SP161203

Utama

Suara Pembaruan

2

Sabtu-Minggu, 3-4 Desember 2016

Aktif di Politik, Seniman Kehilangan Kontrak

S eorang seniman akhir-akhir ini tampak aktif terjun di poli- tik. Dia intensif mengikuti sejumlah aksi massa, dan mempo- sisikan diri berseberangan dengan pemerintah. Sejumlah aksinya ter- kadang dibumbui dengan inaan. Sikapnya tersebut dalam pantauan aparat penegak hukum. Sumber SP menyebutkan, aki- bat sikap dan pernyataannya yang kontroversial tersebut, membuat sejumlah mitra bisnisnya ketar-ke- pernyataan keras yang bisa ditafsirkan pengh-

tir. “Ucapan yang tidak sopan dan menebar kebencian ini mengakibat- kan sejumlah proyek dan kontrak pentas justru diputus. Bahkan, di beberapa daerah sudah meno-

lak kehadirannya untuk tampil,” ujarnya, Sabtu (3/12).

Dia menambahkan, seir- ing dengan meredupnya karier, sang seniman sering melontarkan benih-benih kebencian. Diduga, hal itu dilakukan untuk menaikkan pamor di panggung politik karena dianggap kritis terhadap pemerin- tah. [H-12]

Aksi Damai 212 Presiden Menangkap Pesan Umat

[JAKARTA] Kehadiran Presiden JokoWidodo (Jokowi) menunaikan salat Jumat dan menyapa massa peserta aksi damai 2 Desember di LapanganMonas, pada Jumat (2/12), memberi penegasan bahwa pemer- intah telah menerima pesan dan kehendak umat terkait proses hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama atauAhok terkait kasus dugaan penistaan agama yang dilakukannya. Di sisi lain, dengan kehadiran Presiden Jokowi, umat peserta aksi diharapkan juga menangkap komit- men pemerintah untukmenyerahkan kasus tersebut kepada proses hukum tanpa intervensi. Dengan demikian, ke depan diharapkan tidak ada lagi aksi pengerahanmassa besar-besaran untuk memberi tekanan yang meng­ arahpada pemaksaankehendakdalam kasus Ahok. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Sulton Fatoni meni- lai, aksi superdamai 212 yang ber- jalan tertib dan baik adalah buah dari kesadaran bersama untuk menjaga NKRI. Menurutnya, tuntutan peser- ta aksi tersalurkan dengan cara yang elegan dan santun. Hal itu direspons dengan bijak oleh Presiden, dengan hadir di tengah-tengahmassa, walau- pun hanya untuk salah bersama. “Kehadiran Presiden Jokowi semakin memperkukuh silaturahmi dan menambah bobot komunikasi, yang sebelumnya telah dirajut aparat kepolisian dan TNI,” ujarnya, di Jakarta, Sabtu (3/12). Selanjutnya, Sulton mengimbau semua pihak untuk mulai memper- hatikan persoalan kebagsaan lainnya, tidakmenghabiskan energi pada kasus Ahok. Pasalnya, kasus tersebut kini telah masuk proses hukum dan dita- ngani Kejaksaan. “Masih banyak persoalan bang- sa lain yang menuntut perhatian pemerintah dan semua kalangan, seperti kejahatan narkoba, masalah kemiskinan, akses kesehatan, dan anak putus sekolah,” jelasnya.. Pendapat senada juga disampai- kan Sekjen Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Dia menegaskan, kehadiran Presiden menegaskan bahwa peme- rintah telah menerima dengan jelas pesan yang disampaikan umat. Untuk

itu, setelah aksi 212, semua pihak untuk memperhatikan persoalan- persoalan lainnya. “Saya mendapatkan informasi karana ada kasus ini, banyak inves- tor yang merasa Indonesia bukan tempat yang aman. Mereka kemudi- an membatalkan rencana investasi ke Indonesia. Ini juga persoalan penting yang harus diselesaikan dan menyangkut kehidupan seluruh bangsa,” katanya. Untuk itu, sebagai organisasi, Muhammadiyah jugamengharapkan kepada umat Islam agar aksi 212 menjadi aksi yang terakhir. Umat Islam hendaknya mempercayai dan memantauproses hukumyang sedang berlangsung. “Perjuangan sudahharus mulai dialihkan dari jalan ke peng- adilan, dari lapangan hijau ke meja hijau,” tandasnya. Abdul mengharapkan semua pihak untuk menghormati hukum yang sedang berjalan. Proses   hukum butuh waktu yang lama sehingga perlu ada kesabaran serta pemaham- an bahwa dalam proses hukum memang terdapat mekanisme yang

harus dijalani.

