SP160921

Utama

Suara Pembaruan

2

Rabu, 21 September 2016

Pasangan Ahok-Djarot, Representasi Pluralitas

[ J AKARTA ] P a r t a i Demokr as i Indones i a Perjuangan (PDI-P) memu- tuskan mengusung pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) dalam PemilihanGubernur (Pilgub) DK I J a k a r t a 2 0 1 7 . Pertimbangannya, kinerja pasangan itu sudah terbukti, serta keduanya merepresen- tasikan nilai-nilai pluralitas yang harus diperjuangkan dan dipupuk. PDI-P juga ingin mengubur sentimen suku, agama, ras, dan antargolong- an, dalam kehidupan politik di Tanah Air. Saat diminta komentar tentangmakna di balik kepu- tusanPDI-Ptersebut,Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama menegaskan, “Kita memb u k t i k a n b a hwa Indonesia sudah lepas dari masalah SARA.” Sebelumnya, saat meng- umumkan keputusan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri perihal pasang- anyangdiusungdalamPilgub DKI Jakarta, Sekjen PDI-P HastoKristiyanto jugamenye- butkan, salah satu pertim- bangannya adalah sebagai komitmen partai memperju- angkan ideologi, yakni Pancasila 1 Juni 1945 danTri Sakti. “Merupakan hal yang final bagi PDI Perjuangan untuk memegang teguh dan berkomitmen meneguhkan nilai-nilai pluralisme tersebut,” ujar Hasto, di Kantor DPP PDI-P, Jalan Diponegoro, Jakarta, Selasa (20/9) malam. Empat Alasan Hasto memaparkan, ada empat alasan di balik kepu- tusan DPP PDI-P tersebut. Pertama , Ahok hingga saat ini adalah petahana gubernur DKI Jakarta bertugas mene- ruskantugaspasanganJokowi- Ahok yang diusung PDI-P saat Pilgub 2012. Kedua , ideologi PDI-P yaitu Pancasila 1 Juni 1945 dan Tri Sakti, yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan. Dengan demiki- an, merupakan hal yang final bagi PDI Perjuangan untuk memegang teguh dan berko- mitmenmeneguhkan nilai-ni- lai pluralisme tersebut, serta selalu berupaya untuk kon- sisten dalam menjalankan program-program kebijakan Jokowi-Ahok pada waktu yang lalu. Ketiga , pasangan Ahok- Djarot dalam pandangan PDI-Pmempunyai komitmen yang teguh dalam melaksa- nakan ideologi PDI-P, serta mampu bersinergi dengan pemerintah pusat dalam mengejawantahkan praktik

pemerintahan.

maksimal.Maka, pantaswarga berharap keduanya melan- jutkan pekerjaan-pekerjaan itu secara berkesinambungan hingga tuntas. Sementara itu, terkait pendaftaran cagub-cawagub, PDI-P direncanakan menda- tangi KPUD Jakarta, Rabu (21/9), untuk mendaftarkan pasangan Ahok-Djarot. Menurut Ketua DPP PDI-P bidang Hukum, Trimedya Panjaitan, rencanaMegawati turun langsungmendaftarkan pasangan Ahok-Djarot. PDI-P akan menjadi parpol pengusung tunggal. Sementara Partai Golkar, Nasdem, dan Hanura yang sudah lebih dulumenyatakan mendukung Ahok, hanya menjadi parpol pendukung saja. Menurut Hasto, pihaknya tetap akan bergandengan tangan, bergotong royong denganparpol lainyang sudah lebih dulumendukungAhok. PDI-P sudah mengikat komitmendenganAhok lewat kontrak politik bersubstansi tugas menjalankan Dasa Prasetya PDI-Pdalampeme- rintahan Ahok-Djarot bila menang di Pilgub Jakarta. Sedangkan Nasdem menyambut baik keputusan PDI-P mengusung Ahok. Dengan banyaknya dukung- anparpol, diyakiniAhokdapat menangkan Pilkada DKI Jakarta 2017mendatang. “Ini seperti apa yang sudah dip- rediksi, kami menyambut dukungan PDI-P dengan terbuka dalam semangat kebersamaan,” kataSekretaris BapiluNasdem,WillyAditya, Rabu (21/9).

Setelah dukungan PDI-P kepada Ahok, hampir dipas- tikan akan ada perombakan timsukses pemenanganAhok. Selain akan diisi relawan, sebelumnya juga diisi oleh sejumlah tokoh politik tiga partai, yakni Nasdem, Golkar, dan Hanura. Setelah dukungan kepada Ahok resmi diumumkanmaka Nasdem akan mengambil inisiatif untukmenjalinkomu- nikasi yang lebih intensdengan parpol lain. Ketua DPD Golkar DKI Jakarta Fayakhun Andriadi mengemukakan kepastian Ahok-Djarot diusung PDI-P merupakan awal kemenang- an rakyat Jakarta. Pasangan ini sudah terbukti berhasil membawa Jakarta menjadi lebih baik dalam banyak hal, mulai reformasi birokrasi, pelayanan kesehatan dan pendidikan, keberpihakan pada rakyat kecil seperti marbotmasjid, petugas keber- sihan kota. Iamenjelaskan, sejakawal Golkar mengikuti perkem- bangan bahwa ada banyak pihak yang mencoba mem- provokasi Golkar untuk menarik dukungan dariAhok sehinggaAhok bisa gagal dari pencalonan. Kemudian ada provokasi bahwa seolah-olah Ahok sangat bisa dikalahkan jika PDI-P mengusung calon sendiri selainAhok. Provokasi dilakukan lewat berbagai cara mulai dari yang ilmiah, gerak- an jalanan, lobi-lobi politik,

