ID150120

SELASA 20 JANUARI 2015 2 INTERNATIONAL

Investor Daily/AFP PHOTO/TONY KARUMBA

bom molotov ke banyak bus, mo­ bil, dan tr uk di selur uh negara. Sedangkan polisi membalasnya dengan menembakkan peluru dan gas air mata. “Blokade transportasi aliansi oposisi 20partai yangdipimpinBNPakan terus dilanjutkan hingga pemerintah setuju dengan permintaan kami,” ungkap juru bicara partai Sayrul Kabir Khan. Khan menambahkan, pada saat ini tidak ada petugas keamanan yang ada di luar kantornya. Blokade itu sendiri telah menganggu perekonomian ne­ gara yang sangat miskin ini. Blokade itu mengganggu pengiri­ man garmen dari ribuan pabrik. Bangladesh merupakan negara ek­ sportir pakaian terbesar kedua setelah Tiongkok. Bahkan pihak operator transportasi memperkirakan rugi US$ 26 juta per hari. Sedangkan tanaman senilai jutaan dolar membusuk di ladang. Adapun menurut harian Bengali, Prothom Alo , sejak 4 Januari sebanyak 238 kendaraan sudah dibakar dan 307 lainnya dirusak. Demonstrasi itu digelar karena Zia ingin Hasina me­ nyerukan pemilihan umum (pemilu) baru setelah pemilu kontroversial di tahun lalu yang diboikot oleh partai-partai oposisi. Pemboikotan itu dilakukan karena ada dugaan kecurangan. Boikot itu sendiri artinya sebagian besar kursi anggota dari 300 kursi di parlemen dikembalikan tanpa ada per­ lawanan dan menyerahkan kekuasaan kepada Hasina untukmenjabat selama 5 tahun mendatang. (afp/pya) reaksi secara terbuka atas pemulihan hubungan itu. Hari pertama pembicaraan akan berpusat pada migrasi, isu yang telah menjengkelkan kedua negara selama beberapa dekade. Sebab, warga Kuba terus berduyun-duyun menggunakan perahu reyot, untuk melintasi lautan sepanjang 145 kilometer di perairan yang dipenuhi ikan hiu untuk menca­ pai Florida, AS. Kemudian pada Kamis (22/1) waktu setempat, kedua pihak akan memba­ has proses untukmembangun kembali hubungan diplomatik dan membuka kembali kedutaan masing-masing. “Saya pikir kunjungan Jacobson adalah bersejarah dan itu akan mem­ bawa perubahan, tetapi penting untuk menyadari bahwa tidak bisa meng­ harapkan keajaiban tiba-tiba,” kata pengamat Amerika Latin di Dewan Atlantik, Peter Schechter. Kuba telah menyuarakan harapan bahwa normalisasi hubungan akan berimbas pada perbaikan kehidupan sehari-hari, di negara yang mana rak supermarket kosong dan orang hanya berpenghasilan sekitar US$ 20 per bulan. Di AS, kebanyakan warganya menyetujui langkah Obama. Sebuah survei yang dirilis akhir pekan lalu menunjukkan bahwa dua pertiga lebih menyukai untuk mengakhiri embargo atas Kuba. (afp/leo)

