SP170428

Suara Pembaruan

28

Jumat, 28 April 2017

Polisi Selidiki Praktik Premanisme di RPTRA Kalijodo Pelaku TerancamHukuman 9 Tahun Penjara

diki lebih lanjut, namun se- karang pihak Dishub sudah memberlakukan sistem par- kir gerbang untuk memini- malisasi tindakan jukir liar itu,” tandasnya. Wakil Wali Kota Jakarta U t a r a , Ya n i Wa h y u

Purwoko mengatakan, saat ini proses penyelesaian le- bih dari 50 kios pedagang kaki lima (PKL) berupa lo- kasi binaan dan pusat jajan- an serbaada (pujasera) akan segera rampung pekan de- pan.

“Fisiknya sudah selesai, tinggal penyelesaian dan mempercantik. Selain itu juga memastikan jarak kios tidak mengganggu masya- rakat yang beraktivitas. Pekan depan baru kita undi ya dari pihak UMKM,” kata

Yani singkat ketika dikon- firmasi. Setelah ditempatkan, nantinya tidak ada lagi pe- dagang yang berjualan di luar pujasera. Sehingga ka- wasan kawasan Kalijodo tertata dan tertib. [C-7]

SP/CARLOS ROY FAJARTA BARUS Lokasi kios yang sedang diselesaikan di RPTRA Kalijodo, Kamis (27/4). Diharapkan, pekan depan pedagang sudah bisa berda- gang di tempat ini.

[JAKARTA] Masyarakat Ibu Kota yang biasa menik- mati keberadaan ruang pub- lik terpadu ramah anak (RPTRA) Kalijodo, Jakarta Utara kembali digegerkan dengan praktik premanis- me. Praktik ini dengan me- minta uang sewa kios dan uang kebersihan dalam ke- giatan bazar Kalijodo Kreatif Festival 2017 yang berlangsung sejak Rabu (26/4). Festival digelar hingga Minggu (7/5). Polisi sudah mendapat aduan dari sejumlah warga baik secara langsung mau- pun melalui postingan di akun media sosial. Aduan menyebutkan adanya prak- tik meminta uang dari se- jumlah oknum warga atau preman di setiap stan. Ada 70 peserta bazar. Padahal, seharusnya kegiatan di lo- kasi itu gratis, asalkan mengantongi izin dari pe- ngelola RPTRA dan pihak kelurahan. K a p o l s e k M e t r o Penjaringan, AKBP Bismo Teguh Prakoso mengatakan, pihaknya langsung meres- pons cepat perihal beredar- nya informasi dari media so- sial adanya keluhan preman- isme di RPTRAKalijodo. “Berawal dari praktik parkir yang mesinnya tidak berfungsi, sehingga dijadi- kan peluang oleh pihak ter- tentu untuk mencari keun- tungan dengan tarif di luar standar. Hal itu dikeluhkan masyarakat. Kemudian ada laporan baru dari masyara- kat yang masuk dan sedang kita selidiki soal EO ( event organizer ) dan peserta ba- zaar dimintai sejumlah uang untuk sewa dari ok- num tertentu,” ujar Bismo, Kamis (27/4).

Ia mengungkapkan, pi- haknya saat ini sedang me- minta keterangan itu distri- busi keuangan dari EO dan peserta bazar ke mana saja, karena seharusnya kegiatan seperti itu tidak dikenakan biaya. “Malam harinya juga ada pihak tertentu yang me- minta uang kebersihan se- besar Rp 10.000 ke masing -masing stan bazaar. Kalau tidak mau bayar orang itu akan marah, ini indikasi pe- merasan akan kita tindak lanjuti siapa pelaku dan otak di belakangnya,” kata Bismo. Pihak kepolisian sejauh ini sudah memintai kete- rangan dari tiga orang saksi yang merupakan EO dari kegiatan festival itu. “Belum ada yang dia- mankan, baru tiga orang saksi yang kita mintai ke- terangan, namun jika benar terbukti maka sanksinya bila ada orang yang me- maksa meminta uang de- ngan kekerasan dikenai pasal 368 KUHP ancaman hukuman 9 tahun penjara,” tegasnya. Kembali ke soal parkir di RPTRA Kalijodo yang sebelumnya dikuasai oleh juru parkir liar yang me- minta uang parkir dengan tarif lebih tinggi dari pera- turan yang berlaku, pihak kepolisian kini terus mela- kukan pengamanan di loka- si itu dengan mengerahkan 20 personel keamanan seti- ap harinya. “Belum tentu premanis- me di lokasi itu berhubung- an dengan Daeng Azis (mantan tokoh masyarakat Kalijodo). Masih kita seli- Parkir Liar

Made with FlippingBook - Online Brochure Maker