SP160107

Utama

Suara Pembaruan

2

Kamis, 7 Januari 2016

Pengurangan Konsumsi Rokok Tekan Garis Kemiskinan

Novanto Merapat ke Agung? S etelah mengundur- kan diri dari jabatan Ketua DPR, politisi Yang tambah menyakitkan ujarnya,

Novanto pun ditolak oleh teman-temannya sendiri untuk menduduki jabatan Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR. Dia seperti tidak dibutuhkan lagi, padahal Novanto termasuk salah satu kader Partai Golkar yang “menghidupi” kubu ARB selama ini. Dalam konflik yang berkepanjangan hingga saat ini, Novanto merupakan salah satu sumber utama kubu ARB untuk memenangkan di pengadilan. “Saat sekarang, semua fasilitas sebagai Ketua DPR dan Ketua Fraksi di- ambil teman sendiri. Padahal, Ketua DPR yang baru belum di- lantik. Seharusnya, dia masih mendapatkan sejumlah fasilitas sampai ada pelantikan Ketua DPR baru. Tetapi, teman-temannya sendiri yang mengambil semua itu,” kata sumber tersebut. Atas kekecewaan itu, menurut sumber tersebut, Novanto pun memilih un- tuk merapat ke kubu Agung Laksono. Dia te- lah bertemu Agung untuk menyampaikan unek- unek dan kekecewaan- nya. “Dalam proses pene- tapan Ketua DPR baru, Novanto akan berada di belakang kubu Agung. Jika Munas Partai Golkar jadi digelar, dia akan satu gerbong dengan kubu Agung. Dia sudah sangat kecewa dengan teman- temannya yang sangat ambisi merebut jabatan,” ujarnya. [R-14]

[JAKARTA] Jumlah pen- duduk miskin di Indonesia pada September 2015 men- capai 28,51 juta orang atau 11,13% dari total penduduk. Jumlah ini lebih banyak 780.000 jiwa dibanding September 2014. Berkaitan dengan angka kemiskinan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kontribusi rokok terhadap kemiskinan dari tahun ke ta- hun trennya tidak berubah. Rokok kretek filter masuk dalam urutan kedua pada komoditas makanan yang berkontribusi terhadap nilai garis kemiskinan. Menurut catatan BPS 2015, beras masih berkontri- busi tertinggi terhadap garis kemiskinan, yakni 22,1% di perkotaan dan 28,74% di perdesaan. Konsumsi rokok kretek filter menyusul di urutan kedua sebesar 8,08% di perkotaan dan 7,68% di perdesaan pada September 2015. Sedangkan untuk ko- moditas bukan makanan di antaranya adalah biaya peru- mahan, bensin, listrik, pen- didikan, dan perlengkapan mandi. Beras sebagai makanan pokok pantas memberikan kontribusi besar karena ti- dak bisa tidak harus didapat- kan oleh rakyat. Beras juga adalah sumber kalori. Sebaliknya, rokok bukan ke- butuhan pokok. Konsumsi rokok karena kecanduan. Rokok tak memberikan manfaat kalori maupun pro- tein melainkan racun. Angka-angka berkaitan dengan konsumsi rokok orang miskin cukup mem- prihatinkan. Produksi rokok nasional sekitar 344 miliar batang. Bila sebatang rokok berharga Rp 500, nilai be- lanja masyarakat untuk membeli rokok mencapai Rp 172 triliun. Angka itu hampir delapan kali lipat da- ri pagu perlindungan sosial pada APBN-P 2015. Belanja rokok ini tentu sangat berarti bila diguna- kan untuk konsumsi bahan makanan bergizi, pendidik- an atau kesehatan, terutama bagi penduduk miskin yang menyumbang 70% perokok di negeri ini. Kontribusi rokok terha- dap APBN dari cukai rokok cukup tinggi Rp 146 triliun. Bisa disebut bahwa dari pendapatan tersebut, sum- bangan terbesar atau sekitar Rp 102 triliun dari rakyat miskin yang merokok. Untuk itu, pemerintah wajib mengambil langkah tegas sehingga orang miskin tidak merokok dan menga- lihkan uangnya untuk hal yang positif. Pemerintah ha-

senior Partai Golkar Setya Novanto seolah- olah menghilang dari per- edaran. Novanto tidak tampil di depan publik sebagaimana biasanya. Media juga kesulitan me- nemuinya setelah lengser dari posisi orang nomor satu di parlemen pada pertengahan Desember lalu. Apa yang dilakukan Novanto setelah mundur? Informasi yang diperoleh SP menyebutkan, politisi dari daerah pemilihan di NTT itu sedang “galau” dan kecewa. Dia merasa teman-temannya di DPR, terutama Fraksi Partai Golkar dari kubu Aburizal Bakrie (ARB) tidak all out memper­ juangkan nasibnya supaya tidak lengser dari kursi DPR karena dugaan pelanggaran etika terkait rekaman permintaan saham ke PT Freeport Indonesia. Malah, dia merasa teman-temannya menusuk dari belakang dengan mendukung agar Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) memberikan sanksi kepadanya. “Teman-teman yang selama ini satu kubu dengan Novanto, malah paling semangat supaya dia lengser. Dia pun sangat kecewa dengan sikap rekan-rekannya itu. Dia tidak menyangka mereka bisa bersikap seperti itu,” kata seorang teman dekat Novanto kepada SP di Jakarta, Rabu (6/1).

