SP190123

Suara Pembaruan

Utama

2

Rabu, 23 Januari 2019

Capres Waspadai Musuh dalam Selimut?

P ersaingan di antara dua kubu pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (ca- wapres) terus menghangat. Tim sukses dari masing-ma- sing pasangan tidak hanya “berperang” argumentasi di media, baik media massa konvensional maupun media sosial (medsos). Mereka juga melakukan perang intelijen. “Tim sukses dari ma- sing-masing pasangan saling intip dan saling susup. Ini ibarat perang intelijen. Ma-

sing-masing mencari kele- mahan lawan atau membuat lawan lemah,” ujar sumber SP di Jakarta, Selasa (22/1). Dikatakan, aksi saling intip sudah lama diterap-

orang dalam kubu capres/ cawapres. Sementara, kata dia, untuk melakukan aksi me- nyusup jauh lebih sulit. Kubu capres/ cawapres harus sukses, bila perlu sampai orang terdekat capres atau cawapres. “Ini sulit, ka- rena orang itu harus bisa mendapatkan kepercayaan dari orang-orang terdekat pasangan atau malah dari pasangan itu sendiri. Proses- bisa menempatkan orang di dalam tim

jelas, PDI-P ini menjadi rumah besar kaumnasionalis,” ujarYunarto, Rabu (23/1). Hal ini memang tidak terlepas karakterMega yang sangat berpegang teguh pada ideologi partai. “PDI-P menjadi partai yang garis ideolog- inya sangat jelas. Keteguhan pada ideologi inilah yangmembuat PDI-P menjadi partai besar dan membuat para kadernya menjadi militan dan loyal,” katanya. Yunarto juga menilai, Mega adalah sosok pengikat dan mampu menjaga soliditas di internal partai. Buktinya,Megamampumembuat dan mengambil keputusan yang dipatuhi semua kader meskipun sebelumnya terdapat perbedaan yang tajam. Masa Depan Soal masa depan PDI-P, menurut Hasto, dari tangan kepemimpinan Mega melahirkan banyak pemimpin muda. Diakui Bung Karno menjadi jiwa dan api semangat dalam ke- hidupan kepartaian, menjadi rujukan primer terhadap ideologi Pancasila. “Ada sebuah keyakinan di internal PDI-PyangmenempatkanBungKarno dan keluarganya pada tempat yang spesial,termasukuntukkepemimpinan ke depan. Toh, kepemimpinan partai ini kepemimpinan kolektif kolegial,” ujar Hasto. Sedangkan menurut Muradi, yang perlu dipastikan ke depan pascakepemimpinan Mega adalah PDI-Ptetap teguh pada garis ideologi partai dan menyiapkan regenerasi kepemimpinan. “Mega harus secara bertahapmenyiapkan penggantinya,” imbuh dia. Arif Susanto mengingatkan jangan sampai ada ketergantungan berlebihan PDI-P terhadap Mega. Bila otonomi organisasi cenderung lemah di hadapan kepentingan elite partai maka pada suatu saat inisiatif anggota bakal tumpul dan mengu- rangi kemampuan organisasi dalam mengelola perbedaan kepentingan. “Partai-partai modern tidak bergantung berlebihan pada figur pemimpin, melainkan menciptakan mekanisme organisasi yang lentur terhadap dinamika politik sekaligus tegas dalam prinsip nilai ideologis,” ujar analis pada Exposit Strategic ini. [R-14/YUS/Y-7] nya (penyusupan) pun tidak sebentar. Butuh waktu,” ujarnya. Sumber itu mencerita- kan, jika berhasil melakukan penyusupan, maka tugas orang itu adalah melakukan pembusukan dari dalam. Dia bisa saja mengeluarkan pernyataan-pernyataan atau menyusun langkah-langkah yang bisa merugikan citra capres/cawapres. Caranya dibuat sehalus mungkin hingga kubu lawan tidak tahu kalau ada pembusukan dari dalam. [O-1]

kan dan cenderung lebih mudah dila- kukan masing-ma- sing calon. Mereka

tidak perlu menempatkan orang-orang di lingkaran terdekat kubu capres/ca- wapres. Orang-orang yang ditugaskan untuk mengintip strategi lawan cukup orang dari luar yang dekat dengan

