SP181226

Suara Pembaruan

Utama

2

Rabu, 26 Desember 2018

Prabowo Andalkan Sandiaga?

C alon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dikabarkan mengandalkan Sandiaga Uno untuk mendulang suara, khu- susnya di tatar Sunda. “Iya. Anda bisa menilai bagaima- na karakter Sandiaga dan Bapak (Prabowo). Dalam ra- pat internal, Bapak bilang, Sandiaga dikhususkan raup suara di Jawa Barat. Beliau bisa masuk ke akar rumput,” kata sumber SP , di Jakarta, Rabu (26/12). Sumber itu mengungkap- kan, Badan Pemenangan Nasional (BPN) sangat mengandalkan Sandiaga un- tuk menjaga dan meraup sua- ra sebanyak mungkin di Provinsi Jawa Barat. “Kami akan gencar turun langsung ke lapangan,” katanya.

Memasuki bulan kedua masa kampanye, sumber itu memastikan tim sudah turun ke daerah untuk memetakan potensi pemilih. Bahkan, Sandiaga telah beberapa kali turun gunung di sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Barat untuk menarik du- kungan. Misalnya, Sandiaga me- nyambangi tiga kota di Jawa Barat, yakni Bandung, Purwakarta, dan Karawang. “Purwakarta, Anda tahu sendiri, itu basis- nya siapa, Kami harus tem- bus itu,” ucap sumber itu. Sumber itu tak menampik Jawa Barat menjadi daerah perebutan sengit antara kubu- nya dan kubu Joko Widodo- Ma’ruf Amin. Sebab, jumlah

pemilih di Jawa Barat tercatat paling banyak. Di tanah Sunda ini, setidaknya 33,27 juta suara yang diperebutkan kedua kubu. Pada Pilpres 2014 lalu, Prabowo menang atas Jokowi di Jawa Barat. KPU mencatat, perolehan 14.167.381 suara atau 59,78 persen. Sedangkan Jokowi yang masa itu berpa- sangan dengan Jusuf Kalla hanya berhasil memperoleh 9.530.315 suara atau 40,22 persen. Pada Pilpres 2019, sum- ber SP menyebut target BPN, Prabowo-Sandiaga bisa memperoleh suara minimal sama dengan Pilpres 2014. pada 2014, Prabowo de- ngan pasangannya saat itu, Hatta Rajasa, ber- hasil unggul dengan

dapat segera ambil keputus- an dalam membangun fasi- litas deteksi dini tsunami. “Membangun buoy ma- upun kabel bawah laut atau CBT, BPPT siap jika ditun- juk. Indonesia harus mandi- ri dalam hal membangun kesiapsiagaan bencana, de- ngan teknologi yang bisa dibangun di negeri sendiri,” tandasnya. Modifikasi Sensor Secara terpisah, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono mengatakan, enam sensor pemantau di Banten dan Lampung di- optimalkan yakni dengen mempdifikasi agar mampu menangkap getaran yang lebih kecil sehingga bisa memantau aktivitas vulka- nik Gunung Anak Krakatau untuk mendukung sistem peringatan dini tsunami. Sensor untuk memantau gempa bumi (tektonik) ter- sebut sudah lama dipasang. Namun demikian, sensor hanya mendeteksi gempa di atas skala M7. Setelah itu barulah dikeluarkan peri- ngatan tsunami. Sedangkan pada peristiwa tsunami Selat Sunda atau yang dise- but tsunami senyap, Sabtu (22/12), sensor memang ti- dak mencatat aktivitas tek- tonik. Oleh karena itu tsunami diperkirakan terja- di karena longsoran bawah laut karena erupsi Gunung Anak Krakatau. Karena itu- lah sensor dimodifikasi agar dapat menangkap fre- kuensi getaran yang lebih kecil. Para pakar, kata Rahmat, mengindentifikasi kemung- kinan masih ada material da- ri Gunung Anak Krakatau yang berpotensi menimbul- kan longsor. [R-15] “Kalau bisa lebih,” ujarnya. Oleh sebab itu, pihahk- nua harus terus bekerja ke- ras. Pada awal November la- lu, lembaga survei menun- jukkan sengitnya pertarungan kedua kubu untuk meraup suara di Jawa Barat. Sebelumnya, pasangan Prabowo-Sandiaga sempat unggul tipis. Namun, bela- kangan, Jokowi-Ma’ruf su- dah menyalip Prabowo- Sandiaga dengan perolehan 27 persen dan Prabowo- Sandiaga hanya mendapat 21,4 persen. BPN berharap tugas khusus ke Sandiaga untuk meraup mayoritas sua- ra di Jawa Barat bisa berha- sil. “Kami yakin, pendekatan dan strategi yang dilakukan beliau bisa berhasil,” kata- nya. [W-12]

