SP171215

Suara Pembaruan

Utama

2

Jumat, 15 Desember 2017

Satgas Pangan Mengendur?

[JAKARTA] Perkembangan tek- nologi informasi telah mengubah pola komunikasi di dalam keluar- ga, terlebih lagi pada anak anak generasi milenial yang hidup dan tumbuh dengan dunia digital. Dari 264 juta jumlah penduduk Indonesia, sebanyak 133 juta (50%) adalah pengguna internet. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan, ada 24,4 juta peng- guna internet berusia 10-24 tahun. Banyak konten negatif di internet, terutama media sosial, yang me- ngandung unsur pornografi, keke- rasan, ujaran kebencian, paham radikalisme, dan intoleransi. Peran orangtua dalam keluar- ga, terutama ibu, sangat penting untuk mencegah anak terpapar konten negatif di internet. Menjadi ibu cerdas di era teknolo- gi informasi yang berkembang pesat menjadi suatu keharusan dengan terus meningkatkan litera- si digital. Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariana mengatakan, literasi digital di kalangan orang- tua, khususnya para ibu, sangat penting. “Dengan literasi digital yang baik, orangtua bisa tahu apa- kah ketika berbagai foto atau in- formasi membahayakan atau beri- siko bagi anak,” katanya kepada SP di Jakarta, Jumat (15/12). Para ibu, ujarnya, harus bisa beradaptasi dengan pesatnya per- kembangan teknologi informasi dan telekomunikasi di era digital. Hal ini untuk mengurangi gap an- tara orangtua dan anak. “Jangan malas membaca. Harus bergaul dan sensitif serta mendengarkan dan mengorek informasi terkait kehidupan dan aktivitas anak di dunia digital,” ujarnya. Menurutnya, teknologi dibuat untuk memudahkan manusia. Namun, kita perlu cermat, ber- tanggung jawab, dan bijak dalam menggunakan teknologi digital. Para orangtua harus konsisten da- lam menegakkan aturan terkait penggunaan internet di kalangan anak-anak. “Misalnya, menjelang waktu tidur, makan, dan belajar anak-a- nak diwajibkan ‘puasa’ gawai. Komitmen puasa gawai artinya tahu waktu kapan menggunakan- nya dengan baik. Jangan sampai S atuan Tugas (Satgas) Pangan yang dibentuk Polri bakal menggelar operasi pasar pada 195 lokasi di 82 kabupaten dan kota se- luruh Indonesia menjelang hari raya Natal 2017 dan Tahun Baru 2018. Operasi di- gelar untuk memastikan ke- tersediaan dan kelancaran distribusi bahan pangan po- kok. Langkah yang sama juga dilakukan saat Lebaran lalu untuk mengantisipasi lonjak- an harga pangan. Di balik gencarnya pence- gahan, rupanya tindak lanjut

kinerja Satgas Pangan dika- barkan mulai mengendur. Ada beberapa kasus yang ter- nyata diduga tidak jelas pe- nyelesaiannya dan tidak beru- jung sesuai aturan hukum.

Satgas Pangan menggerebek gudang yang menimbun 182 ton bawang putih impor di Jalan Marunda, Jakarta Utara. Diduga, bawang putih tersebut meru- pakan barang selun- dupan asal Tiongkok dan India yang tidak didukung dengan dokumen importasi yang lengkap. Pengimpornya adalah PT NBM dan PT LBU, sejak April 2017. Ironisnya, sampai saat ini belum jelas tindak lanjut atas penggerebekan tersebut.

“Sejak penggerebekan terse- but penyelesaian atas kasus ini belum terdengar lagi,” ujar sumber tersebut. Selain di Jakarta, pengge- rebekan gudang penimbun bawang putih juga dilakukan di Gang Perwira, Kelurahan Tanjung Mulia, Kecamatan Medan Deli, Sumatera Utara. Dari gudang itu petugas mengamankan 265 ton ba- wang putih dan cabai merah yang dikemas dalam 26.500 karung. Sebagaimana di Jakarta, kasus ini juga belum jelas tindak lanjutnya. [H-12]

“Jangan sampai ada oknum yang berma- in,” ujar sumber SP di Jakarta, awal pekan ini.

