ID180714

sabtu/minggu 14-15 JULI 2018

| 24

Film Sara & Fei-Standhuis Schandaal

Investor Daily/IST

Jumlah penonton film yang besar di dua negara: Indonesia dan Tiongkok, menjadi pasar potensial bagi Xela Pictures lewat debutnya, Sara & Fei-Standhuis Schandaal .

Cerita Standhuis Schandaal memang sudah disiapkan Adi. Film bergenre misteri dengan setting masa kini dan masa Belanda itu juga punya latar belakang sejarah yang bisa dinikmati anak muda milenial. Tepatnya di abad 17, masa Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon memerintah Batavia “Anak muda sekarang sudah semakin senang dengan sejarah, tetapi harus tetap dikemas dengan ringan dan menarik,” kata Alexander. Dengan kekuatan cerita, Omar optimistis Standhuis Schandaal bisa meraup banyak penonton. “Kami memang tidak memasang bintang yang sedang terkenal saat ini. Apalagi penonton film saat ini tidak mementingkan siapa pemainnya. Yang penting bagi mereka adalah ceritanya kuat dan bagus,” lanjut Omar. Standhuis Schandaal berkisah tentang mahasiswa, Fei. Saat melakukan riset di kota tua Batavia untuk menyelesaikan tugas kuliahnya, Fei didatangi gadis blasteran Belanda-Jepang bernama Sara. Suatu hari, setelah pulang dari Shanghai, Fei kembali mendatangi gedung Museum Jakarta, yang terkenal dengan nama Museum Fatahilah. Dulunya, gedung ini adalah balaikota bernama Standhuis. Tiba-tiba Sara kembali muncul dan tanpa disadari membawa Fei masuk ke lorong waktu menuju abad 17, di tahun 1628, masa Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon memerintah Batavia. Dari sini, cerita semakin menarik, penuh misteri, dan pesan. “Saya tidak mau latah. Karena itu saya menawarkan cerita yang berbeda,” kata Adisurya Abdy saat jumpa pers di Jakarta,

Oleh Mardiana Makmun

I ndustri film di Indonesia semakin bergairah. Pada 2017, sebanyak 116 film panjang ditayangkan ke bioskop-bioskop Tanah Air. Yang menarik, jumlah penonton meningkat dari 34,5 juta di 2016 menjadi 37 juta penonton di 2017. Mencoba peruntungan di industri ini, Xela Pictures merilis film Sara & Fei-Standhuis Schandaal . Xela Pictures merupakan divisi Film dari PT. Xela Pentas Komunika, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang entertainment, termasuk rumah produksi. Film yang disutradarai Adisurya Abdy ini siap tayang pekan depan, Kamis, 26 Juli 2018. “Kami melihat potensi penonton film di Indonesia sangat besar, namun selain itu kami juga melihat penonton film di Tiongkok enam kali lipat di Indonesia. Dengan memproduksi film yang cerita dan syutingnya melibatkan Indonesia dan Tiongkok, kami mencoba merebut pasar penonton di dua negara ini, sekaligus juga mengenalkan budaya kuliner dan pariwisata Indonesia ke Tiongkok,” ungkap pemilik Xela Pictures sekaligus eksekutif produser Standhuis Schandaal , Alexander Sutjiadi kepada Investor Daily di kantornya, di Jakarta Selatan, Rabu (11/7). Sutradara tahun 80-an, Adisurya Abdi pun didapuk mengarahkan film ini. “Adi teman baik kami. Kebetulan, style cerita film saat ini kembali lagi ke tahun 80-an. Itu yang menjadi pertimbangan kami memakai Adi,” tambah Produser Omar Jusma.

Alexander Sutjiadi (kiri), eksekutif produser dan Omar Jusma, produser Standhuis Schandaal

Laut di sana jelek, kuning, karena membawa lumpur dari Sungai Kuning. Makanya mereka senang film dengan pemandangan laut yang bagus. Lihat saja di Manado, didominasi turis dari Tiongkok.,” kata Alexander. Tak hanya itu, lewat film, selain mempromosikan wisata Indonesia, Alexander berharap juga bisa mempromosikan kuliner Indonesia. “Lewat pertukaran budaya dalam bentuk film, saya harap ke depan, kuliner Indonesia akan dikenal dan disukai masyarakat Tiongkok dan akan lebih banyak lagi turis Tiongkok datang ke Indonesia,” tandas Alexander.

Shanghai (Tiongkok), dan Ningbo (Tiongkok). Syuting menggunakan teknologi terkini yang bisa menghemat biaya sebesar 35%, termasuk menggunakan teknologi efek visual CGI ( Computer Generated Imagery ). “Syuting terbilang singkat, hanya 3 minggu. Investasi film ini pun hanya Rp8 miliar,” ungkap Alexander yang bermitra dengan perusahaan film dan distributor film dari Tiongkok. Selain cerita yang kuat, kunci bisa diterima pasar film di Tiongkok, lanjut Alexander adalah, film harus mengekspos keindahan pantai dan laut Indonesia. “Orang Tiongkok rindu laut yang indah.

