C. Indonesia merupakan negara dengan pengidap Hepatitis B nomor dua ter- besar sesudah Myanmar di negara-negara anggota WHO SEAR. Diperkirakan 23 juta penduduk Indonesia pernah terinfeksi virus he- patisi B atau 1 dari 10 pen- duduk. Sementara, penderi- ta Hepatitis C diperkirakan 5 juta orang. Kementerian Kesehatan menyebutkan, Indonesia tergolong negara dengan endemis tinggi

Hepatits.

masyarakat Indonesia, teru- tama untuk deteksi dini. Hampir 80% hepatitis tidak menunjukkan gejala, se- hingga terlambat diketahui. Meski mengetahui seka- li pun, menurut Irsan, be- lum tentu mau diobati, ka- rena tanpa keluhan atau ra- sa sakit. Masalah biaya dan efek samping pengobatan juga ikut mempengaruhi kesadaran masyarakat ter- h a d a p p e n y a k i t i n i . Akibatnya, banyak dari penderita datang berobat sudah dalam stadium akhir. Dia mencontohkan, me- lalui program Kemkes sejak 2017 obat untuk Hepatitis C d i be r i kan cuma - cuma . Namun, hanya sedikit seka- li penderita yang mendapat pengobatan, sekitar 3.000 orang. Sangat timpang jika dibandingkan dengan pre- valensi Hepatitis C adalah 1% atau 2,5 juta dari total 250 juta penduduk, Mereka yang datang berobat pun karena tergabung dalam se- buah komunitas. Irsan menyarankan, pe- merintah perlu melakukan upaya pencegahan dan de- teksi yang lebih masif untuk mengatasi tingginya kejadi- an Hepatitis di Indonesia. Di antaranya, perlu dilakukan pemeriksaan atau screening status HB dan HbsAg bagi seluruh ibu hamil. Bayi-baru lahir dari ibu hamil yang po- sitif segera diberikan vaksin. Peringatan Hari Hepatitis Sedunia (HSS) juga merupa- kan bagian dari upaya bersa- ma. HHS yang diperingati setiap 28 Juli perlu menjadi momentum untuk terus me- ningkatkan perhatian, kepe- dulian, dan pengetahuan ber- bagai pihak terhadap masa- lah Hepatitis di Indonesia. Tahun ini, HHS mengu- sung tema Deteksi Dini Hepatitis, Selamatkan Generasi Penerus Bangsa . Diharapkan, upaya peningkat- an pengetahuan dan kesadaran tentang bahaya Hepatitis terus dilakukan. [D-13]

Penyakit yang menye- rang hati ini kerap disebut silent killer atau membunuh secara diam-diam, karena banyak di antara penderita- nya tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi vi- rus ini. Mereka baru me- ngetahui setelah penyakit- nya berada pada tahap lan- jut atau kronis, bahkan su- dah terjadi komplikasi be- rat, seperti siroisis, kanker hati, dan gagal hati. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Dirjen P e n c e g a h a n d a n Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemkes ) dr Wi endr a Waworuntu MKes menga- takan, pada 1997 pemerin- tah telah melakukan berba- gai upaya pencegahan de- ngan imunisasi Hepatitis B pada bayi baru lahir secara nasional. Menurut Wiendra, pihaknya fokus penanganan pada ibu hamil karena ting- kat penularan ke bayi cukup banyak. Tahun ini, Kemkes menargetkan 5 juta ibu ha- mil harus diperiksa hepati- tis B. Menurut Wiendra, pe- merintah sudah melakukan u p a y a p e n g e n d a l i a n Hepatits B sejak 2014. Ketika itu, dilakukan pilot p ro j e c t De t ek s i Di n i Hepatisis B (DDHB) pada ibu hamil di Provinsi DKI Jakarta dan dikembangkan ke beberapa provinsi pada 2015. Pada 2016, DDHB sudah dilakukan secara na- sional. Kegiatan DDHB meli- puti pemeriksaan ibu hamil untuk mengetahui status Hepatitis B-nya. Apabila hasil pemeriksaan ibu hamil tersebut reaktif, maka dila- kukan pemantauan sampai bersalin. Anak yang lahir dari ibu hamil yang status Hepatitis B reaktif diberikan HBO (dosis lahir) dan HBIG se- belum 24 jam.

“Melaksanakan DDHB berarti kita telah melakukan upaya deteksi dini untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa di masa de- pan,” kata Wiendra. Upaya-upaya lain yang juga dilakukan, di antara- nya sosialisasi faktor risiko penyakit hepatitis di 34 pro- vinsi, melakukan imunisasi rutin Hepatits B pada bayi

di 34 provinsi dengan ca- paian di atas 93,5%. Kemudian, deteksi dini Hepatis B sudah dilakukan di 34 provinsi dan 244 ka- bupaten/kota. Telah dilakukan deteksi dini hepatisis sebanyak 742.767 ibu hamil dan ber- hasil memproteksi 7.268 bayi terhadap ancamaan pe- nulaan vertikal dan ibunya.

Gunung Es

Ahli penyakit dalam da- ri RSCiptoMangunkusumo, dr Irsan Hasan menyebut fenomena hepatitis di Indonesia seperti gunung es. Hanya sebagian kecil kasus yang terdeteksi dan mendapat pengobatan, na- mun kondisi riilnya jauh le- bih besar. Ini dikarenakan masih rendahnya kesadaran

Made with FlippingBook Annual report