ID180919

RABU 19 september 2018

24

akanmenaikkan bunga acuan lagi atau tidak pada September ini. Sedangkan untuk suku bunga kredit pihaknya masih menghitung berapa yang akan dinaikkan. “Untuk bunga deposito saat ini belum kami naikkan lagi, masih tunggu dari BI dulu nanti naik atau tidak. Bunga kredit juga paling yang besar-besar, karena UMKM tidak mungkin dinaikkan bunganya,” terang Suprajarto. Sedangkan menurut Jahja, untuk suku bunga deposito BCA tahun ini sudah naik 1,25%. Pihaknya juga masih akan menunggu bank sentral terlebih dahulu untuk memastikan apakah dinaikkan atau tidak suku bunga acuannya. Special Rate Sebelumnya, Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan mengatakan, sam- pai dengan Juli 2018 LDR industri perbankan berada di ambang batas aman, yakni 93,11%, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 89,20%. Hal tersebut mencerminkan pengetatan likuiditas dan membuat bank besar serta bank menengah menaikkan suku bunga deposito special rate untuk menarik minat deposan. Adapun, jika dirinci dari kelom- poknya, bank umum kegiatan usaha (BUKU) IVataubankbesarmengalami peningkatan LDR dari 86,9% per Juni 2018 menjadi 89,1%. Kemudian, bank menengah yang masuk kelompok BUKU III mengalami kenaikan LDR

suku bunga deposito rupiah bank benchmark LPS pada akhir Agustus 2018 menjadi 5,70%, naik 9 basis poin (bps) dari posisi akhir Juli 2018. Hal yang sama juga terjadi pada rata-rata suku bunga minimum yang naik 5 bps ke posisi 4,81%. Sementara itu, LPS mencatat suku bunga deposito valuta asing (valas) pada periode yang sama juga mengalami kenaikan, untuk rata-rata naik 8 bps, maksimal naik 13 bps, dan untuk minimum naik 3 bps. Kenaikan suku bunga deposito terjadi secara gradual di semua kelompok bank, namun dominan dipengaruhi oleh pergerakan bunga di kelompok bank BUKU III dan BUKU IV. “Bunga simpanan perbankan ke depan masih menunjukkan tren kenaikan sebagai bentuk respons atas kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI),” tambah Doddy. Di sisi lain, suku bunga simpanan valas juga akan naik di tengah masih adanya gap antara bunga valas onshore dan offshore dan bunga term deposit BI yang berada di atas 2% untuk tenor satu bulan. Dalam jangka pendek, kenaikan suku bunga simpanan selan- jutnya akan diikuti pula oleh kenaikan bunga kredit secara bertahap dan selektif menyesuaikan kondisi indi- vidual bank. Menanggapi hal tersebut, Supra- jarto mengaku saat ini belum akan menaikkan kembali suku bunga deposito BRI, dan masih menunggu pergerakan dari bank sentral apakah

tahun ini diperkirakan kredit men- ingkat 10,1% (yoy), tumbuh melambat dibandingkan dengan kuartal kedua 2018 yang sebesar 10,8% (yoy). Untuk DPK, sampai dengan akhir tahun ini diproyeksikan tumbuh 8% (yoy), sampai dengan kuartal ketiga 2018 LPS memproyeksikan DPKmen- ingkat 7,1% (yoy), naik tipis diband- ingkan pertumbuhan DPK semester pertama yang sebesar 7% (yoy). “Di sisi lain, faktor pertumbuhan DPK diyakini akan tumbuh lebih rendah di tengah proses penyesuaian bunga simpanan yang masih berlang- sung. Potensi kenaikan lanjutan pada bunga acuan akan berdampak pada pola pertumbuhan DPK dan kredit,” tambah Doddy. Dengan adanya pertumbuhan kredit yang lebih kencang dibandingkan denganDPK, Doddymengatakan rasio kredit terhadap pendanaan ( loan to deposit ratio /LDR) naikmenjadi 93,11% per Juli 2018. Hingga akhir tahun, LDR perbankan akan cenderung lebih tinggi, di kisaran 91,2% dibandingkan dengan akhir tahun lalu sebesar 89,6%. Terkait LDR, Jahja menyebut, kond- isi likuiditas perseroan sangat likuid. Dia juga menyebut, loan to funding ratio (LFR) BCA per Agustus sebesar 78-79%. “Kami tidak ada isu likuiditas, karena LFR BCA hanya 78-79%, sangat likuid,” ungkap dia. Suku Bunga Be r dasa rkan da t a i nd i ka t or likuiditas yang dirilis LPS, rata-rata

