ID180604

SENIN 4 juni 2018

24

Novie Riyanto Rahardjo Presiden Direktur Airnav Indonesia

S osok pemimpin yang baik harus bisa menjadi contoh bagi anak buahnya. Bawahan akan termotivasi untuk bekerja jika pemimpin juga giat bekerja. Prinsip itulah yang dipegang Novie Riyanto Rahardjo dalam memimpin Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) yang biasa dikenal dengan nama Airnav Indonesia, satu-satunya penyelenggara navigasi penerbangan di Tanah Air. Novie memikul tanggung jawab besar karena harus memastikan kelancaran dan keselamatan lalu lintas penerbangan di wilayah navigasi udara Indonesia. Apalagi Airnav mengemban misi yang sangat berat, yakni menyediakan layanan lalu lintas penerbangan yang mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan ramah lingkungan demi memenuhi ekspektasi para pengguna jasa. Namun, karena menjalaninya secara ikhlas, Novie tak merasakan tugas tersebut sebagai beban. Karena ikhlas pula, ia menganggap pekerjaan sebagai hobi. Alhasil, semua dijalaninya dengan suka cita. “Ikhlas, itu yang paling penting dalam bekerja. Kalau ikhlas, di mana pun ya enak aja . Jadi, ikhlas itu nomor satu,” tutur Novie Riyanto Rahardjo kepada wartawan Investor Daily Thresa Sandra Desfika di Jakarta, baru-baru ini. Lama berkarier sebagai birokrat di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membuat Novie selalu siap menjalankan tugas di manapun dia ditempatkan. Bagi pria kelahiran Pekalongan, 11 November 1966 ini, kehidupan tinggal dijalani secara lurus dengan taat pada aturan, baik yang digariskan oleh agama maupun negara. Ke depan, Novie Riyanto ingin mewujudkan cita-citanya untuk turut membawa Indonesia menjadi negara yang mandiri di bidang kedirgantaraan. Mengapa dia mempunyai cita-cita itu? Apa saja pencapaiannya bersama Airnav Indonesia? Bagaimana dia mempersiapkan Airnav Indonesia untuk menghadapi tantangan industri penerbangan yang terus bertumbuh? Apa yang dilakukannya sewaktu luang? Berikut petikan lengkap wawancara tersebut: Bisa cerita perjalanan karier Anda? Saya pernah bekerja di swasta, setelah lulus kuliah dulu, di konsultan. Kemudian saya menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Saya menjadi birokrat sejak tahun 1995 sampai 2016. Pada Maret 2017, saya mulai ditugaskan di Airnav. BUMN ini khusus, berbeda dengan Angkasa Pura dan Garuda Indonesia. Kita semua tahu, sesuai peraturan pemerintah (PP No 77 Tahun 2012 tentang Perum LPPNPI) dan sesuai Undang-Undang Penerbangan (UU No 1 Tahun 2009), Airnav ini bisnisnya adalah safety . Namun demikian, karena ini juga merupakan perusahaan, kami tidak boleh rugi. Sejak awal berkarier, Anda langsung berkecimpung di bidang penerbangan? Latar belakang saya dulu engineer umum, kemudian saya masuk Kemenhub, saya sekolah S2 untuk aeronautic , jadi background saya yang

