ID170104

RABU 4 JANUARI 2017

24

Investor Daily/ant

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan rasio kecukupan modal ( capital adequacy ratio /CAR) perbankan pada 2017 mencapai 21,34%, menurun dibandingkan target pada akhir 2016 yang mencapai 22,14%. Deputi Komisioner Pengawas Perbankan OJK Irwan Lubis mengungkapkan, penurunan CAR perbankan disebabkan oleh ekspansi kredit pada tahun ini. ”Pertumbuhan kredit pada 2017 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, ”ujar dia kepada Investor Daily , Rabu (3/1). Penurunan CAR tersebut, lanjut Irwan, tidak akan mem- pengaruhi pemenuhan Basel III. Sebab, pada dasarnya perbankan sudah memiliki modal di atas Basel III, sedangkan untuk bank yang belum bisa memenuhi Basel III masih diberikan waktu hingga tahun 2019. ”Untuk pemenuhan conservation buffer secara bertahap sampai 2019, semua bank yang diwajibkan tidak ada masalah dan semuanya mampu memenuhi,” kata dia. Menanggapi hal ini, Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Iman Nugroho Soeko mengungkapkan, CAR pada tahun ini memang akan turun seiring meningkatnya ekspansi kredit. Dalam hal ini, pihaknya tetap menjaga CAR di level aman. Pada tahun ini, perseroan optimistis pertumbuhan kredit mencapai 18-20% dengan CAR di level 17%. Direktur Utama PT Bank MNC International Tbk Benny Purnomo juga menjelaskan, pihaknya sudah mengantisipasi penurunan CAR denganmemperkuat permodalan. Benny menye- butkan, pada tahun ini perseroan berencana menerbitkan rights issue senilai Rp 500 miliar, sehingga mendorong CAR mencapai level 17%. “Target CAR juga dihitung berdasarkan ekspansi kredit sebesar 12-15%,” tegas dia. Sementara itu, tahun ini, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad menjelaskan, pihaknya memperkirakan pertumbuhan kredit mencapai 13,25%, naik signifikan diband- ingkan pertumbuhan pada akhir 2016 yang mencapai 7,78%. Asumsi pertumbuhan kredit tersebut berdasarkan produk domestik bruto (PDB) yang diperkirakan berada di 4,9-5,6%. Begitu pula dengan inflasi di level 3,25-5%, suku bunga acuan BI ( BI 7-Day Reverse Repo rate ) di 3-5%, dan nilai tukar rupiah di kisaran 12.500-13.700 terhadap dolar AS. Di sisi lain, realisasi pertumbuhan kredit mencapai Rp 4.285 triliun sampai November 2016, naik 8,4% ( year on year /yoy) dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 3.950 triliun. Dari nilai tersebut, kredit modal kerja masih mendominasi dengan nilai Rp 1.990 triliun, kredit konsumsi sebesar Rp 1.186 triliun, dan kredit investasi Rp 1.109 triliun. Berdasarkan kinerja pertumbuhan, kredit investasi tumbuh paling tinggi mencapai 11,75%. Tahun ini, OJKmemproyeksikan pertumbuhan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 11,94%, lebih tinggi diband- ingkan target akhir 2016 yang sebesar 7,36%. Sedangkan sampai akhir November 2016 penghimpunan DPK mencapai Rp 4.734 triliun, tumbuh 8,4% (yoy). Dengan target pertumbuhan DPK yang lebih rendah diband- ingkan kredit ini menyebabkan rasio kredit terhadap simpanan ( loan to deposit ratio /LDR) mencapai 94,18%. LDR ini lebih tinggi dibandingkan target akhir 2016 yang mencapai 93,09%. Meski per tumbuhan LDR tersebut lebih tinggi diband- ingkan batas atas ketentuan sebesar 92%, Muliaman tidak mengkhawatirkan kondisi likuiditas. Pihaknya akan berkolaborasi dengan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia untuk men- dukung likuiditas perbankan. ”Likuiditas selalu menjadi