yang signifikan dari 98,0% menjadi 104,3% per Juli 2018. Sementara itu, untuk LDR BUKU II juga naik dari 77,4% menjadi 82,8%. Ser ta kelompok BUKU I tercatat memiliki LDR paling longgar, yakni dari 71,7% per Juni 2018 menjadi 81,7%. “Melihat bank BUKU IV dan BUKU III mengalami kenaikan LDR yang pesar, maka mereka telah menaikkan suku bunga special rate untuk TD-nya, bahkan mendekati atau melampaui suku bunga special rate bank BUKU I dan II,” jelas Fauzi. Dia melanjutkan, berdasarkan pemantauan LPS, suku bunga special rate BUKU IV berada di posisi 6,64%, sedangkan BUKU III sebesar 6,7%. Sementara itu, BUKU II memberikan special rate 6,66%, dan BUKU I se- besar 5,57%. “Suku bunga special rate rata-rata industri 6,65%. Melihat tren ini, kenaikan suku bunga simpanan diperkirakan terus berlanjut,” ungkap dia. LPS memprediksi kenaikan suku bunga simpanan masih akan terus berlanjut meskipun mayoritas bank telah menaikkan tingkat bunga de- positonya. Menurut Fauzi, bank besar tetap harus mendorong pertumbuhan kredit dan DPK lantaran permintaan kredit saat ini masih cukup tinggi. “Harus dua-duanya, karena juga kredit itu memang tumbuh besar. Terutama saat ini pembiayaan proyek dalam bentuk valas, kalau likuiditas ketat tentu akan sulit bagi bank untuk menyalurkan kredit,” ujar Fauzi.

Oleh Nida Sahara

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat kinerja yang positif sampai dengan Agustus tahun ini. Tercermin pertumbuhan penyaluran kredit dari kedua bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV tersebut meningkat dua digit, atau melampaui industri perbankan.

industri perbankan sebesar 11,34% (yoy). Sementara itu DPK hanya tum- buh 6,89% (yoy). Menurut Direktur Group Surveilans dan Stabilitas Sistem Keuangan LPS Doddy Ariefianto, membaiknya per- tumbuhan kredit hingga di atas pertum- buhan DPK pada Juli lalu merupakan lanjutan pola dari bulan sebelumnya. “Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi masih akan berlanjut, namun terdapat faktor risiko yang berpo- tensi mempengaruhi laju kredit di sisa tahun ini, yaitu pertumbuhan DPK yang cenderung melambat dan risiko kenaikan suku bunga sebagai dampak dari kenaikan bunga acuan,” jelas Doddy. Oleh karena itu, LPS memproyek- sikan sampai dengan akhir tahun ini pertumbuhan kredit sebesar 10% (yoy). Sedangkan per kuartal ketiga

Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan, sampai dengan delapan bulan di tahun ini perseroan berhasil mencatat kredit tumbuh 14% secara tahunan ( year on year /yoy). “Secara tahunan kredit di Agustus BRI tumbuh 14% mayoritas dari UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah),” kata Suprajarto kepada Investor Daily , di Gedung BRI, Jakarta, Selasa (18/9). Secara terpisah, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, sampai dengan Agustus tahun ini penyaluran kredit perseroan sudah meningkat 15% (yoy). Kemudian, un- tuk dana pihak ketiga (DPK) tercatat tumbuh 6,6% (yoy). “Pertumbuhan kredit disumbang dari korporasi dan konsumer,” tambah dia. Adapun, berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sampai dengan Juli 2018 pertumbuhan kredit GUANGZHOU – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali menerima penghargaan bergengsi di tingkat internasional, sebagai salah satu lembaga perb- ankan dengan predikat pengelolaan marketing terbaik di Tanah Air. BRI mengeliminasi berbagai brand perb- ankan lain di Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Asia Marketing Fed- eration (AMF) sebagai perusahaan dengan predikat National Champion for Marketing 3.0 kepada Chief of Representative BRI Hong Kong Roby Firmansjah Sastraatmadja, dalam gelaran AMF Asia Marketing Excellence Award, di Guangzhou, Tiongkok, Selasa (18/9) malam. BRI dinilai layak mendapatkan predikat terbaik Marketing 3.0 kar- ena pengelolaan marketing bisnis yang mumpuni, di antaranya BRI telah benar-benar merefleksikan visi, misi, dan nilai perusahaan dalam implementasi marketing -nya. Selain itu, pendekatan marketing yang dilakukan sesuai yang diinginkan dan relevan dengan konsumen atau nasabah. Selain itu,strategi BRI dinilai memi- liki kontribusi positif terhadap per- masalahan di masyarakat. Hal ini ber- dasarkan pada luasnya unit kerja BRI yang tersebar di seluruh Indonesia dan produk perbankan yang beragam bagi semua kalangan, hingga mampu memberikan layanan perbankan/ literasi keuangan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. “Kami bangga telah berhasil mem- peroleh penghargaan internasional dari Asia Marketing Federation (AMF) dengan predikat National Champion for Marketing 3.0. Ini sebuah apresiasi dari dunia interna- sional kepada kinerja terbaik BRI. Penghargaan ini akan kami perta- hankan dan kami dedikasikan bagi selur uh nasabah BRI,” ungkap Direktur Konsumer BRI Handayani melalui saluran telepon. Penjurian terhadap BRI dalam ajang ini dilaksanakan sejak awal keikutser taan BRI dalam ajang AMF Asia Excellence Award, yang telah dilaksanakan sejak awal tahun hingga pertengahan tahun 2018. Tim penilai pun berasal dari para ahli dari 16 negara di Asia yang telahmemiliki pengalaman internasional dalam bidang marketing . “Dengan predikat tersebut, BRI semakin yakin mampu memberikan yang terbaik bagi nasabah BRI dan mampu memenuhi berbagai kebu- tuhan perbankan nasabahnya, serta menjadi leading company di sektor perbankan secara nasional,” tambah Handayani. AMF adalah organisasi marketing di wilayah Asia berisikan para ahli marketing lintas negara, mulai dari Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Filip- ina, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Sebagai gambaran, saat ini BRI

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww/18.