Jumat (13/7). “Cerita ini sebagian memang kisah nyata,” kata Adi yang melakukan riset kepustakaan. Standhuis Schandaal dimainkan oleh Amanda Rigby sebagai Fei dan Tara Adia sebagai Sara. Selain bintang muda, film ini juga memasang bintang terkenal zaman 80-90an, seperti aktor Septian Dwicahyo, Anwar Fuadi, Rensy Milano, Roweina Oemboh, dan lain-lain. Dongkrak pariwisata Indonesia Demi meraup jutaan penonton di Tiongkok, Standhuis Schandaal menggelar syuting di empat kota dan dua negara: Jakarta, Pangkalan Bun (Kalimantan),

BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

dari program Summer Break merupakan program hiburan untuk menyemarakkan liburan anak-anak dan keluarga . Pemain atraksi ini didatangkan dari Rusia. Selain itu juga ada penampilan Summer Retro Dance dari Australia,” kata Dini Widodo, public relations manager Grand Indonesia kepada Investor Daily, pekan ini. Summer Break digelar mulai 6-29 Juli 2018. Sedangkan Cotton Candy King Show dan Summer Retro Dance bisa disaksikan mulai 6-15 Juli 2018 setiap hari Selasa-Jumat sebanyak dua sesi, yaitu pukul 17.00 dan 19.00 serta hari Sabtu dan Minggu sebanyak tiga sesi yaitu pukul 15.00, 17.00, dan 19.00. Yang tak kalah menarik, Shopping Program dimulai tanggal 6 – 29 Juli 2018.Para G CARD member hanya perlu melakukan transaksi senilai minimal Rp 100 ribu sudah langsung bisa menikmati Free Ice Cream persembahan dari Grand Indonesia.(nan)

Jakarta - Lelaki bule itu asyik menggoyangkan tubuhnya di panggung. Kostum dan gaya tariannya mirip penyanyi legendaris Michael Jackson. Apalagi dia menari diiringi lagu Black or White yang dilantunkan penyanyi Amerika itu di tahun 1991. Tak ada yang menarik memang dengan tarian itu. Tapi yang menarik justru selain menari, lelaki itu piawai membuat cotton candy atau permen kapas. Sembari menggerak-gerakan tubuhnya, dia membentuk permen kapas, menariknya panjang sembari berkeliling panggung dalam cahaya warna- warni. Aksinya membuat pengunjung di pusat perbelanjaan Grand Indonesia yang berada di sekitar atrium utama mal ini mendekat ke bibir panggung. Terutama anak-anak penggemar permen kapas. Tak pelit, 10 permen kapas buatannya langsung ludes diberikan pengunjung. “Cotton Candy Show yang merupakan bagian

Peluncuran Seragam Baru Korporasi BCA. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja (ketiga kiri) didampingi Direktur BCA Lianawaty Suwono (kanan), Direktur BCA Vera Eve Lim (kiri) dan Founder & Fashion Designer IKAT Indonesia Didiet Maulana (kedua kanan) bersama karyawan BCA yang telah menggunakan seragam baru usai Peluncuran Seragam Baru Korporasi BCA yang terbuat dari kain tenun dalam acara Kafe BCA 8 di Jakarta, Senin (9/7/2018). Bekerja sama dengan IKAT Indonesia, BCA memberdayakan lebih dari 2500 pengrajin di Desa Troso, Jepara dalam pembuatan seragam baru korporasi. Seragam baru korporasi ini akan digunakan oleh sekitar 27.000 karyawan di seluruh Indonesia.

Investor Daily/IST

Produksi tenun dibuat di Desa Troso, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Mengapa Troso? “Hampir semua penduduk di Troso berprofesi sebagai penenun, sehingga daerah ini secara industri siap untuk memproduksi kain tenun massal,” kata Didiet. Didiet memang benar. Tak tanggung-tanggung, dalam waktu enam bulan, penenun di Troso sanggup memproduksi 45 ribu meter kain tenun ikat. “Sebanyak 45 ribu meter kain tenun ikat diproduksi dalam waktu enam bulan untuk kebutuhan 80 ribu potong busana karyawan,” ungkap Lianawaty Suwono, direktur BCA. Jumlah meteran kain sebanyak itu tentu ikut mendorong tumbuhnya industri tenun ikat dan menyerap tenaga kerja penenun dalam jumlah besar. “Untuk menghasilkan kain tenun sepanjang itu, saya melibatkan 2.500 penenun,” ungkap Didiet. (nan)

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, Indonesia memiliki ragam kekayaan wastra nusantara, diantaranya kain tenun. “Melalui inisiatif memproduksi seragam BCA menggunakan tenun ikat sehingga masyarakat penenun memiliki kesempatan mengembangkan dan menerima manfaat dari kebutuhan massal tersebut sekaligus memperkuat identitas Indonesia,” kata Jahja di Jakarta, pekan ini. Setelah dua tahun mengembangkan konsep, terciptalah desain tenun ikat yang menampilkan motif bunga cengkeh, kaca, dalam warna biru khas BCA dan dipadu warna kuning cerah. Desainer tenun Didet Maulana dari Ikat Indonesia pun didapuk menjadi desainer tenunnya. “Di luar konsep, saya mendesain tenun ini selama satu tahun. Motif mengandung makna kemakmuran dan saling keterikatan,” kata Didiet.

Jakarta - Fashion memang luar biasa mendongkrak ekonomi kreatif. Data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dikeluarkan pada 2018 mengungkapkan, kontribusi ekonomi kreatif (ekraf) pada 2016 mencapai Rp922,59 triliun atau menyumbang 7,44% terhadap perekonomian nasional. Dan fashion menjadi penyumbang terbesar nomor dua sebesar Rp166 triliun (18,01% ) setelah kuliner Rp382 triliun (41,49%). Dari angka tersebut, kontribusi kain tenun tidak bisa dipandang sebelah mata. Memang, produksi kain tenun belumlah sebesar batik. Tapi penghargaan kepada wastra (kain) tradisional Indonesa ini semakin hari semakin tinggi. Tak cuma individu yang gemar memakai kain tenun dan produk tenun, tetapi kalangan perusahaan pun kini memakainya. BCA memelopori itu dengan menggunakan tenun ikat untuk seragam karyawannya.

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online