ID160721

KAMIS 21 JULI 2016

24

tahun lalu masih tumbuh 19,6%, tapi dibandingkan akhir tahun ini masih minus 4,1%,” jelas dia. Jahja belum dapat memastikan apa- kah permintaan kredit akan mening- kat secara signifikan pada paruh kedua tahun ini. Pasalnya, menurut dia, permintaan kredit sangat dipengaruhi oleh tingkat daya beli masyarakat. Dia pun menilai penurunan suku bunga tidak berdampak banyak dalam mendorong peningkatan permintaan pada kredit modal kerja dan kredit inv- estasi.Meski demikian, Jahja optimistis pada pertumbuhan kredit konsumer perseroan baik KPR maupun KKB. Pihaknya pun merevisi ke atas un- tuk target KPR perseroan dari semula tumbuh di kisaran 8-10% ditingkatkan menjadi 10-11%. Sementara itu, pen- yaluran kredit secara keseluruhan hingga akhir tahun ini masih ditarget- kan tumbuh 10-12%. Menurut dia, daya beli masyarakat saat ini memang agak lemah. Selain itu, pihaknya belum bisa menerjemahkan mengenai pengaruh kebijakan amnesti pajak belum, apa- kah dalam realisasinya nanti akan menambah likuiditas dan ada dampak tambahan lainnya pada peningkatan daya beli, sehingga mendorong per- mintaan kredit. “Tapi memang jika pemerintah nantinya dapat memperoleh tamba- han pendapatan dari amnesti pajak, itu akan membuat pemerintah dapat menggelontorkan dana lebih besar kepada masyarakat, dan membangun infrastruktur yang diharapkan me- nyerap lebih besar tenaga kerja dan mendorong daya beli,” jelas dia. Sementara itu, pertumbuhan DPK BCA didorong oleh pertumbuhan pada dana murah (CASA) perseroan yang tercatat tumbuh 10,2% (yoy) menjadi Rp 381,3 triliun. Dana tabun- gan perseroan tumbuh 12,6% (yoy) menjadi Rp 260,9 triliun, sedangkan dana giro tumbuh 5,4% (yoy) menjadi Rp 120,4 triliun. Dana deposito relatif stabil sebesar Rp 109,3 triliun.

Oleh Agustiyanti

Investor Daily/GAGARIN

JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mem- bukukan laba bersih sebesar Rp 9,6 triliun pada kuar- tal II-2016, tumbuh 12,1% dibandingkan periode sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih dan pendapatan nonbunga perseroan masing-masing 15% (yoy) dan 17,1% (yoy), menjadi Rp 19,76 triliun dan Rp 6,37 triliun.

mang per tumbuhan kredit masih relatif lemah, terutama pada kredit modal kerja dan kredit investasi. Bah- kan, pada Juni yang ada Hari Raya Idul Fitri, tidak cukup banyak memberikan dorongan, di mana penyaluran kredit kami masih sedikit minus dibanding- kan akhir tahun lalu,” jelas Jahja. Dia menilai, sepanjang tahun ini per- tumbuhan kredit yang cukup bagus terjadi pada segmen konsumer, se- dangkan lemahnya permintaan kredit masih dialami pada segmen kredit korporasi. Hingga kuartal kedua tahun ini, penyaluran kredit konsumer BCA tercatat sebesar Rp 106,16 triliun atau tumbuh 9,1% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sementara itu secara year to date (ytd), kredit konsumer tumbuh 4,6%. Per tumbuhan kredit konsumer tersebut didorong oleh kredit pe- milikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB) yang masing-masing tercatat sebesar 8,5% (yoy) dan 11,4% (yoy), menjadi Rp 61,7 triliun dan Rp 34 triliun. Di sisi lain, outstanding kartu kredit tercatat meningkat 5,5% (yoy) menjadi Rp 9,5 triliun. “Kredit korporasi pada kuar- tal kedua tahun ini sebesar Rp 135,4 triliun, memang dibandingkan akhir

Direktur Utama BCA Jahja Setiaat- madja mengatakan, kenaikan laba perseroan antara lain didorong oleh penurunan biaya dana yang signifikan sejak akhir tahun lalu. Penurunan bi- aya dana tersebut mendorong margin bunga bersih ( net interest margin / NIM) perseroan meningkat dari 6,6% pada kuartal II-2015 menjadi 7%, ken- dati pihaknya juga telah melakukan penyesuaian pada suku bunga kredit. “Kami terus menurunkan bunga de- posito dari sebelumnya ada di kisaran 7%, saat ini menjadi 5,25% dan paling tinggi 5,5%. Walaupun bunga pinjaman sudah kami turunkan, memang penu- runan biaya dana lebih besar sehingga NIM kami meningkat,“ kata Jahja di Jakarta, Rabu (20/7). Peningkatan NIM perseroan terse- but pun menjadi pendorong pendapa- tan bunga bersih BCA pada kuartal kedua tahun ini. Adapun penyaluran kredit perseroan hingga kuar tal II-2016 mencapai Rp 387,09 triliun, tumbuh 11,5% dibandingkan periode sama tahun lalu. Tetapi pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan penyaluran kredit perseroan pada akhir tahun lalu yang mencapai Rp 388 triliun. “Pada semester pertama ini me-