Megawati Masih Menjadi Magnet

[ JAKARTA] Pada usia yang tidak lagi muda, 72 tahun, Ketua Umum DPPPDI-PMegawati Soekarnoputri masih menjadi magnet kuat, tidak hanya di partainya, tetapi juga di panggungpolitiknasional. Sikap tegas Megawati sertaketeguhanpadaprinsip dan ideologi partai, membuat PDI-P terusmenjadi partai politik papan atas di Indonesia. Bahkan, pada Pemilu 2019, PDI-Pdiprediksi bisamencetak sejarahdenganmenjadi partai pertama yang dua kali berturut-turut menjadi pemenang pemilu. Sekjen PDI-P, HastoKristiyanto mengatakan, jalan Megawati mem- bangun partai dari PDI sebelum era reformasi menjadi PDI Perjuangan bukanlahmudah. Megawatimemiliki kesabaran revolusioner. Pada 1999, satu hari menjelang pemilu, Megawati tak tampak ba- hagia. Padahal, survei menyebutkan PDI-P akan menjadi pemenang pemilu. Ketika ada yang bertanya mengapa, Mega menjawab, ia ingin PDI-Pmemperkuat ideologisasi dan kaderisasi yang selama 32 tahunOrde Baru tak bisa dilakukan. “Saya khawatir anak-anak saya (kader) kemudian sikapnya bagaikan pasukan gerilya yang baru turun gu- nung dan melihat segala sesuatunya sebagai euforia kemenangan,” ujar Mega kala itu seperti diungkapkan Hasto. Mega dikenal memiliki watak kepemimpinanmembangunorganisasi jauh lebih penting daripada populari- tas diri. Karena itu dicanangkanlah penataanorganisasi, konsolidasi kader hingga sumber daya. PDI-P tercatat sebagai yang pertama kali memban- gun sekolah partai. Kaidah-kaidah modern diterapkan dengan berpijak pada ideologi yang pro kerakyatan. Mega juga terbuktimenjadi pemimpin di tengah krisis. Ketika menjabat presidenpada 2001 ia menyelesaikan krisis multidimensi bangsa namun tetap mengalokasikan sehari per minggu untuk rapat partai. “Ibu Mega tak kenal lelah dan menyerah hingga tercipta kultur yang dibangundari pemikiranpositif bahwa pada akhirnya kebenaran akan men- ang. Dan kultur untuk terus menyatu dengan kekuatan rakyat,” katanya. Hasto mengakui Mega berperan penting dan sentral di internal partai. Megamemilikihakprerogatif.Namun, sebelum mengambil keputusan di

foto-foto: dok sp

Yunarto Wijaya

Ray Rangkuti

Hasto Kristiyanto

dalam rapat partai Mega selalumen- dengarkanpendapat dari seluruhDPP. Mega juga membawa PDI-P untuk tetapkokoh, termasukketikaberadadi luar pemerintahan. Banyak pimpinan partai lain tidak punya keyakinan sekuat Megawati. “Ketika ditawari menteri, Ibu Mega lebih memilih berada di luar pemerintahan karena keyakinan politiknya,” ujarnya. Pengamat politik dari Universitas Padjajaran, Muradi menilai, Mega adalah seorang negarawan. Mega teguh menjalankan roda partai pada garis disiplin dan ideologi. Praktik politik atau pilihan-pilihan politik segaris dengan kebijakan partai. Militansi Kader Kepemimpinan Mega berbasis- kan prinsip dan nilai ideologis mar- haenisme. Hal ini yang memperkuat dan membuat solid PDI-P sebagai partai. “Prinsip ini yangmenguatkan militansi kader PDI-Puntukbertarung dalam gelanggang politik di semua level. Hal ini pula yang membentuk karakter ngotot kader PDI-P saat ditugaskan dan patuh, serta loyal,” katanya. Kenegarawanan terlihat dari sikap yang tidak mudah kompromi dan tidak mudah terbujuk oleh tawaran politik yang berlawanan garis politik. “Terbukti Mega memilih menjadi oposisiselama10tahunkepemimpinan SBY,” katanya. Direktur Program Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Sirajudin Abbas menilai, selama kurang lebih 25 tahun terakhir sosok Megawati telah memberikan warna

