SP160921

Metropolitan

Suara Pembaruan

27

Rabu, 21 September 2016

PKL Minta Mafia Kios Pasar Anyar Ditindak

Perkara Telantar 8 Tahun, Kapolri Digugat Delapan tahun perkara- nya tidak ditangani, seo- rang janda menggugat Kapolri Jenderal Tito Karnavian ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Maria Magdalena Andriati Hartono menggugat ganti rugi Rp 100 miliar. Laporan Maria ke Bareskrim Mabes Polri pada 8 Agustus 2008 lampau mengendap selama 2.853 hari atau delapan tahun lebih. “Ini baru pertama kali terjadi, pengabaian polisi terhadap laporan masyara- kat digugat perdata. Biasanya gugatan prapera- dilan. Kenapa kami berbe- da? Karena klien kami sudah kesal sama polisi,” kata Alexius Tantrajaya, kuasa hukum Maria di Jakarta, Selasa (20/9). Menurut Alexius, klien- nya menggugat karena Kapolri selaku pimpinan ter- tinggi di Polri harus ber- tanggung jawab atas selu- ruh kinerja di institusi yang dipimpinnya. Dijelaskan, laporan Maria ke polisi tentang kasus tindak pidana dugaan keterangan palsu di bebera- pa akta yang dibuat Notaris Rohana Frieta. Menurut dia, polisi dianggap telah merampas keadilan kliennya. Laporan kliennya terumbang-am- bing, tidak jelas siapa yang akan memproses, apakah Mabes Polri atau Polda Metro jaya. [Y-4] Putri Indonesia Kunjungi TSI Banyak objek wisata yang menarik dan indah di Tanah Air, tetapi keberada- annya belum banyak dike- nal masyarakat Indonesia maupun mancanegara. “Banyak objek wisata di Tanah Air yang indah dan menarik, tak kalah dengan objek wisata asing. Tugas Putri Pariwisata adalah mempromosikan keindahan objek wisata tersebut ke seluruh Nusantara dan mancanegara,” kata Direktur Taman Safari Indonesia (TSI) Frans Manansang saat menerima kedatangan finalis Putri Pariwisata Indonesia 2016, Minggu (18/9). Sebanyak 37 gadis cantik yang mewakili 34 provinsi di Indonesia berwi- sata di Objek Wisata Nasional TSI. Wisata diawali dengan menikmati Safari Journey di mana para finalis dapat ber- safari dan melihat berbagai satwa seperti di habitat asli- nya. Perjalanan pun dilanjut- kan dengan mengelilingi area rekreasi TSI di mana terdapat 26 wahana perma- inan serta beberapa exhibit satwa seperti Crocodile Park, Komodo Dragon Island, Penguin House, serta Primate Center & Reptile Tunnel. [161]

[BOGOR] Pedagang kaki lima (PKL) di sekitar PasarAnyar (KebonKembang) Jl Dewi Sartika Kota Bogor yang rencananya akan ditam- pung di Blok F Pasar Anyar meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menertibkan danmenindakmafia atau calo yang memperjualbelikan kios dengan harga tinggi. “Di Blok A dan B Pasar Anyar sudah banyak bukti kios dijual dengan harga sangat mahal melebihi keten- tuan yang telah ditetapkan Pemkot,” kata perwakilan PKL Pasar Anyar Eni Murni saat ditemui SP di lokasi, Selasa (20/9). Di kios Blok A dan B, lanjut Eni, harga yang dipatok per meter persegi yakni Rp 25 juta untuk jangka waktu angsuran 15 tahun. “Ukuran kios kebanyak- an 2x 2m dan 3x3m, ada juga yang lebih luas, itu harga resmi untuk pedagang yang memiki kartu kuning yang sudah lama berjualan di Pasar Anyar. Tapi nyatanya harga per meter persegi (m2) kerap dimainkan oknum tertentu hingga kisaran Rp 85 juta hingga Rp 100 juta/m2,” ungkapnya. [JAKARTA] Sidang kasus pembunuhandengan terdakwa Jessica Kumala Wongso kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (21/9) siang. Pada persidan- gan kali ini, penasihat hukum Jessica menghadirkan saksi ahli tentang toksin atau racun asalAustralia yakni Michael Robertson. Robertson merupakan ahli dari UniversitasMonash, Australia dan sudah berpen- galaman selama 25 tahun di bidang toksin. S e b e l umn y a , a h l i Psikologi Universitas Indonesia Sarlito Wirawan Sarwonodan ahliKriminologi Universitas Indonesia Ronny Nitibaskara, angkat bicara terkait sidang lanjutan kasus kopi beracun, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (20/9). Khususnya, keteran- gan saksi ahli psikolog dan kriminolog yang dihadirkan OttoHasibuan dkk, penasihat hukum terdakwa Jessica Kumala Wongso. Sarlito mengatakan, kehadiran saksi ahli dari penasihat hukum bukannya memberi wawasan kepada majelis hakim, justru mematahkan keterangan ahli sebelumnya, sehingga diadu domba. "Saya menyesalkan adanya upaya-upaya dari PH (penasihat hukum) untuk

