SP170303

Utama

Suara Pembaruan

2

Jumat, 3 Maret 2017

Revisi UU Antiterorisme Jalan di Tempat?

R encana revisi UU 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (RUU Antiterorisme) akan kembali tertunda dari target waktu yang disepakati. Padahal, Panja yang diben- tuk telah menghabiskan waktu dua masa sidang untuk membahasnya, yang ditargetkan selesai pada April 2017. Sumber SP menyebut- kan, masih banyak perbeda- an pandangan yang membuat pembahasan RUU ini molor, semisal, soal perubahan judul. “Dari DIM (Daftar Inventarisasi Masalah) bebe- rapa fraksi menginginkan

agar RUU ini judulnya diganti menjadi RUU Pemberantasan Terorisme atau belakangan RUU Penanggulangan Terorisme,” katanya, Kamis (2/3) malam. Sumber itu mengungkap- kan, perbedaan lainnya yakni soal definisi tin- dak pidana teroris- me. Hingga saat ini, pembahasan soal definisi belum mendapat titik temu. Perbedaan pandangan soal definisi ini tidak hanya terja- di di level fraksi, tetapi juga pemerintah. “Definisi terorisme itu diminta oleh banyak fraksi agar jelas, mana tindak pida-

na terorisme mana yang bukan. Kenapa bom buku dianggap terorisme, di Alam Sutera tidak. Kalau orang hukum bisa dengan mudah dijelaskan. Tapi di balik soal judul, definisi akan menggambarkan batang tubuh seper- ti apa, termasuk peran TNI akan masuk,” katanya. Dia pun memiliki usul terkait definisi terorisme. Dia mengusulkan agar defi- nisi terorisme hanya diberi penjelasan secara umum. “Masing-masing punya pemikiran sendiri dan misi-misi sendiri. Saya punya usulan kalau definisi

terorisme susah dilakukan, enggak usah didefinisikan, penjelasan umum saja. Kita kembalikan ke tim pemerin- tah,” katanya. Dia menambahkan, ada kesan pihak pemerintah ter- kesan menunda pembahasan. Dia meminta pemerintah harus lebih dulu solid sebe- lum melontarkan usulan. Sebab, sikap pemerintah itu membuat Panja membuang waktu pembahasan sekitar 14 hari. “Faktor delay bukan DPR saja, kalau dihitung seluruhnya sudah 14 hari karena pemerintah minta menunda belum mulai,” katanya. [W-12]

Raja Salman TampilkanWajah IslamModerat

[JAKARTA] Membawawajah Islam yang moderat dan sejuk, Raja Arab Saudi Salman binAbdulaziz al-Saud dinilai datang pada saat yang tepat. Indonesia kini sedang diguncang aksi terorisme yang dipicu radikalisme agama dan isu agama dalam politik yang bisa memecah-belah persatuan bangsa. KedatanganRaja Salman diyakini akan membawa perubahan bagi Indonesia. Apalagi, Indonesia dan Arab Saudi memiliki komitmen yang sama dalam mengembangkan Islam wasathiyah (moderat), yakni menjun- jung tinggi nilai-nilai tasamuh (tole- ransi) dan tawazun (keseimbangan). Selama ini, Arab Saudi dikenal luas sebagai negara Islam yang menolak ekstremisme dan radikalisme agama serta berbagai aksi terorisme atas nama agama. Kesediaannya untuk bersalaman denganGubernur DKI JakartaBasuki Tjahaja Purnama (Ahok), bertemu tokoh-tokoh lintas agamadi Indonesia, dan menolak bertemu tokoh yang dianggap garis keras, menunjukkan bahwa Raja Salman ingin membawa Islam yang terbuka, damai, dan membawa rahmat bagi semesta alam. “Kita harapkan kunjungan Raja Salman dapatmenekan kelompok-ke- lompok radikal yang sebenarnya dari segi kuatitatif di Indonesia jumlahnya sangat sedikit, hanya saja jumlah yang sedikit itu suaranya sangat nyaring sehingga seakan-akan jumlahnya sangat besar,”ujarWakilKetuaUmum MajelisUlama Indonesia (MUI)Zainut kepada SP di Jakarta, Kamis (2/3). Dia juga yakin, mayoritas umat Islam Indonesia adalah menganut ajaran yang moderat. Jikapun ada kelompok yang mengusung paham radikal, jumlahnya tidak banyak. Pahamradikal yangmenjadi akar dari terorisme itu merupakan gerakan transnasional yang tidak hanya ber- kembang di Indonesia tetapi juga berkembang di banyak negara. Dijelaskan Zainut, radikalisme dan terorisme itu sendirimuncul bukan semata karena bersumber dari paham keagamaan, tapi juga bisa disebabkan oleh faktor ekonomi, ketidakadilan, dan perlakuan yang diskriminatif penguasa terhadap kelompokmasya- rakat tertentu sehinggamenimbulkan

bentuk perlawanan.

