ID161010

senin 10 oktober 2016

24

Investor Daily/IST

iswandi said presiden direktur pt hotel indonesia natour (persero)

C ara berbicaranya tenang. Kalimat demi kalimat yang dilontarkannya mengalir jernih sehingga mudah dipahami lawan bicara. Aneka topik diurainya secara runtut dengan detail yang membuka wawasan. Begitulah sekilas sosok Iswandi Said, presiden direktur PT Hotel Indonesia Natour (Persero). Ia menjadi teman diskusi yang nyaman bagi siapa pun. Terlebih ketika topik pembicaraan masuk ke seputar bisnis perhotelan di Indonesia, dia dengan rinci mengulasnya tanpa kalimat menggurui. Bagi Iswandi Said, industri perhotelan di Tanah Air memiliki potensi sangat besar untuk tumbuh pesat. Setidaknya ada dua modal yang dimiliki Indonesia. Pertama, keramahtamahan masyarakatnya. Kedua, destinasi wisata yang melimpah, dengan dukungan kekayaan seni budaya. Setelah dipercaya menjadi orang nomor satu di Hotel Indonesia Natour pada November 2015, Iswandi Said menerapkan berbagai strategi untuk mengukuhkan eksistensi bisnis badan usaha milik negara (BUMN) tersebut. Kini, di tangannya beroperasi 12 hotel yang tersebar di seantero Nusantara dengan sekitar 2.400 karyawan. Posisi Iswandi di puncak perusahaan pelat merah perhotelan bukan kebetulan. Ia telah melalui jalan panjang dan makan asam garam. Tak kurang 34 tahun Iswandi Said menekuni karier yang dilakoninya sedikit mengecewakan almarhum orang tuanya. “Ayah saya sebenarnya menginginkan saya menekuni dunia usaha dengan meneruskan bisnis keluarga. Tapi, pilihan saya jatuh ke bidang yang lain,” tutur pria kelahiran Padang, Sumatera Barat, itu kepada Edo Rusyanto , jurnalis Investor Daily, di Jakarta, baru-baru ini . Apa visi Iswandi Said di Hotel Indonesia Natour? Mengapa ia beranggapan bahwa kemajuan dapat dicapai lewat perubahan pola pikir ( mindset )? Berikut petikan lengkap wawancara tersebut. Apa yang diinginkan orang tua dari Anda? Saat masa-masa sekolah menengah atas (SMA) dulu, saya diberi pilihan oleh ayah, yaitu mau meneruskan sekolah ke yang lebih jasa penerbangan, travel , dan kepariwisataan di PT Garuda Indonesia Tbk (Persero). Meski demikian, bisa jadi

Padang. Keduanya menerima saya sebagai mahasiswa. Pilihan saya jatuh pada fakultas hukum UI. Reaksi orang tua Anda ketika itu? Ayah saya terperanjat, walau akhirnya mengizinkan. Syaratnya, saya harus mandiri di rantau, harus indekos. Tidak boleh tinggal di rumah orang tua atau saudara di Jakarta dan tentu saja harus belajar dengan gigih dan menghargai waktu. Bagaimana awal perjalanan karier Anda? Memasuki tingkat dua perkuliahan, saya melamar kerja ke Garuda Indonesia. Karena masih kuliah, yang saya pakai adalah ijazah SMA. Ketika itu tahun 1982. Saya diterima di bagian finance . Setelah lulus kuliah, saya menyesuaikan posisi dan ditempatkan di legal department . Selama bekerja di Garuda Indonesia, saya sempat berganti- ganti posisi. Saya pernah di public relations, legal, human resources, hingga commercial . Bahkan, saya pernah memegang commercial untuk wilayah Sulawesi dalam rentang 1988-1993. Khusus mengenai human resources development , saya banyak mendapat pembelajaran. Bahkan, setelah menekuni bisnis perhotelan, saya menggandeng Garuda Indonesia untuk pembekalan sumber daya manusia (SDM) kami di Hotel Indonesia Natour. Pengalaman menarik Anda waktu di Garuda Indonesia? Saya pernah ditempatkan di berbagai negara, seperti Australia, Belanda, Singapura, dan Selandia Baru. Khusus untuk di Belanda, ketika itu saya bertugas untuk mempersiapkan pembukaan rute baru Jakarta-Amsterdam. Sedangkan di Sidney, Australia, saya sempat membawahkan Garuda Orient Holiday, anak usaha Garuda pada 2003-2005, untuk menggarap paket bisnis pariwisata Australia ke Indonesia. Ketika membuat paket wisata, saya juga mengombinasikannya dengan jaringan perhotelan yang ada di Indonesia. Bisnis penerbangannya dapat, pariwisatanya kena, dan bisnis perhotelannya juga ikut. Di Garuda Indonesia, saya belajar banyak hal, terutama tentang bagaimana mengusung keramahtamahan ( hospitality ) Indonesia dalam melayani konsumen, termasuk menganggap keluhan konsumen sebagai ‘hadiah’ bagi perusahaan tempat saya