Grand Prize Program Tabungan Mega Super Vaganza Direktur Funding & Network Bank Mega Diza Larentie (dua dari kiri) didampingi Regional Manager Bank Mega Banjarmasin Sandhora (kiri) menyerahkan hadiah Grand Prize Program Tabungan Mega Super Vaganza Periode I kepada Asan, nasabah dari Kantor Cabang Pontianak di Jakarta, Rabu (20/7). Bank Mega memberikan hadiah Grand Prize Program Tabungan Mega Super Vaganza Periode I berupa 1 unit mobil Mercedes Benz E250 AVA.

diharapkan akan lebih baik. Adapun padakuartal kedua tahun ini, kredit pada kolektabilitasdua tecatat sebesarRp5,82 triliun, turundibandingkanperiodesama tahun lalu sebesar Rp 6,3 triliun. Seiring kenaikan NPL tersebut, perseroanmenambah biaya pencadan- gan pada semester pertama tahun ini sebesar Rp 2 triliun. Dengan demikian, saat ini total cadangan kerugian pe- nurunan nilai (CKPN) perseroan ter- catat sebesar Rp 10,11 triliun. Adapun coverage ratio perseroan turun dari 292,7% pada kuartal kedua tahun lalu menjadi 193%. Kendati demikian, Rudy menilai coverage ratio perseroanmasih lebih dari cukup untukmengantisipasi risiko NPL.

5,24 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 2,37 triliun. “Kenaikan NPL tidak secara spesifik pada segmen atau sektor kredit meningkat,” kata dia. Peningkatan NPL, menurut Rudy, pada semester pertama tahun ini ka- rena adanya perpindahan pada kredit kolektabilitas dua menjadi kredit kolektabilitas tiga dan seterusnya. Dia pun memperkirakan, kenaikan NPL masih akan terjadi dengan puncak NPL tertinggi pada kuartal ketiga ta- hun ini yangmasih disebabkan adanya migrasi dari kredit kolektabiltas dua menjadi NPL. Menurut Rudy, NPL BCA diperkira- kan membaik mulai awal tahun depan seiring dengan kondisi ekonomi yang

Dengan pertumbuhan kredit dan DPK tersebut, loan to deposit ratio (LDR) BCA pada kuartal kedua tahun ini tercatat sebesar 78,89%. Sedangkan loan to funding ratio (LFR) perseroan tercatat sebesar 77,9%. Sementara itu, rasio kecukupan modal ( capital to adequacy ratio ) BCA mencapai 20,3%. NPL Meningkat Sementara itu, Direktur BCA Rudy Susanto menngatakan, pada kuartal kedua tahun ini, rasio kredit ber- masalah atau non performing loan (NPL) BCA meningkat dari 0,7% pada kuartal pertama tahun lalu menjadi 1,4%. Secara nominal, NPL BCA pada kuartal kedua tahun ini mencapai Rp

prediksi pihaknya dapat menampung dana repatriasi dan dana tebusan sekitar Rp 70 triliun. “Andaikan ke depan pertumbuhan kredit tidak tumbuh kencang lalu terjadi over likuiditas,bank dalam menyerap dana tidak akan menawar- kan suku bunga yang tinggi. Pasti besaran (suku bunga dana) yang diberikan hanya sebatas seberapa tinggi yang dia (bank) dapat keun- tungan daripada penyaluran dana tadi,” jelas dia. Mengenai suku bunga dana, Baiquni juga memperkirakan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 20-21 Juli ini BI akanmemilih keputusan untukmem- pertahankan BI rate di level yang sama. Saat ini, suku bunga acuan BI di level 6,5%. “Sepertinya masih tetap ( BI rate ), lagipula pada Agustus nanti mulai mengacu ke BI seven days repo ,” ungkap dia. (dka) canaan PT Bank Bukopin Tbk Eko R Gindo menjelaskan, pihaknya sudah siap menyalurkan dana am- nesti pajak ke sektor produktif. Dari dana yang ditargetkan sebesar Rp 20 triliun tersebut diharapkan bisa menunjang per tumbuhan kredit tahun ini tumbuh di kisaran 12-15%. Kepala Eksekutif Pengawas Per- bankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nelson Tampubolon menje- laskan, untuk bisa melakukan skema back to back loan , perbankan tidak memerlukan aturan tambahan dari OJK. Bahkan, di dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 118 Tahun 2016 tentang Pengam- punan Pajak, perbankan bisa meng- gunakan sertifikat deposito peserta wajib pajak tersebut sebagai agunan. “Sejauh ini kami belum menambah aturan, namun yang pasti sepanjang aturan yang sudah ada tidak dilarang bisa saja dilakukan,” ungkap dia. Dengan adanya amnesti pajak ini, OJK optimistis bisa meningkatkan pertumbuhan kredit di angka 10-14%. Walaupun pada semester pertama tahun 2016, perbankan mengajukan revisi rencana bisnis bank (RBB) dari semula 14% menjadi 12,5%. “Revisi RBB yang dilakukan tidak mendasarkan pada dampak amnesti pajak, kami juga membuka kesempa- tan bagi bank untukmelakukan revisi RBB lagi pada pertengahan semester kedua tahun ini,” kata dia. (gtr)

