SP171028

Suara Pembaruan

Utama

2

Sabtu-Minggu, 28-29 Oktober 2017

Berebut Kendalikan Golkar?

K onflik internal Partai Golkar belum mereda. Partai berlambang pohon beringin itu masih terbelah. Informasi yang diperoleh SP menyebutkan, salah satu mantan petinggi Gol- kar masih terus bermanu- ver untuk mewujudkan ambisinya mengambil alih kepemimpinan di partai. “Ini tak lepas dari target menghadapi Pemilu 2019,” ujarnya, belum lama ini. Dia menjelas- kan, tokoh bersangkutan kemungkinan memang

tidak akan maju lagi di pil- pres mendatang. “Tetapi, dia mau menyiapkan jagoannya. Golkar dipakai sebagai kendaraan untuk tujuan tersebut,” jelasnya. Menurutnya, jagoan sang tokoh yang akan didorong maju Pilpres 2019 berlatar belakang figur pemimpin muda dan juga ada yang dari kalangan mi- liter. “Jika Golkar berhasil dia kuasai, tinggal mencari satu parpol lagi sebagai partner menghadapi Pil-

pres 2019, jika ketentuan presidential threshold tetap diberlakukan. Sejumlah partai sudah didekati seperti PAN, PKS, PPP dan Nasdem,” ungkapnya. Untuk memulus- kan ambisi politik tersebut, manuver untuk mendorong digelarnya musyawarah nasional luar biasa (munaslub) Partai Golkar terus digalang. Tujuannya tiada lain adalah mengganti pucuk pimpinan. Terkait hal itu, sumber mengungkapkan,

ada dua skenario yang akan dijalankan. Pertama , tokoh politik dimaksud akan mendorong orang kepercayaannya untuk memimpin Golkar. Kedua , dia akan maju sendiri ke pencalonan di saat-saat akhir. “Dia masih ingin mengendalikan Gol- kar. Jika munaslub sukses digelar, dia akan muncul di menit terakhir sebagai penyelamat. Mereka masih yakin, sebelum Pemilu 2019 akan terjadi pergan- tian pimpinan Golkar,” jelasnya. [R-14]

Rangkai Perbedaan Menjadi Kesatuan

[JAKARTA] Pemuda yang berasal dari seluruh wilayah Negara Ke- satuan Republik Indonesia (NKRI) sudah saatnya berani bersatu untuk kemajuan dan kejayaan Tanah Air. Sebagai generasi bangsa yang cinta Indonesia, para pemudawajib bersatu melawan kelompok atau golongan intoleransi dan radikalisme yang belakangan ini muncul berusaha memecah belah bangsa. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi menegaskan, umat manusia harusmenyadari bahwa per- bedaan itu merupakan takdir Tuhan. Maka, sebaiknya perbedaandirangkai menjadi satu kesatuan, bukan justru menjadi sumber perpecahan. “Situasi terakhir ini, adakelompok yang mengembuskan isu SARA, sehingga akar ego suku, agama, dan kedaerahan muncul ke permukaan untuk kepentingan politik. Kita harus bisa menangkalnya. Ingat bahwa persamaan yang kita junjung, bukan perbedaan. Itulah Indonesia danSum- pah Pemuda. Butuh keikhlasan dan ketulusan dari kita semua menerima ini,” kataMenpora kepada SP seusai peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 di Halaman Kantor Kempora, Jakarta, Jumat (27/10). Menurutnya guna mencegah hal itu terjadi denganmemahami hukum yang ada dan yang berlaku, apalagi kini Perppu tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) disetujui DPR. Peraturan-peraturan itu bisa menjadi upayapemerintahmembantu “mewarisi api”SumpahPemudayang harus terus dinyalakan dengan berani melawan ego keagamaan, kesukuan, atau kedaerahan yang menggerus persaudaraan. Menporamengingatkan, seluruh bangsa, terutama para pemuda, harus kembali ke akar Indonesia, mulai saat dilahirkan, tumbuh, berkembang, menikmati, bahkanmeninggal untuk Indonesia, negeri yangagungdankaya akan keanekaragaman. Menurutnya, itulah Bhinneka Tunggal Ika. “Api” SumpahPemuda yangmengelorakan cinta satu bahasa, satuTanahAir dan bangsa, yang tidakbolehpudar karena kemajuan teknologi dan informasi. “Karakter kita sebagai bangsa tidakboleh luntur sedikit pun. Ini harus dijaga betul, apalagi ada pihak-pihak yang inginmencoba untukmeracuni dan memecah belah persaudaraan kita,” ujarnya.

Menpo r a Imam Nah r awi mengatakan, dirinya bersama para pemuda hebat dari sejumlah daerah di dalam dan luar negeri kembali menggelorakan semangat berani bersatudi kalangananakmuda.Meski berlatar belakang yang berbeda-beda, mereka diajak untuk selalu bekerja bersama membangun negeri. “Dalam sebuah kesempatan, Presiden pertama, Ir Soekarno pernah menyampaikan, ‘Jangan mewarisi abuSumpahPemuda, tetapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, satu bangsa, dan satu tanah air. Tetapi, ini bukan tujuan akhir,” kataMenporamengatippidato Dikatakan, pesan yang disam- paikan oleh Bung Karno itu sangat mendalami, khususnya bagi generasi muda Indonesia.Api sumpahpemuda harus diambil dan terus dinyalakan. “Kita harus berani melawan segala bentuk upaya yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Kita juga harus berani melawan ego kesukuan, keagamaan, dan Bung Karno. Dinyalakan

kedaerahan,” tuturnya.