Zainutmenambahkan,ArabSaudi di bawahkepemimpinanRajaSalman, patut diapresiasi, karena berkomitmen memerangi radikalisme dan terorisme. Untuk itu, pemerintah Indonesia harus menindaklanjutinya melalui langkah -langkah strategis dalambentuk kerja sama kedua negara, khususnya di bidang pendidikan dan dakwah yang harus dilakukan secara masif, guna mengembangkan Islam mode- rat. “Islam yang mengedepankan damai, dan Islam rahmatan lil alamin seperti yang dilakukan oleh Arab Saudi,” tandasnya. Senada dengan itu, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’timengatakan sejakPemerintahan RajaAbdullah, Arab Saudi berusaha mendorong Islamyangmoderat. Hal tersebut dilakukan karena dua alasan. Pertama , Arab mengalami tan- tangan ekstremis di dalamnegeri yang mendalangi aksi terorisme. Kedua , untuk membangun citra Arab Saudi yang selama ini dituding sebagai sponsor atau pendukung ekstremisme dan terorisme. Kemudian RajaAbdullahmendi- rikan lembaga yang mensponsori berbagai acara dialog antariman. “Kebijakan Raja Abdullah itu akan dilanjutkan Raja Salman, dengan membangun kerja sama antaragama dan pemerintah, termasuk dengan Indonesia,” katanya. Dia menilai, kunjungan Raja Salman adalah misi diplomatik yang tidak hanya untuk membangun kerja sama, tetapi juga untuk mengubah pandanganpublik terhadapArabSaudi yang selama ini cenderung bias dan negatif. Melalui berbagai pertemuan dengan para tokohMuslimdan tokoh lintas agama, Raja Salman juga perlu belajar bagaimana bangsa Indonesia membangun dan memelihara keru- kunan. Ia menjelaskan, ada anggapan yang keliru bahwa terorisme berakar pada wahabisme. Secara politik wahabisme adalah paham yang soft , akan tetapi wahabisme yang ekstrem berpotensimelahirkan sikap intoleran. Terorisme adalah ekspresi dari eks- klusivisme dan perlawanan karena kekecewaan, ketidakadilan, dan

Republika/ Wihdan/ Pool Raja Arab Saudi Salman bin Abdulazis al-Saud bersama Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan dengan pimpinan lembaga dan tokoh Islam saat kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/3). Pada pertemuan ini Raja Salman mendengarkan masukan dari perwakilan pimpinan lembaga dan tokoh Islam.

keputusasaandalammemperjuangkan idealisme yang tidak tercapai. Secara terpisah, Sekjen Pengurus BesarNahdlatulUlama(PBNU)Helmy Faishal Zaini mengatakan, anggapan kedatanganRaja Salman ke Indonesia memberikan wajah baru Islam yang moderat justru sebaliknya.Kedatangan Raja Arab Saudi justru untuk belajar Islam moderat di Indonesia. “Dalam hal ini belajar tentang toleransi ber- agama di Indonesia,” jelasnya. Toleransi Menurutnya, negara yang berhasil membangun Islam moderat dengan menjunjung tinggi toleransi itu Indonesia. “Jadi kedatangan Raja Salman ini untuk belajar. Bukan kita belajar kepada Arab. Karena saat ini yang negara dengan penduduk Islam terbanyak yang dapat menjunjung tinggi perbedaan itu Indonesia. Kita menjadi contoh dan rujukan negara -negara Islam dunia,” kata Helmy, Jumat (3/3). Dijelaskan, bukti Indonesia telah membangun Islam moderat adalah konsisten memerangi kelompok-ke- lompok radikal dan teroris di Tanah Air. Kelompok tersebut tidak dapat bertindak seperti di negara lain yang berakhir hingga peperangan.

Sementara itu, Sekretaris Eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Siprianus Hormat menilai, sebagai tokoh dunia yang datang dari negara berlatar belakang Islam, kehadiran Raja Salman ke Indonesia saat ini meru- pakan momentum tepat. Apalagi, dalam pidatonya di DPR juga menyebut tentang perdamaian dunia, yang merupakan pesan universal dalam konteks dunia saat ini. “Perdamaian adalah nilai univer- sal yang harus diperjuangkan oleh manusia.Nilai universal itudiharapkan setiap agama mampu menggiring kebudayaanitu(perdamaian),”katanya. Menurutnya, agama hanyalah sarana untuk menempa nilai-nilai tinggi dalam kehidupan. Dalam kon- teks keindonesiaan, arti perdamaian adalah mengayomi keberagaman. Tanpaperdamaian,keberagamanhanya akan menjadi bencana. Sementara, Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) PendetaAlbertus Pattymengungkap- kan, perlunya rasa syukur atas keda- tangan Raja Salman. Hal ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk saling belajar. Arab Saudi pun bisa belajar tentang kebinekaan di tengah mayoritas Islamyangadadi Indonesia,

yang dipandang relatif lebih baik dan aman. “Kita punya Islam moderat juga di sini. Kita didirikan berdasarkan konstitusi bangsa dan menekankan pada kesetaraanwarga negara,” kata- nya. Hal yang samadisampaikanKetua UmumGerakanMahasiswaNasional Indonesia(GMNI)ChrismanDamanik, yangmenilai kedatanganRajaSalman telahmenunjukkanwajah Islamyang moderat. Raja Salman yang santun dan menghormati pihak lain meng- gambarkan wajah Islam rahmatan lil alamin . “Ini sebenarnyamenjadi pelajaran penting bagi kita bahwa Islam tidak identik dengan gerakan radikalisme dan terorisme.KehadiranRajaSalman bisamemperkuat persepsi agama Islam sebagai agama yangmoderat, toleran, dan damai,” ujarnya. KetuaPengurusPusatPerhimpunan MahasiswaKatolikRepublikIndonesia (PMKRI)AngeloWakoKakomeng- harapkan, kehadiranRaja Salman bisa memperkuat kerja sama Indonesia dan Arab Saudi dalammemerangi berba- gai gerakan radikalisme dan terorisme. Menurut dia, IndonesiadanArabSaudi bisa berdiri di depanmenjadi pemba- wa damai. [FAT/YUS/R-15]

Made with FlippingBook - Online magazine maker