ID170826

sabtu/minggu 26-27 AGUSTUS 2017

| 24

Foto-foto: Investor Daily/IST

Dian Pelangi, Barli Asmara, Catherine Njoo, Melia Wijaya, Vivi Zubedi, dan Doris Dorothea merupakan desainer yang berangkat menuju panggung New York Fashion Week: First Stage Spring Summer 2018 yang berlangsung di The Dream DownTown, New York, 7 September 2017.

Oleh Mardiana Makmun

H itam elegan dengan detail batik prada Bali. Koleksi busana karya perancang Catherine Njoo ini terlihat memukau. Aksesori kepala yang bermotif bunga kamboja dari bahan logam, menyempurnakan busana karya perancang busana asal Surabaya, Jawa Timur itu. “Gaun ini terinspirasi dari tari Legong Bali. Saya menggunakan batik prada Bali warna emas. Sementara bagian leher berdesain kerah shanghai,” kata Catherine saat jumpa pers di Jakarta, Senin (21/8). Catherine adalah satu dari 6 desainer Indonesia yang akan menggelar karyanya di panggung New York Fashion Week: First Stage Spring Summer 2018. Gelaran akan berlangsung di The Dream DownTown, New York, 7 September 2017 dan diikuti oleh desainer dari sejumlah negara. “Setelah melalui kurasi yang sangat panjang dan ketat, keenam desainer ini lulus kurasi untuk berangkat ke ew York Fashion Week: First Stage Spring Summer 2018. Dengan keragaman desainnya, insya Allah bisa menunjukkan keragaman dan kualitas desain Indonesia yang mampu bersaing dengan desainer dunia,” kata CEO Indonesia Fashion Gallery (IFG), Teti Nurhayati. Seperti apa koleksi mereka? Simak, Dian Pelangi akan mempersembahkan koleksi hijab yang menggambarkan akulturasi budaya Amerika dan Indonesia. “Saya gunakan batik tapi motifnya urban, street style yang dinamis seperti grafiti.Juga tenun khas Dian Pelangi dan proses tie die. Saya juga tampilkan motif gedung-gedung pencakar langit di New Work dengan tempelan mote- mote yang menggambarkan kaca-kaca gedung,” ungkap Dian yang pada 2015 menggelar karyanya di New York Couture Fashion Week. Barli Asmara mengambil inspirasi zaman Victorian untuk koleksi ready-to-wear deluxe yang bernuansa putih dan memperlihatkan kecanggihan craftmanship

n Koleksi Catherine Njoo

yaitu Doris Dorothea, bakal menampilkan koleksi memukau. Tampilan koleksi keenam desainer itu makin sempurna berkat pulasan make up yang dipersembahkanole Wardah Beauty. “Selama tiga tahun ini, kami menjadi pendukung utama bagi desainer Indonesia yang menggelar karyanya di New York Fashion Week. Kami juga menggelar workshop di sana,” kata Caroline Septerita, creative director Wardah Beauty. Di bawah komando IMG (International Management Group), NYFW First Stage membuka kesempatan untuk para desainer yang ingin mencoba membuka peluang pasar, di Amerika khususnya. Untuk memudahkan itu, desainer Indonesia bergabung pada Indonesia Fashion Gallery (IFG), yang berlokasi di Manhattan, New York. IFG merupakan wadah dan perwakilan yang menjembatani para desainer Indonesia untuk dapat memasuki pasar di Amerika. “Masuknya para desainer Indonesia di ajang NYFW secara konsisten, memungkinkan peningkatan ekspor nasional tercapai,” kata Teti Nurhayati.

n Koleksi Dian Pelangi

Indonesia. “Saya banyak menggunakan teknik potong serong, ruffle, tali, kancing untuk koleksi yang berdesain off shoulder yang terinspirasi Marie Antoinette,” tutur Barli. Vivi Zubedi memperkenalkan abaya yang menjunjung kaidah Islam dalam berbusana. “Ini abaya dalam kain Indonesia. Saya gunakan tenun Bali, tenun Lombok dan Jepara, juga batik Jawa dan Sasirangan Kalimantan,” ujar Vivi. Melia Wijaya mengangkat tema Sawung Galing yang mentransformasikan motif batik ayam menjadi motif sulam dengan menggunakan teknik bordir hingga tampil lebih modern. Selain gaun, tas karya desainer Indonesa yang sukses mengekspor ke berbagai negara,