Diskusi yang dipandu oleh modera­ tor Didik J Rachbini itu juga mengha­ dirkan pembicara lainnya, yakni Group Editorial Board BeritaSatu Media Holdings Tanri Abeng, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagyo, Presiden Direktur BeritaSatu Media Holdings (BSHM) Theo L Sambuaga, Direktur Kerja Sama Asean Kemen­ terian Perdagangan Donna Gultom, Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan , Investor Daily , Beritasatu.com Primus Dorimulu, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, dan Anggota DPR dari Fraksi PAN Abdul Hakam Naja. Pemerintah, lanjut Suryo, juga perlu mengubah pola pikir dalam mem­ buat kebijakan. Salah satunya adalah mendorong BUMN agar bisa lebih bersaing, dan bila perlu harus berani mempekerjakan warga negara asing di BUMN untuk mendapatkan hasil yang optimal. Untuk menghadapi MEA, kata dia, tidak harus dari sektor swasta yang mempersiapkan, namun juga peme­ rintah dalam hal ini perusahaan-peru­ sahan BUMN. Menurut dia, perubahan pola pikir diperlukan untuk membawa perusa­ haan BUMN unggul dibandingkan negara lain. Pasalnya, persaingan negara Indonesia dengan negara lain amat ketat. Dia mencontohkan Singapura dan Malaysia yang berani menempatkan orang asing untuk memimpin peru­ sahaan BUMN-nya. “Mungkinkah itu bisa kita lakukan?. Ini perlu perubahan sikap. Masalah yang kita hadapi, kita sendiri yang buat. Apa ruginya BUMN kita dikeloa oleh profesional asing, toh mereka kerja buat kita, daripada dijual ke asing,” ucap Suryo. Selain itu, pemerintah harus segera membangun infrastrutur, terutama DHAKA – Pemerintah Bangladesh pada Senin (19/1) mengakhiri masa pengurungan terhadap pemimpin oposisi Khaleda Zia di kantornya, menyusul gelombang kekerasan poli­ tik yang menewaskan 27 jiwa terkait tindakan tersebut. Namun partai pimpinan Zia ber­ janji untuk terus melanjutkan blokade transportasi nasional. Zia dilarang meninggalkan kantornya selama 16 hari terakhir, untuk mencegah dirinya menjadi ujung tombak demonstrasi yang ditujukan untuk mengguling­ kan rivalnya, Perdana Menteri (PM) Sheikh Hasina. Polisi yang ditempatkan di luar kan­ tor Zia, di distrik kelas atas Gulshan, Dhaka, ditarikmundur pada Senin. Se­ dangkan dua mobil polisi dan meriam air yang sebelumnya terparkir di luar sudah dipindahkan. “Kami telah menarik mundur kea­ manan tambahan dari kantornya selepas tengah malam,” ujar kepala kepolisian setempat Rafiqul Islam. Dia menambahkan bahwa mantan perdana menteri dua kali itu bebas untuk pergi. Pengepungan yang ter­ jadi di kantornya memicu gelombang kerusuhan politik di seluruh negeri sehingga menewaskan 27 korban jiwa dan ratusan lainnya luka-luka. Akan tetapi pemimpin partai oposisi Partai Nasional Bangladesh (BNP) itu menegaskan pihaknya tetap ber­ janji untuk melanjutkan blokade transportasi, yang diserukan selama dia dikurung. Blokade itu sudah berimbas pada aksi para aktivis oposisi melempar HAVANA – Amerika Serikat (AS) dan Kuba akan mengadakan pem­ bicaraan tingkat ter tinggi dalam beberapa dekade pada Rabu (21/1) waktu setempat. Pembicaraan ini akan menandai berakhirnya permusuhan era Perang Dingin danmembuka jalan bagi normalisasi hubungan, termasuk pembukaan kembali kedutaan besar. Para pejabat senior AS dan Kuba akan bertemu selama dua hari di Ha­ vana untuk membahas isu-isu imigrasi dan rancangan untuk kembali men­ empatkan duta besar masing-masing, lebih dari setengah abad setelah hubungan diplomatik terhenti pada 1961. Pembicaraan di ibukota Kuba itu akan berlangsung lima pekan setelah Presiden AS Barack Obama dan kole­ ganya dari Kuba Raul Castro secara bersamaan membuat pengumuman penting bahwa negaranya akan beru­ saha untuk menormalkan hubungan. Roberta Jacobson, wakil menteri luar negeri AS urusan Belahan Bumi Barat, akan memimpin delegasi AS. Sedangkan Kuba akan diwakili oleh Direktur Kementerian Luar Negeri Urusan AS Josefina Vidal. Sebagai dua negara yang berdeka­ tan lokasinya, ada satu tokoh yang telah merasa tenang dan absen dari muka umum. Mantan pemimpin Kuba Fidel Castro (88) belum be­ Sambungan dari hal 1

Unjuk Rasa Siswa SD Siswa SD Lang’ata berhamburan ke atas jembatan di kota Nairobi, Kenya, Senin (19/1) setelah polisi melemparkan gas air mata untuk membubarkan unjuk rasa mereka menolak penutupan lapangan sekolahnya. Tanah di mana lapangan itu berada diduga diserobot oleh seorang politikus kuat di Kenya.