telah memiliki total 91 juta nasabah dengan komposisi, 80 juta nasabah simpanan dan 11 juta nasabah kredit BRI hingga akhir semester I-2018. Hal ini membuktikan penetrasi pemasaran bisnis BRI terhadap pasar yang cukup dalam, hingga mampu mengakomodir berbagai kebutuhan nasabahnya. Kinerja Positif Tidak hanya itu, selama 13 tahun terakhir BRI berhasil membukukan laba terbesar di Industri perbankan di Indonesia. Hingga akhir semester I-2018 BRI mencetak laba Rp 14,5 triliun ( bank only ) atau naik 10,8 % secara year on year . Adapun komposisi penyaluran kredit BRI masih didominasi oleh kredit di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tercatat senilai Rp 602,7 triliun atau sekitar 75,9% dari total kredit BRI disalurkan ke segmen UMKM. Angka tersebut tumbuh 14,5% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 526,5 triliun. Untuk kredit UMKM dibagi men- jadi tiga yaitu mikro, konsumer, dan ritel serta menengah. Untuk segmen mikro tercatat mencapai Rp 257,7 tri- liun, tumbuh 14,0% dari sebelumnya Rp 226,0 triliun pada semester I-2017. Untuk segmen konsumer tercatat mencapai Rp 124,3 triliun, tumbuh 16,1% dibandingkan semester per- tama tahun lalu yang sebesar Rp 107,1 triliun. Sedangkan untuk seg- men ritel dan menengah Rp 220,7 triliun atau naik 14,1% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 193,4 triliun. Sementara itu, kredit untuk seg- men non-UMKM atau korporasi sebesar Rp 191,5 triliun atau 24,1% dari total portofolio kredit BRI. An- gka tersebut tumbuh 18,6% diband- ingkan semester I-2017 sebesar Rp 161,4 triliun. Di samping itu, perseroan juga telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 44,4 triliun kepada lebih dari 2,2 juta debitor hingga Juni 2018. Pencapaian ini tercatat setara 55,9% dari target penyaluran KUR yang di ditetapkan pemerintah ke BRI tahun ini sebesar Rp 79,7 triliun . “Pencapaian BRI ini membuktikan bahwa kinerja marketing BRI telah berhasil mendukung pertumbuhan bisnis perbankan di Indonesia, dan menjadikan BRI sebagai salah satu perbankan terbaik di Asia. Kami terus mempertahankan hal tersebut dan terusmemberikan kinerja terbaik bagi bangsa Indonesia,” kata Handayani. Sebelumnya, pada 30 Agustus 2018 juga BRI menyabet enam penghar- gaan bertaraf internasional sekaligus dalam waktu yang bersamaan atas transformasi dan inovasi digital yang telah dilakukan. Penghargaan yang diterima yaitu 5 dari The Indonesia Country Awards 2018 yang diselen- ggarakan oleh The Asian Bankers Awards 2018, dan 1 dari International Data Corporation (IDC) Digital Transformation Awards 2018. (th)

The Best Trade Finance Bank in Indonesia CEO Alpha Southeast Asia Siddiq Bazarwala (kiri) memberikan penghargaan The Best Trade Finance Bank in Indonesia kepada Direktur Tresuri dan Internasional BNI Rico Rizal Bu- didarmo (kanan) di Shangri-la Hotel, Singapura, Selasa (18/9). Selama periode Januari 2018 hingga Agustus 2018, BNI mampu membukukan volume “trade finance” sebesar 30,3 miliar USD tumbuh 17,4 persen YoY dan bisnis “trade finance” BNI berkontribusi pada pencapaian “fee based income” sebesar 11,7 persen dari total “fee based income” BNI.

haan anak melalui berbagai kerjasama produk layanan yang menawarkan kemudahan dan solusi perbankan syariah bagi masyarakat di seluruh negeri. “Untuk potensi kerjasama dengan MUF, beberapa hal yang dijajaki ant- ara lain joint financing , contract asset purchase , penyediaan modal kerja, pemasaran produk, hingga penyedi- aan produk layanan Mandiri Syariah lainnya seperti Gadai Emas dan Cicil Emas, pembiayaan rumah, pembiay- aan umroh dan lainnya,” papar Toni. Lebih lanjut Stanley menambahkan, bahwa hadirnya produk MUFSyariah diharapkan dapat menjadi solusi pembiayaan yang penuh berkah bagi masyarakat Indonesia. “Melalui produk MUFSyariah ini, kami ber- harap dapat memberi kemudahan bagi masyarakat muslim Indonesia pada khususnya, untukmemiliki kendaraan impian sesuai dengan prinsip dan tun- tunan agama,” kata Stanley. Melalui produk MUFSyariah ini, MUF menjadi satu-satunya perusa- haan pembiayaan BUMN di Indonesia yang telah siap memasarkan produk pembiayaan otomotif berbasis Syariah. Secara konsisten, MUF akan terus menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah dan mem- berikan kontribusi yang maksimal bagi seluruh stakeholder , masyarakat dan bangsa Indonesia. (nid)

