ID180115

senin 15 januari 2018

24

Investor Daily/EMRAL

Sucipto Direktur Utama PT Gapura Angkasa

S ucipto memulai karier ‘banting stir’ menjadi teknisi dan operator peralatan sisi darat ( ground support equipment /GSE) maskapai penerbangan pelat merah, PT Garuda Indonesia (Pesero) Tbk. Profesi baru itu tak hanya memberikan tantangan baru bagi Sucipto, tapi juga mengobati kekecewaannya setelah gagal tes sebagai penerbang. Paling tidak, pekerjaan Sucipto masih bertali-temali dengan industri penerbangan. Apalagi ia sempat masuk unit perawatan mesin pesawat terbang. Sucipto lantas mencari peluang untuk mengembangkan karier. Berkat kerja keras, komitmen, dan dedikasinya, Sucipto sejak pertengahan September 2016 dipercaya memimpin PT Gapura Angkasa, anak perusahaan patungan PT Garuda Indonesia (Pesero) Tbk, PT Angkasa Pura I (Pesero), dan PT Angkasa Pura II (Pesero). Gapura Angkasa adalah perusahaan yang bergerak di bidang usaha pelayanan jasa darat bandara ( ground handling ), di antaranya jasa administrasi dan supervisi, jasa pendelegasian, jasa layanan penumpang, ramp services , load control , serta jasa komunikasi dan operasi penerbangan. Gapura Angkasa juga melayani jasa kargo dan pergudangan. Selain itu, Gapura melayani kegiatan usaha lainnya yang sebagai teknisi otomotif di Surabaya. Ia kemudian menunjang bisnis penerbangan di bandara, seperti jasa pendampingan di bandara, garbarata, layanan pengamanan penerbangan, izin terbang, lounge bandara, dan pelatihan. Telah beroperasi di lebih dari 50 bandara di Indonesia, Gapura mampu menangani segala jenis tipe pesawat, baik pesawat komersial, pesawat kargo, pesawat jet pribadi, korporasi, maupun penerbangan VVIP untuk kepala negara. Sucipto mengaku punya jiwa pemberontak dalam arti positif. Pria kelahiran Gresik, 12 November 1959, ini memberontak jika menyaksikan ketidakadilan dan hal- hal di luar kelaziman. “Ketika ada unit yang belum mendapatkan haknya maka saya akan kejar terus sampai dapat,” kata ayah tiga anak ini kepada wartawan Investor Daily Thresa Sandra Desfika dan pewarta foto Emral Firdiansyah di Jakarta, beberapa waktu lalu. Sucipto memiliki filosofi hidup yang amat sederhana, tapi bermakna sangat dalam. “Saya harus memanfaatkan usia yang diberi Tuhan, dengan selalu berbuat kebaikan. Ketika diberi kepercayaan untuk memimpin perusahaan, saya harus menjadikan jabatan ini sebagai sumber daya untuk dijalankan dengan sebaik-

berbuat kebajikan. Jadi, ini untuk menabung energi positif yang memberikan manfaat bagi banyak orang. Kemudian keluarga. Bagi saya, tidak mungkin seorang pemimpin berhasil memimpin perusahaan kalau keluarganya tidak harmonis. Jadi, mesti keluarganya dulu. Saya mencari pemimpin di perusahaan juga begitu. Cara Anda menyeimbangkan hidup? Berangkatnya kan dari rumah. Jadi, di rumah mesti tenteram dahulu. Kalau rumahnya tenteram, di pekerjaan insya Allah akan tenteram. Obsesi Anda yang belum tercapai? Saya ingin perusahaan ini berkembang. Ada beberapa langkah yang disiapkan. Saya siapkan anak-anak untuk ready to grab the future . Ada yang saya kerjakan mungkin tidak akan selesai di masa kepemimpinan saya. Ada bisnis-bisnis tertentu yang akan kami kerjakan, semua on progress dan ini menjanjikan masa depan. Kedua, saya juga minta anak-anak di perusahaan untuk melanjutkan sekolah. Tahun ini saya ingin menyekolahkan anak-anak. Sebab, dengan SDM bersangkutan dan secara korporasi akan menguntungkan perusahaan. Itu obsesi saya. Dari aspek bisnis, saya ingin Gapura mampu menciptakan bisnis lain yang sedikit keluar dari bisnis airport . Kemudian kami juga ingin beroperasi di lingkup yang lebih luas, paling tidak di Asean. q yang unggul, secara pribadi akan menguntungkan yang

