ID190107

senin 7 januari 2019

24

Investor Daily/IST

Larry Ridwan President Director & CEO PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (Net1)

T erlahir di sebuah kota kecil dan terpencil di timur Indonesia tidak setinggi langit. Bermodalkan kemauan yang kuat untuk menjadi orang sukses, setamat SD, Larry kecil meninggalkan kota kelahirannya, Ambon, untuk merantau ke Surabaya demi menimba ilmu dan meraih prestasi. Dengan tekad membuncah, setamat SMP dan SMA di Kota Pahlawan, Larry Ridwan merantau lagi. Yang ditujunya saat itu adalah Amerika Serikat (AS). Di Negeri Paman Sam, pria yang selalu tampil enerjik ini menggondol gelar sarjana teknik informatika. Tapi gelar sarjana di AS tidak diperoleh Larry dengan mudah. Untuk merengkuhnya, ia harus melewati tantangan dan cobaan yang datang silih berganti. Keteguhan hati dan kebulatan tekadlah yang membuat Larry terus melaju. Tantangan yang mengadang Larry Ridwan tak bisa dianggap enteng. Ia merantau ke Negeri Paman Sam menjelang krisis moneter (krismon) pada pertengahan 1997. Ketika krismon mencabik-cabik perekonomian nasional dan mencapai puncaknya pada 1998, Larry tengah berada di AS. Krismon adalah masa-masa yang amat menggetirkan bagi masyarakat Indonesia. Krismon membuat nilai tukar rupiah terjun bebas, inflasi membubung tinggi, pertumbuhan ekonomi minus, angka pengangguran membengkak, dan jumlah penduduk miskin melonjak. Seperti masyarakat di Tanah Air pada umumnya, keluarga Larry Ridwan pun mengalami kesulitan keuangan selama krismon. Terlebih setelah kerusuhan horizontal pecah di Ambon pada awal 1999. mengurangi hasrat Larry Ridwan untuk menggantungkan cita-cita

Dari segi bahasa, kebudayaan, lingkungan, dan lainnya. Di situlah kemandirian mulai terbentuk. Ketika pulang liburan ke Ambon, saya ngobrol dengan teman-teman. Akhirnya saya merasa bahwa saya didorong ke Surabaya itu sesuatu yang positif. Setamat SMP dan SMA, pada tahun 1997 saya ‘dipaksa‘ sekolah ke luar negeri, tepatnya ke AS. Itu sebelum krisis moneter (krismon). Awalnya memang agak sebal, tetapi saya berpikir mungkin ada benarnya orang tua mengirim saya ke AS. Pada pertengahan 1997, krismon terjadi. Konteksnya ada dua, kalau buat orang Jawa, hanya krisis ekonomi. Tetapi bagi orang Ambon ada krisis dan kerusuhan, sebab pada awal 1999 terjadi kerusuhan di sana. Kerusuhan Ambon berlangsung sampai lima tahun. Tentu keuangan keluarga kami kesulitan. Saya telepon orang tua, balik ke Ambon nggak nih ? Nggak , you fight sendirian. Itu jawaban orang tua saya. Maka saya fight di sana. Saya sekolah sambil bekerja macam- macam, termasuk di restoran, seperti McDonald’s. Driver terbesar saya adalah keinginan untuk sukses. Tapi saya menghadapi tantangan berikutnya, yaitu krisis yang kedua di AS. Padahal, saya sudah mendapat pekerjaan yang bagus. Akhirnya saya putusin untuk balik setelah lulus tahun 2001. Karena saya ambil jurusan informatika, saya cari pekerjaan di Indonesia sesuai bidang saya. Waktu itu, saya masuk sebentar di Sigma, hanya tiga bulan saja. Soalnya, saya mendapat tawaran di Citibank, saya ambil keuangan, kredit, dan marketing . Kemudian saya ditempatkan di finance . Bukankah itu bukan bidang Anda? Itu memang bidang yang paling nggak familiar dengan jurusan pendidikan saya. Total saya bekerja 10 tahun di Citibank Jakarta. Posisi terakhir saya adalah Vice President . Saya saat itu Vice President termuda. Kemudian, saya ingin pindah ke perusahaan lokal. Mau pilih perusahaan apa? Saya ingin ke bidang informatika atau teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sesuai background pendidikan saya. Keinginan saya tidak bisa dibendung. Maka ketika ada peluang di First Media, saya pindah ke sana. Saya masuk ke First Media sebagai business developer . Yang di- develop itu apa? Itu project BOLT nantinya. Pertamanya masih di Wmax . Di situlah saya belajar soal teknologi. Saya di First Media sekitar dua tahun. Saya selanjutnya dikasih kesempatan menjadi Chief Finance Officer (CFO). Padahal, terus terang, saya sebetulnya nggak suka menjadi orang finance . Mungkin saya diminta menangani bidang tersebut karena punya background Citibank. Setelah ngurusian Wmax, muncul ide bikin LTE ( Long Term Evolution ). Setelah shareholders setuju untuk LTE , kami mulai bikin BOLT. Jadi, dari Wmax, pindah ke BOLT. Kemudian, saya pindah lagi ke Net1 pada akhir 2015. Daya tarik utama bidang TIK bagi Anda? Selain karena background saya memang informatika, saya juga melihat teknologi informasi nggak bisa dibendung. Mungkin juga karena background masa kecil. Bayangin waktu menonton TV, misalnya program dunia dalam berita, di sini jam 19.00, di Ambon jam 21.00, saya sudah tidur kalau jam segitu . Ada keterlambatan informasi. Sekarang perubahannya sudah ‘gila’. Orang daerah juga bisa lebih maju, mendapatkan update dari luar negeri. Itu alasan kenapa saya kepingin masuk bidang TIK.