Anyar dipatok Rp 1.258.000/ m2/tahun. “Itu bisa diangsur 20 tahun seperti halnya di Blok A dan B, bukan 15 tahun,” katanya. Revitalisasi Terkait pembangunan Blok F, seleksi beauty contest revitalisasi blok F yang sem- pat gagal lelang memasuki babak baru. Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD-PPJ) Kota Bogor akhir- nya membuka kembali pen- daftaran bagi investor untuk membangun blok di Pasar Anyar itu. Pendaftaran dibu- ka Kamis (15/9). Direktur Utama PD-PPJ, Andri Latifmengatakan, calon investor dipersilakan mem- beri surat penyataan minat. “Kami beri waktu hingga 22 September,” ujar Andri. Revitalisasi Blok F untuk menampung pedagang lama dan PKL di luar Blok F. Karena besarnya anggaran, revitalisasi Blok F menggan- deng pihak ketiga melalui proses lelang. Namun, Andri tidak bisa memastikan kapan dilakukan pembangunan. “Ya tunggu saja. Kita berharap lelang kali ini tidak gagal,” tukasnya. [161] Pemasyarakatan (Lapas) Bulak Kapal Kelas IIA, Kota Bekasi, meloloskan diri dengan cara membobol atap kamar mandi. Acong kabur dengan menggunakan kain sarung yang diikat meman- jang dan dijadikan sebagai tali untuk menaiki tembok lapas. Melarikan Diri M e n u r u t K e p a l a Keamanan Lapas Kelas II A Bulak Kapal, Aris H, Acong kabur pada Senin (19/9) subuh. Dia menjelaskan, Acong melarikan diri dengan memanjat dinding setinggi sembilan meter dengan menggunakan sarung yang diikat memanjang, pukul 04.00 WIB. Diduga, lemahnya pen- jagaan di dalam Lapas ini yang membuat Acong dapat meloloskan diri. Selain itu, minimnya fasilitas seperti kamera pengintai (CCTV) yang ada di dalam Lapas. Sementara itu, Egi Hulman Zhaffari (20) dan Muhamad Nurung (20), dua pemuda pengangguranwarga Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara ditangkap anggota Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Utara karena menjual narkotika jenis sabu-sabu. [VEN/160/C-7]

sp/Ignatius Herjanjam

Warga beraktivitas di parkiran kios Blok F Pasar Anyar, Kota Bogor.

Hal ini menurutnya amat memberatkan pedagang. “Harga kios belum termasuk iuran listrik, air, keamanan dan kebersihan yang jumlah- nya perbulan bisa di atas Rp 1 juta tergantung luas kios,” katanya. Sekda Kota Bogor Ade Syarip Hidayat mengaku sepakat dengan keluhan pedagang. “Memang renca- nanya di Blok F Pasar Anyar

akan dibangun 178 kios untuk PKL terutama yang memiliki kartu kuning. Kita harapkan mereka mendapatkan harga yang sesuai. Kita tengah mencari pengembang yang mau membangun kios itu,” kata Ade, Rabu (21/9). Dikatakan, PKL itumasa- lah prioritas yang harus dituntaskan Pemkot Bogor. Mereka punya hak berjualan, caranya direlokasi di tempat

yang resmi dan jangan diper- sulit. Namun, Mardinus Haji Tulis, Ketua Komisi BDPRD KotaBogor yangmembidangi masalah ekonomi dan keu- angan membantah adanya mafia atau calo. “Kalau ada harga kios yang melambung, itu karena dijual kembali oleh pemilik lama,” kata dia. Diamengatakan, nantinya harga kios di Blok F Pasar