mati. Tetapi kalau kami hanya menggantungkan dari sini, ya tidak perlu ada dirut (direktur utama) seperti saya. Jadi, mesti cari revenue stream dari tempat lain, seperti kargo dan pelayanan penumpang di terminal, supaya operasional berjalan. Saya bisa katakan bahwa bisnis ground handling hampir jenuh. Makanya, kami dengan tetangga tidak bersaing. Filosofi hidup Anda? Ada satu kata yang selalu saya ingat, yaitu apa tujuan sebenarnya kita diciptakan Tuhan di bumi ini? Dulu, ada yang namanya Doktor Imanudin, dosen ITB (Institut Teknologi Bandung). Saya dulu sering ikut pengajian beliau. Saat itu saya masih muda, beliau bilang untuk apa kamu diciptakan Tuhan di muka bumi ini? Nah , dari situ saya mulai mencari. Dia bilang kamu diberi umur dan umurmu sangat terbatas maka gunakan untuk kebaikan. Udah itu saja. Itu filosofinya. Jadi, ‘misi’ Tuhan menciptakan kita ini untuk menjadi khalifah di muka bumi, untuk menjadi pengelola sumber daya Tuhan di muka bumi. Maka lakukanlah, itu saja. Ketika kita diberi kepercayaan menjaga keluarga, ya itu sumber daya yang harus kita kelola. Ketika kita diberi kepercayaan menjadi pemimpin, ya itu sumber daya yang harus kita jalankan dengan sebaik- baiknya. Saya sebenarnya sudah pensiun. Karena diberi amanah untuk memimpin perusahaan ini, saya tidak boleh menyia-nyiakan amanah tersebut. Ini kapital bukan untuk aji mumpung. Ini modal, kesempatan, atau bonus untuk

berdiri, saya diminta untuk pindah ke Gapura dengan posisi VP ( Vice President ) Operations. Sebelum masa pensiun tiba pada Desember 2015, saya dipanggil sebagai anggota direksi, yaitu Direktur Operasi. Belum genap setahun, pada September 2016 saya dipanggil untuk diberi kesempatan menjabat sebagai Direktur Utama. Kiat sukses Anda dalam berkarier? Saya selalu melihat peluang. Seberapa besar probability saya untuk berkarier di unit itu. Kemudian saya lihat kalau di sini mentok, mungkin hanya akan menjadi kepala teknik, misalnya. Kedua adalah tantangannya. Saya menargetkan bukan kolega saya, tapi atasan saya sebagai target, dia adalah ‘pesaing’ saya. Makanya saya lihat dia, bagaimana dia bisa menjadi kepala. Misalnya dia harus bekerja 10 jam sehari maka saya harus bekerja 11 jam. Untuk itu perlu energi dan punya kemauan. Kalau orang punya kemauan tidak punya energi, pasti letoy . Target itu bukan berarti apa- apa, hanya sebagai patokan. Alasan Anda memilih karier di industri penerbangan? Sebenarnya saya tidak memilih karena awalnya saya bekerja di sektor otomotif. Sebetulnya dulu saya ingin menjadi penerbang, tapi mungkin secara fisik tidak memadai, sehingga saya tidak lulus. Padahal, tingkat persaingan pada zaman itu tidak sesengit sekarang. Dulu saya montir di otomotif, lalu masuk maskapai penerbangan sebagai operator dan mekanik GSE ( ground support equipment ). Setelah berijazah S1 saya mendapat kesempatan masuk bisnis inti di penerbangan untuk pertama kalinya, dengan masuk di perawatan mesin pesawat. Anda menerapkan gaya kepemimpinan seperti apa? Ayah saya bilang , dalam diri saya ada jiwa pemberontak, sehingga ketika melihat ketidakadilan pasti saya berontak. Itu saya bawa ketika memimpin. Ketika ada hak yang harus diperoleh suatu unit di perusahaan maka saya akan kejar terus. Dulu, saya pernah menjadi Kepala Seksi dan Senior Manager , saat itu pun saya sering ‘memberontak’. Secara internal pun, saya bilang kepada tim bahwa kita harus respect each other . Boleh akrab, tetapi jangan kurang ajar. Anda seorang perfeksionis? Dulu, saat menjadi bawahan, saya sebagai atasan, saya yang bertanggung jawab. Jadi, setiap apa yang dilakukan anak buah, saya tanggung jawab sepanjang dia bicara ke saya. Kepada tim, saya katakan juga bahwa jangan berharap semuanya kalau tidak setuju terhadap keputusan atasan, ya saya ungkapkan. Tapi sekarang,