baru di alam demokrasi Indonesia Pertama,Megamampumengem- balikan kepercayaan masyarakat terhadap nilai-nilai ideologi yang diperjuangkan Bung Karno. Lewat sosok Mega, impian masyarakat tentang ide kedaulatan, kemandirian ekonomi, pemerataan pembangunan ekonomi kerakyatan, NKRI, dan lainnya bisa terwujud. Kedua, Mega adalah tokoh poli- tik paling senior yang masih aktif memimpinparpol yang sudahberhasil menempatkan banyak kadernya pada posisi penting, salah satunya Jokowi. “Ini menunjukkan kebesaran hati dan keluasan pikir mendahulukan kader-kader yang punya kapasitas leadership ke depan. Ini preseden sangat bagus bagi Indonesia,” kata Sirajudin Abbas, Rabu (23/1). Pengamat komunikasi politik Arif Susanto mengemukakan, sejak Kongres Surabaya 1993 Mega telah tampil sebagai seorang solidarity maker bagi faksi-faksi dalam tubuh PDI yang kemudian bertransformasi menjadi PDI-P. Kehadiran Mega, waktu itu ber- sama Taufiq Kiemas, tidak sekadar mampu mengorkestrasi beragam kekuatan politik. Mereka pun mendorong regenerasi politik dan membuka ruang rekrutmen politik yang lantas mendorong kemunculan pemimpin-pemimpinbaru, pada level lokal maupun nasional. Koordinator LingkarMasyarakat Madani Indonesia, Ray Rangkuti mengemukakan, kelebihan Mega adalah kemampuannya untuk menahan diri, menempatkan porsi

keterlibatannyadalamberbagai kasus. Kemampuanmenahan diri itu dilihat dari kewenangan dan posisi dirinya. “Mega berbeda dengan tokoh-tokoh nasional di generasinya. Seperti takut kehilanganmumagnet, mereka mengurusi semua isu dan semua hal sedangkan Mega tidak demikian,” jelas Ray. Kondisi itu membuat para tokoh nasional selevel Mega rontok sendiri tak ubahnya seperti tokoh biasa yang tanpa magnet. “Saya tidakmelihat banyak partai yang seserius PDI-Pdalammengelola manajemen internal partai. Jadi tidak mengherankan jika PDI-P alih-alih kehilangan massa, yang ada malah terus mengumpulkan massa. Jadi tidak terlalumengherankan apa yang dicapai oleh PDI-P hari ini dengan situasi yang memang mereka ban- gun dengan konsisten sejak awal. Sebagaimana juga tidak ada yang mengherankan dari hormat dan re- spek banyak orang pada ibu Mega karena kemampuan menempatkan dirinya di tengah masyarakat politik Indonesia,” kata Ray. DirekturEksekutifChartaPolitica, Yunarto Wijaya menilai, di tangan MegaPDI-Pmenjadi rumahbesarbagi kaum nasionalis dan partai terdepan yangmempertahankan nasionalisme, kebinekaan dan melawan politik SARA atau politik identitas. “Ini terbukti di manaMega tetap memilih Basuki Tjahaja Purnama di Pilgub DKI Jakarta. Megawati juga menjadi terdepanmelawan politisasi SARAdi Pemilu 2014 dan di Pilkada Serentak 2015, 2017 dan 2018.Yang

> 5

Terkait halaman

Made with FlippingBook flipbook maker