industri manufaktur, bahan baku dan barang modalnya sudah ada,” ujar dia. Di bidang labour market , pemerin­ tah harus bisa menemukan strategi bagaimana agar tenaga sektor infor­ mal yang mencapai 70 juta bisa cepat dididik. “Kita harus lebih memper­ hatikan hal itu agar bisa bersaing,” ungkap dia. Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, faktanya Indo­ nesia sedang dijadikan pasar dan ke depannya masih akan sama. “Kalau harus bersaing dalam MEA, kita di dalam negeri saja masih terseok-seok. Ketika pengawasan masih lemah dari pemerintah, potensi masuknya pro­ duk yang tidak sesuai standar sangat besar,” ujar dia. Saat ini, kata dia, produk-produk yang ber-SNI hanya sekitar 10-20% terhadap total produk yang beredar di pasar. Tiga Masalah Sementara itu, Anggota DPR dari Fraksi PAN Abdul Hakam Naja men­ ganalisis, problem pertama yang dih­ adapi Indonesia dalam pemberlakuan MEA adalah daya saing ( competitive- ness ). Problem kedua yang terjadi adalah, keuangan dan perbankan lokal belum siap. “Kalau di 2015 akan dilakukan perdagangan bebas Asean, kesiapan lembaga keuangan dan perbankan patut dipertanyakan,” papar dia. Permasalahan ketiga adalah, pe­ merintah Indonesia dalammengambil pertimbangan sering lebih melihat ke bangsa lain tanpa mengedepankan kepentingan nasional. “Pemerintah kita kelihatannya, kalau negara lain tanda tangan, ya kita ikut tanda tangan juga. Kita harus mulai mengambil sikap, mana yang kita setujui karena bisamendorong kepentingan nasional, dan mana yang tidak menguntungkan kita coret,” ujar dia. (c05) Namun, sementara sebagian besar itu berasal dari wilayah Afghanistan dan Pakistan, sekarang kita melihat lebih dari itu yang keluar dari Irak dan Suriah,” kata Cameron. Kejaksaan Belgia menyatakan ada beberapa sel teror yang terbongkar pekan lalu di kota Verviers. Mereka baru kembali dari pertempuran di Suriah. Dua orang tewas oleh petugas dalam penggerebekan itu. Direktur Europol Rob Wainwright mengatakan kepada Sky News akhir pekan lalu bahwa pasukan keamanan menangkap sedikitnya 28 orang di Eropa sejak serangan Paris dan an­ caman yang ditimbulkannya sangat mendesak dan serius. Pegida, kelompok anti-Islam dari German, membatalkan rencana protes di Dresden pada Senin malam setelah pertemuan dengan polisi atas masalah keamanan. Juru bicara Pegida, Katrin Oertel mengatakan ancaman untuk menyerang anggota kelompok telah dilaporkan oleh pemimpin DPA Lutz Bachmann. Kelompok ini menarik 25 ribu orang untuk berdemo di Dresden pada 12 Januari. Belgia telahmengerahkan sebanyak 300 tentara untuk melindungi sasaran potensial, seperti lingkungan Yahudi, lembaga-lembaga UE dan kedutaan. Level waspada dinaikkan satu level menjadi kuning atau tingkat tertinggi ketiga. (bloomberg)

mengatakan, Indonesia berada di urutan ke-114 dari 120 negara dalam hal koordinasi kebijakan. Padahal, Malaysia di posisi ke-6, naik dari se­ belumnya 18. “Jadi mereka membuat banyak policy correction , kita jauh dari itu. Sekarang pertanyaannya adalah, apa yang kita lakukan agar pelaku ekonomi bisa mengembangkan usaha­ nya agar kompetitif. Jadi, banyak yang bisa kita perbaiki kalau ada political will to do it ,” papar dia. Tanri menegaskan, kesiapan dan daya saing bangsa tidak bisa lepas dari kebijakan dan manajemen yang baik. “Kalau bicara persiapan, pelaku ekonomi pasti siap, tapi apa environ- mental mendukung,” ungkap dia. Dia mengungkapkan, untuk solusi jangka pendek, pemerintah harus melakukan pemetaan masalah, selan­ jutnya disusun langkah yang harus dilakukan, dan keluar dengan kebija­ kan yang tepat. Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagyo menilai, Indonesia tampa­ knya masih belum tahu apa yang akan dijual untuk memenangkan persaing­ an di MEA. Selain itu, pemerintah juga tidak punya negosiator andal dalam memperjuangkan kepentingan nasi­ onal. “Jadi, mereka hanya melihat kita sebagai pasar, dan kita harus hindari hal itu,” tutur dia. Agus menambahkan, menki per­ ekonomian perlu mengendalikan kebijakan-kebijakan departemen di bawahnya, dan memastikan kebijakan yang dibuat selaras dengan tujuan bersama. “Perbaiki ini saja dulu, baru bicara persaingan,” tambah dia. Pemimpin Redaksi Investor Daily , Suara Pembaruan , dan Beritasatu. com Primus Dorimulu menambahkan, Indonesia harus banyak belajar dari Singapura untuk menjadi basis pro­ duksi. Selain itu, sekarang merupakan waktu yang tepat untuk membangun industri bahan baku dan barang modal. “Jadi saat kita membangun kan lebih dari 20 negara, termasuk Amerika Serikat (AS) dan negara- negara Arab. Para partisipan akan fokus bagaima­ na mengalahkan NI, kelompok radikal yang mendominasi banyak wilayah di Suriah dan Irak. Mogherini menam­ bahkan perlu ada berbagi informasi lebih lanjut dan kerja sama lebih erat antarnegara anggota. “Apa yang para teroris ini tunjuk­ kan adalah penyimpangan dari agama besar. Mereka bukan penganut sejati, mereka adalah fanatik yang mengkul­ tuskan dirinya pada kematian,” kata Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron, dalam sebuah wawancara dengan CBS TV saat berkunjung ke Washington, AS pekan lalu. Teroris Eropa terinspirasi oleh NI dan kekhawatiran makin besar tentang pengaruh para pejuang as­ ing di dua negara itu terhadap para ekstremis domestik. Surat kabar Ob- server melaporkan sekelompok orang beranggotakan sekitar 30 perempuan Inggris yang berbasis di Suriah utara telahmenggunakan akun media sosial untuk merekrut ekstremis agar mel­ akukan serangan di Inggris. Tulisan itu mengutip penelitian oleh Interna­ tional Center yang berbasis di London untuk Studi Radikalisasi. “Ancaman ini terus berubah, karena itu adalah masalah mendasar yang sama, yakni teror Islam ekstrimis.