Suatu waktu, Larry menelepon orang tuanya, apakah ia harus pulang ke Indonesia atau tetap melanjutkan sekolah di AS. “Orang tua saya menjawab, you fight sendirian,” tutur President Director & Chief Executive Officer (CEO) PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (Net1) itu kepada wartawan Investor Daily Emanuel Kure di Jakarta, baru- baru ini. Akhirnya Larry sekolah sambil bekerja serabutan, termasuk menjadi pelayan restoran. “ Driver terbesar saya adalah keinginan untuk sukses,” tegas Larry. Alih-alih bekerja di bidang teknik informatika sesuai latar belakang pendidikannya, Larry Ridwan malah merintis karier di dunia perbankan, persisnya di Citibank. Larry kemudian melanjutkan karier di PT First Media Tbk, hingga akhirnya didapuk sebagai CEO Net1. Rupanya, Larry sering diminta menempati posisi yang tidak sesuai dengan background pendidikannya. Justru di situlah tantangan sekaligus kuncinya menggapai kesuksesan. “Dengan segala kerendahan hati, ambil kalau dikasih kesempatan. Maju aja , lalu bekerja all out ,” ujar dia. Berikut penuturan lengkap orang nomor satu di perusahaan telekomunikasi Sampoerna Group tersebut. Cerita Anda sampai memimpin Net1? Saya kan lahir di Ambon. Lahir di kota kecil, di kawasan timur Indonesia, dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Saya juga anak cowok satu-satunya. Saya bersekolah SD di Ambon. Waktu mau masuk SMP, orang tua takut saya menjadi anak manja dan tidak mandiri. Nah , waktu masuk SMP, saya dikirim ke Surabaya, sendirian. Begitu pindah ke Surabaya, pertama-tama struggling tentunya.

