SP180407

Suara Pembaruan

Utama

2

Sabtu-Minggu, 7-8 April 2018

Dua Parpol Merapat ke Jokowi?

P ilpres 2019 bakal dimu- lai dengan pendaftaran pasangan calon pada Agustus mendatang. Saat ini, setiap partai sudah sangat serius meneropong elektabil- itas calon-calon yang bakal diusung. Berdasarkan sejumlah survei, ada dua calon yang elektabilitasnya tinggi yakni petahana Joko Widodo (Jok- owi) dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Posisi Jokowi sampai saat ini masih di atas Prabowo. Sumber SP mengungk-

apkan, parpol tentu akan bersekutu memperkuat hasil elektabilitas calon yang tinggi. “Ada dua parpol yang bakal merapat ke kubu Jok-

inan, akan ada semacam deklarasi dukungan dari salah satu atau kedua partai tersebut dalam waktu dekat. “Namun, duku- ngan salah satu partai masih bers- yarat yakni dengan mengambil kadernya sebagai calon wakil presiden- nya Pak Jokowi,” katanya. Sumber tersebut men- gungkapkan, partainya mengapresiasi aneka dukun- gan dari partai politik mana pun, karena itu menambah kekuatan pasukan pemenan-

gan Jokowi. Sedangkan soal cawapres, biarlah nanti diba- has Jokowi setelah Pilkada Serentak 27 Juni 2018. Sejauh ini sudah ada lima parpol di DPR yang berkomitmen mengusung Jokowi pada Pilpres 2019, yakni PDI-P, Golkar, PPP, Nasdem, dan Hanura. Se- mentara di kubu Prabowo ada Gerindra dan PKS yang masih harmonis mengaku berkoalisi. Untuk PAN, PKB dan Demokrat sampai saat ini belum menentukan sikap. [W-12]

owi lho,” kata sum- ber SP , di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (6/4) dini hari.

Artinya, kata sumber itu, koalisi partai pendukung Jokowi akan semakin kuat. Dua partai tersebut sudah mengadakan pembicaraan serius dengan Jokowi belum lama ini. Besar kemungk-

MRT Dorong Pemakaian Kendaraan Pribadi ke Umum

[JAKARTA] Target masyar- akat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Pemprov DKI Jakarta menargetkan pada 2019 nanti, setelah mass rapid transit (MRT) Fase I Lebak Bulus-Bundaran HI beroperasi, 20% dari total perjalanan akan dilayani oleh angkutan umum. Sedangkan pada 2020 ditargetkan akan ada 74 juta perjalanan dalam sehari, dan 22% di antaranya bakal dilayani angkutanumum. Target utama yang bakal dicapai pada 2030 adalah 40% total perjalanan dilayani angkutan umum. MRTberperanmenaikkan penggunaan kendaraan umum olehmasyarakat kendati kecil. Dari data jumlah penumpang yang mampu dilayani yakni sekitar 450.000 penumpang per hari, maka andil MRT hanya sekitar 13% dari selu- ruh layanan angkutan umum atau hanya 2,3% dari seluruh perjalanan di Jakarta. Target penambahan jumlah perjalanan yang diakomodasi angkutan umum tersebut disesuaikan dengan target Kementerian Perhubungan karena Pemprov DKI sendiri sampai saat ini belum selesai menyusun Rencana Induk Transportasi Jakarta (RITJ). “Diselaraskandenganyang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan. Kami terus berupaya mendorong agar target ini bisa terealisasi seiring sarana transportasi publiknya sudah semakin baik,” kata Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Iskandar Abubakar, Sabtu (7/4). Secara terpisah, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, SigitWijatmoko menyebutkan, RITJ bakal rampung pada akhir 2018. RITJ yang disusun meli- batkanDTKJ, BPTJ termasuk akademisi bakal merinci seluruh persentase perjalanan dari angkutan umumyang ada di DKI seperti MRT, LRT, Transjakartamaupun program Oke Otrip. “Akhir tahun ini

ditargetkan bakal rampung. Berapa target persentase per- jalanan dari seluruh angkutan umum nantinya itu sedang kami bahas termasuk rencana induk kereta api,” kata Sigit, Jumat (6/4) malam. Sigit mengatakan, data yang ada sejauh ini, angku- tan umum di DKI melayani 18%dari keseluruhan jumlah perjalanan di Jakarta. Bila mengambil data Badan Pen- gelola Transportasi Jabode- tabek (BPTJ) bahwa jumlah perjalanan di Jakartamencapai 19,4 jutamakaangkutanumum melayani 3,4 juta perjalanan. Sebanyak 16 juta perjalanan masih menggunakan kend- araan pribadi. BiladalamsehariKRLme- layani sejuta penumpang, bus Transjakarta 500.000, MRT dan light rapid transit (LRT) 650.000, maka keempatmoda transportasi baru melayani 2 juta perjalanan. Karena saat ini MRT dan LRT belum beroperasi, diperkirakan 1,25 juta perjalanan dilayani oleh angkut angkutan kota berupa mikrolet, kopaja, maupun metromini. PihakDinas Perhubungan DKI menargetkan pada 2019 nanti, setelah MRT Fase I Lebak Bulus-Bundaran HI beroperasi, peran angkutan umum akan lebih optimal, yakni mencapai 20% dari total perjalanan. Sedangkan pada 2020 ditargetkan akan ada 74 juta perjalanan dalam sehari dan 22% di antaranya bakal dilayani angkutanumum. Target utama yang bakal dicapai pada 2030 adalah 40% total perjalanan dilayani angkutan umum. Sigit menuturkan, MRT yang ditargetkanmengangkut 450.000 penumpang sehari, hingga kini belum ditetapkan besaran tarif tiket perjalanan- nya. Bukan hanya MRT, tarif LRT Jakarta koridor I, Velo- drome-Kelapa Gading yang ditargetkan rampung sebelum Asian Games, Agustus men- datang juga belumditentukan. PengerjaanMRTdilakukan Pemprov DKI bekerja sama