Oleh Leonard AL Cahyoputra  BRUSSELS – Para menteri luar negeri Uni Eropa (UE) pada Senin (19/1) menyerukan aliansi dengan negara-negara Muslim untuk memerangi ancaman milisi Islamis. Eropa dalam status siaga tinggi menyu- sul serangan-serangan di Paris dan penggerebekan terorisme di Belgia.

harus bisa mencapai 40%. “Selama ini kita sepertinya tidak pernah melirik pasar di negara Asean lainnya. Dengan adanya MEA ini, kita harusnya bisa memanfaatkannya sebagai upaya pembukaan pasar di Asean,” papar dia. Donna melanjutkan, Indonesia juga masihmengabaikan pentingnya skilled labour . “Padahal ini kesempatan. Ha­ rusnya ini digarap. Dengan banyaknya jumlah penduduk di Indonesia, kita bisa menjadi lead di Asean,” jelas dia. Menurut Donna, Kementerian Per­ dagangan berusahamemberikan trade facility , seperti misalnya perizinan satu pintu. “Dengan sisa waktu yang ada, kita masih bisa kejar. Kalau PR kita kerjakan, negara Asean lain akan khawatir terhadap kita,” ujar dia. Dia menambahkan, ada beberapa produk industri yang bisa diandalkan untuk mendongkrak perdagangan di luar negeri, yakni tekstil dan produk tekstil (TPT), elektronik, dan furnitur. “Ini yang harus digarap. Presiden menargetkan ekspor produk-produk tersebut bisa naik sampai 300%, keli­ hatannya mustahil, tapi akan coba kita kejar,” jelas Donna. Sementara itu, Group Editorial Board Beritasatu Media Holdings (BSMH) Tanri Abeng mengatakan, pemerintah kadang lupa jika semua rencana harus ada mekanisme kon­ trolnya. Dia mencontohkan, peme­ rintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik 35 ribu megawatt. Tapi, program pengadaan listrik yang dicanangkan sebelumnya 60 persen­ nya tidak jalan. “Apa pemimpin tidak menyadari, ini butuh proses manajemen yang luar biasa, karena infrastruktur adalah kunci. Walaupun di lapangan yang akan bersaing adalah pelaku usaha, tapi mereka tidak sendiri. Itu akan percuma jika policy dan infrastruktur tidak mendukung,” kata dia. Mengutip data World Bank, Tanri mannya tidak hanya yang kami hadapi di Paris tapi juga di banyak belahan lainnya di dunia,” tutur Mogherini. Al Arabi mengatakan, setiap negara di dunia menderita akibat terorisme. Ia mengulangi lagi pernyataan Liga Arab pada September 2014 bahwa penanggulangan terorisme adalah perjuangan global. “Ini bukan hanya masalah militer atau keamanan, tapi juga mencakup urusan intelektual, budaya, media, dan agama. Cakupan kerja sama ini yang kami upayakan,” kata dia. Pemerintah negara-negara Eropa akan fokus pada kerja sama kepolisian lebih baik dan meningkatkan kecer­ dasan dalam respons awal terhadap an­ caman teror dari kelompok-kelompok ekstremis Islam. Pertemuan kedua para menlu UE di London, Inggris, pada 22 Januari 2015 akan melibat­