perhatian kami, pada akhir tahun agak melonggar karena adanya dana amnesti pajak. Kami juga akan membantu likuiditas perbankan melalui pendalaman pasar modal,” ungkap dia. (gtr) JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) optimistis dapat membukukan laba bersih tahun 2016 di atas target yang ditetapkan. BTNmenargetkan laba bersih tahun lalu tumbuh sekitar 30% secara year on year (yoy) menjadi Rp 2,4 triliun. Direktur Keuangan BTN Iman Soeko Nugrohomemperkirakan, penyaluran kredit perseroan sepanjang tahun lalu 18-19%, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 19-20%. "Pertum- buhan laba melampaui target, tapi ini masih harus diaudit," kata Iman di Jakarta, Selasa (3/1). Iman juga yakin, hingga akhir kuartal IV-2016 rasio non perform- ing loan (NPL) perseroan diperkirakan menurun dibandingkan posisi rasio NPL perseroan pada kuartal III-2016. Hingga November 2016, BTN telah membiayai sebanyak 548.727 rumah yang terdiri atas penyaluran KPR sebanyak 187.588 unit dan kredit konstruksi belum KPR sebanyak 361.139 unit. Jumlah tersebut sudah mencapai 96% dari target sebanyak 570 ribu unit rumah. Sebelumnya, Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, pada 2017 pihaknya menargetkan dapat membiayai lebih dari 600 ribu unit rumah. Target penyaluran kredit perseroan tahun 2017 tumbuh di kisaran 19-20%. "DPK kami targetkan pertumbuhannya lebih tinggi, yakni di atas 20%," kata dia. Maryono menambahkan, selain mencari pendanaan melalui DPK, BTN akan mencari pendanaan melalui penerbitan surat berharga lainnya. (nti) JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menghimpun dana repatriasi sebesar Rp 23 triliun hingga 31 Desember 2016, atau batas akhir periode kedua program pengampunan (amnesti) pajak. Perhitungan pencapaian perolehan dana repatriasi melalui Bank Mandiri ini masih terus berjalan. Dari nilai tersebut, posisi dana repatriasi ditempatkan dalam bentuk produk perbankan seperti tabungan dan deposito yang mencapai 53%, dan sisanya ditempatkan dalam produk keuangan lainnya seperti bonds , sukuk, reksadana dan produk asuransi. Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas menjelaskan, Bank Mandiri terus memperkuat komitmen dalam mendukung pemerintah menyukseskan program amnesti pajak dan program reformasi di bidang perpajakan secara keseluruhan. Salah satunya adalah melalui pengoperasian 235 kantor cabang pada 31 Desem- ber 2016, untuk menerima pembayaran setoran dana tebusan dan penempatan dana repatriasi amnesti pajak. Selanjutnya, BankMandiri terus mengawal pelaksanaan proses amnesti pajak tahap ketiga yang berlangsung hingga akhir Maret 2017, antara lain melalui pembukaan klinik-kinik amnesti pajak bagi nasabah dan masyarakat umum, serta sosialisasi melalui produk-produk promosi korporasi. Untuk mendukung program amnesti pajak, tutur Rohan, Bank Mandiri telah menyiapkan berbagai instrumen penampung dana repatriasi secara Mandiri Group, seperti produk treasury , asset management , pasar modal, capital / venture funds , hingga produk asuransi, serta instrumen nonkeuangan lainnya. Adapun untuk mengakses produk-produk investasi tersebut, wajib pajak peserta program amnesti pajak dapat menghubungi call center Bank Mandiri di 14000, serta jaringan amnesti pajak Bank Mandiri di 58 outlet prioritas, 1.460 kantor cabang di se- luruh Indonesia dan tujuh jaringan kantor luar negeri sebelum berakhirnya program pengampunan pajak. (gtr)