inisiatif hadir di tengah umat merun- tuhkan upaya delegitimasi terhadap Presiden melalui kasus Ahok. “Kita apresiasi kehadiran Jokowi di acara doa bersama di Monas. Kehadiran Jokowi menggagalkan tesis bahwa aksi 212 merupakan bagian dari upaya menggulingkan ataumenjatuhkan Jokowi. Kehadiran Jokowi justru menjadi pusat perha- tian dan menguasai panggung,” ujarnya. Qodari berharap, dengan keha- diranPresiden, kasusAhokmemasuki babak baru, yakni babak penegakan hukum. KasusAhok harus lepas dari persoalan politik, karena rakyat dan pemerintah sudah percayakan kepa- da hukum. “Karena negara hukum, maka kita serahkankasusAhokpada hukum dan rakyat tinggal mengawalnya. Jangan sampai dipolitisasi sehingga ada upaya-upaya menggulingkan pemerintahan yang sah,” tandas dia. Qodari tak menampik bahwa kemungkinan ada tuntutan lebih besar dari peserta aksi kepada Jokowi terkait kasus Ahok. Namun, dia

berharap, tuntutan yang lebih besar itu harus diukur berdasarkan hukum yang berlaku dalam babak hukum penanganan kasus Ahok. KetuaUmumSekretariatBersama Rakyat (Sekber), Mixil Mina Munir mengatakan kehadiran Presiden Jokowi mampumenyejukkan kelom- pok minoritas yang sebelumnya terpengaruh melihat situasi massa yang masif, karena dikhawatirkan akan terjadi kerusuhan. “Kelompok minoritas khawatir terjadi kerusuhan. Namun Presiden menjawab kekha- watiran tersebut saat mendatangi Monas,” ujarnya. Wakil SekjenGPAnsor ini meni- lai, langkah yang diambil Presiden Jokowi sebelumnya tidak terpredik- si. “Ibarat skak mat, langkah kuda yang tiba-tiba dari Presiden Jokowi memojokkan lawan. Presiden tidak sekadar datang, namun, Jokowi juga berada paling depan dalammenjaga kebhinekaan kita,” kata Mixil. Sedangkan,Wakil SekjenBarisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP), Yayong Waryono menilai, Presiden telah membuktikan seba- gai negarawan sejati. “Presiden membuktikan, dia mampu berada di atas semua pihak, baik yang mendukung maupun mereka yang kritis dan menentangnya. Ia mampu merangkul semua komponen bang- sa, seperti yang ditunjukkannya di Monas,” ujar Waryono. Secara terpisah, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan kegem- biraannya karena aksi 212 yang diisi dengan ibadah dan tausiah di Monas berlangsung aman dan damai. “ Alhamdulilah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena ibadah aksi bela Islam jilid tiga ini berjalan dengan lancar aman semua. Kami menyam- paikan apresiasi yang tinggi pada para peserta,” kata Tito usai acara di Monas. Dia telah mendapatkan laporan dari petugas taman DKI bila tidak ada satu pohon pun yang rusak. Ini tentu beda dengan aksi 411 yang diwarnai kericuhan. “Ini betul-betul damai. Tidak ada yang menggangu, yang merusak, yang melakukan aksi kekerasan dan kami sangat meng- hargai untuk itu,” katanya. [FAT/FAR/YUS/R-15/H-14]

“Semua harus menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan bersabar karena ada mekanisme yang harus dilewati. Hidup di nega- ra hukum, semua pihak harus tunduk dan menghormati apapun putusan pengadilan kelak,” pintanya. Selain itu, dia juga berharap aparat penegak hukum, dalam hal ini Kejaksaan dan pengadilan, untuk tidak terpengaruh atau diinter- vensi pihak manapun dalammemu- tuskan perkara ini, termasuk kalah oleh tekanan massa.  “Menggelar proses peradilan secara terbuka agar semua pihak dapat mengikuti dan menghormati putusan hukum, sehingga hukum dapat berjalan sesuai dengan koridor yang berlaku,” jelasnya. Sisi Politik KehadiranPresiden Jokowi dalam aksi damai 212, selain bermanfaat dalam kaitan kasus hukum Ahok, juga memiliki bobot politik yang besar. Menurut Direktur Eksekutif Indobarometer Muhammad Qodari,

SP/Joanito De Saojoao Umat Muslim bersiap menjalankan ibadah salat Jumat di bawah guyuran hujan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (2/12).

Made with FlippingBook HTML5