SP170701

Utama

Suara Pembaruan

2

Sabtu-Minggu, 1-2 Juli 2017

Jatah Golkar dan PKB Dikurangi?

I su perombakan kabinet juga akan diwarnai peruba- han komposisi jumlah kursi menteri yang dimiliki partai pendukung pemerintah. Sum- ber SP menyebutkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mendapatkan masukan dari beberapa pihak untuk me- lakukan kocok ulang jajaran kabinet. ( reshuffle ) yang menguat akhir-akhir ini, dikabarkan

Namun, hal itu tentu tidak mudah bagi Jokowi karena harus mempertimbangkan secara cer- mat agar komposisi hasil perom- bakan Kabinet Kerja mendatang menjadi bisa kekuatan politik menghadapi Pilpres 2019. “Ada yang memberi masukan untuk segera me- lakukan perombakan. Bisa jadi jatah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atau Golkar yang akan

dikurangi,” kata sumber itu di Jakarta, Sabtu (1/7). Hal tersebut juga mengua- tkan informasi sebelumnya bahwa lingkaran Ci- keas (Partai Demokrat) juga bakal masuk dalam perombakan kabinet nanti. “Masih dipertimbangkan secara matang. Sejumlah pertimbangan sudah masuk ke Jokowi,” katanya.

Informasi yang beredar menyebut kemungkinan ada empat menteri yang bakal diganti. Reshuffle dalam skala yang cukup besar ini dise- babkan oleh berbagai faktor, seperti tak mampu mewu- judkan program Nawacita. Presiden dalam beberapa kali kesempatan pernah mengin- gatkan evaluasi bagi menteri- menteri yang gagal mencapai target tertentu. [H-12]

Tumpas Teror terhadap Aparat

P enyerangan kepada aparat kepolisian oleh kan otak penyerangan serta motivasi sehingga insiden serupa tidak meresahkan masyarakat dan menunjuk- kan bahwa Polri mampu mengatasi persoalan. Menurut Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan, jajaran kepolisian harus mengevaluasi diri mengapa teroris makin nekat melakukan perang terbuka terhadap polisi. Kasus penyerangan ini se- makin menunjukkan bahwa konsep radikalisasi yang digalang selama ini belum membuahkan hasil. Di Hari Bhayangkara 2017 ini penanganan kasus-kasus serangan terhadap polisi perlu menjadi fokus utama Polri agar tidak terulang. Terulang penyerangan membuat Polri gagal fokus menangani tugas-tugas lain dalam melindungi, mengayomi, melayani dan melakukan penegakan hukum di mas- yarakat. Meskipun jajaran Polri mengatakan “kami tidak takut”, masyarakat yang cemas terhadap sistem keamanan dan sangat mungkin makin tidak percaya kepada Polri. “Masyarakat akan menuding bagaimana Polri bisa melindungi masyarakat wong melindungi dirinya sendiri saja di markasnya tidak bisa,” katanya, Sabtu (1/7). Dalam konsolidasi dan evaluasi itu, kata Neta, Polri harus menekankan semua jajarannya bekerja profesional, proporsional, dan independen, terutama jajaran yang bersentuhan dengan terorisme seperti Bimas, badan intelijen, dan Densus 88. Selain mengevaluasi semua hasil kerja selama ini, Polri juga harus mencari tahu siapa sesungguhnya otak serangan itu dan apakah meluasnya aksi serangan super nekat para teroris ini berkaitan dengan sedang dibahasnya RUU Terorisme di DPR. Penyelesaian ka- sus-kasus serangan ini harus dilakukan agar Polri bisa fokus menyelesaikan tugas tugasnya dalam melind- ungi dan menjaga keamanan masyarakat. [G-5] Evaluasi Mencegah Masyarakat Resah teroris yang terjadi beberapa kali harus menjadi evaluasi Polri. Aparat harus segera mendapat-

[JAKARTA] Dua anggota Brimob ditusuk secara mem- babi buta oleh seorang pria, seusai menunaikan salat di Masjid Falatehan, tak jauh dari Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (30/6) malam. Penyerang yangmeneriakkan kata “thogut” (kafir) itu akhirnya tewas ditembak. Enam hari sebelumnya, pe- nyerangan serupa di Mapolda Sumut menewaskan AiptuM Sigalingging. Penyerangan terhadap aparat kepolisian sebelumnya terjadi di Cirebon, Solo, dan Tangerang. Mendagri Tjahjo Kumolo menyatakan teror terhadap aparat keamanan harus dila- wan. Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menegaskan bahwa Polri mewaspadai segala bentuk ancaman termasuk yang be- lakangan ini terjadi. Namun, Polri bergeming. Perang terhadap terorisme terus dilakukan. “Penyerangan kepada aparat kepolisian sudah pada tahap yang memprihatinkan dan perlu meningkatkan tahapan waspada satu. Teror terhadap aparat keamanan