terhadap pariwisata seperti apa? Contohnya di Bali (Bandara I Gusti Ngurah Rai). Di sana satu runway saat ini mampu didarati 30 pesawat udara per jam maksimal. Sebelumnya jauh lebih rendah. Kami tingkatkan terus kemampuannya. Kami bekerja sama dengan Angkasa Pura I sehingga daya tampung di Bali bisa meningkat. Bisa kita bayangkan, kalau misalnya ditingkatkan lagi menjadi 35 pergerakan pesawat per jam pada 2018 ini, berapa turis yang bisa datang ke Bali? Gaya kepemimpinan Anda? Nomor satu yang saya terapkan di sini adalah memberikan contoh, menunjukkan keteladanan, bagaimana bekerja yang baik. Ya , saya harus ikut bekerja, sampai hal yang detail dan teknis pun saya harus tahu. Apa yang dikerjakan anak buah yang di Papua atau yang di Jakarta, yang sangat ramai ini, saya tahu dan saya harus memberikan contoh bekerja yang bagus. Jadi, bagi saya, dalam soal leadership , yang nomor satu itu adalah bisa memberikan contoh kepada anak buah sehingga mereka termotivasi. Apa perbedaan saat menjadi regulator dan operator? Yang saya rasakan dulu sebagai regulator, saya lebih banyak mengonsep sesuatu yang sifatnya standar, seperti untuk safety , peraturan kita harus comply ke internasional, dan sebagainya. Ini dalam bentuk hitam di atas putih, dalam bentuk regulasi, dalam bentuk prosedur. Tapi di sini, kami melaksanakan prosedur itu. Namun, karena saya punya latar belakang regulator, saya aktif memberikan masukan kepada regulator, misalnya ini lho yang kurang dari sisi regulasi, ini yang perlu ditambahkan, ini yang perlu dikurangkan karena tidak implementatif di lapangan. Pandangan Anda tentang kedirgantaraan Indonesia? Indonesia bisa menjadi negara yang mandiri di bidang kedirgantaraan. Karena Indonesia sudah bisa membuat pesawat udara, kami sedang bekerja sama dengan PT Inti, BPPT (Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi), dan TNI AU untuk bisa mandiri di bidang penerbangan. Dari mulai membuat pesawat udara, memproduksi peralatan- peralatan navigasi, ke depan seharusnya kita sudah bisa, termasuk mendidik orang-orang kita supaya mempunyai standar yang Nama: Novie Riyanto Rahardjo Tempat/tanggal lahir:Pekalongan, 11 November 1966 Pendidikan: l Teknik Geodesi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta (1995- 1991) l Fakultas Teknik Aeronautical, Jurusan Aeronautical Exploitation, Ecole Nationale de L’aviation Civile, Toulouse, Prancis (1996-1998) Karier: l Kepala Otoritas Bandara Wilayah II Medan (2014-2015) l Direktur Navigasi Penerbangan Kemenhub (2015-2016) l Presiden Direktur Airnav Indonesia (2016-sekarang)

tadinya insinyur biasa, kemudian masuk ke bidang aeronautic . Dua tahun saya sekolah S2 untuk aeronautic . Seberapa penting bidang aeronautika menurut Anda? Aeronautic sangat penting bagi Indonesia. Indonesia adalah negara besar, sehingga tantangannya pun besar untuk bidang penerbangan. Kita punya 300-an bandara, bisa dilihat seperti apa tantangannya untuk Indonesia. Dulu penerbangan itu moda transportasi kalangan terbatas, sekarang tumbuh menjadi pilihan utama masyarakat. Pasarnya terus bertumbuh. Pertimbangan yang membuat Anda memilih menjadi Dirut Airnav? Masalah memilih, saya tidak bisa memilih. Saya ke Airnav karena penugasan dari negara. Sejak 1995 sampai sekarang, saya adalah seorang PNS, ya saya wajib menerima ataupun mengikuti arahan atasan yang menugaskan saya. Jadi, saya ditugaskan Kemenhub dan Kementerian BUMN untuk menjadi Dirut Airnav. Apa yang Anda rasakan setelah menjabat sebagai Dirut Airnav selama kurang lebih setahun ini? Saya sudah setahun lebih bekerja di Airnav Indonesia. Airnav itu resmi ada sejak September 2012 by law , kemudian berdiri secara de facto pada awal 2013. Maka kalau kita bicara umur, Airnav masih muda dibandingkan BUMN penerbangan yang lain. Meski Airnav relatif muda, saya melihat di sini fondasinya sudah cukup kuat. Awalnya kami hanya mengelola navigasi sekitar 26 bandara, terus meningkat menjadi 100-an bandara, dan terakhir sekitar 300 bandara. Kami memang harus meletakkan fondasi manajemen yang sangat kuat, baik dari sisi organisasi, keuangan, teknis operasi, maupun dari sisi target-target. Airnav tidak bisa lepas dari target, khususnya yang menjadi target pemerintah secara keseluruhan untuk transportasi udara. Gebrakan yang sudah Anda lakukan di Airnav? Hasil nyatanya adalah kita lihat hasil audit ICAO (International Civil Aviation Organization). Navigasi kita nilainya termasuk yang paling tinggi. Capaiannya 86,4% untuk compliance kita ke internasional. Kemudian yang kedua, capaian yang bisa kami banggakan di sini adalah terkait angka kecelakaan. Angka kecelakaan secara nasional, kita almost zero accident di seluruh Indonesia, baik untuk pergerakan pesawat di atas maupun pergerakan pesawat yang di bawah. Capaian ini saya rasa cukup membanggakan. Ketiga, bagaimana kami bisa catch up , kami bisa comply terhadap program pemerintah secara keseluruhan. Pemerintah sangat giat membangun daerah terpencil, kami masuk juga ke sana. Kami dukung 100% program-program pemerintah untuk daerah terpencil, untuk daerah terdalam, termasuk juga mendukung program pariwisata. Bagi program pariwisata, penerbangan menjadi kunci juga. Kalau tidak didukung transportasi udara, program pariwisata sulit dijalankan. Kalau navigasinya maju, transportasi udara otomatis maju. Bentuk dukungan Airnav