Dolar AS Menguat Teller menghitung lembaran dolar AS di sebuah tempat penukaran uang asing di Jakarta. Pada perdagangan kemarin, dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap rupiah. Dolar AS merin sore bergerak di Rp 13.475, dibandingkan posisi pembukaan pagi harinya di Rp 13.470.

mengungkapkan, tahun ini pi­ haknya memiliki sisa penerbit­ an obligasi dari penawaran umum berkelanjutan perseroan mencapai Rp 15,4 triliun dan sisa rencana penerbitan MTN sebesar Rp 3,08 triliun. "Kalau pasarnya bagus, intinya kami menargetkan akan menemisi obligasi sebesar Rp 8 triliun dari total PUB 2017," kata dia. Penerbitan sisa obligasi per­ seroan akan dilakukan pada akhir kuartal pertama atau kuar­ tal kedua tahun ini. Sedangkan penerbitan sisa MTN kemung­ kinan akan direalisasikan pada kuartal kedua tahun ini. Sementara itu, Direktur Ke­ uangan PT Bank Maybank Indonesia Tbk Thilagavathy Nadason mengatakan, selain memiliki rencana untuk melaku­ kan rights issue pada tahun ini, pi- haknya jugamemiliki rencana un- tuk menerbitkan obligasi. "Kami kemungkinan akan menerbitkan PUB baru, tapi berapa jumlahnya belum kami putuskan," kata dia.

"Tapi karena bank menerbit­ kan obligasi, dapen (dana pen­ siun) dan asuransi masuk ke bank melalui obligasi. Risiko liability profile matching berku­ rang," kata dia. Sementara itu, Direktur Ke­ uangan PT Bank Tabungan Ne­ gara (Persero) Tbk (BTN) Iman Soeko Nugroho mengatakan, ta­ hun 2017 pihaknyamenargetkan pendanaan melalui wholesale funding mencapai 15% dari total liabilities perseroan. Pihaknya pun berencana menerbitkan penawaran umumberkelanjutan (PUB) baru tahun ini sebesar Rp 10 triliun. "Tapi mungkin tahun ini kami akan terbitkan Rp 3 triliun, kami juga rencananya menerbitkan EBA SP (efek beragun aset surat partisipasi) sekitar Rp 1 triliun. NCD ( negotiable certificate of deposit ) juga ada, tapi akan flek­ sibel," ungkap dia. Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Haru Koesmahargyo

"Jadi kebutuhan refinancing pada 2017 akan lebih besar ditambah penawaran umum berkelanjutan sisanya cukup besar. Dengan demikian, ruang untuk penerbitan obligasi berpo- tensi lebih besar," kata Yunianto di Jakarta, baru-baru ini. Menurut dia, tahun ini perban­ kan masih berminat untuk men- erbitkan obligasi, dengan catatan yield surat utang negara (SUN) pada terjaga dan dapat dikelola lebih rendah atau minimal sama dengan tahun lalu. Pasalnya, perbankan dinilai sangat sensitf terhadap biaya dana. Dia menambahkan, tingginya penerbitan surat utang oleh per­ bankan antara lain disebabkan oleh rendahnya yield penerbitan surat utang. Selain itu, terdapat adanya dana dari perusahaan asuransi dan dana pensiun yang keluar dari deposito perbankan dan dialihkan ke instrumen surat berharga negara (SBN) untuk memenuhi ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Oleh Agustiyanti

JAKARTA – Industri perbankan di Indone- sia mencatatkan penerbitan surat utang sebesar Rp 42,13 triliun pada 2016. Minat bank untuk menerbitkan surat utang juga diperkirakan masih tinggi pada tahun ini.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dihimpun Investor Daily , total surat utang yang diterbit- kan perbankan sepanjang tahun 2016 mencapai Rp 42,13 triliun. Jumlah tersebut meningkat em- pat kali lipat lebih dibandingkan penerbitan surat utang perban­ kan pada 2015 yang mencapai Rp 9 triliun. Penerbitan surat utang terse- but terdiri atas penerbitan obli­ gasi sebesar Rp 35,49 triliun, su­ kuk Rp 2,22 triliun, dan medium termnotes (MTN) Rp 4,42 triliun. JAKAR TA – Penyaluran kredit valuta asing (valas) perb- ankan Indonesiamulai menguat. Pasalnya, hingga November 2016 total kredit valas naik 3,35% secara year on year (yoy) dari Rp 620 triliun menjadi sekitar Rp 642 triliun. Padahal, pada bulan sebelumnya secara total penyaluran kredit valas masih minus 3,78% (yoy). Berdasarkan data paparan akhir tahun 2016 Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tercatat porsi kredit rupiah menyentuh 85% terhadap total kredit secara in- dustri. Sementara itu, komposisi kredit valas mencapai 15%. Dibanding dengan laju penya­ luran kredit valas pada Oktober 2016, secara month to month (mtm) terlihat ada pertumbuhan yang cukup baik, yakni 6,86%. Namun jika dilihat secara year on year penyaluran kredit valas pada Oktober tahun lalu me­ mang masih menurun. Data sta­ tistik perbankan Indonesia (SPI) OJK menunjukkan, secara kre­ dit valas turun 3,78% (yoy) dari Oktober 2015 yang sebesar Rp 624,36 triliun menjadi Rp 600,77 triliun pada Oktober 2016. Menanggapi hal itu, Direktur Keuangan PT Bank Maybank Indonesia Tbk Thilagavathy Nadason mengakui, menjelang akhir tahun lalu penyaluran kre­ dit valas perseroan mulai stabil. Padahal sampai September lalu, penyaluran kredit valas May- bank Indonesia masih dalam