seluruh kantor cabang yang berjumlah 111 di seluruh Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, MUF juga melakukan penandatanganan MOU atau Nota Kesepahaman dengan PT Bank Syariah Mandiri (BSM) tentang Layanan dan Peman- faatan Produk Perbankan Syariah. Melalui kerja sama tersebut, disep- akati menjajaki bidang pembiayaan, pendanaan, pemasaran produk, edukasi dan literasi syariah, serta kerja sama lainnya yang menguntun- gkan kedua pihak. “Untuk pembiayaan syariah ini mungkin kami masuk ke pembiayaan mobil dulu, karena kalau motor itu volumenya banyak sedangkan funding kami belum banyak. Untuk itu kami kerja sama juga dengan BSM untuk modal kerja, tapi kami masih hitung berapa dana yang kami butuhkan,” jelas dia. Sementara itu, Direktur Utama BSM Toni EB Subari menyatakan bangga bisa mendukung MUF di dalam pem- biayaan produk syariah. Karena hal tersebut merupakan wujud sinergi Mandiri Group di dalam pengemban- gan ekonomi dan keuangan syariah sesuai kebijakan pemerintah yang dituangkan melalui Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Sebagai bagian dari Mandiri Group, Mandiri Syariah telah bersinergi baik dengan indukmaupun sesama perusa-

untuk syariah,” kata Stanley di Jakarta, Selasa (18/9). Adapun rasio pembiayaan macet ( non performing financing/ NPF) MUF per Agustus 2018 berada di kisaran 1% atau mengalami sedikit peningkatan. Namun hal tersebut dinilai wajar kar- ena faktor musiman seperti Ramadhan dan Lebaran. Sampai akhir tahun ini NPF ditargetkan berada di posisi 0,8%. Stanley menjelaskan, produk MUF- Syariah menggunakan akad muraba- hah , yaitu akad jual beli yang bebas riba. Melalui skema ini, MUFSyariah akan menegaskan harga beli atau harga perolehan kepada konsumen, serta margin sebagai keuntungan MUFSyariah. Selanjutnya konsumen melakukan pembayaran secara ang- suran sesuai jangka waktu yang telah disepakati. Disamping itu, MUFSyariah juga memberikan beberapa keuntungan lain bagi nasabah antara lain pilihan jenis kendaraan yang beragam (mobil baru dan motor baru), tenor pembiay- aan sampai dengan lima tahun dan proses yang mudah serta cepat. Pada tahun ini, MUFSyariah telah siap di delapan kota. Adapun kantor cabangMUF yang telah mendapatkan ijin resmi pembiayaan syariah dari OJK, yaitu Jakar ta Duren Tiga, Tangerang, Subang, Magelang, Kediri, Gresik, Surabaya, dan Pekanbaru. SelanjutnyaMUF akanmemperluas ke

JAKARTA – PT Mandiri Utama Finance (MUF) meluncurkan produk MUFSyariah yangmerupakan produk pembiayaan otomotif berbasis syariah. Adapun, sampai dengan akhir tahun ini perseroan menargetkan pembiay- aan syariah menyumbang Rp 50 miliar dari total target pembiayaan MUF sebesar Rp 7,6 triliun. Direktur Utama MUF Stanley Setia Atmadja mengatakan, sebelummelun- curkan MUFSyariah, terlebih dahulu perseroan mendirikan Unit Usaha Syariah (UUS) dan telahmendapat izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 7 April 2018. Menurut dia, selama tahun 2018, pasar otomotif Indonesia terus ber- tumbuh secara stabil, sehingga mem- beri peluang yang sangat besar bagi pembiayaan otomotif. Disisi lain, minat masyarakat Indonesia terhadap pem- biayaan yang berbasis syariah juga semakin tinggi. Sampai dengan Agustus 2018 penyaluran pembiayaan perseroan su- dah lebih dari Rp 5 triliun. Jika dirinci, pembiayaan MUF mayoritas kepada mobil yakni sebesar 65%, sedangkan sisanya 35% pembiayaan sepedamotor. “Sampai Agustus pembiayaan kami lebih dari Rp 5 triliun, kami optimis bisa capai Rp 7,6 triliun, untuk syariah ini karena hanya beberapa bulan lagi akhir tahun kami targetkan Rp 50 miliar. Tahun depan baru bisa besar

Made with FlippingBook - Online catalogs