Pemuda (OKP), pihaknya bertekad untuk terusberani bersatumenyatakan perlawanan terhadap intoleransi dan radikalisme yang kian marak. “Kami bagian dari Indonesia, jadi sudah sewajarnya untuk men- jaga Tanah Air yang kita cintai ini. Apalagi, saya pribadi terlibat di dunia perfilman yang terusmengajak pemuda menjaga persatuan bangsa dalam pesan film yang kami garap. Jauhi berita bohong di media sosial. Jangan ditelan bulat-bulat. Menurutnya, isu SARA yang menjamur belakangan ini di dunia maya perlu ditelaah lebih lanjut. Bila langsung diterima tanpa penyaringan, tentunya akan merugikan banyak pihak, apalagi penerima pesan atau berita di media sosial hanya menjadi konsumen dan menjadi eksploitasi pembelinya. Membentengi Diri Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indo- nesia (PMII) Agus M Herlambang menegaskan, sudah saatnya pemuda di seluruh Indonesia untuk bersatu melawan radikalisme dan intoleransi. Agus menilai, semangat Sumpah Pemuda harus dimaknai sebagai

upaya mewujudkan persatuanmela­ wan radikalisme dan intoleransi. “Sudahsaatnyapemuda Indonesia berdiri, bersatu, dan maju melawan derasnya arus paham radikalisme yang selama ini relatif cukupmampu mengotak-ngotakkan kita. Caranya bagaimana? Sebelum bergerak dan bertindakuntukmelawan radikalisme, pemuda Indonesia terlebih dahulu harus mampu membentengi dirinya sendiri dari berbagai bentuk infiltrasi paham radikalisme,” ujar Agus di Jakarta, Sabtu (28/10). Agus menegaskan, upaya me- maknai Sumpah Pemuda tentunya berbeda dari zaman ke zaman dan bergantung pada tantangan zaman. Menurut dia, salah satu tantangan zaman sekarang adalah melawan radikalisme dan intoleransi. “Pemuda sadar akan makna persatuan nasional dan masih dalam posisi silent majority . Merekamemi- liki cara dan saluran tersendiri dalam menyikapi ancaman terbelahnya persatuan nasional karena isu SARA. Pemuda Indonesia itu tangguh dan pemberani. Melawan penjajah yang bersenjata canggih saja kita pantang mundur, apalagi hanya melawan radikalisme,” katanya. Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indo- nesia (PMKRI)AngeloWako Kako meminta pemerintah danmasyarakat Indonesia untuk memberikan ruang yang lebih kepada pemuda untuk mewujudkan idealisme mereka. Menurut Angelo, selama pemuda tidak diberikan ruang untuk mere- alisasikan idealismenya tentu akan sulit bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. “Sejarah bangsa Indonesia adalah sejarah pemuda, bukan sejarah orangtua. Pemuda selalu menjadi tonggak penting dalam setiap etape perjalanan Indonesia dari bangsa menujunegarahingga saat ini.Karena itu, beri ruang kepada pemuda,” katanya. Kondisi saat ini, kataAngelo, di tengahkompetisi global yangsemakin menggila, dimanakekuatanutamanya adalahekonomi,makamenumbuhkan kewirausahaan muda di Indonesia menjadi sebuah keharusan. Menurut dia, potensi pemuda perlu diarahkan menjadi pengusaha, karena angkatan kerja kita yang begitu besar dan ada pemuda di dalamnya. [YUS/H-15]

Menpora menegaskan, ego itu yang justru kerap mengemuka dan menggerus persaudaraan sesa­ ma anak bangsa. Untuk itu, para pemuda harus berani mengatakan bahwa persatuan Indonesia adalah segala-galanya, jauh di atas persatuan keagamaan, kesukuan, kedaerahan, apalagi golongan. “Kita patut bersyukur dan ber- terima kasih kepada Presiden Joko Widodo, yang selama inimemberikan perhatian yang sangat besar terhadap pembangunan kepemudaan Indo- nesia. Pada Juli lalu, Presiden telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2017 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor PenyelenggaraanPelayananKepemu- daan. Melalui Perpres ini, peta jalan kebangkitan pemuda Indonesia terus kita gelorakan. Bersama pemerintah daerah, organisasi kepemudaan dan sektor swasta, kita bergandengan tangan, bergotong royong melanjut- kan api semangat Sumpah Pemuda 1928,” katanya. Sekjen DPP Pergerakan Pelajar Indonesia Raya (Parindra) Nasgian Junaedi mengatakan, sebagai bagian dari Organisasi Kemasyarakatan

ANTARA/Moch Asim Sejumlah pemuda memakai pakaian adat saat mengikuti upacara bendera di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (28/10). Upacara dengan pakaian adat tersebut dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Made with FlippingBook Learn more on our blog