Perkuat Teknologi Deteksi Dini Tsunami

[JAKARTA] Banyaknya korban tewas dan luka-luka akibat tsunami di pesisir Selat Sunda, Sabtu (22/12), tidak lepas dari ketiadaan peringatan dini. Masyarakat pesisir tidak siap akan ada- nya ancaman tsunami. Kabar simpang siur bah- kan sempat muncul karena lembaga yang menjadi acuan i n f o r m a s i , B a d a n Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sempat menyatakan tidak ada tsunami, hampir sama dengan bencana tsunami pe- sisir Palu. Agar pengalaman serupa tidak terulang, sistem peringatan dini dan mitigasi bencana perlu diperkuat. “Masyarakat di wilayah berpotensi bencana, khu- susnya tsunami, harus me- miliki waktu evakuasi yang cukup. Untuk itu dibutuh- kan teknologi yang mampu mendeteksi sedini mungkin atau early warning system ,” kata Deputi Teknologi Pengembangan Sumber D a y a A l a m , B a d a n Pengkajian dan Penerapan Te k n o l o g i ( B P P T ) , Hammam Riza di Jakarta, Rabu (26/12). Ditambahkan, tsunami di Aceh pada Desember 2004 lalu hingga tsunami Palu, Sulteng, Oktober 2018, serta tsunami di pesi- sir Selat Sunda, seharusnya menyadarkan seluruh peng- ampu kepentingan betapa pentingnya negeri ini sege- ra memiliki peralatan pen- deteksi tsunami. Indonesia pernah men- dapatkan hibah deep-ocean tsunami detection buoy dari Jerman, Amerika Serikat, dan Malaysia pascatsunami Aceh. Namun, terhitung se- jak 2012 sebanyak 21 buoy tidak berfungsi dan hilang. Tindak vandalisme dan ke-

terbatasan anggaran menja- di alasan hilang-rusaknya buoy-buoy tersebut. “Saat itu memang BPPT dilibatkan bersama instansi pemerintah lainnya, dalam melakukan deployment bu- oy ke Samudera Indonesia untuk dipasang di beberapa titik namun saat ini buoy di Indonesia sudah tidak ada karena perilaku vandalisme yang dilakukan oknum,” ungkapnya. Ketiadaan buoy mem- buat BMKG harus mempre- diksi potensi tsunami pas- cagempa berdasarkan meto- de pemodelan. Hammam menyatakan Indonesia perlu memba- ngun buoy atau kabel ba- wah laut ( cable based tsunameter /CBT). “BPPT siap untuk membangun fa- silitas teknologi deteksi dini tsunami. Ini penting, berka- ca pada peristiwa 14 tahun lalu yakni tsunami Aceh hingga tsunami 2018 ini,” kata Hammam. BPPT siap jika ditunjuk un t uk membua t buoy. Keberadaan buoy penting guna mengirimkan sinyal terkini ketika ada gelom- bang tinggi di tengah laut yang diduga berpotensi menjadi tsunami. “Buoy terus-menerus mengirimkan sinyal ke pu- sat monitoring secara real time , jika ada gelombang yang melewatinya. Semakin tinggi dan kencang gelom- bang, maka sinyal yang di- kirim frekuensinya akan se- makin rapat dan bisa berka- li-kali dalam hitungan de- tik,” paparnya. Hal inilah yang dapat menjadi dasar untuk me- waspadai serta mendukung kesiapsiagaan bencana. Adanya langkah mitigasi, tambahnya, sangat penting

ANTARA/MUHAMMAD IQBAL Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban tsunami yang ditemukan di hutan bakau di ka- wasan wistata Tanjung Lesung, Banten, Selasa (25/12). Menurut data BNPB sejauh ini sudah terdata 429 korban tewas akibat bencana tsunami Selat Sunda, sementara di Tanjung Lesung sendiri sudah lebih dari 54 jenazah yang berhasil ditemukan.

bagi masyarakat atau pen- duduk yang bermukim di wilayah yang rentan terha- dap terpaan bencana. Selain membangun fasi- litas buoy, BPPT menawar- kan teknologi lainnya yang memungkinkan untuk me- lengkapi yakni CBT. Teknologi CBT sudah digunakan oleh Jepang. CBT dan buoy saling me- lengkapi, baik fungsi dan kegunaannya. “Keduanya saling melengkapi sehing- ga hasil deteksi dini yang menjadi parameternya me- miliki presisi dan akurat,” paparnya. Pembangunan CBT da- pat menjadi program nasio- nal seiring adanya program sistem komunikasi kabel laut broadband network Bawah Laut

Palapa Ring yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika. CBT ini merupakan ka- bel bawah laut yang dileng- kapi sensor untuk mengu- kur perubahan tekanan da- lam laut yang ekstrem, yang mengindikasikan tsunami. Sensor lalu akan mengirim- kan data melalui satelit ke- pada pusat penerima data. Terkait biaya, pembuat- an fasilitas CBT lebih ke- timbang buoy. “Kalau pembuatan buoy menghabiskan miliaran ru- piah sedangkan CBT men- capai triliunan. Dari aspek perawatannya CBT lebih murah, buoy akan lebih ma- hal. Dari waktu pemba- ngunan lebih cepat bisa hi- tungan bulan, CBT akan le- bih lama bisa tahunan,” pa- parnya.

Kendala pembangunan CBT adalah belum seluruh wilayah Indonesia memiliki jaringan kabel bawah laut Palapa Ring. Untuk itu, Hammam menyarankan agar kita memiliki buoy di beberapa titik. “Pembangunan CBT harus kita sadari belum ten- tu bisa meng- cover semua- nya, karena Palapa Ring ju- ga belum meng- cover selu- ruh wilayah di Indonesia. Jadi ya memang, mau tidak mau pembangunan buoy te- t a p h a r u s d i l a kuk a n . Tinggal kita lengkapi de- ngan global positioning sy- stem dan dapat diawasi ti- tik deployment -nya oleh TNI maupun Polri di perair- an lepas,” sarannya. Hammam berharap, pe- mangku kepentingan terkait penanggulangan bencana

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online