Nama: Iswandi Said Tempat/tgl lahir: Padang, Sumatera Barat, 30 Maret 1962 Pendidikan: l Fakultas Hukum, Universitas Indonesia (1985) Karier : l November 2015 - sekarang: Presiden Direktur PT Hotel Indonesia Natour (Persero) l 2011-2015: Managing Director PT Abacus Distribution System Indonesia l 2010-2011: Vice President Garuda In- donesia Tbk (Persero) untuk Kawasan Eropa dan Timur Tengah l 2008-2010: Vice President Garuda Indonesia untuk Kawasan Asia l 2007-2008: General Manager Garuda Indonesia untuk Singapura l 2005-2007: Vice President Human Capital Management PT Garuda Indonesia l 2003-2005: Managing Director Garuda Orient Holiday untuk Australia dan Selandia Baru l 1999-2003: General Manager Garuda Indonesia untuk Wilayah Australia Barat l 1996: Sales and Marketing Manager Garuda Indonesia untuk Wilayah Sulawesi Selatan tinggi atau meneruskan bisnis orang tua. Saat itu, kakak-kakak saya sudah kuliah. Sebagai bungsu dari tujuh bersaudara, saya menjadi harapan orang tua untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis. Kalau bisa, bisnis orang tua saya langgeng hingga generasi-generasi berikutnya. Karena itu, waktu duduk di kelas I hingga kelas III SMA, saya membantu bisnis yang dijalankan ayah. Sepulang sekolah, saya menjaga toko hingga sore hari. Pada akhir pekan, saya ikut berkeliling ke pelosok-pelosok, menyambangi mitra dagang ayah saya. Beliau berkomunikasi dengan mitra-mitranya. Sentuhan komunikasi seperti itu membuat para distributor menjadi kerasan bermitra dengan ayah saya. Pembelajaran yang amat membekas dalam diri saya adalah soal kedisiplinan yang dicontohkan ayah. Selain itu, perilaku menghargai hal-hal kecil, amat membantu ketika saya menekuni bisnis hingga hari ini. Cerita selanjutnya? Diam-diam saya mendaftar ke Universitas Indonesia (UI) di Jakarta dan Universitas Andalas di

terbesar di Indonesia. Tahap awal yang berhimpun di HIG ada 26 hotel, kini menjadi 36 hotel, ke depan kami targetkan mampu menghimpun 97 hotel BUMN. Apa landasan spiritnya? Sinergi yang dibangun dilandasi visi dan misi menjadikan HIG sebagai hotel chain terbesar di Indonesia sehingga hotel-hotel itu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kami bersinergi dari sisi pemasaran. Hal itu menciptakan efisiensi sehingga kami harus mengedepankan sisi kefaedahan bagi mereka yang berhimpun di dalam HIG. Di sisi lain, kami juga bersinergi dengan 16 BUMN lain dalam memenuhi kebutuhan rantai pasok, SDM, dan manajemen hotel dalam upaya percepatan jaringan hotel BUMN. Untuk pelatihan SDM, kami akan bersinergi dengan Diklat milik Garuda Indonesia. Kami juga menekankan agar tidak ada ego sektoral dalam HIG. Kami berharap jaringan HIG berperan besar dalam memenuhi target 20 juta kunjungan wisman pada 2019 melalui pengembangan di 10 destinasi wisata utama. Saya melihat sinergi itu juga memudahkan dan memberi pelayanan terbaik kepada para wisman maupun wisatawan domestik dengan mengedepankan keramahtamahan Indonesia yang bertaraf internasional. Siapa saja yang bersinergi di HIG? Mereka yang bersinergi di HIG yaitu PT Hotel Indonesia Natour (HIN), PT Patrajasa (anak usaha Pertamina dan PT Aerowisata, anak usaha Garuda Indonesia), PT Pegadaian, dan PT Taman Wisata Candi. Komposisinya terdiri atas tujuh hotel milik Aerowisata, 12 hotel milik HIN, tujuh hotel milik Patra Jasa, sembilan hotel milik Pegadaian, dan satu hotel milik Taman Wisata Candi yang berlokasi di Kawasan Candi Borobudur, Jawa Tengah. Hotel milik Pegadaian (Pesona Hotel) yang sudah beroperasi sebanyak tiga unit. Lewat sinergi ini, hotel-hotel milik BUMN diharapkan lebih mampu bersaing dengan hotel yang dikelola jaringan operator internasional. Hal itu juga ditopang oleh mayoritas hotel HIG yang berdiri di lokasi strategis dengan awak hotel berpengalaman.

