SP160107

Utama

3

Suara Pembaruan

Kamis, 7 Januari 2016

Uang Konsumsi Rokok Setara Beasiswa 800.000 Pascasarjana

[JAKARTA] Tingginya konsumsi rokok penduduk Indonesia memberikan sumbangan pada angka ke- miskinan. Ini karena seba- gian besar pendapatan pen- duduk dihabiskan untuk membeli rokok. Ironisnya, perokok terbanyak adalah penduduk miskin dan ham- pir miskin. Menurut data Kemen- terian Kesehatan (Kemkes), prevalensi tertinggi pero- kok aktif adalah petani, ne- layan dan buruh. Penduduk termiskin bahkan belanja tembakaunya tiga kali lebih besar biaya pendidikan dan 4,3 kali biaya kesehatan. Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Hasbullah Thabrany, me- ngatakan, pengeluaran pen- duduk Indonesia sangat mubazir karena rata-rata 12% dari pendapatannya dihabiskan untuk membeli rokok yang sama sekali ti- dak memberi manfaat. Sebanyak 60% dari p e n d u d u k t e r m i s k i n Indonesia membakar seki- tar Rp 400 triliun uangnya untuk rokok. Uang yang besar ini bisa untuk menga- ji 200.000 orang tiap tahun dan beasiswa bagi 800.000 untuk pascasarjana di luar negeri. “Penduduk yang sudah miskin makin miskin, dan jatuh miskin. Perokok juga bisa mewariskan kemiskin- an ke anak dan keluarga- nya, karena anggaran yang mestinya untuk beli susu, ikan, telur, daging, dan se- kolah anak, malah diha­ biskan untuk rokok,” kata Hasbullah, Kamis (7/1). Belanja rokok tinggi di kalangan termiskin karena kecanduan berat. Perokok sulit berhenti dari adiksi, sehingga memaksanya un- tuk terus membeli rokok dibanding kebutuhan yang produktif. Ini makin diper- parah dengan mudahnya mendapatkan rokok, kare- na harga murah dan dijual R okok menjadi mala- petaka keluarga bukan cerita baru. Namun, cerita usang itu selalu terulang seperti yang dialami pasangan Tarani (55) dan Yeti (50) warga Mayang, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi. Tarani, hanya sempat ber- henti merokok seminggu setelah sempat dirawat di rumah sakit baru-baru ini. “Sempat berhenti mero- kok karena dilarang dokter tetapi seminggu kemudian kembali lagi, makanya saya marah kalau mendapati dia

ketengan. Di beberapa ne- gara, seperti Singapura, harga rokok tinggi sekitar Rp 120.000 per bungkus, cukup mahal bagi pendu- duk miskin. Ironisnya, konsumsi ro- kok orang miskin dan ham- pir miskin menyumbang kekayaan bagi orang kaya di Indonesia, termasuk di dalamnya bos-bos di indus- tri rokok. Sedangkan nega- ra tidak mendapatkan apa pun dari industri rokok. Cukai rokok yang dik- laim pemerintah memberi- kan sumbangan besar pada APBN, justru adalah uang denda dari perokok yang sebagian besar adalah pen- duduk miskin tadi karena diwajibkan. Industri hanya membayar pajak penghasil- an yang jumlahnya sangat kecil sekitar Rp 15 triliun tiap tahun dari seluruh in- dustri. Sebagian besar pa- jak ini justru disumbang oleh industri pakaian dan lainnya, bukan rokok. Cukai rokok tahun ini ditargetkan mencapai Rp 139,8 triliun, naik dari se- belumnya Rp 139,1 triliun. Namun, angka ini tidak se- banding dengan kerugian yang ditimbulkan, yaitu di- p e r k i r a k a n me n c a p a i sekitar Rp 550 triliun atau 3,5 kali lipat dari cukai rokok. Kerugian besar ini ha- bis untuk biaya pengobatan penyakit terkait rokok, hi- langnya produktivitas dan penghasilan karena kemati- an lebih awal akibat rokok. BPJS Kesehatan mencatat lebih dari 30% anggaran yang terkumpul dari peser- ta dihabiskan untuk mem- bayar klaim penyakit terka- it rokok, seperti jantung, stroke, dan lainnya. Kerugian yang ditim- bulkan akibat konsumsi ro- kok diperkirakan makin besar di tahun ini dan men- datang. Sebab, industri ro- kok justru memperkuat po- sisinya dengan tambahan investasi baru. merokok,” kata Yeti. Kebiasaan merokok tidak hanya mengganggu kesehatan suaminya. Kebiasaan merokok tersebut juga menggerogoti ekonomi keluarga. Suaminya menghabiskan rokok harga standar Rp 12.000/bungkus sehari. Dalam sebulan, biaya mem- beli rokok suaminya men- capai Rp 360.000/bulan. Tarani lima tahun ini hanya kerja serabutan karena kondisi fisik tidak kuat lagi lagi bekerja keras setelah beberapa kali jatuh