n Koleksi Barli Asmara

Investor Daily/Mardiana

Investor Daily/Mardiana

Jakarta - Cincin kawin merupakan unsur penting dalam pernikahan sebagai simbol persatuan, rasa cinta, dan komitmen janji setia dalam perkawinan. Tak asal sembarang memilih, desain cincin kawin sebaiknya menggambarkan cerita cinta pasangan dan memiliki filosofi tertentu. “Banyak pasangan tidak menyiapkan cincin kawin di awal perencanaan, seperti halnya memilih gedung dan busana pernikahan. Mereka juga mencari cincin kawin termurah. Padahal ini kan cincin pernikahan yang bernilai, yang dipakai dan menemani selama pernikahan,” kata COO PT.Central Mega Kencana, Petronella Soan. Demi menghasilkan desain terbaru yang berbeda dan penuh makna, Central Mega Kencana yang membawahi brand Frank & Co, The Palace, dan Miss Mondial, menggandeng tiga desainer papan atas. Ketiga adalah Sebastian Gunawan, Anne Avantie, dan Tex Saverio. Cincin kawin berbentuk tali tambang yang klasik menjadi pilihan Sebastian Gunawan. Seba, biasa ia dipanggil, menggunakan emas kuning untuk tambang dan taburan berlian. Yang menarik, tambang tersebut bisa diputar. “Saya mengambil inspirasi tambang sebagai simbol cinta yang kuat,” kata Seba. Motif batik menjadi inspirasi Anne Avantie untuk koleksi bertem Kekaseh “Batik memiliki makna/filosofi. Saya menggunakan motif batik untuk desain cincin, seperti motif batik truntum yang menggambarkan cinta bersemi kembali,” kata Anne. Sedangkan Tex Saverio mendesain cincin yang kuat dengan unsur bumi. “Saya beraharap, cincin ini melambangkan kekuatan cinta dna saling mengikat,” kata desianer yang karyanya dipakai oleh penyanyi Lady Gaga. (nan)

Jakarta - Tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat disukai pasar Eropa. Selain berbentuk lembaran kain dan busana, aplikasi tenun pada tas juga sangat disukai pasar di sana. Menjajal pasar Eropa, brand Warnatasku yang mengusung tas tenun Maumere, NTT, akan menggelar Warnatasku Europe Tour 201 7 bertema Treasure of Maumere, mulai 27 Agustus sampai 27 September 2017. Warnatasku mengajak beberapa desainer dalam tour ini yaitu Handy Hartono, Kunce Manduapessy, dan Dana Duryatna untuk mendukung tata busana pada pagelaran fashion . Ervina Ahmad, pemilik sekaligus desainer Warnatasku mengungkapkan, perjalanan ( tour ) telah dimulai sejak April 2017. “Dimulai dari keikutsertaan pameran di Berlin, Jerman, lalu diikuti dengan perjalanan ke empat kota di empat negara, yaitu Moscow – Hamburg – Vienna – Milan, dalam benuk pameran dan pergelaran fashion,” kata Ervina di

Warnatasku tidak bisa menyediakan model tas yang sama persis. Untuk menghasilkan selembar kain, mama membutuhkan waktu selama 2-4 bulan. Dengan proses yang penuh doa dan waktu yang lama, tenun ini menjadi sangat bernilai. “Dengan memproduksi tas dari bahan tenun, saya berharap bisa meningkatkan perekonomian masyarakat desa di Maumere,” kata Ervina. Tekad itu diperkuat dengan didirikannya sanggar tenun di Maumere. “Kami bekerja sama dengan Bapak Bupati Maumere untuk meningkatkan wisatawan mancanegara lewat wisata tenun. Wisatawan dapat tinggal di rumah-rumah penduduk (homestay) untuk belajar menenun di sanggar tenun,” kata Ervina yang menyebut pasar Eropa menyukai tas berukuran besar, Amerika tas sedang, sedangkan pasar Asia dan Indonesia senang tas kecil. (nan)

butiknya di Jati Bening, Bekasi, Jawa Barat, baru-baru. Tenun memang bukan kain tradisional Indonesia yang pertama kali digunakan Ervina untuk koleksi Warntasku. “Sebelumnya, saya gunakan batik dan beragam tenun Nusantara, seperti tenun ulos Sumatera Barat, tenun tapis Lampung, tenun songket Bali, tenun sutera Sengkang di Sulawesi Selatan. Tapi kali ini saya jatuh cinta pada tenun Maumere, Nusa Tenggara Timur,” ungkap Ervina yang juga memadukan tenun dan batik dengan kulit sapi, ular, dan buaya. Selain memiliki motif yang cantik, tenun Maumere dibuat oleh mama-mama (ibu- ibu) dengan penuh cinta, doa, dan harapan. Tenun ini sangat filosofis. “Setiap mama- mama menenun punya cerita dan doa yang berbeda. Karena itu, setiap kain tenun menghasilkan motif yang berbeda, tidak ada yang sama,” cerita Ervina. Hal ini mau tidak mau menyebabkan

Made with FlippingBook Annual report