SP161124

Utama

Suara Pembaruan

2

Kamis, 24 November 2016

Pesan HP Antisadap?

S ejumlah lembaga negara selama ini menjadi sorotan karena adanya oknum aparat yang terjerat kasus korupsi, antara lain menerima suap. Informasi yang dipero- leh SP beberapa waktu lalu menyebutkan, ada lembaga negara yang sengaja melengkapi peja- bat-pejabatnya dengan alat telekomunikasi antisadap.

Para pimpinan di lembaga itu, menurut sumber tersebut, kini menggunakan hand- phone (HP) antisadap yang diimpor dari luar negeri. “Ada 100 unit yang dipesan. Harganya Rp 20 juta per unit. Kalau 100 unit berarti totalnya Rp 2 miliar,” katanya.

Dia menjelaskan, HP tersebut didatangkan lewat Singapura. Saat ini sudah ada di tangan para pim- pinan dan para pejabat eselon di lembaga dimaksud. “HP itu bisa meng- acak nomor masuk lebih dari 10 kali. Jika kita menelepon ke nomor ter- sebut, akan muncul nama yang tidak ada dalam HP

kita,” tutur sumber terse- but. Dia menambahkan, HP yang digunakan ter- sebut tidak bisa ditembus alat sadap yang diguna- kan aparat penegak hukum, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Jadi mereka aman sekali berkomuni- kasi dengan siapa saja, untuk kepentingan apa saja,” ujarnya. [R-14]

Elektabilitas Ahok Bakal “Rebound”

[JAKARTA] Tak bisa dimungkiri elektabilitas Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok turun setelah muncul kasus dugaan penistaan agama dan penetapannya sebagai tersangka. Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JAmenye- butkan dukungan untuk Ahok melorot dari 24,6%menjadi 10,6%. Hal itu terlihat dari jawaban atas pertanyaan 'jika Ahok menjadi tersangka'. Namun, berdasarkan survei tersebut, mereka yang disurvei ternyata tidak mengalihkan pilih- annya ke kandidat lawan Ahok melainkan menjadi swing voters atau massa mengambang yang setiap waktu bisa kembali direbut. Tahapan pilgub terutama dalam debat pasangan calon nanti diyakini para pengamat akan kembali melambungkan elektabilitas Ahok. Teman Ahok serta tim sukses kampanye Ahok-Djarot mengakui adanya penurunan elektabilitas pasangan yang didukungnya, namun mereka yakin bahwa Ahok Djarot telah menemukan titik balik. Hal itu terlihat dari sambutan masya- rakat dalam kampanye blusukan Ahok-Djarot serta antusiasme warga yang datang ke Rumah Lembang, markas pemenangan pasangan nomor urut 2 Pilgub DKI. “Elektabilitas Ahok sama tidak tidak berpengaruh atas penetapan tersangka. Sebenarnya pendukung Ahok dengan yang anti-Ahok sudah lama terbentuk lama, tidak hanya pada saat ini saja. Isu agama juga sudah dimainkan sejak lama,” kata pendiri lembaga survei Cyrus Network, Hasan Nasbi, Kamis (24/11). Saat ini, katanya, masyarakat semakin terang melihat adanya kelompok yang menganggapAhok telah menistakan agama. Kelompok ini sejak awal sudah membenci Ahok dan tidak akan memilihnya dalam Pilgub DKI. “Sementara sebagian besar yang lain, yang mendukung Ahok sejak awal, tidak merasa yang bersangkutan menistakan agama. Jadi, kelompok-kelompok yang mendukung maupun yang anti Ahok sudah terbentuk jauh-jauh hari sebelum ada penetapan status tersangka,” ucap Hasan. Penetapan Ahok sebagai ter-

kasus dugaan penistaan agama dipolitisasi untuk menjegal Ahok. Rasionalitas mereka mendukung Ahok tidak terpengaruhi oleh isu-isu yang dinilai berupaya menjegal Ahok. "Pemilih seperti ini menjadi modal politik Ahok dan mereka yang sedang labil besar kemung- kinan akan kembali memilih Ahok jika kasus hukum Ahok bisa dipertanggungjawabkan dan kepo- lisian menyatakan bahwa Ahok secara objektif tidak bersalah," katanya. Peneliti senior LIPI lainnya, Ikrar Nusa Bakti menyatakan, elektabilitas Ahok turun sebagai efek kejut atas penetapannya sebagai tersangka. “Namun, itu nanti tidak akan berlangsung lama dan dalam sisa waktu 2 bulan lebih sebelum pemungutan suara, elek- tabilitas itu bisa pulih kembali," ujar Ikrar di Jakarta, Kamis (24/11). Ikrar menilai banyak pendukung Ahok takut menyatakan dukung- a n n y a p a s c a d e m o n s t r a s i 4 November khususnya pendukung Ahok yang beragama muslim. Ketakutan itu, kata dia semakin menguat dengan adanya peristiwa penghadangan kampanye Ahok- Djarot di beberapa wilayah di Jakarta oleh sejumlah oknum dengan mengatasnamakan bela Islam. "Itu sebabnya pendukungAhok ini belum menyatakan atau menyampaikan dukungannya. Dan biasa survei menanyakan, jika pilkada dilakukan hari ini, maka pasangan calon mana yang akan pilih? Nah, dalam situasi seperti ini, mayoritas pendukung Ahok tidak mau jawab," terang dia. Ikrar juga masih optimis Ahok- Djarot bisa menang di pilkada DKI Jakarta. Apalagi banyak masyara- kat yang ke rumah Lembang tanpa dimobilisasi dan kampanye Ahok- Djarot yang banyak didatangi warga termasuk warga muslim, seperti ibu-ibu memakai jilbab. "Dengan banyak melakukan pertemuan-pertemuan dan blusuk- an , elektabilitas Ahok bisa naik lagi, ditambah kerja-kerja kreatif dari relawan parpol pengusung Ahok-Djarot. Apalagi pemilih DKI Jakarta lebih memilih pemimpin yang terbukti kinerjannya, daripa- da pemimpin yang hanya menebar janji," tandas dia. [YUS/Y-7]