Keempat , PDI-P menilai pasanganAhok-Djarotmampu meneruskan danmengimple- mentasikan visi dan misi JakartaBaruyang sebelumnya diusung Jokowi-Ahok. Hal ini dibuktikan dengan hasil survei selama satu tahun terakhir yang konsisten menunjukkan tingkat kepu- asan publikDKI Jakarta yang tinggi terhadapkinerjapasang- an tersebut. “Dengan alasan itu, PDI Perjuangan menyatakan sebagai partai pengusung utama pasanganAhok-Djarot pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2017,” tegas Hasto. Ahok yang secara resmi telah diusungPDI-P, Nasdem, Golkar dan Hanura, merupa- kan representasi keinginan warga Jakarta yang berorien- tasi kerja guna mewujudkan Jakarta baru. “Warga Jakarta mesti bersyukur empat partai yang berorientasi kerja sepa- katmencalonkanAhok-Djarot yang telah membuktikan kinerjanya dan membuat Jakarta semakin tertata,” kata Ketua DPP Partai Nasdem, Martin Manurung. Dalam kampanye men- datang, semuapasangancagub diharapkandapat lebihbanyak mengusung visi, misi dan programkerja, bukansentimen suku, agama, ras, dan antar- golongan (SARA). Diingatkan, warga Jakarta sudah tidak bisa lagi dipro- vokasi dengan isuSARAyang ujung-ujungnya membuat lelah pikiran. Martin mengakui,Ahok- Djarotmemangsudahmenger- jakan itu semua, namunbelum

Bingung Mencari Lawan Ahok

K eputusan Partai di saat akhir menjelang dimulainya pendaftaran pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta, benar

bukanlah figur cagub, tetapi elite-elite bangsa yang meng- gunakan segala cara untuk mengganjalnya. Dikhawatirkan, isu SARA akan diembuskan, kare- na menganggap itu satu-satunya cara efektif mengalahkan Ahok,” jelasnya. Terkait hal itu, nama Sandiaga Uno yang sejak awal digadang-gadang men- jadi kandidat kuat cagub, bahkan diumumkan secara lisan oleh Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, mulai dikaji ulang. Apalagi, Gerindra belum mengeluar- kan surat keputusan untuk meresmikan pencalonan Sandiaga. Padahal, masa pendaftaran pasangan calon berakhir Jumat (23/9). Sumber SP di internal parpol pengusung Sandiaga mengungkapkan, pengusaha muda itu tidak lagi jadi prio- ritas partainya. “Pencalonan dia bukan opsi utama lagi bagi Gerindra. Apalagi, sejumlah survei terkini menunjukkan elektabilitas- nya tak kunjung meningkat,” jelasnya, Selasa (20/9). Dia menambahkan, di saat akhir, nama mantan mendikbud, Anies Baswedan justru menguat sebagai kan- didat cagub, lantaran elekta- bilitasnya lebih baik. “Ketua umum kami menugaskan Sandiaga menemui Anies. Ini akan dibahas di Koalisi Kekeluargaan,” katanya. “Ketum kami ingin ada persaingan yang berimbang, berkualitas, dan tingkat keterpilihannya juga mum- puni,” sambungnya. Selain nama keduanya, di lingkup Koalisi Kekeluargaan juga sudah lama mencuat nama pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra. Sejauh ini juga belum ada kepastian partai mana yang akan mengusungnya. [A-17/W-12]

Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)

-benar mere- potkan parpol lainnya. Keputusan PDI- P, bersama

Partai

Hanura, Golkar, dan Nasdem, mengusung pasang- an petahana Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) mem- buat enam parpol lain kebi- ngungan mencari lawan tangguh untuk menghadapi Ahok dalam Pilgub yang akan digelar 15 Februari 2017. Enam parpol lain, yakni Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN), masih disibukkan dengan mencari format koalisi yang pas, dan menentukan figur yang tepat menjadi pasangan cagub dan cawagub. “Ekspektasi mereka (enam parpol), Ahok bakal mendapat lawan tangguh, yakni Risma (Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini). Tapi, ternyata PDI-P tidak mengusung Risma, dan Risma juga lebih memilih tidak meninggalkan Surabaya,” jelas sumber SP , di Jakarta, Rabu (21/9). Kondisi ini membuat enam parpol yang tidak men- dukung Ahok melakukan kalkulasi ulang dan bongkar -pasang siapa yang akan diu- sung. Mereka pun mencer- mati berbagai hasil survei siapa yang elektabilitasnya paling tinggi untuk mengha- dapi Ahok. “Ini menguatkan anggap- an bahwa lawan Ahok

dan sebagainya. [MJS/Y-7/R-14]

4

Terkait Halaman

SP/Joanito De Saojoao Pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang diusung PDI Perjuangan, Basuki Tjahaja Purnama (kedua kanan) dan Djarot Saiful Hidayat (kanan), pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Gorontalo, Hana Hasanah Fadel Muhammad (kiri) dan Tonny S. Junus (kedua kiri), bakal calon Gubernur Banten Rano Karno (ketiga kanan) dan bakal calon Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo (ketiga kiri) berfoto bersama usai diumumkan di Kantor DPP PDI Perjuangan Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Selasa (20/9). Dalam kesempatan tersebut DPP PDI Perjuangan juga mengumumkan beberapa pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur serta bupati dari berbagai daerah yang akan bertarung dalam Pilkada Serentak 2017.

Made with FlippingBook HTML5