SP171006

Suara Pembaruan

Utama

2

Jumat, 6 Oktober 2017

Survei untuk Singkirkan Calon Potensial?

P ersaingan para bakal calon kepala daerah yang akan bertarung di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 semakin panas. Para bakal kandidat itu tengah “men- cari muka” di depan partai politik agar mau mengusung mereka. Berbagai cara pun dilakukan oleh bakal kan- didat agar nama mereka yang diusung dan calon lain tersingkir. “Salah satunya dengan [JAKARTA] Jikapemilihanpresiden (pilpres) diadakan hari ini, Jokowi nyaris tanpa pesaing. Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan, elektabilitas Jokowi mencapai 38,9% yang terungkap lewat pertanyaan terbuka. Sementara, Prabowo Sub- ianto di peringkat kedua dengan elektabilitas 12%. SBY, presiden RI periode 2004-2014, menempati urutan ketiga sebesar 1,6%, sekaligus menunjukkan belum ada tokoh baru yang dinilai rakyat layak bersaing menjadi presiden. Masyarakat puas terhadap kinerja Presiden Jokowi di semua bidang, termasukekonomi,politik,danhukum. Tetapi, mengingat laju pertumbuhan ekonomi yang hanya 5%dan tingkat kesejahteraanmasyarakat bawahyang menurun, Presiden Jokowi diimbau lebih fokus meningkatkan investasi dan membuka lapangan pekerjaan guna mempersempit kesenjangan sosial. Menurut peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengatakan, kenaikan fantastis elektabilitas itu karena rakyat menilai Jokowi mempunyai ketulusan dalam menjalankan roda pemerintahan. Jokowi juga tidakmempunyai konflik kepentingan. “Sayakira, karena public trust atau percayadanyakinpadakepemimpinan Jokowi untukmewujudkan Indonesia yang lebih baik,” kata Arya kepada SP di Jakarta, Jumat (6/10). Dia menambahkan, tingginya tingkat kepuasan publik terhadap kin- erja pemerintah yang terus membaik juga turut berdampak positif pada elektabilitas Jokowi. Berdasarkan survei CSIS, secara umum tingkat kepuasaan publik pada 2015 sebesar 50,6%, lalu naik pada 2016 menjadi 66,5%, dan saat ini sebesar 68,3%. EkonomInstituteforDevelopment of Economics and Finance (Indef) BhimaYudistiramengatakan, tantan- gan utama Jokowi memang di sektor ekonomi. Tantangan perekonomian saat ini masih cukup berat. Daya beli masyarakat, khususnyamenengah ke bawah, menurun. “Jadi, presiden Jokowi memang seharusnya fokus pada isu pereko- nomian ketimbang politik. Daya beli bisa naik kalau investasi tumbuh di atas 6%. Serapan kerja pun akan meningkat. Masalah regulasi yang

memakai survei. Lembaga survei dibuat untuk menaik- kan elektabilitas sang calon dan menjatuhkan calon lainnya. Perhatikan saja, menjelang pilkada serentak tahun depan, banyak hasil survei yang dirilis ke publik,” ujar sumber SP di Jakarta, Jumat (6/10). Dikatakan, salah satu pilkada yang menjadi perbin- cangan hangat publik adalah Pemilihan Gubernur (Pilgub)

Jawa Barat. Sudah ada beber- apa hasil survei terkait calon gubernur yang akan ber- tarung di Pilgub Jabar nanti. Menurut sum- ber itu, survei terkait Pilgub Jabar banyak yang “abal-abal”. “Lihat saja hasil sur- veinya yang berbeda dengan hasil dari lembaga survei yang kredibel dan hasil- nya juga sudah terbukti kebenarannya,” ujar dia. Dikatakan, tujuan dari bakal

kandidat melakukan survei agar parpol terkecoh dengan hasil dari lembaga survei itu. “Sudah pasti, ada salah satu kandidat yang terus berada di peringkat atas, sementara menurut lem- baga survei kredibel dia di peringkat tiga atau empat. Bahkan, bakal calon yang selama ini disebut-sebut tertinggi, bisa berada jauh di urutan kelima atau enam dari lembaga survei itu. Tentu saja ini aneh,” kata dia. [O-1]