Investor Daily/IST

Investor Daily/IST

sederhana, hidup lurus saja. Bagaimana Anda membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga? Kita ini kan manusia normal, yang penting adalah keseimbangan antara waktu saya bekerja dengan waktu saya bersama keluarga. Walaupun kita tahu, untuk orang transportasi, misalnya Lebaran, tidak libur. Saat Natal dan Tahun Baru juga tetap bekerja. Tapi di sela-sela itu tetap masih ada waktu untuk keluarga. Itu yang harus saya gunakan sebaik-baiknya. Yang paling penting, bekerja itu mesti ikhlas. Kalau ikhlas, ya sudah, di mana pun enak aja . Artinya keluarga juga ikhlas. Waktu kita katakanlah 18 jam untuk kantor, ya keluarga ikhlas. Ikhlas itu nomor satu. Kalau bekerja secara ikhlas, kita tidak merasa terbebani sama sekali. q

sama di seluruh Indonesia. Kalau semua sudah mandiri, kita tidak tergantung lagi kepada negara- negara besar. Obsesi Anda ke depan? Karena saya birokrat, saya punya atasan, jadi cita-cita saya sangat sederhana. Intinya, ditempatkan di mana pun saya siap. Mau jadi Dirut Airnav, mau ditempatkan di Direktorat Navigasi Udara (Kemenhub) lagi, mau jadi staf lagi, mau jadi inspektur, saya siap. Karena seorang birokrat itu tidak ada kata menawar untuk ditempatkan di suatu tempat. Saya hanya berusaha menempatkan diri secara tepat di suatu tempat. Filosofi hidup Anda? Filosofi hidup saya sederhana. Saya ingin hidup yang lurus seusai aturan, ingin hidup tidak melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh negara maupun agama. Hidup

M eski berkecimpung di bidang penerbangan, Novie Riyanto Rahardjo ternyata punya hobi yang bersinggungan dengan air. Dia gemar memancing dan berenang. Novie bahkan terkadang melampiaskan hobinya itu di tengah padatnya kesibukan bekerja. “Hobi saya memancing. Tapi sekarang saya tidak punya banyak waktu luang. Cuma terkadang di sela-sela dinas ke suatu tempat, ketika ada waktu kosong, saya menyempatkan diri untuk

memancing atau berenang,” kata dia. Di luar memancing dan berenang, Novie menganggap bekerja adalah hobi yang paling digemarinya. “Bekerja juga menjadi bagian dari hobi saya karena saya menjalaninya secara ikhlas. Kalau bekerja secara ikhlas, kita senang saja menjalaninya,” papar dia. Soal sosok idola, Novie ternyata mengidolakan Presiden RI pertama, Soekarno. “Presiden Soekarno berhasil meletakkan fondasi yang sangat kuat untuk negeri ini,” ujar dia. (esa)

Made with FlippingBook - Online catalogs