akan sempurna karena itu akan membuat kamu frustrasi. Nobody’s perfect , apalagi perusahaan jasa. Kalau perusahaan di manufacturing bisa, saya bisa periksa kualitasnya pas atau tidak. Di perusahaan jasa tidak bisa. Misalnya pegawai kita hari ini di check-in counter bagus, senyumnya bagus. Besok dia terkena sindrom bulanan, atau sedang ada masalah di rumah dan lain sebagainya. Jadi, jangan harapkan sempurna karena itu akan membuat frustrasi. Tapi dijaga saja semaksimal mungkin. Kalau ada komplain, ya ditangani dengan sebaik-baiknya. Strategi Anda memajukan perusahaan? Tantangan ke depan, menurut saya, sangat berat karena kami sangat bergantung pada maskapai. Jadi, Gapura ini bisa dibilang derivative product dari maskapai penerbangan. Maka apa yang terjadi di industri airlines , kami akan terkena dampaknya langsung. Sejak era deregulasi industri penerbangan, kompetisinya makin sengit. Memang pasar industri penerbangan di Indonesia tumbuh luar biasa pesat. Tapi yang tumbuh hanya menengah ke bawah, terutama maskapai penerbangan berbiaya murah ( low cost carrier / LCC), bukan premium airline . Kami memang tidak mau main di segmen LCC karena marginnya rendah. Sementara di satu sisi, kami membawa misi mendukung operasional salah satu pemegang saham kami. Pemegang saham mayoritas kami harus didukung dan itu komitmen saya, harga

Nama: Sucipto Tempat/tanggal lahir: Gresik, 12 November 1959

Karier: l 1982-1989: Mekanik dan Operator GSE PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Surabaya. l 1990-1998: Engineer, Manager Engineering Project, Senior Manager Engineering Procurement PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Jakarta. l 1998-September 2016: Vice President Operations, General Manager Bandara Soekarno-Hatta, General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Vice President Facility, Vice President Corporate Secretary , Direktur Operasi. l September 2016-sekarang: Direktur Utama PT Gapura Angkasa. baiknya,” papar dia. Bagi Sucipto, memimpin suatu perusahaan adalah amanah yang pantang disia-siakan. “Ini modal untuk berbuat kebajikan, bukan untuk aji mumpung. Ini kesempatan atau bonus untuk kebaikan, untuk menabung energi positif yang memberikan manfaat bagi banyak orang,” tegas dia. Sucipto masih mengejar satu obsesi, yakni menjadikan PT Gapura Angkasa sebagai perusahaan ground handling yang diperhitungkan di lingkup regional. Apa saja strategi yang ia siapkan? Bagaimana Sucipto menyeimbangkan hidup? Berikut penuturan lengkapnya. Bisa cerita perjalanan karier Anda? Karier saya mulai dari nol, dari Surabaya. Kehidupan saya sewaktu muda tidak gampang, sangat keras. Karena faktor ekonomi, setelah lulus SMA, saya tidak bisa melanjutkan kuliah, sehingga saya harus bekerja. Berawal di dunia otomotif, tidak sampai dua tahun, saya kemudian masuk ke maskapai penerbangan pada 1980-an. Saya berkarier mulai dari nol di unit operasi teknik. Saya melihat berkarier di situ akan berat sehingga mesti mencari peluang lain. Tahun kedua bekerja, saya memutuskan kuliah, jadi sekolah sambil bekerja. Alhamdulillah , 3,5 tahun saya lulus karena saya tidak mau berlama-lama. Pada 1989 ada peluang untuk ikuti penerimaan S1 di perusahaan yang sama. Saya coba ikut, saya coba dari awal lagi, saya lulus dan harus pindah ke Jakarta pada 1990. Selanjutnya saya mendapat penempatan di GMF (Garuda Maintenance Facility, unit usaha/anak perusahaan Garuda Indonesa). Pada 1993 ada kesempatan sekolah lagi lewat program perusahaan. Setelah lulus, saya kembali lagi ke GMF. Pada 1998, Gapura Angkasa

S ewaktu muda, Sucipto pernah menjadi wasit bola voli profesional. Ketika itu, ia memang gemar bermain voli. Namun, Sucipto akhirnya memutuskan untuk menjadi wasit setelah disarankan pelatih volinya. “Saat berumur 20 tahun, saya sudah memimpin pertandingan level nasional. Ada salah satu pemain nasional, saya beri kartu kuning karena dia protes terus,” tuturnya. Dengan menjadi wasit, Sucipto ternyata bisa belajar banyak tentang kepemimpinan dan keadilan. Bahkan, pengalaman menjadi wasitlah yang membuat dirinya belajar kepemimpinan. “Menjadi wasit itu mendidik ketegasan. Saya sedih kalau wasit dipukul pemain, misalnya dalam pertandingan sepak bola. Menjadi wasit itu tidak gampang, ia mesti mengambil keputusan yang cepat dan akurat. Ia harus berhitung secara cermat,” tegas dia. Agar tubuhnya tetap bugar, Sucipto rajin berolahraga jalan kaki. “Seminggu tiga kali saya olahraga pagi jalan kaki. Habis salat Subuh, saya sudah berangkat, terus turun di suatu tempat untuk jalan kaki menuju kantor, biasanya 10 km dari kantor. Driver saya suka bingung,” papar pria yang hobi membaca buku ini. (esa)

Investor Daily/EMRAL

Made with FlippingBook Learn more on our blog