Perampok Hantam Korban yang Salat

Perkara Kopi Beracun Ahli Toksin Australia Bersaksi

[BOGOR] Kepolisian Sektor Bogor Utara, Polres Bogor Kotamengamankan Saefudin (31), Selasa (20/9). Polisi menduga Saefudin merupa- kan pelaku perampokan disertai penganiayaan di bedengan pasir di Kampung Sawah, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara. Kapolsek Bogor Utara, KomisarisWijayanti menga- takan, aksi tersebut bermu- la saat korban Nining Kurniasih (40) tengah salat, sekitar pukul 16.00 WIB. “Tiba-tiba, pelaku masuk ke dalam bedeng dan langsung memukul korbanyang sedang sujud menggunakan sebuah balok,” kata Kapolsek, Rabu (21/9). Namun, Niningmelawan dengan cara menarik tangan dan pakaian pelaku. Korban pun sempat menggigit jari telunjuk pelaku. Pelaku berhasil melepaskan diri setelah menghantam leher korban dengan tangan kiri- nya dan melarikan diri. Warga yang mendengar teriakan korban kemudian mendatangi lokasi dan mela- porkan hal itu ke Polsek Bogor Utara. Tak lama pelaku berhasil dibekuk oleh polisi tidak jauh dari lokasi. Sementara itu, Amsor alias Acong (34), seorang n a r a p i d a n a Lemb a g a

bukan melakukan argumen- tasi tentang kasus, tentang perkara ini, tapi mencoba mengadu domba ahli satu dengan ahli lain," ujar Sarlito, di Jakarta, Selasa (20/9). Dikatakannya, penasihat hukum juga menanyakan teknikpenelitiandanberupaya melakukan perdebatan ilmu yang tidak dikuasainya. Sehingga, seakan-akan tidak percaya keahlian saksi. "PH ini masuk bertanya pada teknik-teknik yang sangat detail yang dikuasai ilmu tertentu, tapi dia tidak menguasai ilmu itu. Seperti saya ditanya tentang statistik, beliau tidak pernah belajar statistik, tapi ingin berdebat tentang statistik. Atau ketika dengan Ibu Ratih (psikolog Antonia Ratih) mengenai metode penilitian, sebenarnya dia tidak pernah belajar metode itu, tapi seolah-olah seperti prof yang sedang menguji. Itu saya kira kurang elok lah,” ungkapnya. Tidak Etis Ia menambahkan, persi- dangan kasus kopi beracun tidak etis digelar secara ter- buka, dan disiarkan secara langsung oleh beberapa sta- siun televisi detik per detik. "Seharusnya sidang ini walaupun terbuka tetaphanya untuk yang hadir saja. Kalau di luar negeri tidak seperti

ini. Bahkan, jurinya saja diisolasi tidak boleh melihat media, bahkan menerima telepon, supaya objektif," katanya. Ditambahkan, publik sedangdibuat bingungdengan sidang kasus kopi beracun. Sebab, penasihat hukum menghadirkan saksi ahli yang memberi pernyataan menen- tang analisa saksi ahli sebel- umnya, dan disiarkan lang- sung oleh televisi ke seluruh Indonesia. "Sekarang semua orang bingung. Saya ditanya bagaimana sih Jessica, yang salah siapa? Ya saya tidak tahu. Nanti hakim yang memutuskan. Jadi publik sedang dibuat bingung benar tidak Jessica pelakunya. Itu sasarannya PH," ujar Sarlito. Sarlito menambahkan, penasihat hukum sengaja membuka ke masyarakat seakan-akan seorang terdakwa tampak polos, jujur, bergem- ing, sehingga orang menilai tidakmungkin diamelakukan pembunuhan. "Publik opini itu yang ditimbulkan. Jangan lihat orangnya dong , tapi lihat bukti-buktinya,” katanya. Menurutnya, sekarang tinggal bagaimana majelis hakim menilai keterangan yang disampaikan saksi ahli kedua belah pihak, baik dari JPU maupun penasihat hukum. [BAM/Y-4]

Made with FlippingBook HTML5