(yoy) menjadi Rp 326,10 triliun. “Detailnya belum boleh saya sam- paikan, tunggu pada Jumat mendata- ng (22 Juli 2016). Secara year on year , saya katakanmungkin pertumbuhan kredit kami hingga akhir kuartal II itu secara persentase mirip dengan realisasi pada kuartal I-2016,” kata Baiquni di Jakarta, Rabu (20/7). Pada kuartal I-2016, persentase pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perseroan tidak jauh berbeda dengan persentase pertumbuhan kredit yang sekitar 21%. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, akhir Maret lalu total DPK tumbuh 21,8% menjadi Rp 371,56 triliun dari peri- ode sama pada 2015 yangmenyentuh Rp 305,15 triliun. Sementara itu, terkait tercatatnya BNI dalam bank yang bersedia dan masuk kualifikasi sebagai bank persepsi atas repatriasi dari amnesti pajak ( tax amnesty ), Baiquni mem- Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Maryono menjelaskan, pihaknya juga memiliki produk back to back loan untuk menampung dana amnesti pajak. Produk yang bernama kredit swadana amnesti pajak ini ditawarkan dengan provisi rendah dan rasio kredit terhadap nilai ( loan to value /LTV) sampai dengan 100%. Selain produk tersebut, BTN memiliki produk investasi properti, deposito amnesti pajak, Tabungan Super Untung, dan dana investasi real estat (DIRE). Maryono men- gungkapkan, pihaknya juga beren- cana menerbitkan obligasi sekitar Rp 20-30 triliun dan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) sebesar Rp 10 triliun. Direktur Keuangan dan Peren- vestor. “Apabila ingin dananya tetap dalam dolar AS, kami juga akan in- vestasikan dalam dolar AS misalnya untuk obligasi yang diterbitkan oleh PT Pertamina (Persero) sebesar US$ 1,5 miliar,” ungkap dia. Selain investasi dalam bentuk dolar AS, Rini mengungkapkan, BUMN memiliki proyek-proyek lainnya yang bernilai sekitar Rp 200- 300 triliun. Proyek-proyek tersebut merupakan proyek-proyek green field atau proyek yang baru dimulai dan proyek brown field atau proyek modifikasi dengan nilai risiko yang lebih rendah.

JAKARTA – PT Bank Negara In- donesia (Persero) Tbk (BNI) mem- proyeksikan pertumbuhan kredit pada semester I-2016 hampir sama dengan pertumbuhan pada kuartal I-2016, yakni di kisaran 20%. Pada akhirMaret 2016, BNI membukukan pertumbuhan kredit 21,2% mencapai Rp 326,74 triliun dibandingkan peri- ode sama tahun lalu Rp 269,51 triliun. Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan, pada perten- gahan tahun ini perseroan memu- tuskan untuk tidak merevisi target kredit dalam rencana bisnis bank (RBB) 2016 kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Oleh sebab itu, perseroan tetap mengejar target pertumbuhan yang sudah termuat dalam RBB. Berdasarkan data corporate pres- entation , tahun ini BNI menyasar pertumbuhan kredit 16-18% (yoy). Tahun lalu, kredit BNI tumbuh 17,5% “Dari skema back to back loan , memang kredit yang bisa disalurkan hanya terbatas untuk kredit yang ada di grup Bank Mandiri saja. Namun dengan skema pool fund , dana yang ada di deposito dan giro bisa disalur- kan untuk proyek apa saja di luar bis- nis grup Bank Mandiri,” kata Kartika dalam acara Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), di Jakarta, Rabu (20/7). Apalagi, lanjut dia, Kementerian Badan UsahaMilik Negara (BUMN) sudah memiliki proyek-proyek yang siap untuk menyerap dana amnesti pajak. Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno mengungkapkan, pihaknya pun menyediakan proyek- proyek BUMN dalam bentuk valas agar bisa menjadi pilihan para in- JAKARTA – Sejumlah bank akan melakukan back to back loan untuk mengoptimalkan serapan dana re- patriasi. Skema kredit ini dilakukan dengan menjaminkan deposito dari dana yang direpatriasikan untuk bisa mendapatkan kredit. Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk KartikaWirjoatmodjo menjelaskan, utilisasi dari dana am- nesti pajakmemang harus dilakukan supaya dana yang diperoleh tidak hanya mengendap di perbankan. Bank Mandiri, menurut dia, akan melakukan skema back to back loan dan pool fund untuk bisa mengopti- malkan dana tersebut.

Made with FlippingBook Annual report