rus berani mengganti peker- ja di sektor rokok yang men- capai sekitar 6,5 juta tenaga kerja ke sektor lain seperti pertanian, industri, dan ma- nufaktur, serta menaikkan cukai rokok yang tinggi se- hingga rakyat miskin tidak mampu lagi untuk membeli rokok. Konsumsi rokok oleh rakyat miskin ini perlu men- dapatkan perhatian selain upaya perbaikan perekono- mian seperti menggerakkan sektor riil, menjaga stabilitas harga-harga untuk menekan angka inflasi, serta mendo- rong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. P e n e l i t i L emb a g a Demografi FEUI Abdillah Ahsan mengatakan, rokok di kalangan orang miskin yang justru menghambat pengen- tasan kemiskinan. Pemerintah harus tegas. “Naikkan drastis cukai ro- kok. Selisih kenaikan itu ha- rus berlaku untuk semua ro- kok baik yang murah mau- pun yang mahal. Masalah­ nya kan cukai pengenaannya belum satu tarif, sebaiknya cukai disederhanakan tarif tunggal,” jelas Abdillah, Kamis (7/1). Iklan rokok harus dila- rang. Rokok tidak boleh di- jual bebas di toko ritel mela- inkan hanya tempat yang berlisensi. “Pemerintah ha- rus melakukan upaya apa- pun juga karena rokok bu- kan barang normal. Ini ba- rang yang merusak kesehat- an dan menimbulkan kecan- duan,” katanya. Menurut Kepala Badan Pusa t St a t i s t i k (BPS) Suryamin, garis kemiskinan bisa ditekan bila warga per- kotaan dan pedesaan yang mengkonsumsi rokok me- ngurangi dan mengalihkan uangnya untuk belanja be- ras. Jadi, kontribusi terhadap konsumsi makanan atau pe- Tegas

menuhan kalori bisa me- ningkat. “Kalau uang rokok dibe- rikan beras, maka kalori na- ik jadi 2.100 kalori per kapi- ta per hari. Kalau sampai angka itu, bisa dinilai keluar dari garis kemiskinan,” tam- bahnya. BPS sebelumnya, pada 2010 pernah melakukan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Dari ha- sil tersebut disimpulkan bahwa secara rata-rata, ru- mah tangga di Indonesia menghabiskan 5,9% penge- luarannya untuk tembakau dan rokok. Persentase ini memang terlihat kecil. Namun, ternyata nilai ini sa- ngat besar jika kita banding­ kan dengan komponen- komponen konsumsi lain­ nya atau jika diklasifika­ sikan berdasarkan kelom­ pok-kelompok masyarakat. Pertama, secara umum, ternyata rumah tangga di perdesaan mengeluarkan porsi belanja yang lebih be- sar untuk tembakau dan ro- kok dibandingkan rumah tangga di perkotaan. Rumah tangga di pedesaan mengha- biskan 6,4% dari pengeluar- annya untuk tembakau dan rokok sedangkan rumah tangga di perkotaan meng- habiskan 5,2% pengeluaran- nya untuk tembakau dan ro- kok. Hal yang sama juga dite- mukan jika dilihat komposi- si pengeluaran rumah tangga ini pada kelompok 40% ru- mah tangga termiskin di Indonesia. Pada kelompok ini, rumah tangga pedesaan juga mengeluarkan lebih ba- nyak porsi belanjanya untuk tembakau dan rokok yaitu sebesar 6% sedangkan ru- mah tangga di perkotaan membelanjakan rata-rata 5,7% dari total pengeluaran- nya untuk tembakau dan ro- kok. Lebih lanjut, jika dilihat komposisi belanja di masya-

rakat yang lebih miskin lagi yaitu kelompok 20% rumah t a n g g a t e rm i s k i n d i Indonesia, kondisi yang sa- ma juga terjadi. Rumah tangga di perdesaan secara rata-rata membelanjakan porsi pengeluaran yang le- bih besar untuk tembakau dan rokok yaitu sebesar 5,3% dibandingkan porsi belanja sebesar 5% yang di- belanjakan rumah tangga di perkotaan untuk tembakau dan rokok. Adapun, sebagian besar m a s y a r a k a t m i s k i n Indonesia tinggal di pedesa- an. Sehingga dengan kondisi di atas, dapat kita lihat bah- wa justru ketergantungan pada tembakau dan rokok lebih kuat pada masyarakat di pedesaan yang justru ba- nyak masih harus bergelut dengan kemiskinan. Hal yang patut dicermati adalah besarnya porsi pe- ngeluaran untuk tembakau dan rokok jika dibandingkan dengan komponen-kompo- nen pengeluaran rumah tangga lainnya. Di mana, pe- ngeluaran untuk tembakau dan rokok secara konsisten pada setiap kelompok ma- syarakat ternyata memiliki porsi yang lebih besar dari- pada pengeluaran untuk ke- lompok-kelompok barang makanan lain. Bahkan porsi pengeluaran rumah tangga untuk tembakau dan rokok pun masih lebih besar dari- pada pengeluaran untuk pendidikan, maupun kese- hatan. Terkait industri rokok yang banyak menyerap te- naga kerja, Abdillah menga- takan, sekarang sudah terja- di tren di mana pembuatan rokok beralih ke mekanisasi, sehingga pengusaha rokok mulai mengurangi karya- wannya. Untuk menangani- nya, pemerintah perlu menggandeng pengusaha dalam memberikan pelatih- an. [O-2]

Made with FlippingBook Learn more on our blog