foto-foto:istimewa

Hasan Nasbi

Toto Sugiarto

Ikrar Nusa Bakti

sangka dan maraknya aksi peng- adangan kampanye malah mem- buat pendukungnya di semakin militan dan semakin bekerja keras. “Sebelum ini Ahok maupun Djarot terus dihadang di lapangan. Tetapi, mulai dari beberapa hari terakhir ini, para pengadang malah mulai dikepung, diusir, seperti yang terjadi di Pulomas. Hal itu mem- buktikan masyarakat semakin militan mendukung ahok,” katanya. Dari data survei terakhir yang dilakukan Cyrus Network, elekta- bilitas Ahok masih berada di sekitar 43%. Namun survei terse- but dilakukan sebelum Ahok ter- sangka. Karena itu dalam waktu dekat ini, pihaknya kembali meng- update hasil survei. “Desember awal kita akan rilis (hasil survei). Data terakhir kita. Saya rasa elek- tabilitas itu juga bisa dirasakan di lapangan,” katanya. Satu Putaran Direktur Program Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) SirojudinAbbas mengatakan meski kemungkinan Ahok-Djarot meme- nangi Pilgub DKI Jakarta satu putaran belum hilang, para penan- tang sedang mendapat momentum naik. Penantang yang dimaksud yakni pasangan nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono- Sylviana Murni. Abbas menyatakan, proses hukum kasus dugaan penistaan agama membuat peluang menang satu putaran mengecil. “Masih terlalu jauh satu putaran di hari- hari begini. Kalau tidak ada peris- tiwa kemarin itu (proses hukum),

peluangnya sangat besar untuk satu putaran,” katanya, Kamis (24/11). Selain pasanganAgus-Sylviana mendapatkan momentum naik, pasangan nomor urut tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno dinilai tak memiliki lompatan signifikan. “Agus sedang dapat momentum naik. Tapi yang perlu kita lihat sampai sejauh mana momentum naik itu bertahan. Apakah ada lompatan dari Anies? Sejauh ini belum ada,” ujarnya. Dia menyatakan, manakala isu-isu agama perlahan memudar maka peluang Ahok rebound lebih besar. Tekanan untuk Ahok, katanya, tertahan karena adanya basis pen- dukung yang relatif solid. Salah satu basis tersebut bersumber dari pendukung PDI-P. “Pendukung PDI-P tidak banyak terpengaruh dengan isu agama,” tuturnya. Dia menambahkan, Ahok juga mempunyai kinerja yang terlihat konkret membangun DKI. “Jadi, banyak pendudukmoderat di Jakarta yang tidak terlalu mudah juga digeser opininya dan pilihannya dari Ahok,” imbuhnya. Dia mengungkapkan, pemilih memiliki berbagai pertimbangan dalam memilih nantinya. “Kalau diurut memang soal kinerja, kemampuan menyelesaikan masa- lah, tegas dan sifat jujur dan bisa dipercaya. Itu pertimbangannya yang utama, ketimbang agama atau pendidikan tinggi atau ganteng,” ungkapnya. Disinggung mengenai jumlah kontribusi pemilih Tionghoa Kristen

kepada Ahok, menurutnya, tidak seluruhnya condong ke Ahok. “Itu kan komunitasnya kecil. Saya kira kalau dari sisi dukungan enggak 100% keAhok juga, ada juga yang pilih Agus,” katanya. Dari segi usia, dia menyatakan, ketiga paslon sama-sama kuat, khususnya pada pemilih di bawah 25 tahun. “Tiga-tiganya bagus untuk pemilih pemula. Semakin mapan, semakin tua semakin ke Ahok. Umur 30-an sampai 55 tahun ke atas itu cenderung ke Ahok. Ini konsisten dalam beberapa survei kita,” ujarnya. Direktur Riset Indonesia Toto Sugiarto mengakui sebagian pemi- lih loyal atau disebut die hard tetap ada yang terpengaruh oleh berbagai isu yang menghantam Ahok, khususnya kasus dugaan penistaan agama. Namun demiki- an, mereka ini bukan kemudian meniggalkanAhok melainkan pada posisi ragu-ragu, menunggu, dan belum menentukan pilihan. "Kasus penistaan agama oleh Ahok, kemudian disusul demo 4 November saya yakin menggo- yahkan sebagian pemilih loyal Ahok. Saya prediksi sekitar 15% terpengaruh dengan isu kasus hukum Ahok membuat mereka ragu-ragu, wait and see , dan belum menentukan pilihan," ujar Toto di Jakarta, Kamis (24/11). Sementara, pemilih loyal yang tidak tergoyahkan adalah mereka yang konsisten mendukung kare- na pertimbangan kinerja dan rekam jejak sang petahana. Tak kalah penting, pemmilih loyal ini adalah mereka yang meyakini bahwa

Made with FlippingBook - Online catalogs