Keme n t e r i a n P e r - industrian melalui Per- a t u r a n Me n t e r i P e r - industrian 63/2015 tentang Ro a dma p P r o d u k s i Industri Hasil Tembakau Tahun 2015-2020, akan meningkatkan produksi ro- kok hampir dua kali lipat, yaitu dari 344 miliar batang di 2014 menjadi 524,2 mi- liar batang pada 2020. Permenperin ini berten- tangan dengan sejumlah peraturan yang sudah ada, utamanya terkait pengenda- lian konsumsi rokok untuk melindungi kesehatan ma- syarakat Indonesia. Mi- salnya, road map Kemkes untuk menurunkan jumlah perokok, mustahil terwujud bila jumlah produksi rokok ditingkatkan. Pengamat kesehatan ma sya r aka t s eka l i gus Ketua Indonesian Tobacco Control Network (ITCN), Kartono Muhammad me- ngatakan, Permenperin ini tidak hanya akan berdam- pak pada peningkatan jum- lah perokok dewasa, tetapi juga perokok pemula yang notabene adalah anak dan remaja. Padahal saat ini permasalahan penggunaan rokok di Indonesia sudah masuk dalam tahap meng-

khawatirkan. Data preva- lensi perokok setiap tahun terus meningkat. Riskesdas 2013 menye- butkan, perokok usia 15 ta- hun ke atas meningkat da- lam 18 tahun terakhir. Prevalensi perokok laki- laki menigkat dari 53,4% pada 1995 menjadi 66% di 2013. Sedangkan pada perempuan meningkat menjadi 6,7% dari 1,7% di rentan waktu yang sama. Jumlah perokok perempuan mengalami peningkatan dari 5,2% pada 2007 menjadi 6,7% pada 2013. Peningkatan produksi rokok oleh Kemperin ini juga diprediksi akan mera- cuni dan membunuh lebih banyak orang. Saat ini saja sudah diperkirakan 659 orang meninggal setiap ha- ri akibat penyakit terkait rokok. Ini 13 kali lipat nya- wa yang hilang karena nar- koba. Peningkatan Dengan peningkatan produksi sampai 524 miliar batang rokok, diperkirakan jumlah orang meninggal bertambah menjadi 1.000 per hari. Peraturan ini seca- ra tidak langsung mendo- rong lebih banyak orang

untuk membeli rokok dan menjadi adiksi. Untuk menanggulangi k o n s um s i r o k o k d i Indonesia, Hasbullah me- nyarankan Kemkes mende- dikasikan 10% saja dari to- tal anggarannya Rp 63 trili- un khusus untuk kampanye bahaya rokok. Kampanye bahaya rokok mestinya menjadi fokus dari upaya promotif dan preventif Kemkes. Harus ada kesa- daran masyarakat bahwa rokok tidak bermanfaat, merusak kesehatan, muba- sir, dan membuat miskin. Untuk mengubah pola pikir dan mengurangi jum- lah perokok yang sudah terlanjur besar dan adiksi, menurut Hasbullah, me- mang butuh waktu pan- jang. Untuk mendapatkan perokok aktif dan loyal, in- dustri rokok juga kampa- nye selama puluhan tahun. Karena itu, harus ada kam- panye penyeimbang, uta- manya dari pemerintah. Cara kongkretnya adalah pendidikan pola hidup se- hat secara masif melalui media massa, baik dalam bentuk iklan, sinetron, talk- show, dan lainnya. Tulus Abadi dari Ya- yasan Lembaga Konsumen