mengusung keramahtamahan Indonesia yang sudah dikenal wisatawan mancanegara (wisman). Saya juga punya pekerjaan rumah (PR) untuk mengubah pola pikir ( mindset ) karyawan. Membangun kepercayaan diri dan semangat untuk berinovasi menjadi kata kunci kami dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Untuk memotivasi karyawan, pada akhir pekan saya kerap menginap di hotel jaringan Hotel Indonesia Natour. Saya tidak minta diberi pelayanan khusus. Datang dan menginap layaknya tamu, bahkan duduk di ruang publik untuk melihat bagaimana karyawan melayani tamu. Dampaknya luar biasa. Ketika karyawan tahu ada pucuk perusahaan di situ, mereka terpacu untuk bekerja lebih baik. menjadi tuan rumah yang baik bagi para tamu dan tentu saja lebih inovatif, terjadi pergeseran tingkat keterisian kamar. Ketika saya baru menjabat pada November 2015, tingkat okupansi rata-rata semua hotel kami sekitar 50%. Kini, angka itu meningkat menjadi 67%. Begitu juga dengan pendapatan perusahaan, ikut terdongkrak. Ada target ekspansi menambah hotel? Pada prinsipnya, kami tidak jorjoran memasang target untuk menambah jumlah hotel di bawah jaringan Hotel Indonesia Natour, melainkan lebih pada bagaimana memperbesar kinerja dengan mengandalkan kekuatan yang sudah kami miliki. Contohnya mayoritas hotel kami ada di lokasi strategis dan dekat dengan destinasi utama pariwisata. Ketika Presiden Jokowi menginap di hotel kami saat berada di Sumatera, hal itu berimbas ke konsumen dari segmen BUMN maupun instansi pemerintahan. Masa sih presiden saja menginap di hotel kami, para pejabat di bawahnya tidak menginap di sini? Kira-kira seperti itu. Pendapat Anda tentang perlunya sinergi hotel-hotel BUMN? Saya melihat bersinerginya hotel-hotel BUMN dalam Hotel Indonesia Group (HIG) sangat penting. Dengan bersinergi, HIG akan menjadi jaringan operator hotel ( hotel chain ) Bagaimana hasilnya? Setelah mindset diubah

bekerja.

Complaint is the feedback . Konsumen yang mengeluh sudah memberikan penilaian atas apa yang dia rasakan dan dia lihat. Hal itu bisa jadi tak terlihat oleh manajemen. Jadi, jika keluhan itu benar, selanjutnya harus disikapi dengan baik dan sebagai bekal berinovasi bagi perusahaan. Perusahaan jangan defensif atas keluhan konsumen. Kapan Anda mulai masuk dunia perhotelan? Pada November 2015 saya ditunjuk menjadi Presiden Direktur Hotel Indonesia Natour yang sekarang membawahkan 12 hotel dengan sekitar 2.400 karyawan. Apa strategi bisnis Anda? Salah satunya kebersihan. Kami harus menjamin kebersihan di semua sudut hotel, apalagi di ruang pribadi, seperti kamar dan kamar mandi. Sebagus apapun hotelnya, jika kebersihan tidak terjaga, itu akan membuat para tamu menjadi tidak kerasan. Apalagi hotel-hotel kami rata-rata sudah berusia cukup lama. Tentu saja di sisi lain, kami

B agi Iswandi Said, keluarga kepada anak-anaknya. Salah satu hal penting yang ditanamkan Iswandi kepada anak- anaknya adalah soal kedisiplinan. Hal itu dia peroleh dari didikan sang ayah yang amat membekas dan memengaruhi jalan hidupnya. “Kedisiplinan amat membantu dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam menekuni dunia usaha,” ujar dia. Di sisi lain, Iswandi juga ingin lebih menempatkan dirinya selaku fasilitator bagi kedua anaknya. “Hal itu termasuk ketika anak saya akan memilih jenjang pendidikan yang diinginkannya. Selaku orang tua, saya hanya memfasilitasi dan mengarahkan saja,” papar dia. Iswandi Said menganggap waktu adalah bagian penting dalam hidupnya. Nilai positif yang diajarkan orang tua diteruskan

untuk keluarga amat penting, khususnya saat ia harus mentransfer nilai-nilai kehidupan kepada dua anak tercintanya. Banyak hal yang ia lakukan demi berkumpul utuh dengan keluarga, salah satunya liburan bersama. “Dua kali dalam setahun kami mengagendakan liburan bersama,” tutur dia. Iswandi Said dan keluarga tak hanya mengunjungi objek-objek wisata di dalam negeri. “Objek-objek wisata di Nusantara memiliki keindahan alam dan pesona budaya yang menakjubkan,” kata dia. Sesekali, mereka juga pelesir ke luar negeri, terutama ke kota-kota yang pernah menjadi tempat tinggal ketika Iswandi bertugas, seperti Perth (Australia) dan Amsterdam (Belanda). “Kami menikmati keindahan alam, budaya, dan kehidupan kota-kota tersebut,” ucap dia. (ed)

Made with FlippingBook flipbook maker