SP180709

Suara Pembaruan

Utama

2

Senin, 9 Juli 2018

Prabowo Terjepit?

P eta koalisi menuju Pilpres 2019 masih dinamis, tetapi sudah mulai mengerucut. Hal itu tidak terlepas dari waktu pendaftaran capres-cawapres yang tinggal sebulan lagi. Informasi yang diperoleh SP menyebutkan posisi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subi- anto terjepit dalam peta koalisi. Prabowo bisa ditinggalkan oleh anggota koalisi lain, jika tetap ngotot menjadi capres. Namun, ia masih punya harapan dengan cu- kup ‘membeli’ satu partai politik (Parpol) saja.

“Situasinya cukup sulit dengan manuver Jusuf Kalla (JK) akhir-akhir ini. Bisa-bisa partai politik di luar kubu Joko Widodo (Jokowi) akan diborong semua oleh kubu JK,” kata sebuah sumber di Jakarta, Senin (9/7). Ia menjelaskan JK akan mengusung Gubenur DKI Jakarta Anies Bas- wedan sebagai capres. Partai yang diincar adalah PAN, PKS, dan Demokrat. PKB juga dijadikan target untuk masuk mendukung Anies. Dengan kondisi terse-

but, Gerindra tinggal sendirian. Konsekuensinya, Gerindra tidak bisa mengusung sendiri Prabo- wo sebagai capres karena suara Gerindra tidak mencapai aturan presidential thres- hold 20 persen kursi DPR yang merupakan syarat pencalonan. Dengan modal 73 kursi di parlemen, Gerindra harus mampu merangkul parpol lain agar lolos syarat minimal 112 kursi. “PKS yang lincah melihat kondisi ini. Mereka sudah siap kuda-kuda memasang Ahmad

Heryawan (Aher) sebagai cawap- res. PKS siap koalisi dengan Ge- rindra asalkan cawapresnya kader PKS yaitu Aher. Bagi PKS, target mengalahkan Jokowi mungkin susah, tetapi setidaknya untuk mengangkat elektabilitas partai pada Pemilu 2019 mendatang,” ungkap sumber tersebut. Menurutnya, Prabowo memang masih punya peluang menjadi capres. Caranya dia tinggal ‘membeli’ satu parpol saja guna memenuhi persyaratan. Tiga parpol yang diincar yaitu PAN, PKS, dan Demokrat.[R-14]

Menantang Jokowi

[JAKARTA] Partai-partai politik dari kubu oposisi masih belum menentukan calon presiden (capres) yang akan diusung, meski masa pendaftaran tinggal sebulan lagi. Nama Ketua Umum DPPPartai Gerindra Prabowo Subiantomasihmenjadi calon terkuat sebagai penantang Jokowi, tetapi nama-nama lain tetap berpeluang untuk menjadi capres, sepertiAnies Baswedan, Gatot Nurmantyo, danAgus HarimurtiYudhoyo- no (AHY). Dari pihak Jokowi juga belum menentukan calon wakil presiden (cawapres). Kedua kubu masih saling menunggu.Meski lebih leluasa dalammenentukan cawapres pendampingnya, Jokowi belum menyebutkan nama danmasih menanti siapa dari kubu lawan yang akan maju. Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari me- ngatakan, dari kubu oposisi sebenarnya banyak tokohyang bisa diajukan sebagai capres atau cawapres. “Kenapa me- reka (oposisi) seperti kesulitan menentukan pasangan capres dan cawapres? Karena, yang maumenjadi cawapresbanyak. Jadi, pasti harus hati-hati. Sebisamungkinmendapatkan persetujuan semua kalangan,” kata Qodari kepada SP di Jakarta, Senin (9/7). Persoalannya, menurut Qodari, banyak dari partai justru mengusung jagoan masing-masing, terutama di kubu Prabowo. Contohnya, PartaiAmanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang berharap agar kadernya diusung sebagai ca- wapres. Kemudian, baru-baru ini ada juga tawaran dari Partai Demokrat. Menurut Qodari, masing -masing kubu saat saling menunggu dan melihat ca- wapres yang akandiusungma- sing-masing. Tujuannya agar dapat memilih cawapres yang tepat untukmerespons pilihan kubu sebelah. “Sebetulnya, tidak mengherankan dengan lambannya penetapan capres

dan cawapres. Memang, dulu pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla cepat, SBY-Boediono juga cepat. Tetapi, dulu si- tuasinya berbeda. Sekarang, cawapres menjadi faktor penentu,” katanya. Poros Ketiga Menurut Qodari, potensi terbentuknya poros ketiga bakal menemui kesulitan. Sebab, kecenderungannya hingga saat ini, Partai Demo- krat bakal bergabung dengan kubuPrabowo. Pasangan yang diwacanakan, yaitu Prabowo danAgus HarimurtiYudhoyo- no (AHY). “Saya kira, AHY itu diproyeksikan salah satunya dengan Prabowo walau bisa saja maju sebagai cawapres “ Tiga hal menjadi  pertimbangan menentukan paket capres-cawapres dari penantang Jokowi, yaitu memiliki elektabilitas, diterima koalisi atau akseptabilitas, dan memiliki logistik memadai. untuk pasangan lain. Soalnya, sempat juga muncul pasang- an Anies Baswedan-AHY,” katanya. Dikatakan, pasanganAni- es-AHYrelatif sulit terwujud. Sebab, dibutuhkan sedikitnya tiga partai untuk berkoalisi dalam rangka memenuhi am- bang batas syarat pengajuan pasangan calon. “Katakanlah, Prabowo-Ahmad Heryawan diusung Gerindra dan PKS. Lalu, ada Anies-AHY, De-