Kiat Anda mencapai

BOLT sebagai teknologi 4G pertama di Indonesia. Cukup surprise juga karena bisa memiliki 1,3 juta pengguna hanya dalam setahun, dan cuma di Jakarta. Jadi itu sesuatu yang cukup surprise . Kalau di Net1, kami sudah mulai buka jaringan 4G di daerah rural. Contohnya di Talaud, Sulawesi. Responnya juga luar biasa di sana. Apa filosofi hidup Anda? Waduh saya terlalu muda kalau bicara filosofi. Tetapi balik lagi ya , kerja keras, integritas, networking , dan always take the challenge . Harus tetap maju kalau ada tantangan. Obsesi yang masih Anda pendam? Saya ingin bikin impact yang lebih. Kalau dulu di bank mulai dari manager , VP , dan lainnya. Terus di BOLT menjadi commercial director , CFO . Sekarang nggak bisa dimungkiri menjadi entrepreneur itu impact -nya akan lebih besar. Mungkin next step buat saya, saya ingin menjadi entrepreneurship. Bagaimana Anda menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, dan hobi? Yang jelas ada tujuh hari dalam seminggu. Hari Minggu saya nggak boleh diutak-atik. Itu sudah pasti buat keluarga. Berikutnya try to be discipline . Kalau rapat schedule -nya 1,5 jam, ya 1,5 jam. Memang agak susah, tetapi effort -nya harus ke sana. Kebetulan komunikasi saya di keluarga transparan sekali. Misalnya orang-omong work life balance , saya lebih setuju w ork life harmony . Lebih penting lagi kesepakatan komunikasi yang tepat dengan keluarga. Istri tahu pekerjaan saya, anak-anak juga tahu pekerjaan saya, coba diintegrasikan. Punya kegiatan sosial saat weekend ? Saya sih kepingin memiliki program anak asuh, khususnya level mahasiswa. Misalnya mahasiswa yang berbakat tetapi mengalami kesulitan finansial, kami coba bantu. Ini sedang dicari nih , supaya mereka bisa masuk ke lapangan kerja yang bagus. Saya juga sering dipanggil menjadi dosen tamu di perguruan tinggi. Seberapa penting peran keluarga bagi karier Anda? Penting banget dong . Orang sering bilang , di balik kesuksesan seorang pria atau suami, ada sosok wanita hebat yang mendampinginya. Saya pikir itu sangat fundamental. (az)

kesuksesan?

Yang pertama tentu kerja keras. Kedua, saya pikir integritas. Integritas kepada teman, kepada karyawan, kepada atasan, kepada shareholders . Integritas itu sangat penting karena akan terbawa terus ke mana pun kita pergi. Ketiga, always take the challenge . Waktu di First Media, ketika diminta shareholders menjadi CFO , saya kaget. Itu pertama kali saya menjadi anggota direksi perusahaan terbuka. Dengan segala kerendahan hati, saya maju aja . Dikasih kesempatan ya maju aja . Berikutnya adalah networking . Ini tak kalah penting. Dari networking , kita tidak hanya mendapatkan koneksi, tetapi juga dapat insight-insigt baru. Strategi Anda memajukan perusahaan? Begitu dipanggil Group Sampoerna, saya dikasih tahu bahwa sasaran kami adalah untuk rural . Itu line yang membuat saya ingin pindah ke sini. Kami ingin coba, kalau urban bisa, rural pasti bisa. Kami pengen belajar juga, impct di urban ini apa, impact di rural apa? Strategi saya adalah pemilihan target market yang tepat, sesuai karakter frekuensi kami. Berikutya adalah building complementary network . Saya nggak merasa bersaing dengan pemain telko lain. Yang saya build adalah complementary network . Network yang orang lain nggak mau masuk, kami masuk. Berikutnya secara organisasi, saya sebut perusahaan kami adalah internet servive provider ( ISP on steroid) . Izin kami adalah izin telko, tetapi frekuensi kami unik, sehingga cara kerja kami tidak boleh seperti operator pada umumnya. Kami harus lebih agile . Berikutnya adalah kolaborasi dengan semua stakeholder , sebab tidak gampang beroperasi di rural . Selain itu, looking forward . Seperti kita melihat perkembagan machine to machine ( M2M ) maupun internet of things ( IoT ). Ini masih berkembang, maka kami terus mengamati ekosistem ini. Teladan yang Anda berikan kepada bawahan? Kadang-kadang orang terlalu asyik dengan teknologi, sampai lupa SDM (sumber daya manusia). Saya sih sangat percaya dengan people , walaupun semuanya bisa dilakukan dengan teknologi. People