kita sudah siap? Saya kok tidakmelihat itu,” ujar dia. Menurut Suryo, dirinya belum me­ lihat adanya kebijakan strategis yang dibuat pemerintah agar Indonesia mampu menghadapi MEA. “Memang harus diakui, Indonesia dalam mem­ buat kebijakan biasanya sangat tidak jelas, amburadul,” ungkap dia. Sur yo mencontohkan kebijakan pemerintah di bidang energi. Saat ini industri di dalam negeri butuh banyak gas, tapi kenapa malah jual gas dengan harga yang lebih murah ke negara lain. “Ini kan ibaratnya kita mensubsidi negara yang lebih kaya dari Indonesia,” papar Suryo. Padahal, kata dia, beberapa negara Asean lainnya sudah lebih maju pola pikirnya, dan lebih enterpreneurial da­ lammenghadapi persaingan saat MEA diberlakukan. “Kalau dunia usaha kita jelas dihadapkan pada situasi yang kurang menguntungkan dibanding tetangga. Kita tidak berada di level playing field yang sama, misalnya saja bunga bank, pajak, dan biaya logistik Direktur Kerja Sama Asean Kemen­ terian Perdagangan Donna Gultom mengatakan, Indonesia memiliki 40% jumlah penduduk Asean, sehingga berpotensi dijadikan pasar bagi negara Asean lainnya saat MEA diberlakukan. Sementara itu, kontribusi ekspor In­ donesia masih sekitar 20%. Padahal, negara lain seperti Thailand sudah mencapai 70%. “PR kita banyak sekali. Intratrade kita dengan negara Asean juga tidak pernah sampai 30%, paling sekitar 25- 26%,” jelas Donna. Persentase intratrade yang masih rendah itu, lanjut Donna, harusnya menjadi peluang bagi Indonesia untuk menggenjot ekspor. Terlebih, Presi­ den Joko Widodo sebelumnya telah menargetkan persentase intratrade yang lebih mahal,” jelas dia. Dongkrak Perdagangan Pasukan Belgia berpatroli di jalan- jalan di sekitar markas UE di Brus­ sels dan kota-kota lain. Tapi fokus blok 28 negara ini adalah bagaimana mencegah warga garis keras kembali dari Suriah serta Irak. Sekjen Liga Arab Nabil Al Arabi ikut serta dalam pertemuan di markas UE itu. Pertemuan digelar kurang dari dua pekan setelah tiga pria bersenjata di Prancis menewaskan belasan orang di Paris. Mereka mengklaimberaksi atas nama Al Qaeda dan kelompok Negara Islam (NI). Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Federica Mogherini mengatakan, terorisme dan serangan teroris menar­ getkan hampir seluruh umat Muslim di dunia sehingga membutuhkan kerja sama. “Kami harus memperkuat kerja sama, utamanya dengan negara-nega­ ra Arab tapi juga secara internal. Anca­

listrik dan transportasi. Sedangkan di bidang perdagangan, pemerintah harus menyiasati hambatan non tarif ( non tariff barrier ), misalnya dengan SNI, manual berbahasa Indonesia, dan ekolabeling. Dia mengatakan, sejak tiga tahun yang lalu, pihaknya telah meminta semua kalangan menghentikan per­ tanyaan apakah Indonesia siap dengan MEA 2015, karena akan lebih baik jika pertanyaannya diubah menjadi, seberapa besar persiapan yang sudah dilakukan. Jadi, saat pertanyaan itu muncul lagi, setidaknya sudah ada kemajuan yang dicapai. “Intinya, bagaimana kita sebagai kelompok negara Asean bisa mening­ katkan daya saing, karena MEA akan menjadikan Asean sebagai basis pro­ duksi dan pasar bersama,” ungkap dia. Dengan sendirinya, kata Sur yo, pengusaha dituntut untukmenyiapkan diri dalam menghadapi MEA. Karena jika tidak siap, mereka akan kesulitan dan lebih ekstrem lagi, usahanya akan bangkrut. Hal lain yang jarang dipertanyakan, menurut Suryo, adalah apakah pe­ merintah Indonesia sudah siap dalam menghadapi MEA. “Kalau pelaku usaha terus yang ditanya sudah siap atau belum, mau tidak mau mereka harus siap. Tapi apakah pemerintah

Made with FlippingBook flipbook maker