mokrat bawa kursi buatAHY, tetapi yang bawa kursi Anies siapa?Apakah PAN dan PKB mau? Kalau situasinya begitu, PKB lebih tertarik bergabung dengan Pak Jokowi,” ujarnya. Ditambahkan Qodari, koalisi Gerindra, Demokrat, dan PKS untuk mengusung Anies-AHYjuga kian sulit di- wujudkan. “Soalnya, Gerindra sudah memasang harga mati untuk mengusung Prabowo,” tuturnya. Wakil Ketua UmumDPP PartaiDemokrat SyariefHasan mengatakan, Gerindra telah menawarkan AHY untuk menjadi cawapres mendam- pingni Prabowo. “Kami sedang mengevaluasi. Menarik juga tawaran itu, tetapi kami belum memutuskan. Kapan? Akan ada pertemuan-pertemuan lan- jutan nantinya,” kata Syarief. Dia membenarkan bahwa peluang terbentuknya poros ketiga sangat sulit. “Partai yang berpotensi membuat poros ketiga adalah Demokrat. Kita lihat saja nanti. Kemungkinan (PKS, PAN, dan PKBmengu- sung Prabowo-AHY) itu ada. Alasannya? Prabowo-AHY diyakini bisa menang. Kal- kulasinya begitu,” tuturnya. Tiga Kriteria Peneliti Poltracking In- donesia Agung Baskoro me- nambahkan, pola pencalonan yang masih menggunakan basis presidential threshold menyulitkan kubu penantang Jokowi untuk menghadirkan paket capres-cawapres ideal. Karena itu, kubu penantang benar-benarmemperhitungkan segala hal sebaik-baiknya de- ngan target bisa mengalahkan Jokowi. “Tiga hal menjadi per- timbangan menentukan paket capres-cawapres dari penan- tang Jokowi, yaitu memiliki elektabilitas, diterima koalisi atau akseptabilitas, danmemi- liki logistikmemadai.Mencari tokoh dengan tiga kriteria itu tidak mudah,” kata Agung. Dengan dinamika seperti itu, ujarnya, peluang Prabowo Subianto maju kembali tetap

menguat meski di saat yang sama muncul figur Anies Baswedan. Hanya saja, saat iniAnies belummenjadi sosok ideal karena belummenghasil- kan karyamonumental di DKI Jakarta dalam kapasitasnya sebagai gubernur. ““Sampai saat ini, pintu Aniesmemangmasih terbatas sebagai cawapres ketimbang capres. Bila nanti Prabowo tidak jadi mencalonkan diri, kans Anies menguat walaupun harus bersaing ketat dengan nama-nama lain yang didorong oleh koalisi,” ujarnya. Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit menambahkan, rencana pembentkan poros ketiga sulit direalisasikan karena ada sejumlah kendala, seperti kesulitan dukungan dan tokoh. “Lalu, soal poros ketiga, ini terkait figur untuk dijadikan presiden. Yang dikejar Demokrat itu, kalau tidak bisa wakil presiden Jokowi atau Prabowo, maka terbentuk poros ketiga yang sempat mengarah ke JK,” ujarnya. Arbi juga melihat ada upaya pendukungAnies untuk memaksakan kehendak agar

dipilih Prabowo sebagai ca- wapres. Upaya itu mendapat dukungan dari PKS dan PAN. Bila dibandingkanAnies, ujar- nya, elite politik partai oposisi kebanyakan akanmendukung Prabowo. Arbi yakin, pada Pilpres 2019 hanya akan ada dua kubu, yakni Jokowi dan Prabowo. Berembuk Direktur Eksekutif Cyrus NetworkHasanNasbi menga- takan, saat ini partai-partai yang ada di seberang kubu Jokowi sedang berembuk untuk menentukan pasangan capres dan cawapres serta komposisi di pemerintahan nanti. “Jadi, bukan soal belum ada capres yang pasti. Mere- ka sedang berembuk. Siapa capres, siapa cawapres, dan bagaimana komposisi nanti di pemerintahan. Ini tidak mudah,” ujar Hasan. Menurut dia, dalam tradisi politik Indonesia, seringkali keputusan-keputusan politik seperti itu dilakukan last mi- nute atau dalam menit-menit terakhir akan dimulainya pertarungan. Hal tersebut terjadi karena masing-masing kubu terlalu lama memantau lawan dan ragu-ragumemulai

terlebih dahulu jika lawan belum maju. “Meskipun mengajukan beberapa capres alternatif di luar Prabowo, partai-partai ini akan sulit keluar dari ke- nyataan bahwa sampai saat ini penantang Jokowi yang terkuat, ya, memang hanya Prabowo,” katanya. Ia mengatakan, pihak oposisi tidak kesulitan men- cari capres untuk dimajukan. Tetapi,mereka kesulitandalam melakukan negosiasi, sebab capres dan cawapres hanya dua orang, sementara partai pengusung lebih dari dua. Oleh karena itu, mereka yang tidak kebagian menjadi calon harus mendapatkan skema politik yang bisa me- muaskan. “Itu yang saya sebut sebagai komposisi politik.Baik ketika pencalonan, maupun nanti setelah terpilih,” katanya. Analis politik dari Exposit Strategic Arif Susanto me- ngemukakan saat ini, situasi politik seolah-olah saling kunci. Dua kutup yang akan bertarung, yakni Prabowo dan Jokowi, sama-sama meng- ambil strategi wait and see . “Kemandekan semacam itu merugikan publik,” ujarnya. [C-6/D-14/R-14/H-14]

Made with FlippingBook - Online catalogs