Pada HUT ke-71 Bha- yangkara tahun ini Polri di- tuntut giat memperbaiki citra internaldalam menjalankan fungsi dan tugas keamanan dan ketertiban masyarakat. Ancaman yang dihadapi bu- kan hanya ancaman kejahatan konvensional, transnasional melainkan juga radikalisme, serta intoleransi. Kapolri menegaskan penanganan kasus terorisme telah dioptimalkan antara lain dengan pemetaan sejumlah kelompok teror di beberapa wilayah di Indonesia dan antisipasi ancaman berdirinya ISIS, mendukung revisi UU terorisme demi penguatan pe- ran Polri, semakin intensitas menggelar kerja sama dengan BNPTdan instansi terkait me- lalui program deradekalisasi serta terus memantau gerak- an kejahatan transnasional tersebut yang di antaranya memburu gembong teroris Indonesia BahrumNaim kini bersembunyi di luar negeri menjadi DPO Polri. Selama setahun terakhir, Mabes Polri mencatat terdapat 25 kasus terorisme menonjol yang berhasil diungkap antara

lain insiden peledakan dan ancaman bom di Jakarta, Bandung, dan Solo. Menurut Tito, sejumlah insiden terkait intoleransi yang belakangan terjadi di Jakarta merupakan ancaman kamtibmas menonjol. Polri berusaha menuntaskan per- soalan ini hingga ke akarnya. Jangan sampai berbagai insi- den itu memicu perpecahan. Sementara itu, sayap Partai PDI-P, Banteng Muda Indonesia (BMI) mengecam keras keras tindakan penye- rangan anggota Brimob Polri di Masjid Falatehan Keba- yoran Baru Jakarta Selatan. “Kami mengecam keras tindakan penyerangan ter- sebut, perbuatan ini sangat melecehkan umat muslim,” tegas Wasekjen BMI, Mixil Mina Munir, Jumat (30/6). Ia menambahkan, penye- rangan terhadap dua anggota Polri yang dilakukan terduga teroris itu adalah perbuatan yang sangat biadab. Terlebih lagi, pelaku menyerang ang- gota Polri di masjid seusai korban melaksanakan salat isya berjamaah. Mixil meyakini, penye-

harus dilawan tidak hanya oleh aparat kepolisian tapi oleh seluruh masyarakat,” kata Tjahjo, Sabtu (1/7). Tjahjo optimistis Polri dapat mengungkap kelompok yang bertanggung jawab dalam serangkaian teror. Kapolri perlu mengambil langkah tegas internal untuk siaga terpadu. “Deteksi dini dan tingkatkan intelijen keluar. Semua pihak termasuk jajaran TNI dan elemen masyarakat harus bersama-samamelawan teror masyarakat dan teror kepada negara,” tegasnya. Tjahjo meminta jajaran Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) serta pemerintah provinsi, kabupaten dan kota untuk mencermati perkem- bangan situasi keamanan daerah. Tantangan Polri Sementara itu, dalam percakapan dengan SP di sela-sela diskusi membahas TantanganHUTBhayangkara dari Masa keMasa, baru-baru ini, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan Polri bergeming. Pihaknya tidak gentar.

rang ini tidak berdiri sendiri. Pasalnya, penyerangan secara langsung yang dilakukan kelompok teroris terhadap anggota Polri bukan baru kali ini saja terjadi. “Beberapa waktu lalu seranganyang sama terjadi diMapoldaSumut.Hari ini mereka kembali beraksi, ironisnyamereka sudah berani menyerang anggota Polri yang jaraknya tak jauh dari Mabes Polri. Ini bukti bahwa mere- ka (jaringan teroris) saat ini berkeliaran di tengah-tengah masyarakat,” paparnya. Mantan Aktivis 98 yang aktif di Pengurus Pusat

Gerakan Pemuda Ansor itu pun mengimbau kepada masyarakat untuk kembali menjalankan tradisi yang kini mulai terkikis, yaitu gotong -royong menjaga lingkungan bersama-sama. Gerakan radikal yang dilakukan oleh kelompok atau jaringan teroris itu hanya bisa dikalahkan dengan cara gotong-royong. “Masyarakat, polisi, TNI, semua harus gotong-royong bersatu melawan kelompok teroris. Karena teroris sengaja inginmenciptakanIndonesiase- bagai negarayang tidakaman,” tegasnya. [YUS/C-6/G-5]

Made with FlippingBook flipbook maker