Nama lengkap: Larry Ridwan

Pendidikan: l Bachelor of Science (BSc) Management

Information System, Ohio State University - Columbus, Ohio, AS

Karier: l 2015 – sekarang: CEO &

President Director PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (Net1 Indonesia), Jakarta l 2014 – 2015: Chief Commercial Officer (CCO) PT Internux (Bolt Super 4G) - Lippo Group, Jakarta l 2011 – 2013: Chief Financial Officer (CFO) PT First Media Tbk - Lippo Group, Jakarta l 2010 – 2011: 4G Business Development & Operation Director PT First Media Tbk - Lippo Group, Jakarta l 2009 – 2010: VP Credit Card Head, Mass Segment Market Citibank NA, Jakarta l 2007 – 2009: VP Credit Card Portfolio Management Head Citibank NA, Jakarta l 2005 – 2009: AVP Card Product Manager – Clear, Choice, Gold Citibank NA, Jakarta l 2004 – 2005: Manager Cards Business Planning Head Citibank Na, Jakarta l 2002 – 2004: Asst Manager Cards Business Planning Analyst Citibank Na, Jakarta l 2002 – 2003: Management Associate Citibank NA, Jakarta l 2000 – 2001: JAVA & COBOL Consultant The Ohio State University - Columbus, Ohio, AS l 1997 – 1999: Shift Manager McDonalds - Seattle, Washington, AS jauh lebih penting. Jadi, leadership harus ditanamkan kepada semua bawahan saya. Kedua, kembali lagi ke integritas. Sebagai pemimpin, saya ingin semua seirama dan punya visi yang sama. Jadi, integritas pemimpin itu sangat penting. Visi-misi juga harus sama. Orang joint perusahaan itu kan untuk uang, karier, nama. Dari segi nama, kami bukan perusahaan dengan nama besar, tetapi kami punya visi besar. Contoh gebrakan Anda di perusahaan? Di Citibank, saya pernah membuat kartu kredit co brand . Mungkin yang pertama di Indonesia, yaitu co brand kartu kredit, Citi-Telkomsel. Terus Citi- Giant. Jadi, berkolaborasi. Kalau di First Media launching

Investor Daily/IST

D i tengah kesibukan menyempatkan diri untuk menunaikan salah satu hobinya, yaitu pelesiran. Bagi Larry, travelling bukan sekadar hobi. Dengan melakukan travelling , ia juga memiliki kesempatan untuk melihat pasar lebih dekat. Larry sering memanfaatkan waktu untuk meng- explore daerah-daerah di pelosok Tanah Air sambil menikmati keindahan alamnya. sebagai seorang president director dan CEO, Larry Ridwan masih

Yang pasti, saat travelling , Larry tak pernah lupa membawa sepatu olahraga untuk jogging . “Ke pantai, ke gunung, saya suka. Kalau travelling , saya selalu bawa sepatu lari. Jadi, sekalian jogging di waktu pagi. Di sana kan udaranya masih segar dan bersih,” papar dia. Larry pun kerap memanfaat­ kan waktu senggang di Jakarta untuk olahraga lari, terutama saat car free day . Hobi lain Larry Ridwan adalah bermain golf, tenis, dan membaca buku. “Saya menggeluti semua hobi itu sambil menjalin relasi,” tutur dia. (man)

Made with FlippingBook Online newsletter