Jokowi Tanpa Pesaing

Spektrumnya mulai dari yang halus dan hati-hati hingga yang kasar dan vulgar akan memanfaatkan posisi dalam pemerintahan. Presiden tidak ingin itu terjadi,” ujarnya. Dikatakan pula, polemik yang muncul belakangan ini menunjukkan masih tingginya ego sektoral di pe- merintahan. Oleh karena itu, masalah tersebut harus segera dihentikan oleh presiden sebagai pemimpin tertinggi di pemerintahan. Teratas Berdasarkan survei SMRC yang dirilis kemarin, elektabilitas Jokowi masih yang teratas dibandingkan tokoh-tokoh lain. Jokowi meraih dukungan 38,9% dan posisi kedua ditempati Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan 12% dukungan. “Bilapemilihanpresidendiadakan sekarang, Jokowimendapat dukungan terbanyak. Selanjutnya Prabowo Subianto. Dalam jawaban spontan, dukunganuntukJokowisebesar38,9% danPrabowo12%.Nama-nama laindi bawah 2%,” kata Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan. Djayadimengungkapkan, selama tiga tahun terakhir, bagaimana pun simulasinya, elektabilitas Jokowi cenderung naik. Ditegaskan, belum ada penantang cukup berarti selain Prabowo. Elektabilitas Prabowo pun cenderung tidakmengalami kemajuan. Dikatakan, Prabowo yang pernah menghadapi Jokowi padaPilpres2014 memang masih menjadi calon yang paling kompetitif. “Kalau calonnya hanyadua, dan lawannyayang terkuat sementara ini Prabowo, maka Jokowi kembali akan menjadi presiden bila pemilihan dilakukan ketika survei dilakukan,” katanya. Berdasarkan survei yang sama, kepuasan masyarakat atas kinerja Jokowi sangat tinggi, yakni sebesar 68%. Rakyat umumnya menilai kondisi berbagai sektor kehidupan semakin membaik. “Kepuasan terhadap kinerja Pres- iden Jokowi pada 2016 sebesar 69% dan September 2017 sebesar 68%. Bisa dikatakan relatif stabil,” kata Djayadi. Di sisi lain, sebesar 45,7% responden menilai kondisi ekonomi rumah tangga mereka sekarang san- gat baik jika dibanding tahun lalu. Sementara, 66,6% responden juga optimistis kondisi ekonomi rumah tangga setahunkedepanakansemakin baik. [YUS/C-6/O-2/N-8]

menghambat investasi harus segera diselesaikan,” katanya. Kemudian, momentum kenai- kan harga komoditas harus segera dimanfaatkan untuk dorong ekspor nonmigas. Adapun prediksi harga minyak sepanjang2018bisa lebihdari US$ 55/barel. “Investasi dan ekspor diharapkanakanmenjadimotor utama pertumbuhan,” kata Bhima. Konsisten Peneliti ForumMasyakarat Peduli ParlemenIndonesia(Formappi)Lucius Karusmengatakan, faktor utamayang memengaruhi elektabilitas Jokowi yang kianmeroket adalah konsistensi dan komitmennya untuk fokus pada kerja nyata dan kerja untuk rakyat. Publik juga melihat Jokowi tidak ingin memanfaatkan kekuasaannya yang begitu besar untuk kepentingan politik pribadi.

“Yang disiarkan ke mana-mana adalah hidupnya yang dibaktikan sepenuhnya untuk bangsa dan rakyat secarakeseluruhanmelalui kerja-kerja nyata,” ujar Lucius. Menurutnya, jika Jokowi mempunyai nafsu akan kekuasaan dan jabatan, dia dengan mudahbisamemanfaatkan jabatannya untukmendapatkan jabatan di partai politik agar posisi tawarnya semakin tinggi. Tetapi, Jokowi justrumemilih untuk fokus pada pekerjaan sebagai pekerja partai yang bertugas menjadi presiden. Menurutnya, publik menyukai Jokowikarenabukantipikalpemimpin yang haus kekuasaan. Jokowi adalah seorang pemimpin yang bekerja, sehingga dia tidakmau sibuk dengan urusan sepele permainan politik. “Jokowi tampak sangat paham bahwakegagalanpemimpin terdahulu justru banyak disebabkan oleh politik

sandera antarpartai politik. Itu bisa terjadi karena para pemimpin lebih banyak memimpin bangsa dengan mengutamakankekuasaannya sendiri dan partai pendukungnya,” kata dia. Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Haryadi mengatakan, arahan koordinasi oleh Presiden Jokowi kepada para pem- bantunya tidak terkait dengan tahun politik. Jokowi hanya inginmenjaga agar pemerintahan tetapberjalanbaik. Dosen Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Unair itu mengatakan, memasuki tahun politik, pejabat yang duduk di pe- merintahan pasti akanmemanfaatkan kedudukanmerekauntukkepentingan politik, termasukpresiden. “Memasuki tahun politik, para pembantu presiden yang berlatar belakang partai pasti akan memanfaatkan kedudukannya untuk kepentingan politik kontestasi.

Made with FlippingBook HTML5