Indonesia menambahkan, target Suistanable De- velopment Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berke-lanjutan untuk me- nurunkan angka kemiskin- an tidak akan tercapai bila persentase perokok di Indonesia masih yang ter- tinggi di dunia. Begitu pula bonus demografi yang di- perkirakan terjadi pada 2020 nanti malah menjadi bencana demografi, karena penduduk usia produktif yang jumlahnya memblu- dak pada tahun tersebut sakit-sakitan dan tidak ber- daya saing. Menurut dia, upaya Kemkes untuk mengendali- kan konsumsi rokok baik melalui kampanye maupun sejumlah regulasi yang di- terbitkan patut diapresiasi. Namun, tidak cukup untuk menekan konsumsi rokok karena rokok sangat ter- jangkau oleh orang miskin, termasuk anak-anak, dijual ketengan dan masih boleh diiklankan. “Upaya selama ini ma- sih parsial, karena rokok masih bebas promosi dan iklan, cukai sangat rendah, dan rokok dijual bebas. Ini tidak cukup untuk menekan konsumsi rokok, belum megacu pada FCTC. Harus total ban atau larangan to- tal. Larang promosi, iklan, segera ratifikasi FCTC dan Kemkes perkuat PP 109 tahun 2012,” kata Tulus. Menaikkan cukai rokok setinggi-tingginya, tidak dibatasi 57% seperti seka- rang juga solusi efektif. Dengan harga tinggi, akses terhadap rokok, utamanya remaja dan kelompok mis- kin bisa ditekan. Beberapa negara di dunia, seperti Amerika Serikat, Brasil dan Prancis, menetapkan harga dan cukai rokok yang tinggi, sehingga berhasil menurunkan konsumsi ser- ta menurunkan angka ke- matian akibat penyakit yang berkaitan dengan rokok. [D-13] dengan upah Rp 3 juta lebih, ia dan keluarganya mengikuti program BPJS dengan premi sebesar Rp 42.500/bulan. Indra menyatakan berterima kasih kepada pemerintah. Keikutsertaannya melalui program tersebut, be- nar-benar membantunya. Apabila dirinya tidak mengikuti BPJS, mungkin jiwanya tidak tertolong. Persoalannya, sedot cairan dalam parunya, jika tidak segera ditangani, bisa me- nimbulkan kematian. [TG/141]

Yang Miskin Makin Miskin

sakit. Selain mengeluarkan biaya membeli rokok suami, keluarga Yeti juga masih membiayai uang sekolah seorang anaknya di sekolah menengah keju- ruan (SMK) swasta dan seorang lagi di sekolah menengah pertama (SMP). “Saya terpaksa jualan sayur seperti ini,” katanya sambil mendorong gerobak sayur. Sedangkan Tarani den- gan santai mengatakan su- lit menghentikan kebiasaan merokok. “Sudah jadi ke- butuhan. Kalau tidak mer-

okok, pikiran tidak ten- ang,” katanya. Tarani mungkin akan berpikir lain bila mengala- mi apa yang dirasakan Indra Santoso (53), pekerja swasta asal Surabaya, Jawa Timur. Indra harus menjalani sedot cairan di dalam pa- ru-parunya setelah sesak nafas. Menurut hasil pemer- iksaan dokter, sedot cairan dilakukan, karena parunya banyak cairan melebihi manusia normal lainnya. Penyebabnya, akibat terlalu banyak menyedot asap

rokok, sehingga paru- parunya bengkak, kemudian mengeluarkan cairan. Sejak operasi dilaku- kan, Indra tidak mau mero- kok lagi. Sebelumnya ia menghabiskan dua bungkus rokok per hari. Kebiasaan merokok sudah dilakukan sejak sekolah di SMP. Sebelum menderi- ta gangguan paru, menurut Indra, lebih baik tidak makan ketimbang tak mer- okok dalam sehari. Tetapi sekarang kebiasaan itu, sudah tidak dilakukan lagi. Sebagai pekerja swasta

Made with FlippingBook Learn more on our blog