dengan pemerintah pusat dengan pembagian 49%- 51%. MRT bakal beroperasi pada Maret 2019. Uji coba dilakukan Oktober 2018 mengikuti aturan dariMenhub dengan tidak mengangkut penumpang ( non-passenger ) terlebih dulu. Tantangan Menurut Sigit, tantangan dari penerapan angkutan massal modern seperti MRT maupun LRT nantinya adalah bagaimanameyakinkanpublik bahwa moda transportasi ini dapat memberikan pelayanan yang baik seperti bus rapid transit (BRT) yang sudah beroperasi lebih dulu. “Kalau BRT dalamhal ini bus Transjakarta sudah punya pasar. Sekarang bagaimana men- challenge MRT untuk bisa mendapat kepercayaan masyarakat dan jangan nanti malah mematikan angkutan umum yang lain,” katanya. DTKJ meyakini, MRT akan mampu mengako- modasi banyak penumpang

untuk beralih ke transportasi publik apalagi mereka yang berkegiatan atau berkantor di sepanjang koridor MRT yang nantinya juga akan tergabung dengan LRT. “Jaringan transportasi massal pasti akan makin luas dan penumpangnya akan lebih banyak. Ada koridor 13 (bus Transjakarta) yang terkait dengan LRT,” ujar Iskandar. Iskandar memperkirakan, dalamsatuhari kehadiranMRT mampu mengangkut 500.000 hingga 600.000 penumpang. Jumlah yang cukup besar ini diyakini mampu membuat masyarakat beralih dari trans- portasi pribadi ke transportasi publik. Iskandar juga menggaris- bawahi bahwa belum terse- dianya kendaraan pengumpan dari permukiman ke pusat kota ( feeder) yang terintegrasi membuat masyarakat masih banyak yang menggunakan transportasi pribadi. Kondisi seperti ini harus segera diatasi. “Masih terus dikoordinasikan dan dirancang seperti apa

bentuk integrasinya. Kalau bisa terintegrasi dengan Oke Otrip (program Pemprov DKI Jakarta, Red) tentu akan lebih baik. Saya kira hal ini sangat bisa dilakukan. Tinggal bagaimana komunikasi saja dilakukan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Integrasi juga bukan hanya masalah feeder- nya saja tapi juga perlu dipikirkan tarifnya,” ujar Iskandar. MRT juga diharapkan mendapatkan subsidi dari pemerintah pusat agar har- ganya dapat terjangkau dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat seperti halnya Transjakarta yang mendapatkan subsidi sebesar Rp 1,2 triliun per tahunnya dari Pemprov DKI Jakarta. KRL commuter line pun selama ini mendapatkan subsidi dari pemerintah pusat. Karena hanya dengan subsidi lah maka tarif bisa ditekan sehingga menjadi murah dan terjangkau. “Saya kira di negara mana pun di dunia, transportasi publik

pasti mendapatkan subsidi. Jadi semoga MRT pun bisa demikian sehingga tarifnya menjadi terjangkau dan bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat,” tutur Iskandar. Dengan makin luasnya jangkauan MRT apalagi ren- cananya akan dibangun juga di bagian timur dan barat, maka penumpang akan semakin banyakdanmasyarakat beralih ke transportasi umum. Pihak DTKJ menyatakan target masyarakat meng- gunakan angkutan umum diselaraskan dengan yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubunganyakni pada tahun 2019 diharapkan 40%masyar- akat menggunakan transpor- tasi umum. Sedangkan pada tahun 2029 nanti diharapkan sebanyak 60% masyarakat telah beralih dari transportasi pribadi ke transportasi publik. “Kami terus berupaya mendorong agar target ini bisa terealisasi. Semoga bisa terca- pai.Apalagi sarana transportasi publiknya sudah semakin baik,” katanya. [RIA/E-11]

SP/Joanito De Saojoao Gerbong kereta MRT dari Jepang di Tempat Penimbunan Sementara (TPS) dermaga 101, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (6/4).

Made with FlippingBook - professional solution for displaying marketing and sales documents online