ID150225

RABU 25 FEBRUARI 2015

28

Dok Pribadi

anak-anak, penanganan ancaman kebutaan pada penderita diabetes, serta kampanye kesehatan mata. Seluruhnyamerupakan program-program yang berbasis komunitas,” jelas Arno. Selain program Seeing is Believing , ada pro- gram Living with HIV , yaitu programkampanye kesehatan untuk pencegahan HIV/AIDS dan menghilangkan stigma negatif dari Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Lalu, ada program Edukasi Keuangan untuk kalangan remaja, pelaku ekonomi mikro dan UMKM. Keempat, adalah GOAL, yaitu program khusus bagi remaja, terutama putri, untukmengembangkan kapasitas dan kepercayaan diri mereka. Investasi Amal Sebagai Country Head Corporate Af fairs Standard Chartered Bank Indonesia, Arno memang kerap bersentuhan dengan program tanggung jawab sosial perusahaan ( corporate social responsibility /CSR). Menariknya, Arno dan seluruh rekan kerja di kantornya, khusus mengambil cuti tambahan sebanyak tiga hari dalam setahun untuk ikut melebur dalam pro- gram kemasyarakatan. Setiap karyawanmemiliki kesempatan untuk mengambil tiga hari cuti tambahan dalam seta- hun, untuk melakukan kegiatan relawan dalam berbagai bidang termasuk yang sesuai dengan keahlian yang dimiliki. “Bayangkan, jika kami memiliki sekitar 2.500 karyawan di Indonesia, artinya ada 7.500 hari kerja yang diperun- tukkan bagi pengembangan masyarakat dan lingkungan dalam setahun. Sesungguhnya, inilah investasi terbesar yang kami lakukan di masyarakat dan lingkungan,” jelasnya. Lewat investasi itu, Arno berharap, ma­ syarakat dapat meningkatkan kapasitas dan rasa percaya dirinya untuk meraih masa depan yang jauh lebih baik. Sebaliknya, Arno pun merasakan manfaat dan kepuasan batin dari kegiatan relawan. “Kegiatan relawan banyak membuka mata saya terhadap berbagai aspek kehidupan yang ada, sehingga saya pun belajar banyak dari sesama,” ujar lelaki yang hobi membaca buku- buku spiritual, traveling , dan bermainmusik ini. Terjun langsung ke masyarakat pada ak­ hirnya memperkaya pengalaman dan batin Arno ketika bersentuhan dengan kehidupan sulit masyarakat. “Yang paling menyentuh, saat mendengar cerita hidup secara langsung dari mereka-mereka yang kami datangi, dan, bagaimana mereka ber terima kasih dan bersemangat atas sedikit perhatian yang kami berikan,” pungkas dia.

ARNO KERMAPUTRA Country Head Corporate Affairs Standard Chartered Bank Indonesia

Tak ada manusia yang mulia, selain bisa bermanfaat bagi orang lain. Filosofi itu dipegang kuat Arno Kermaputra, country head corporate affairs Standard Chartered Bank Indonesia. Dia pun tak segan menjadi relawan di berbagai program kemasyarakatan dan mengambil tiga hari cuti khusus untuk melebur dengan masyarakat.

kurang peduli dengan kondisi kesehatan mata anaknya,” kisahnya. Arno berpendapat, penglihatan anak-anak sekolah itu harus diselamatkan. Apalagi, Indo- nesia merupakan negara nomor dua tertinggi setelah Etiopia di kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah, yang memiliki masalah pengli- hatan pada warganya. Selain dapat membantu prose belajar dan aktivitas anak-anak, lanjut dia, pemeriksaan dan pemakaian kaca mata dapat mencegah terjadinya kebutaan sejak dini. Seperti diketahui, Badan KesehatanDuniaWHOmenyatakan, ada 285 juta pendudukduniamengalamimasalahpenglihatan. Lebih kurang, 39 juta di antaranya menderita kebutaan, sedangkan 246 juta orang lainnya mengalami gangguan penglihatan ( low vision ). “Jika keadaan ini dibiarkan tanpa tindakan nyata, jumlah gangguan penglihatan dan kebutaan diperkirakan bertambah dua kali lipat pada 2020,” ungkapnya.

Oleh Mardiana Makmun

aya kerap terlibat dalam ke- giatan relawan, seperti mem- bantu proses pemeriksaan mata, memberikan pendi- dikan keuangan bagi generasi penerus di berbagai daerah, atau secara sederhana berbagi cerita dengan anak-anak yang kurang beruntung, termasuk anak jalanan,” kisah Arno kepada Investor Daily , baru-baru ini. Dia bercerita, saat peringatan Hari Pengliha- tan Dunia ( World Sight Day ) 2014 di Indonesia, pada 9 Oktober 2014 lalu, ikut terlibat mem- bagikan kaca mata gratis untuk anak-anak SMP di daerah Manggarai, Jakarta Selatan. “Ternyata, cukup banyak anak-anak yang matanya sudah harus dibantu dengan kacamata. Sementara, orang tuanya tidak mampu, atau

ke depan di berbagai wilayah Indonesia, yakni pulau Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat. Sebelumnya, angka yang sama juga diberikan untuk program-program yang dilakukan antara tahun 2009-2014. “Dana tersebut dialokasikan untuk program pemeriksaan kesehatan mata, pemba- gian kaca mata, operasi katarak untuk

Karena itu, tak tanggung-tanggung, khusus untuk program Seeing is Be- lieving (Penanggulangan Kebutaan), dianggarkan dana dari Group Standard Chartered sebesar US$ 5 juta, yang diberikan langsung kepada konsor- sium LSM dalam bidang kesehatan mata. Dana tersebut untuk menjalani sejumlah program selama lima tahun

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online