Penerbitan surat utang terbesar dilakukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencapai Rp 15,52 triliun. Head of Fixed Income Research PTMandiri Sekuritas Handi Yu­ nianto menjelaskan, ruang un­ tuk penerbitan obligasi perban­ kan berpotensi lebih besar pada 2017. Pasalnya, selain banyak bank yang memiliki sisa pena­ waran umum berkelanjutan, obligasi korporasi termasuk perbankan yang jatuh tempo tahun 2017 juga cukup besar mencapai Rp 75 triliun. level minus secara year on year . "Itu karena kami sangat ber- hati-hati dalam menyalurkan kredit valas. Pada kuartal IV- 2016 penyaluran kredit valas yang cukup besar itu adalah yang kami berikan ke PT PLN (Persero). Sisa yang lain ada, tapi tidak sebesar ke PLN (Rp 2 triliun)," kata Thila di Jakarta, Selasa (3/1). Menurut Thila, sampai akhir 2016 porsi kredit valas terhadap total kredit Maybank Indonesia berada dalam kisaran 20-25%. "Sekarang mulai stabil (tidak minus), tapi untuk kredit valas kami kebanyakan di sektor ekonomi infrastruktur. Misalnya kredit ke PLN dan PT Jasa Mar­ ga (Persero) Tbk," ungkap dia. Sementara itu, Direktur Ke­ uangan dan Treasury PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Haru Koesmahargyo juga mengungkapkan, sampai akhir 2016 tren kredit valas di perseroan mulai tumbuh lebih baik. Meski demikian, secara porsi kredit valas terhadap total kredit BRI masih di bawah 5%. "Sebab untuk ke depan, arah penyaluran kredit kami akan didominasi rupiah dibanding valas," kata dia. Adapun mengenai tren penya­ luran kredit perbankan, Ketua Dewan Komisioner OJK Mulia- man D Hadad mengatakan, pi- haknya masih terus memantau pergerakan pertumbuhan kredit Desember 2016. Dengan kondisi

target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih bagus, ya paling tidak harapannya bisa dipertahankan pencapaian yang bisa kita capai," kata Mu­ liaman. (dka)

memaparkan angka kredit valas Desember tahun lalu, karena masih menunggu perhitungan angka kredit Desember 2016. " Nah , untuk semester I-2017, nanti kita lihat. Semoga dengan

hingga November lalu yang naik 3,35% (yoy), menurut dia, ada potensi per tumbuhan kredit valas masih berlanjut. Meski demikian, kata Mulia- man, sejauh ini OJK belumdapat

Investor Daily/ANTARA FOTO/ Dewi Fajriani/16

Produk Asuransi Country CEO Prudential Indonesia, Rinaldi Mudahar (kiri) bersama timnya memberikan pemaparan saat melun- curkan produk asuransi ‘PRUcrisis cover benefit plus 61’ di Makassar, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu. Asuransi tersebut menawarkan perlindungan kondisi kritis yang komprehensif dan melindungi 61 kondisi kritis lainnya dimana data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) tahun 2014, menye- butkan tiga penyakit kritis utama penyebab kematian di Indonesia adalah stroke, jantung dan diabetes.

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online