Salah satunya terkait im- por ilegal bawang putih, pada pertengahan Mei lalu, jajaran Tim Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri yang tergabung dalam

Ibu Cerdas di Era Digital

saat ini sudah masuk budaya digi- tal, sehingga peran ibu di era digi- tal juga penting. Sebab, katanya, kehadiran ibu penting untuk men- dukung pendidikan generasi yang akan datang. “Kita ingin perubahan budaya digital ini bisa dimanfaatkan un- tuk meningkatkan kualitas hidup, bukan sebaliknya yang justru bisa menghancurkan,” katanya. Para ibu, kata Liza, perlu melek digital sebab anak-anak saat ini menjadi digital netizen . Hal itu untuk menghilangkan jarak antara orangtua dan anak dalam meman- faatkan teknologi tersebut. Salah satu penggagas Sosial Media Festival, Shafiq Pontoh menambahkan, era digital harus disambut dengan sukacita. Namun, dilema digital saat ini yang marak akan konten negatif, membuat sebagian orangtua me- rasa cemas. Tidak hanya penga- wasan yang diperlukan, tetapi ju- ga edukasi. “Sebenarnya, yang harus dila- kukan orangtua adalah edukasi tentang bagaimana melihat digita- lisasi untuk informasi yang ber- manfaat bagi sang anak,” katanya. [DFA/R-15]

anak-anak kecanduan gawai,” ujarnya. Pengamat perilaku sosial Fakultas Psikologi UIN Jakarta Gazi Saloom menambahkan, pan- dangan ibu atau perempuan terha- dap literasi digital anak terbagi menjadi tiga. Pertama, memberi- kan akses secara bebas tanpa ken- dali. Kedua, tidak memberikan akses sama sekali. Ketiga, pilihan jalan tengah, yaitu memberikan akses dengan kendali yang ketat. Sementara itu, internet tidak jarang berisi konten negatif, se- perti pornografi, kekerasan, into- leransi, dan radikalisme. “Peran ibu tentu sangat besar. Sebagai sekolah atau pendidik pertama dan utama, ibu merupakan penen- tu, apakah anak berpeluang men- jadi korban konten negatif atau terselamatkan dari konten terse- but,” katanya. Pengamat teknologi informasi Alfons A Tanujaya mengatakan, ibu merupakan figur sentral yang menjadi jantung bagi sebagian besar keluarga Indonesia. Pada mayoritas keluarga di Indonesia, peran ibu jauh lebih besar ketim- bang ayah, karena mereka yang sehari-hari lebih banyak berinter- aksi dengan anak. “Jadi, kehadiran ibu sangat Figur Sentral

penting dalam menjaga anak agar tidak terpapar konten negatif di internet,” ujarnya. Dikatakan, ba- nyak aplikasi yang bisa digunakan untuk meningkatkan berkomuni- kasi dengan lebih baik dan murah, seperti Whatsapp dapat diguna-

kan untuk melakukan komunikasi dan mengawasi aktivitas anak de- ngan baik. Anggota Komunitas Kebaya Kopi dan Buku yang juga fokus pada persoalan ibu di era digital, Liza Surya mengatakan, Indonesia

Literasi Digital Sangat Penting

S alah satu aktris Indonesia, Marcella Zalianty mengata- kan, literasi digital di antara para orangtua, terutama para ibu, sangat penting. Dengan literasi di- gital yang baik, para ibu bisa meng- awasi anak-anak mereka dalam menggunakan internet. Para ibu bisa memberikan pe- mahaman tentang konten-konten yang ada di internet, termasuk me- nyaring konten negatif di media so- sial. “Saya selalu mengatakan kepa- da anak-anak, saring bofore sha- ring, think positive before post . Sebagai ibu, kita juga harus paham

gital,” ujarnya.

Sebagai penggerak literasi digital anak-anak, Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) 56 itu mengatakan, banyak ditemukan masa- lah-masalah yang mengkhawatirkan di dunia internet, seperti pornografi, ujaran kebencian , cyber bulliying , dan lain-lain. Bahkan, hal-hal negatif itu dilakukan oleh anak-anak yang masih di bawah umur. Ketika literasi digital menjadi no- mor dua, sementara penetrasi penggu- na internet di Indonesia terus mening- kat, maka konten negatif itu harus menjadi perhatian bersama. “Pertumbuhan pengguna yang masif

ISTIMEWA

Marcella Zalianty

perkembangan era digital saat ini. Sebagai perem- puan, kita bukan perempuan tertinggal. Bukan ju- ga perempuan yang hanya mengandalkan atau ter- gantung pada pria. Jadilah perempuan yang memi- liki wawasan luas dengan ilmu pengetahuan dan kecerdasan sebagai landasan dalam berucap, be- raktivitas, dan berkreasi, khususnya pada dunia di-

ini membuka ruang yang lebih luas untuk mening- katnya radikalisme digital. Maka, saya bersama Parfi 56, perwakilan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, komunitas digital, dan para krea- tor, mengusung gerakan nasional literasi digital yang tergabung dalam gerakan @siberkreasi,” tu- turnya. [DFA/O-1]

Made with FlippingBook - Online Brochure Maker